• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Jurnalisme Warga dalam Rubrik Jelajah

BAB IV ANALISIS DATA

A. Peran Jurnalisme Warga dalam Rubrik Jelajah

2. Apa konten yang ditulis atau diulas dalam Rubrik Jelajah pada Koran Harian Republika?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang tertulis sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta mengkaji peran jurnalisme warga yang

diwujudkan dalam Rubrik Jelajah pada Koran Harian Republika dan bagaimana konten yang ditampilkan dalam rubrik tersebut.

D. Signifikasi Penelitian

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:

1) Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberi kontribusi dalam ilmu jurnalistik terutama mengenai bagaimana peran jurnalisme warga dalam sebuah media cetak.

2) Diharapkan penelitian ini memberikan manfaat secara praktis bagi pembaca yang ingin mengetahui perkembangan informasi masa kini, khususnya tentang peran jurnalisme warga.

E. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.8

8

Lexy J Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 6.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau karakteristik suatu pupolasi tertentu atau bidang tertentu secara fakta dan cermat.9

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Redaktur Pelaksana Koran Harian Republika Nina Chairani dan penulis nonjurnalis Farchan Noor Rachman yang menulis di rubrik tersebut dengan judul Berkenalan dengan Masyarakat Adat Bayan edisi 9 Maret 2014.

Sedangkan objeknya adalah Rubrik Jelajah yang ditulis oleh nonjurnalis. Edisi yang dipilih dalam penelitian ini adalah tulisan Yogi Suryana Lathif edisi 9 Febuari 2014 berjudul Gunung Prau yang Terlupakan dan tulisan Farchan Noor Rachman edisi 9 Maret 2014 berjudul Berkenalan dengan Masyarakat Adat Bayan. Keduanya dipilih karena dianggap mewakili dari sebagian besar judul yang pernah diterbitkan, yaitu tentang gunung dan budaya.

3. Tehnik Pengumpulan Data

a. Observasi

Menurut Indriantoro dan Supomo observasi adalah proses pencatatan pola perilaku subjek, objek atau kejadian yang sistematik

9

Jalaludin Rakhmat, Metodologi Penelitian Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h. 22.

tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu.10 Proses pengumpulan data sebagai objek dalam penelitian ini adalah sejumlah teks Rubrik Jelajah Harian Republika edisi Febuari - Maret 2014 yang ditulis oleh nonjurnalis.

b. Wawancara

Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam atau wawancara yang bersifat terstruktur dan mendetail. Penelitian ini melakukan wawancara dengan Redaktur Pelaksana Koran Harian Republika Nina Chairani yang ditemui pada 20 Agustus 2014 di Kantor Redaksi Republika, Jl. Warung Buncit Raya No. 37 Jakarta dan salah satu penulis nonjurnalis Farchan Noor Rachman yang ditemui pada pada 21 Juli 2014 di Ngopi Doeloe, Jl. Veteran Raya, Bintaro, Jakarta.

Setelah hasil dari observasi, dokumentasi dan wawancara didapatkan, kemudian data akan dikelola dan ditinjau kembali. Seluruh data tersebut akan dipaparkan dengan didukung oleh beberapa hasil temuan studi pustaka yang kemudian dianalisis.

c. Dokumentasi

Menurut Burhan Bungin, metode dokumenter adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial. 11 Intinya, metode inilah yang digunakan untuk menelusuri data

10

Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 34.

11

Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2005), h. 121-122.

historis. Bahan dokumen secara eksplisit berbeda dengan literature, namun letak perbedaannya hanya secara gradual. Literature adalah bahan-bahan yang diterbitkan secara rutin hingga berkala, sedangkan dokumenter adalah bahan-bahan yang disimpan atau didokumentasikan sebagai bahan dokumenter.

Data yang digunakan oleh penulis yaitu berupa buku-buku, bahan kepustakaan, data di website dan referensi lainnya yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang diteliti.

4. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau karakteristik suatu pupolasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat dalam Rubrik Jelajah pada Koran Harian Republika.

5. Tinjauan Pustaka

Penulis mengambil beberapa referensi skripsi yang memiliki kesamaan pembahasan juga yang memberikan inspirasi sebagai penambah referensi untuk dilakukan penelitian.

