• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sastra Tulis

“MEMBANGUN AHLAK MASYARAKAT DAN SARANA PRASARANA DI DESA KOMODO MENUJU PEMBANGUNAN

4. Peran legenda Ora (Komodo) terhadap masyarakat

“Dampak bagi masyarakat sangat banyak salah satunya adalah masyarakat biasa lebih mengerti dan menghargai terhadap binatang.

contoh, masyarakat tidak menyakiti Ora/ Komodo karena masyarakat sangat percaya bahwa ketika mereka menyakiti Ora/Komodo, akan ada kesialan di desa tersebut (H. Hamsi, Kamis, 03 April 2018).

Menurut pernyataan kepala Desa Komodo (H.Aksan) “peran bagi masyaraka sangat bayak salah satunya adalah sebagai penambah ekonomi, sebagian besar masyarakat disini yang sebelumnya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, mereka membuka warung makan di Loh Liang untuk wisatawan ataupun orang-orang yang mau meneliti. Bahkan ada juga yang menjadi pawang/guiude bagi wisatawan asing”(H.Aksan, 04 April 2018).

Kepala adat desa Komodo juga menyampakan “perannya ya sekarang sebagai tempat anak-anak muda cari uang dengan menjadi pemandu, kemudian sudah di perhatikan oleh pemerintah, dan yang tidak kalah penting adalah ini sebagai acuan masyarakat dalam hidup sehari-hari, contohnya tidak boleh menyakiti binatang tersebut karna dari dulu kami percaya bahwa kapan kami menyakiti binatang itu aka nada musibah yang menimpa kampung kami”.

Pemandu wisata juga menyampaikan bahwa “Kalau kami sebagai pemuda tentu banyak dampaknya, seperti kalau kami dulunya hanya sebagai nelayan sekarang kami bisa jadi guide bagi turis-turis

57

luar negri, hasilnya juga sangat memuaskan”(Aziz, Selasa 07 April 2018).

Pemuda setempat juga mengatakan “Dampaknya sangat bagus , dari kami tidak punya pekerjaan sekarang bisa berjualan souvenir khas Komodo, seperti baju, patung Komodo, dan souvenir lainnya. Jadi dengan adanya cerita ini dan sekarang sudah mendunia binatang Komodo ini, kami sangat senang, bisa jadi ladang mencari uang untuk kami, kemudian ada dampak lain bahwa sebagai patokan untuk kami hidup bermasyarakat yang tidak boleh menyakiiti satu sama lain, apalagi berhubungan dengan Komodo. Karena kapan kami menyakiti Komodo, itu artinya kami memanggil musibah untuk kampung kami”

(Rizal, Senin,06 April 2018).

Masyarakat setempat meyakini bahwa Ora (Komodo) harus di perlakukan baik, apabila masyarakat menyakiti Ora, maka akan datang bencana atau sial pada masyarakat setempat. Masyarakat juga meyakini bahwa ketika Ora (Komodo) sampai turun di kolong rumah masyarakat itu artinya akan ada berita buruk di kampung tersebut, dan untuk mengetahuinya masyarakat harus mengunjungi Prafu (dalam bahasa Komodo) yang artinya tempat leluhur mereka.

B. Pembahasan

Berdasarkan beberapa data di atas, masyarakat setempat meyakini bahwa Ora (Komodo) merupakan binatang yang terlahir dari Rahim manusia. Masyarakat sangat yakin bahwa Ora (Komodo)

57

merupakan kembaran dari manusia, namun dia terlahir sebagai binatang. Meskipun Ora (Komodo) berwujud seperti binatang, masyarakat Pulau Komodo tetap memperlakukannya layaknya seperti manusia, hidup berdampingan tanpa saling menyakiti.

Kehidupan masyarakat Komodo, sangat erat dengan kepercayaan yang bernuansa mitos. Masyarakat Komodo dianggap sebagai masyarakat yang masih kuat memegang teguh akan kepercayaan tentang legenda ini dilihat pada masyarakat yang sangat meyakini akan Ora (Komodo).

Ora (Komodo) adalah binatang purba yang penuh akan mitos dan juga kekuatan mistis. Terdapat sejumlah aktifitas ritual yang merupakan syarat akan makna simbolis dan mengandung baik secara verbal. Sebagaiman pesan simbolis seluruh rangkain ritual memiki makna dan pesan khusus yang tentu tidak nampak begitu saja, terutam bagi orang-orang diluar masyarakat Komodo. Namun makna simbolik tersebut dapat dipahami melalui pengamatan seksama yang lebih jauh.

