BAB II KAJIAN TEORI
C. Peran Guru Dan Lingkungan Dalam Pendidikan Akhlak
1. Peran Guru…
keseharian dan kepribadian sekaligus spiritualisme dalam hubungan antara manusia dan khalik-Nya.
Bila ingin berhasil dalam membina moral sesuai dengan kehendak agama, maka ketiga penanggung jawab pendidikan (rumah, sekolah, dan masyarakat) harus bekerjasama dan berjalan seirama, tidak bertentangan satu sama lain.
Menurut Ramayulis kerja sama ini dapat dilaksanakan dengan dua jalan yaitu secara in formal individual dimana masing-masingnya didorong oleh rasa kesadaran dan keinsyafannya untuk mengadakan kerjasama tersebut, sedangkan cara yang kedua ialah secara formal organisatoris, artinya kerjasama yang direalisir dalam bentuk organisasi unsur rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus duduk di dalamnya.83
Ditegaskan pula oleh Ramayulis bahwa “Oleh sebab itu pengaruh rumah tangga, sekolah, dan masyarakat terhadap anak-anak harus diusahakan secara kesejajaran, kerjasama, serta saling pengertian dengan sebaik-baiknya.84
C. Peran Guru dan Lingkungan dalam Pendidikan Akhlak
luas, maka dengan keterbatasannya kemampuan penulis, maka peran guru dalam pendidikan akhlak akan ditinjau dari tiga hal yaitu :
a. Kedudukan guru
Salah satu hal yang menarik dalam ajaran Islam adalah penghargaan yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. Hal tersebut dikarenakan guru selalu terkait dengan ilmu (pengetahuan), sedangkan Islam sangat menghargai pengetahuan.85
Kedudukan orang alim dalam Islam tersebut dihargai tinggi bila orang itu mengamalkan ilmunya. Mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu itu kepada orang lain adalah suatu pengamalan yang paling dihargai oleh Islam.
Asma Hasan Fahmi mengutip dari kitab Ihya’ al-Ghazali yang mengatakan bahwa
“Siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting”.86
Di dalam al-Quran dijelaskan pula tentang kedudukan orangorang yang berpengetahuan. Allah berfirman dalam surat al-Mujadalah ayat 11 yaitu sebagai berikut :
)
(
Artinya: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.al-Mujadilah : 11) 87
85 Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 76.
86 Ibid.
87 Depag. RI., Op.Cit, Hlm. 434
Dari ayat di atas dapat dijelaskan bahwa orang yang paling tinggi derajatnya adalah orang yang berpengetahuan (alim). Allah juga membedakan derajat (martabat) orang yang berpengetahuan dengan orang tidak berpengetahuan. Guru (alim) merupakan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan cara mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Sedang kedudukan guru (alim) dalam Islam dihargai tinggi bila orang itu mengamalkan ilmunya. Dengan demikian guru (alim) mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia dalam Islam.
Menurut M. Athiyah Al-Abrasyi, pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan
akhlak mulia dan meluruskannya.88 Oleh karena itu pendidik mempunyai kedudukan tinggi bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang rasul.
b. Tugas dan Fungsi Guru
Guru (pendidik) adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmaninya dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di bumi sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. Karena itu ia dituntut mempunyai i’tikat yang baik itu akan timbul dengan sendirinya loyalitas, integritas, dan dedikasi, yang bernuansa lillahi ta ala.