Skripsi pertama berjudul Jurnalisme Warga: Analisis Situs www.akumassa.org oleh Sudrajat, 2012, Konsentrasi Jurnalistik Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis melihat adanya kesamaan analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan skripsi tersebut, yaitu analisis deskriptif dan juga berkaitan dengan jurnalisme warga. Sudrajat mendeskiripsikan analisisnya mengenai keterlibatan warga dalam situs www.akumassa.org adalah sama seperti jurnalis profesional yang melakukan kegiatan mengumpulkan, mencari, menyajikan, dan menyebarkan berita atau narasi-narasi kecil tentang peristiwa sekitar melalui media kepada khalayak, namun perbedaannya dalam situs tersebut tidak memiliki ketentuan spesifik yang menuntut pada kaidah jurnalistik sebab dalam situs tersebut memiliki basis untuk memproduksi informasi narasi-narasi kecil, cerita tentang orang-orang sekitar seperti membicarakan hal tentang keluarga, pengalaman hidup atau sejarah kota yang kemudian dikaji menjadi features.12

Kedua adalah dari jurusan dan universitas yang sama. Skripsi milik Amin Chafani, tahun 2011, berjudul Peran Jurnalisme Warga dalam www.eramuslim.com. Skripsini tersebut memiliki kesamaan dengan apa yang diteliti penulis yaitu Peran Jurnalisme Warga.

Dalam skripsinya, Amin menyimpulkan bahwa peran jurnalisme warga dalam situs www.eramuslim.com antara lain sebagai penyuplai informasi dan berita, membantu redaksi mengetahui dan menganalisis informasi atau isu yang sedang up date maupun yang diprakirakan akan menjadi hot issue,

12

Sudrajat, “Jurnalisme Warga: Analisis Situs www.akumassa.org,” (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2012), h. 70.

memberikan warna lain dalam media tersebut dan menambah jaringan baru dalam berbagi informasi. 13

Ketiga, penulis memilih skripsi berjudul Analisis Produksi Program Berita Wide Shot di Metro TV milik Diajeng Sekar Ramadhany Ernanda, mahasiswi Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013.

Skripsi tersebut memiliki kesamaan pembahasan dengan penelitian ini yaitu mengenai citizen journalism atau jurnalisme warga. Namun dalam skripsi tersebut media yang diambil adalah media elektronik televisi. Sedangkan hasil penelitian skripsi tersebut yang didapat di antaranya adalah proses penayangan program yang memiliki format citizen journalism di televisi ini memiliki alur yang sudah ditentukan secara matang karena ditayangkan secara live (langsung). Mulai dari proses pra produksi program berita diawali dengan menentukan tema da nisi berita, kemudian proses produksi dengan mempersiapkan materi produksi, sarana dan prasarananya terlebih dahulu, proses pasca produksi, hingga diakhiri dengan evaluasi. 14

13

Amin Chafani, “Peran Jurnalisme Warga dalam www.eramuslim.com,” (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2011), h 57.

14

Diajeng Sekar Ramadhany Ernanda, “Analisis Produksi Program Berita Wide Shot di

Metro TV,” (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2013), h. 66.

F. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Pada bab ini berisikan latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikasi penelitian, metodologi penelitian yang di dalamnya terdapat metode penelitian, subjek dan objek penelitian, tehnik pengumpulan data, tehnik analisis data dan tinjauan pustaka, dan terahir adalah sistematika penulisan.

BAB II : Kerangka Konseptual dan Landasan Teoritis

Menguraikan rangkaian konseptual serta kajian teoritis yang digunakan mengenai surat kabar dan rubrik, jurnalisme partisipatoris, tipologi pers, jurnalisme warga dan features.

BAB III : Gambaran Umum

Berisi profil dari Harian Republika yang uraiannya tentang sejarah singkat, visi dan misi, serta struktur organisasi.

BAB IV : Analisis Data

Bab ini menjelaskan analisis dari data yang sudah diperoleh mengenai peran jurnalisme warga di media cetak, dalam penulisan kali ini adalah Koran Harian Republika, dan juga mengenai konten yang ditampilkan dalam Rubrik Jelajah tersebut.