Dari data hasil wawancara beberapa narasumber di atas jelas bahwa struktur prosesi ritual Ora (Komodo) semakin lama akan semakin tidak diketahui oleh generasi berikutnya, hal ini dapat dilihat dari hasi wawancara antara tokoh masyarakat dan pemuda setempat bahwa pemuda setempat tidak mengetahui prosesi ritual yang lain selain membawa kayu cabang.

57

Prosesi ritual akan dilakukan apabila ada salah satu masyarakat yang mengalami sakit keras dan susah di obati, maka akan di lakukan prosesi ritual yaitu dengan mengunjungi Prafu (Leluhur) dari Komodo tersebut. Selain itu, prosesi ritual dilakukan apabila Komodo turun sampai di pemukiman warga. Masyarakat meyakini bahwa Komodo yang turun di Pemukiman warga merupan tanda akan ada bencana, maka di lakukan sebuah prosesi ritual mengunjungi prafu.

Seperti pada umumnya penyelenggara ritual, selalu ada bahan-bahan pelengkap yang menjadi persyaratan utama, bahan-bahan-bahan-bahan tersebut memiliki makna, nilai simbolik atau makna husus diantaranya :

a. Kain putih. Salah satu syarat utama dalam prosesi ritual ini memiliki symbol kebesaran hati.

b. Sajian makanan dan minuman memiliki symbol atau makna bahwa apa yang kita bawa merupakan makanan yang di senangi oleh leluhur tersebut.

c. Kayu cabang, memiliki makna bahwa yang melakukan atau mengusir Komodo dengan kayu cabang adalah masyarakat Komodo asli, karna sudah terbiasa dari lahir Komodo di usir dengan menggunakan kayu cabang.

Tentu dalam semua cerita rakyat memiliki model ataupun prosesi ritual yang berbeda yang diyakini secara masing-masing pada masyarakat. Seperti symbol-simbol yang terkandung yang memiliki makna berbeda. Berangkat dari pemahaman tersebut,

57

para masyarakat meyakini semua tidak terlepas dari adanya kekuatan besar yang mengusai segalanya. Para masyarakat juga meyakini adanya kekuatan mahluk gaib yang di ciptakan Allah SWT.

Bagi masyarakat setempat dengan adannya cerita legenda Ora (Komodo) memiliki peran diantaranya adalah sebagai sarana pendidikan, sebagai penambah ekonomi, sebagai ajaran-ajaran tentang etika dan moral bisa dipake sebagai pedoman bagi masyarakat dalam lingkungan hidup. Selain itu didalamnya juga terdapat larangan dan pantangan yang perlu di hindari, misal tidak boleh menyakiti binatang Komodo tersebut karna diyakini sebagai saudara mereka. Cerita rakyat bagi masyarakat menjadi tuntunan pendukung dalam bertingkah laku ataupun pergaulan.

Sebagai sarana pendidikan memberikan kesadaran pentingnya menghargai ciptaan Tuhan. Asal-usul kelahiran Ora (Komodo) sebagaimana diceritakan dalam legenda bahwa kelahiran suatu mahluk mempunyai proses dari Rahim seorang ibu yang harus dihargai. Ora (Komodo) sebagai mahluk ciptaan Tuhhan perlu mendapat perlindungan karena akan mempengaruhi makna hidup manusia.

Secara ekonomi, Legenda Ora (Komodo) berdampak terhadap terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat, terutama sebagai objek pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan local

57

maupun mancanegara. Hal ini berarti meningkatkan penghasilan dari matapencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai Guide (Pemandu Wisata).

Legenda Ora (Komodo) menginspirasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam terutama pelestarian binatang , terutama Ora (Komodo). Ora (Komodo) sekalipun dikenal sebagai binatang buas, jika diperlakukan dengan baik, maka dapat memberikan informasi tentang baik dan buruknya kehidupan manusia.

Mitos menyadarkan manusia akan adanya kekuatan gaib, melalui mitos, manusia di bantu untuk dapat menghayati daya-daya itu sebagai sesuatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupannya (Alimuddin 2014:100 ).

Susance K. Langer dalam mulyana (2013:92) menyebut kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambing merupakan kebutuhan pokok manusia. Melihat dari serangkaian asal usul legenda Orah (Komodo) dan juga rangkaian ritual serta fungsi bagi masyarakat yang sudah di jelaskan diatas, hal ini terlihat jelas dari rangkaian peroses semuanya yang dari awal asal usul sampai kepada yang lainya. Dalam masyarakat memiliki arti dan makna tertentu yang berbeda dengan setiap masyarakat lain terhadap cerita masyarakat pada umumnya, begitupun akan sejarah dan juga asal-usul semua cerita rakyat.

