F. Sistematika Penulisan Skripsi
2. Peran Masyarakat
Peran Masyarakat dalam pendidikan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 8 dan 9 yang menyatakan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program kerja pendidikan serta berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Dari isi Pasal di atas dapat dipahami bahwa masyarakat mempunyai kewajiban atas pendidikan yang ada disekitar mereka. Kewajiban tersebut mulai dari perencanaan pelaksanaan sampai dengan hasil yang akan dicapai. Meskipun dalam Pasal 8 dan 9 belum begitu
jelas peran apa yang diberikan pemerintah oleh masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan namun dapat kita pahami bahwa dukungan dari masyarakat sangat diperlukan demi terlaksananya pendidikan yang baik karena masyarakat mempunyai orang-orang yang akan mendidik dan di didik dalam suatu lembaga pendidikan.
Sebelum dijelaskan lebih lanjut mengenai peran maka perlu dipahami bahwa peran mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Mayor Polak (dalam Gunawan, 2000 : 40) menyatakan bahwa peran mengadung 2 arti yaitu :
a. Dari sudut individu, peran yang timbul dari berbagai pola dimana individu itu ikut aktif di dalamnya.
b. Secara umum, peran adalah keseluruhan yang menentukan apa yang dikerjakan seseorang untuk masyarakatnya, serta apa yang dapat di harapkan dari masyarakat itu.
Sedangkan kedudukan menurut Ralp Lington (Gunawan, 2000 : 41) mengandung dua arti yaitu :
a. Pengertian secara abstrak (berhubungan dengan individu) merupakan suatu posisi yang muncul karena pola tertentu.
b. Pengertian secara umum, kedudukan merupakan kumpulan hak-hak dan kewajiban .
(Soekanto, 2006 : 212) mengatakan bahwa peran merupakan aspek yang dinamis dalam kedudukan (status) terhadap sesuatu.
Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.
Dari uraian beberapa definisi peran dan kedudukan serta pengertian peran menurut Soerjono Soekanto dapat disimpulkan bahwa peran adalah suatu hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam suatu kedudukan, baik kedudukan yang diperoleh secara sengaja maupun tidak sengaja karena individu itu merupakan anggota dari suatu masyarakat tertentu.
Setiap individu mempunyai peran dalam kehidupannya, hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan kumpulan berbagai peran setiap individu-individu yang ada. Namun, hal ini kembali pada individu itu mampu melaksanakan perannya dengan baik atau tidak. Suatu peran yang dijalankan dengan baik oleh pelakunya dapat membuat seseorang itu memiliki keteraturan hidup karena peran dapat mengendalikan tingkah laku seseorang. Contoh peran yang di peroleh secara sengaja, seseorang yang mempunyai jabatan sebagai kepala sekolah akan mendapatkan tempat di dalam masyarakat setempat apabila ia mampu menjalankan perannya dengan baik meskipun masyarakat tidak setiap hari dapat mengawasi kerja kepala sekolah namun masyarakat dapat menilai melalui hasil yang diperoleh selama sekolah dalam kepemimpinannya. Begitu juga dengan peran yang diperoleh dengan tidak sengaja seperti masyarakat yang mempunyai peran terhadap kemajuan sekolah yang ada disekitarnya apabila mereka
menjalankan perannya/kewajibannya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 dan 9 maka sekolah akan menjadi lebih berkualitas karena adanya dukungan dari masyarakat tentunya kemajuan sekolah akan dipetik hasilnya melalui masa depan anak-anak mereka di masa yang akan datang. Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dalam suatu proses kehidupan.
Berdasarkan uraian di atas sebagai seorang masyarakat yang berdampingan dengan sekolah maka masyarakat juga mempunyai peran, tanggung jawab terhadap sekolah di lingkungannya mengingat sekolah merupakan kelanjutan pendidikan dilingkup keluarga yang sifatnya membantu mempersiapkan masa depan anak mereka sebagai aset bangsa.
Dalam kondisi demikian peran masyarakat adalah konstribusi, sumbangan dan keikutsertaan masyarakat dalam menunjang kemajuan pendidikan baik berupa dana, pemikiran, maupun tenaga yang dimiliki masyarakat. Peran masyarakat menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 8 dan 9 dapat dirinci sebagai berikut :
1. Masyarakat berhak dalam perencanaan pendidikan baik berupa sumbangan ide terhadap pendidikan yang sudah ada maupun mengusulkan untuk mendirikan sekolah di daerahnya dengan mengajukan proposal kepada kantor kementrian pendidikan.
2. Masyarakat berhak ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan yaitu di dalam kegiatan yang dilakukan di sekolah.
3. Masyarakat berkewajiban memberi pengawasan terhadap peaksanaan pendidikan, baik melalui wadah masyarakat yaitu komite sekolah maupun dengan datang langsung ke sekolah.
4. Masyarakat mempunyai hak atas hasil yang dikeluarkan oleh pendidikan yaitu berupa siswa yang berpendidikan serta dapat member masukan kepada pihak sekolah apabila terdapat kesalahan dalam proses pendidikan anaknya.
5. Masyarakat juga mempunyai kewajiban untuk memberikan dukungan terhadap sekolah baik dukungan tenaga, dana maupun pemikiran dalam penyelenggaraan pendidikan.
Berpacu dengan Pasal diatas maka peran masyarakat terhahap pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi 7 macam yaitu :
1. Peran serta dalam menggunakan jasa sekolah yang tersedia, yaitu sebatas memanfaatkan sekolah yang ada untuk mendidik anak-anaknya.
2. Peran serta dalam memberikan bantuan dana, barang dan tenaga untuk pembangunan fisik sekolah baik berupa perbaikan maupun pembangunan gedung baru.
3. Peran serta pasif, masyarakat menerima keputusan dari pihak sekolah (komite sekolah) tanpa adanya keributan yang muncul. 4. Peran serta konsultasi, pihak orang tua melaporkan masalah seputar
anaknya dengan datang secara langsung ke sekolah. Hal ini dapat membantu kelancaran guru dalam mengelola peserta didik di kelas.
5. Peran serta dalam pelayanan, orang tua/masyarakat terlibat dalam kegiatan sekolah misalnya orang tua ikut serta dalam kegiatan sekolah seperti kegiatan pramuka, study tour, keagamaan dan sebagainya dengan memberikan bantuan berupa tambahan iuran, membantu dengan tenaga, ikut menyiapkan peralatan persiapan kegiatan yang susah dijangkau.
6. Peran dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat ikut serta dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan atau bisa juga berpartisipasi dalam membantu mencatat data usia anak yang akan ditampung dalam sekolah tersebut apabila sekolah menghendaki.
7. Peran dalam pengambilan keputusan, orang tua siswa/masyarakat ikut serta dalam pengambilan keputusan baik akademik maupun non akademik. Dapat dilakukan dengan menghadiri rapat/undangan sekolah kepada wali murid (Daud, 2005 : 6).
B. Pendidikan