BAB V : Kesimpulan

Dalam bab ini menjelaskan kesimpulan berdasarkan dari pemaparan setiap bab pembahasan beserta saran.

Daftar Pustaka

13 A. Kerangka Konseptual

1. Surat Kabar dan Rubrik

Dalam jurnalistik terdapat berbagai macam media cetak salah satunya adalah surat kabar atau biasa disebut koran. Media ini merupakan salah satu kekuatan sosial dan ekonomi yang cukup penting dalam masyarakat. Pada awalnya, surat kabar di Itali hadir dalam bentuksederhana berupa lembaran kertas yang dipublikasi secara lokal hingga kini dengan jumlah halaman yang banyak dan dipublikasikan secara internasional. Hal itu merupakan bagian dari cikal bakal lahirnya dunia pesuratkabaran yang kini terbit secara periodik, dengan produksi yang mekanik, berjangka, dan mengandung sejumlah berita yang sangat bervariasi dengan sistem organisasi dan mekanisme yang mumpuni.1

Berita adalah jalan cerita tentang peristiwa.2 Bisa dikatakan bahwa maksudnya adalah dari suatu berita itu memiliki dua unsur yang berhubungan yakni peristiwa dan jalan ceritanya. Jika keduanya terpisah maka tidak bisa dikatakan sebagai berita. Lebih dipertegas lagi oleh Jakob Oetama dalam bukunya

“Perspektif Pers Indonesia” bahwa berita itu bukan fakta melainkan laporan

tentang fakta itu sendiri.3 Suatu peristiwa menjadi berita hanya apabila ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan atau membuatnya masuk dalam kesadaran publik

1

Asep Saeful Muhtadi, Jurnalistik (Pendekatan Teori dan Praktik), (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 88.

2

Sudirman Teba, Jurnalistik Baru, (Ciputat: Kalam Indonesia, 2005), h. 55.

3

Sedia Willing Barus, Jurnalistik: Petunjuk Teknis Menulis Berita, (Jakarta: Erlangga, 2010), h.26.

hingga menjadi pengetahuan publik. Berita juga memiliki macamnya tergantung dari segi melihatnya: sifat kejadian, cakupan isi berita, dan bentuk penyajian berita.

Jelang abad ke-20, dunia pesuratkabaran meraih kredibilitasnya menjadi lebih baik melalui pembentukan organisasi profesional. Hingga pada awal abad ini pers yang tadinya berpengaruh dari individu kini berubah menjadi perusahaan yang besar hingga membentuk press association. Selanjutnya kelangsungan pers ditunjang oleh kekuatan ekonomi yang terus berlagsung bersama perkembangan zaman, dalam perkembangannya kini pers mulai berupaya meningkatkan daya tarik melalui proses spesifikasi bacaan masyarakat, penerbitan edisi khusus daerah-daerah tertentu, dan pembagian rubrik atau kolom-kolom yang menarik.

Onong Uchjana Effendy mengutarakan definisi mengenai rubrik dalam KamusKomunikasi, bahwa rubrik berasal dari bahasa Belanda yaitu rubriek, yang artinya ruangan pada halaman surat kabar, majalah atau media cetak lainnya mengenai suatu aspek atau kegiatan dalam kehidupan masyarakat; misalnya rubrik wanita, rubrik olahraga, rubrik pendapat pembaca dan sebagainya.4 Sementara itu, dikutip dari Kamus Bahasa Indonesia yang disusun oleh WJS. Poerwadarminta dijelaskan, rubrik adalah kepala (ruangan) karangan dalam suratkabar, majalah, dan lain sebagainya.5 Menurut Effendy jenis-jenis rubrik ada tiga, yaitu rubrik informasi, rubrik edukasi, rubrik rekreasi.

4

Onong Uchjana Effendy, Kamus Komunikasi (Bandung: PT. Mandar Maju,1989), h. 316.