Pendidik mempunyai tugas yang sangat penting dalam proses pendidikan diantaranya, ialah : (a) membimbing, mencari pengenalan terhadap kebutuhan dan
88 M. Athiyah Al-Abrasyi, Op.Cit., hlm. 136
kesanggupan pelajar, (b) menciptakan situasi pendidikan yang kondusif, di mana seluruh tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik sehingga mencapai hasil yang memuaskan, (c) memiliki pengetahuan agama dan pengetahuan yang diperlukan untuk diamalkan dan diyakini.89
Menurut T. Raka Joni, dalam buku Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, karangan Nana Sudjana disebutkan bahwa hakekat guru asumsinya bertolak dari tujuh hal yakni (a) guru merupakan agen pembaharuan, (b) guru berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat, (c) guru sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang lebih baik bagi subyek didik untuk belajar, (d) guru bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar subyek didik, (e) guru dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses belajar mengajar bagi subyek didiknya, (f) guru bertanggung jawab secara profesional untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya, (g) guru menjunjung tinggi kode etik profesional.90
Dari asumsi di atas maka dapat disusun seperangkat kompetensi guru yaitu kompetensi kognitif, kompetensi personal atau sikap pribadi dan kompetensi sosial kemasyarakatan.91
Ada sepuluh kompetensi guru yang dikembangkan oleh proyek pembinaan pendidikan guru (P3G) departemen pendidikan dan kebudayaan yaitu : (a) menguasai bahan, (b) mengelola PBM, (c) mengelola kelas, (d) menggunakan
89 Armai Arief, op.cit., hlm. 72
90 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Mandiri, 1991), Cet.
III, hlm. 24-25.
91 Kompetensi bidang kognitif artinya kemampuan intelektual, kompetensi bidang sikap artinnya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya, kompetensi sosial artinya kemampuan guru dalam berbagai ketrampilan berperilaku seperti bergaul dan berkomunikasi dengan siswa., Ibid. hlm. 18
sumber atau media belajar, (e) menguasai landasan pendidikan, (f) mengelola interaksi belajar mengajar, (g) menilai hasil belajar, (h) mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan, (i) mengenal dan menyelenggarakan administrai sekolah, (j) memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.92
c. Peran guru dalam Pendidikan akhlak
Setiap guru utamanya guru pendidikan agama Islam (GPAI) hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar menstransferkan pengetahuan agama dan melatih ketrampilan anak - anak dalam melaksanakan ibadah atau hanya membangun intelektual dan menyuburkan perasaan keagamaan saja, akan tetapi pendidikan agama lebih luas dari pada itu.
Pendidikan agama Islam berusaha melahirkan siswa yang beriman, berilmu, dan beramal saleh. Sebagai suatu pendidikan moral, PAI tidak menghendaki pencapaian ilmu itu semata tetapi harus didasari oleh adanya semangat moral yang tinggi akhlak yang baik .93 Untuk itu seorang guru sebagai pengemban amanah pembelajaran PAI haruslah orang yang memiliki pribadi saleh.
Menurut al-Ghazali, sebagaimana yang dikutip oleh Mukhtar bahwa "seorang guru agama sebagai penyampai ilmu, semestinya dapat menggetarkan jiwa atau hati murid-muridnya sehingga semakin dekat kepada Allah Swt dan memenuhi tugasnya sebagai khalifah di bumi ini."94
92Ibid., hlm. 19.
93 Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Misaka Galiza, 2003), hlm.
92.
94Ibid., hlm. 93.
Hal ini tercermin melalui perannya dalam sebuah proses pembelajaran.
Diantara peran tersebut yaitu :95
1. Peran pendidik sebagai pembimbing
Peran pendidik sebagai pembimbing sangat berkaitan erat dengan praktik keseharian. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pendidik yaitu : (a) meremehkan atau merendahkan siswa, (b) memperlakukan sebagian siswa secara tidak adil, (c)membenci sebagian siswa. Perlakuan pendidik sebenarnya sama dengan perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya yaitu penuh respek dan kasih sayang serta memberikan perlindungan. Sehingga siswa dapat percaya diri bahwa di sekolah atau di madrasah ia akan sukses belajar lantaran bimbingan, dorongan dan pengarahan dari pendidiknya.
