• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pemerintah Daerah Dalam Kawasan Ekonomi Khusus

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 negara Indonesia adalah Negara Kesatuan. Negara Kesatuan adalah Negara yang kedaulatannya sepenuhnya diselenggarakan oleh pemetintah pusat. Semua organisasi pemerintahan mulai dari pusat sampai daerah di bawah kendali pemerintah pusat.99

Pemerintah daerah adalah subdivisi pemerintahan nasional. Dalam negara kesatuan pemerintah daerah langsung di bawah pemerintah pusat sedangkan dalam negara serikat pemerintah daerah di bawah negara bagian.

Pemerintah daerah hanya bagian atau subsistem dari sistem pemerintahan nasional. Karena pemerintah daerah merupakan bagian dari sistem pemerintahan nasional maka antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terdapat hubungan antarpemerintahan yan saling terjalin berkeadilan sehingga membentuk satu kesatuan pemerintahan nasional.100

Pemerintah daerah berwenang menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi kewenangan, kecuali urusan penyelenggaraan penanaman modal yang menjadi urusan Pemerintah Pusat. Pemerintah daerah yang dimaksud disini adalah Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten atau Kota.

Adapun penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kriteria

99 Hanif Nurcholis, Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah, (Jakarta: PT Gramedia, 2007), hal 115

100 Ibid, hal 59

eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penanaman modal.

Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang didelegasikan oleh pemerintah pusat.

Adanya ketentuan tersebut menunjukkan bahwa di satu sisi pelayanan penanaman modal dilakukan dalam satu sistem pelayanan terpadu, tetapi di sisi lain ada hal-hal terterntu diserahkan kepada instansi terkait dan/atau Pemerintah Daerah.101

Dalam menjalankan urusan pemerintahan, Pemerintah Daerah (Pemda) mempunyai hubungan dengan pemerintah dan Pemda lainnya. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa betapa pun luasnya kewenangan yang dimiliki oleh suatu daerah, dalam menyelenggarakan urusan pemerintah tertentu, tetap ada hubungan dengan pemerintah dan Pemda lainnya. Hubungan tersebut meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya.

Keserasian hubungan antara pemerintah dan Pemda, dan antar sesama Pemda akan dapat memperkuat negara kesatuan Republik Indonesia. Keserasian hubungan hanya akan terwujud jika semua pihak, baik pemerintah, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota menyadari dan mengetahui masing-masing hal dam kewajibannya, serta berkomitmen untuk melaksanakan hak dan kewajiban itu dengan sebaiknya.102

101 Ermanto Fahamsyah, Hukum Penanaman Modal, (Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2015), hal 82

102 Ujang Bahar, Otonomi Daerah Terhadap Pinjaman Luar Negeri Antara Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Indeks, 2009), hal 85

Untuk dapat membentuk jalinan hubungan pemerintahan yang sistemik dengan hasil guna yang maksimal, setiap negara mengembangkan hubungan antarlembaga negara dan hubungan antar pemerintahan pada semua jenjang pemerintahan. Pada tingkat nasional diatur hubungan antarlembaga tinggi negara dan hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Di daerah diatur hubungan antarlembaga daerah dan hubungan antarpemerintahan daerah.

Tata kerja dan mekanisme hubungan antarpemerintahan demikian diatur dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan pelaksanaanya.103

Pembahasan mengenai kepastian hukum dalam penanaman modal tentunya juga tidak bisa dilepaskan dengan pembahasan yang berkaitan dengan masalah struktur hukum yang menyangkut aparatur hukum, tatanan kelembagaan atau organ-organ.

Aparatur hukum mempunyai peran yang sangat besar dalam menarik investor atau menciptakan iklim yang kondusif untuk berpenanaman modal.

Aparatur hukum meliputi badan yudikatif, legislatif dan eksekutif.

Dalam era otonomi daerah, peran aparatur daerah di bidang legislatif dalam menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif salah satunya dapat dilakukan melalui perbuatan peraturan yang friendly terhadap investor. Dan di eksekutif dapat dilakukan melalui penyelenggaraan urusan penanaman modal yang efisien, cepat dan adil.

Peran pemerintah daerah akan dapat menunjang pembangunan ekonomi, khususnya di bidang penanaman modal, apabila sistem hukum yang meliputi

103 Hanif Nurcholis, Op.Cit, hal 60

substansi, struktur hukum dan budaya hukum masyarakatnya dibenahi secara optimal.