5

2. Jurnalisme Partisipasi

Jurnalisme partisipasi atau participatory journalism adalah sesuatu yang dilakukan warga perorangan atau berkelompok yang berperan aktif dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran berita dan informasi. Maksud partisipasi di sini adalah untuk menyediakan kebebasan, kenyataan, keakurasian, dan informasi yang berjarak luas serta relevan seperti yang dibutuhkan dalam demokrasi.6

Bisa juga dikatakan bahwa partisipasi jurnalistik adalah seseorang atau sekumpulan orang tanpa dipandang latar belakang pendidikan dan keahliannya, dapat merencanakan, menggali, mengolah, mempresentasikan informasi, berupa tulisan, gambar, foto, tuturan (laporan lisan), video dan lain-lain dalam citizen journalism.

JD Lasica menyusun enam kategori pasrtisipasi jurnalistik dalam salah satu artikelnya berjudul What is Participatory Journalism: 7

a. Partisipasi khalayak untuk media arus utama (mainstream) seperti komentar pada tulisan atau berita tertentu,

b. Situs berita dan informasi independen seperti situs Consumer Reports dan Drudge Report,

c. Situs atau blog sosial sepenuhnya seperti Now public, OhMyNews, dan Kompasiana,

6

Shayne Bowman, Chris W “We Media: How Audiences are Shaping the Future of News and Informaation,”dalam Sudrajat “Jurnalisme Warga: Analisis Situs www.akumassa.org,”

Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, (Universitas Islam Negeri: Jakarta, 2012).

7

d. Situs media kolaborasi dan kontribusi seperti Slash dot dan Newsvine,

e. Bentuk lain “media kecil” seperti mailing list,

f. Situs penyiaran pribadi seperti KenRadio.

3. Tipologi Pers

Umumnya masyarakat sering salah kaprah dalam memahami antara jurnalistik dan pers. Memang berkaitan, namun keduanya berbeda. Menurut Sumadiria, jurnalistik adalah sebagai proses kegiatan, sedangkan pers kaitannya dengan media. Begitu pula pendapat Totok Djoroto yang ditulis dalam bukunya Manajemen Penerbitan Pers, pers adalah lembaga yang intensitasnya berdiri sendiri.

Di masa kini, ada anggapan bahwa pers di Indonesia sudah menyatu dengan kapitalisme global yang berarti mengejar keuntungan dengan investasi minimal. Dengan paradigma apapun bisa disajikan selama hal itu dapat dijadikan komoditas. Hingga kemerdekaan pers berubah alih dari semula mengandung simpati akhirnya malah menjadi pemicu antipati.

Menurut Djen Amar dalam Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Features yang ditulis oleh Sumadiria, kualitas pers dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar. Kemudian Sumadiria menambahkan satu kelompok lagi dalam bukunya tersebut. Kelompok tipologi tersebut yaitu: 8

8

Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Features, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2006), h. 38.

a. Pers Berkualitas

Pers jenis ini memilih penyajian yang etis, moralis, dan intelektual. Dikelola dengan konseptual dan profesional meski orientasi bisnisnya komersial dan serius dalam segala hal dengan mengutamakan pendekatan rasional dan institusional. Menghindari pola penyajian yang memiliki sifat frontal emosional dan melihat dengan pandangan aturan, norma, etika, dan kebijakan yang sudah terbukti aman bagi perusahaan. Sasaran pers berkualitas ditujukan untuk masyarakat menengah keatas.

b. Pers Populer

Jenis pers ini menggunakan cara penyajian yang sesuai mengikuti zaman, cepat berubah-ubah, tegas-lugas, sederhana, enak dipandang, mudah dibaca, penuh warna dan bersifat kompromistis dengan tuntutan pasar. Pers populer menekankan nilai dan kepentingan komersial. Namun menurut penelitian Amar, cara penyajiannya kurang etis, emosional dan terkadang sadistis. Sasaran khalayaknya adalah kalangan menengah-bawah baik dari segi ekonomi maupun intelektual.

c. Pers Kuning

Penyajian pers ini lebih banyak mengeksploitasi warna dibanding pers populer. Segala macam warna ditampilkan untuk menarik perhatian, karena itulah disebut pers kuning. Peletakan judul sering tak beraturan. Bagi pers kuning, kaidah baku jurnalistik tak diperlukan. Berita tak harus berpijak pada f akta namun juga bisa didasari ilusi, imajinasi dan fantasi.