2. Peran pendidik sebagai model (contoh)
Peran pendidik sebagai model pembelajaran sangat penting dalam rangka membentuk akhlak yang mulia bagi siswa yang diajar, karena karakteristik pendidik selalu diteropong dan sekaligus dijadikan cermin oleh muridnya. Pada intinya guru akan dicontoh oleh murid-muridnya : apakah yang baik atau yang buruk. Kedisiplinan, kejujuran, keadilan, kebersihan, kesopanan, ketulusan, ketekunan, kehati-hatian akan selalu direkam oleh murid-muridnya dan dalam batas waktu tertentu akan
95 A. Qodri A. Azizy, op.cit., hlm. 163-166.
diikuti oleh murid-muridnya. Karena itu guru harus bisa menempatkan diri sebagai contoh yang baik bagi murid-muridnya.
3. Peran pendidik sebagai penasehat.
Seorang pendidik memiliki jalinan emosional dengan peserta didik sehingga dalam hubungan ini pendidik berperan aktif sebagai penasehat.
Hubungan batin dan emosional antara siswa dan pendidik dapat terjalin efektif, bila sasaran utamanya adalah penyampaian nilai-nilai moral, maka peran pendidik dalam menyampaikan nasehat menjadi sesuatu yang pokok. Sehingga siswa akan merasa diayomi, dilindungi, dibina, dibimbing, didampingi penasehat, dan di-emong oleh gurunya. Dengan menyadari perannya sebagai pendidik maka seorang pendidik, dapat bertindak sebagai pendidik yang sebenarnya, baik dari segi perilaku (keperibadian) maupun dari segi keilmuan yang dimilikinya hal ini akan dengan mudah diterima, dicontoh dan diteladani oleh siswa, atau dengan kata lain pendidikan akan sukses apabila ajaran agama itu hidup dan tercermin dalam pribadi guru agama. Sehingga tujuan untuk membentuk pribadi anak saleh dapat terwujud.
Seorang guru selain mempunyai beberapa peran diatas, guru juga di tuntut untuk mempunyai lima karakteristik ketrampilan untuk menghadapi dunia lobalisasi pada era millennium sebagaimana telah di kutip oleh Karl tan beng san yaitu:96
1. Memiliki ketrampilan dasar (basic skill).
96 Mukhtar,opcit.,hlm.80-82
Ketrampilan dasar yang dimaksud di sini adalah ilmu dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan di sekolah formal. Seseorang yang memiliki kualitas profesional harus menguasai subtansi bidang keahliannya. Hal ini berarti sikap profesional mengisyaratkan akan pentingnya upaya peningkatan kualitas secara terus menerus agar mampu menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan bidang keahliannya secara kontekstual.
Adapun profil kemampuan dasar bagi seoarang pendidik adalah :
a). Menguasai materi pembelajaran, baik dalam kurikulum maupun aplikasinya dalam materi pembelajaran.
b). Mampu mengelola program pembelajaran dengan merumuskan tujuan intruksional, menggunakan metode mengajar dan prosedur intruksional yang tepat, serta memahami kemampuan siswa.
c). Mampu mengelola kelas (ruang belajar) dan menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif.
d). Menggunakan media atau sumber belajar, terutama dalam memanfaatkan laboratorium dan perpustakaan dalam proses pembelajaran.
e). Menguasai landasanlandasan kependidikan, baik secara konseptual maupun praktikal.
f). Mampu mengelola interaksi dalam proses pembelajaran dan memberikan penilaian yang komprehensif kepada siswa.
2. Menguasai Ketrampilan khusus (spesialisasi)
Saat ini kecenderungan dunia kerja akan bertumpu pada spesialisasi. Tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus akan mampu bertahan dan bersaing di abad
mendatang. Di masa sekarang sangat dibutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan secara metodologis untuk menerapkan keahliannya dalam kehidupan dunia nyata dan selanjutnya mampu merancang dan meneropong perkembangan bidang keahliannya dari waktu ke waktu.
3. Menguasai ketrampilan komputer
Penggunaan komputer kini telah merambah dunia. Hampir semua sisi kehidupan umat manusia tidak terlepas dari peran komputer. Kehidupan manusia di abad mendatang akan sangat tergantung pada pelayanan komputer. Hubungan komunikasi dengan internet, multimedia, jaringan online dalam perbankan, dan dunia bisnis, semuanya menggunakan perangkat komputer, termasuk juga di dunia pendidikan. Oleh karena itu, sosok tenaga kerja yang dibutuhkan di masa ini adalah mereka yang mengerti dan menguasai komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.