57

Devito (1997:122) mengatakan bahwa pemberian makna merupakan proses yang aktif, karna makna diciptakan dengan kerja sama diantara sumber dan penerima. Makna yang kita berikan pada symbol merupakan produk dari intraksi sosial dan menggambarkan kesepakatan kita untuk menerapkan makna tertentu pada symbol tertentu pula ( wes dan H. Tuner 2008:98 ). Hal ini juga berimbas pada terjadinya legenda Orah (Komodo). Namun begitu, bagi masyarakat setempat semua prosesi masi tetap dilakukan guna melestarikan dan menjaga akan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil penelitian dan juga pembahasan di atas, ditemukan beberapa makna atau pesan-pesan yang terkandung dalam cerita legenda asal-usul Ora (Komodo), struktur prosesi ritual dan juga peran terhadap masyarakat setempat. Hal ini singkron dengan pengertian Hermeneutik yang dikemukakan Oleh Paul Ricoeur yang mengatakan bahwa hermeneutika adalah sebuah cara untuk memahami teks yang pada akhirnya ujung dari proses itu adalah ditemukannya makna atau pesan.

Yang perlu dipahami dari semuanya adalah semua yang terkait dengan legenda Orah (Komodo) merupakan berdasarkan keyakinan masyarakat setempat akan keadaanya, begitupun symbol dan proses yang lainya. Namun demilian tidak menutup kemungkinan semuanya akan mengikuti perkembangan zaman.

57 BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Kajian Hermeneutika Legenda Asal-Usul Ora (Komodo) di Desa Komodo Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat, dapat disimpulkan bahwa :

Asal-Usul Ora (Komodo) berdasarkan hasil wawancara memberikan kesamaan pada pendapat. Ora (Komodo) merupakan binatang purba yang di percayai oleh masyarakat setempat merupakan kembaran dari manusia, namun Ora (Komodo) tersebut lahir dengan wujud kadal raksasa. Dengan demikian, masyarakat yakin bahwa semua Ora (Komodo) yang ada di pulau Komodo merupakan keluarga dari keturunan masyarakat desa Komodo.

Struktur Prosesi ritual Ora (Komodo) akan dilakukan apabila ada salah satu masyarakat yang mengalami sakit keras dan susah di obati, maka akan dilakukan prosesi ritual, yaitu dengan mengunjungi Prafu (Leluhur) dari Komodo tersebut.

Selain itu, prosesi ritual dilakukan apabila Komodo turun sampai di pemukiman warga. Masyarakat meyakini bahwa Komodo yang turun di Pemukiman warga merupan tanda akan ada bencana, maka di lakukan sebuah prosesi ritual mengunjungi prafu. Adapun sesajian yang di bawa saat melakukan prosesi ritual yaitu ; kain putih sebagai lambing kebesaran hati, kemudian makanan sejenis

57

telur, sirih, pinang merupakan. symbol bahwa makanan atau sesajian tersebut merupakan kesukaan dari leluhur mereka.

Peran Legenda Ora ( Komodo) Bagi masyarakat setempat dengan adannya cerita legenda Ora (Komodo) memiliki fungsi di antaranya adalah sebagai sarana pendidikan, sebagai penambah ekonomi, sebagai ajaran-ajaran tentang etika dan moral bisa dipake sebagai pedoman bagi masyarakat dalam lingkungan hidup.

masyarakat dalam lingkungan hidup.

58

57 Saran

1. Untuk masyarakat setempat

Legenda Ora (Komodo) merupakan sebuah legenda yang memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat yang di yakini secara bersama. Salah satu cara agar tetap menjadikan tempat tersebur sebagai tempat yag memiliki mitos ataupun hubungan dengan masyarakat maka, perlunya bagi semua elemen masyarakat menjaga,baik, menjaga akan keaslianya maupun menjaga akan semua yang diyakini dan juga prosesi ritualnya.

2. Untuk Pemerintah

Sebagi pemerintah yang memiliki salah satu tanggung jawab terhadap tempat legenda yang bertempat di wilayah tersebut tentu pemerintah menjadi peran utama dalam menjaga dan melestarikannya.

Pemerintah harus mampu menjadi panutan dalam menjaga tempat yang memiliki mitos dan sejarah tersebut karna, terjaga dengan baik dan tidaknya tergantung bagaimana pemerintah dapat mengelolanya

dengan ba

60

Dokumen terkait