Pers kuning menggunakan pandangan sex, conflict and crime (seks, konflik dan kriminal). Ketiganya selalu mendominasi pers kuning. Pers kuning tidak bisa dipercaya karena opini dan fakta sering disatukan, dibaurkan, dikaburkan hingga diputarbalikkan. Khalayak sasaran dari pers kunig ditujukan untuk masyarakat kelas bawah.

B. Landasan Teori 1. Jurnalisme Warga

Jurnalisme warga atau citizen journalism adalah sebuah aliran baru yang termasuk dari bagian jurnalisme saat ini. Untuk itu penulis akan membahas sedikit mengenai jurnalistik dan dilanjutkan dengan jurnalisme warga, bentuk jurnalisme warga serta karakteristiknya.

a. Jurnalistik

Suatu catatan harian atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar disebut sebagai perkataan journa. Kemudian menjadi jurnalistik atau journalism.9 Singkatnya, jurnalistik adalah kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.10

Pada definisinya, jurnalistik adalah sebuah kegiatan yang menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menyebarkan melalui media berkala kepada halayak seluas-luasnya dan secepat-cepatnya.11 Perbedaan jurnalistik dengan jurnalisme tidak ada yang signifikan, hanya saja berkaitan dengan penggunaan istilahnya saja. Dalam

9

Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h.15.

10

Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Features, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2006), h.2.

11

sejarah perkembangannya, jurnalistik adalah kata sifat dari jurnalisme. McDougall menyebutkan bahwa jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa.12

Dalam dunia jurnalistik dikenal berbagai produk jurnalistik, di antaranya yaitu berita, artikel, tajuk rencana, reportase, opini dan features. Bila dikaitkan dengan penelitian ini, laporan yang terdapat dalam Rubrik Jelajah termasuk jenis features, karena laporan dituturkan secara berkisah oleh para penulis berdasarkan pengalaman dengan objek yang ditulis. Tentunya isi tersebut tak lepas dari unsur-unsur berdasarkan pengalaman yang berpijak pada fakta, data dan 5W+1H (what, who, where, when, why + how).

b. Jurnalisme Warga

Kini warga memiliki pengertian yang mengakar pada pembahasan jurnalisme warga negara. Warga negara disebut sebagai sebuah komunitas yang membentuk negara itu sendiri berdasarkan undang-undang yang mempunyai hak dan kewajiban bersifat timbal balik. Menurut KBBI, warga adalah anggota (keluargaa, perkumpulan, dan sebagainya).

Dari beberapa pendapat mengenai kata “jurnalisme” dan kata

“warga”, penulis menarik kesimpulan tentang pengertian jurnalisme itu

sendiri yakni kegiatan mencari, mengolah hingga menyiarkan informasi melalui media massa yang dilakukan oleh seorang atau sekumpulan anggota

12

Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h.15.

masyarakat dan hal informasi tersebut berpengaruh bagi kehidupan masyarakat luas.

Menurut Nurudin dalam bukunya Jurnalisme Masa Kini, jurnalisme warga atau citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu. Seseorang tanpa memandang latar belakang pendidikan, keahlian dapat merencanakan, menggali, mencari, mengolah, melaporkan informasi (tulisan, gambar, foto, tuturan) kepada orang lain.

c. Bentuk-bentuk Jurnalisme Warga

Steve Outing mengklasifikasikan bentuk-bentuk citizen journalism menjadi 10 bentuk, masing-masing: 13

a) Membuka ruang untuk komentar publik. dalam ruang tersebut, pembaca dapat bereaksi, memuji, mengkritik atau menambahkan bahan tulisan jurnalis. Pada media cetak konvensional jenis ini bisa dikenal dengan surat pembaca.

b) Menambahkan pendapat masyarakat sebagai bagian artikel dari artikel yang ditulis. Nonjurnalis diminta untuk ikut menuliskan pengalamannya pada sebuah topik utama yang dilaporkan jurnalis.