4. Menguasai ketrampilan berkomunikasi dengan bahasa asing
Berkomunikasi dengan bahasa asing, terutama dengan bahasa Inggris mutlak diperlukan di era globalisasi ini. Penguasaan bahasa asing menjadi persyaratan yang melekat pada sikap profesional karena hal ini menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan komunikasi professional dalam mengembangkan tugasnya.
5. Menguasai ketrampilan manajerial dan kepemimpinan
Kompetensi manajerial ini ditandai oleh kemampuan mengatur dan mengelola organisasi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Salah satu cirinya ini adalah kemampuan menerjemahkan visi dan misi lembaga merupakan pedoman
atau penentu arah kebijakan lembaga atau organisasi yang harus dengan cepat dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan praktis di lembaga yang bersangkutan.
Seorang profesional, di manapun mereka berada, akan memiliki kemampuan untuk bekerja sama, saling percaya dan dapat mengatur strategi terbuka menerima ide-ide baru, mencari, melihat, dan memecahkan masalah serta mengumpulkan dan menganalisis data, sekaligus meningkatkan kemampuan pribadi untuk menanganinya dan bukan sekedar mengikuti standar prosedur pemecahan masalah yang dipraktikkan dalam masyarakat.
Dengan kesungguhan dan keseriusan untuk menjadi tenaga yang profesional maka guru akan dapat berperan maksimal, sebagai pembimbing yang profesional, sebagai suri teladan yang profesional serta sebagai penasehat yang profesional.
Profesional dapat diasumsikan sebagai spesialis (pakar), kemudian didefinisikan sebagai orang yang melewatkan sebagian waktunya di dalam pembelajaran tertentu dan mereka adalah pribadi yang memiliki sertifikat profesional.97 Sementara ada pula yang melihat profesional adalah pribadi yang berakarakter dan memiliki kompetensi-kompetensi komponen intelektual, seperti komitmen yang kuat terhadap karier yang didasari kemampuan bertanggung jawab sesuai dengan tugasnya dan kemampuan berorientasi terhadap pelayanan pelanggan.98
Jadi, untuk menjadi seorang yang profesional harus dirintis melalui terpaan ranah keilmuan, pendidikan, atau pelatihan. Seiring dengan itu, apa yang
97Ibid., hlm. 83
98Ibid.
dipelajarinya harus dapat diaplikasikan secara terampil atau dia gunakan di tengah komunitasnya.
Dengan kata lain, kalau sebuah sekolah memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam atau akhlak, maka perilaku outputnya harus islami atau berakhlak mulia. Selanjutnya menurut peneliti keseimbangan antara komponen pendidikan (guru, materi, siswa, waktu, dan tujuan) juga harus diperhatikan. Guru efektif adalah guru profesional yang dapat memilih materi dan dapat menyampaikan kepada siswa. Materi yang efektif adalah materi yang sesuai dengan keberadaan siswa, yang dapat menggugah semangat siswa dan tertanam dalam kepribadian siswa, sehingga tercermin dalam perilaku siswa. Tujuan yang efektif adalah tujuan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Kemudian tetap memperhatikan kondisi dan aspek-aspek yang terkait dengan pendidikan. Serta merencanakan langkah-langkah pendidikan, juga perlu adanya evaluasi untuk mengetahui hasil pendidikan. Faktor-faktor tersebut penting untuk diperhatikan sebagai upaya untuk memperbaiki dan mengupayakan mutu pendidikan bagi siswa. Dengan memperhatikan keseimbangan antara komponen-komponen pendidikan, memperhatikan profesionalisasi pendidik serta keaktifan pendidikan dapat menghantarkan kepada pencapaian tujuan pendidikan akhlak yang maksimal dan sempurna.