c) Kolaborasi atau gabungan antara jurnalis profesional dengan nonjurnalis yang memiliki kemampuan dalam materi yang sedang dibahas. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengarahkan atau

13

Nurudin, Jurnalisme Masa Kini (Jakarta: Rajawali Pers, 2009),h. 218. Lihat juga Pepih Nugraha, Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman (Jakarta: Kompas, 2012), h. 26.

memeriksa keakuratan artikel. Terkadang nonjurnalis dapat juga menjadi kontributor tunggal yang menghasilkan artikel tersebut.

d) Bloghouse warga. Bentuknya blog-blog gratisan seperti wordpress, blogger atau multiply. Melalui blog, orang bisa berbagi cerita tentang dunia dan bisa menceritakan dunia berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya.

e) Newsroom citizen transparency blogs. Bentuk ini merupakan blog yang disediakan sebuah organisasi media sebagai upaya transparansi. Dalam hal ini pembaca bisa memberikan keluhan, kritik ataupun pujian atas apa yang ditampilkan organisasi media tersebut.

f) Stand-alone citizen journalism site, yang melalui proses editing. Sumbangan laporan dari warga, biasanya tentang hal-hal yang bersifat sangat lokal, yang dialami langsung oleh warga. Editor berperan sebagai penjaga kualitas laporan dan mendidik warga (kontributor) tentang topik-topik yang menarik dan layak untuk dilaporkan.

g) Stand-alone citizen journalism, dalam bentuk ini tidak melalui proses editing.

h) Gabungan Stand-alone citizen journalism website dan edisi cetak.

i) Hybrid: pro + citizen journalism. Suatu kerja organisasi media yang menggabungkan pekerjaan jurnalis dengan nonjurnalis.

j) Penggabungan antara jurnalis dengan nonjurnalis dalam satu atap. Seperti website membeli tulisan dari jurnalis dan juga menerima tulisan dari nonjurnalis.

d. Karakteristik Jurnalisme Warga

Untuk membedakan suatu hal dengan lainnya perlu diketahui ciri khasnya. Berikut karakteristik jurnalisme warga: 14

a) Dibuat oleh nonjurnalis.

b) Berperan aktif dalam proses jurnalistik seperti wawancara, foto dan sebagainya.

c) Terdapat nama asli penulisnya.

d) Terdapat dialog antara penulis dengan warga.

2. Features

Dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, Sumadiria mengatakan features adalah cerita khas yang diperoleh melalui proses jurnalistik karena bukan penuturan atau laporan tentang fakta secara lurus seperti berita langsung (straight news). Features tidak mematuhi kaidah 5W+1H, namun harus mengandung semua unsur keenamnya. Bahasa yang digunakan pun berupa pengisahan yang bersifat kreatif informal.

14

Sudrajat, “Jurnalisme Warga: Analisis Situs www.akumassa.org,” Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, (Universitas Islam Negeri: Jakarta, 2012).

Dalam Exploring Journalism, Wolseley dan Campabell meyebutkan features sebagai hiburan. Features merupakan bagian cukup penting sehingga surat kabar dapat memenuhi fungsi ketiga dalam media massa selain fungsi informasi dan pendidikan yaitu hiburan.15

Menurut Sumadiria features adalah tulisan khas yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberi informasi sekaligus menghibur khalayak media massa.16

Dari beberapa definisi di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa features adalah sebuah karangan yang berpijak pada fakta. Features merupakan sebuah produk jurnalistik yang cukup penting dalam media massa kemudian dikemas secara lebih ringan dari berita langsung (straight news), kreatif, kadang subjektif, tidak mematuhi kaidah 5W+1H namun harus mengandung keenam unsurnya dengan tujuan untuk menghibur dan memberi tahu pembaca tentang peristiwa, situasi atau aspek kehidupan.

Sebagai sebuah produk jurnalistik, features memiliki karakteristik, yaitu17:

a. Ditulis dengan gaya menulis cerita pendek yang bersifat lentur, hidup dan memikat.

b. Cerita faktual yang menggunakan alur dan pemantik.

c. Lebih banyak drencanakan sebelumnya dan cukup lama.

Dokumen terkait