Pertama, berkaitan dengan masalah substansi hukumnya, peraturan perundang-undangan yang dihasilkan baik oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mempunyai keselarasan sehingga tidak tumpang tindih antara peraturan yang satu dan yang lainnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan adanya kepastian hukum bagi pelaku ekonomi khususnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan penanaman modal.

Kedua, berkaitan dengan masalah struktur hukum, aparatur hukum baik pusat maupun daerah dalam rangka memacu pertumbuhan pembangunan ekonomi harus dapat menciptkan iklim penanaman modal yang kondusif, jaminan keamanan dan kepastian hukum sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai penanaman modal.

Ketiga, berkaitan dengan masalah budaya hukum, budaya hukum di Indonesia harus terus dibangun dengan baik dengan meningkatkan kesadaran hukum bagi semua masyarakat, sehingga kualitas budaya hukum masyarakat, khususnya pada aparatur hukum mempunyai kualitas yang baik. Dengan budata hukum yang baik diharapkan dapat menciptakan kepastian hukum bagi para pelaku ekonomi, khususnya bagi investor.104

Demikian halnya dengan aspek pengawasan pelaksanaan wewenang pemerintah daerh di bidang penanaman modal yang berkaitan dengan peran aparatur pelaksananya, yang dapat dilihat dari banyaknya oknum pejabat di daerah

104 Ermanto Fahamsyah, Op.Cit , hal 95

yang melakukan tindakan melawan hukum. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pelaksanaan fungsi pengawasan pelaksanaan wewenang pemerintah daerah yang berkaitan dengan penanaman modal.105

Daerah terlihat sangat antusias untuk membentuk kawasan ekonomi khusus. Sampai saat ini saja terdapat dua belas daerah yang mengajukan diri, dan masing-masing daerah memiliki justifikasi yang kuat untuk mengusulkan daerah masing-masing.

Menurut Kuncoro (2004) teori pembangunan yang ada sekarang ini tidak mampu untuk menjelaskan kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi daerah secara tuntas dan komprehensif.

Oleh karena itu, suatu pendekatan alternatif untuk kepentingan perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Pendekatan ini merupakan sintesis dan perumusan kembali konsep-konsep yang telah ada. Pendekatan ini memberikan dasar bagi kerangka pikir dan rencana tindakan yang diambil dalam konteks pembangunan ekonomi daerah.106

Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, pasal 31, bahwa untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah tertentu yang bersifat strategis bagi pengembangan ekonomi nasional dan untuk menjaga keseimbangan kemajuan suatu daerah, dapat ditetapkan dan dikembangkan kawasan ekonomi khusus.107

105 Ermanto Fahamsyah, Ibid, hal 110

106 H.M. Safi‟i, Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah, (Malang:

Averroes Press, 2007), hal 83

107 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

KEK diyakini mampu memacu laju pertumbuhan ekonomi daerah yang didorong oleh kegiatan liberalisasi perdagangan dan investasi, terciptanya kesempatan kerja baru sehingga dapat mengurangi pengangguran, meningkatnya daya beli dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembentukan KEK tidak hanya memberikan manfaat, akan tetaoi daerah juga perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya dampak negatif dari adanya KEK.

KEK akan bekerja dengan baik bilamana ditopang oleh kestabilan ekonomi makro, lokasi geografis yang strategis, terutama terkait dengan pasar ekpor, skema insentif yang kompetitif, manajemen kawasan yang efektif dan efisien, jaringan infrastruktur yang berkualitas, keterkaitan yang erat dengan perekonomian domestik dan peningkatan kemampuan teknologi.

Dalam tataran makro ekonomi kegagalan pembentukan KEK dapat dilihat dari relatif kecilnya sumbangan devisa yang diperoleh dari kegiatan ekspor impor.

Hal yang juga penting yaitu bilamana pembentukan KEK tidak mampu untuk meningkatkan nilai tambah industri dan membangun keterkaitan kedepan dan kebelakang (backward and forward linkages) dengan industri domestik khususnya skala menengah dan kecil termasuk koperasi.

Dalam konteks daerah, kegagalan KEK akan berdampak pada terjadinya ketidakstabilan perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari arus migrasi penduduk yang tinggi ke lokasi KEK melebihi kapasitas pertumbuhan sektor industri yang akan menambah permasalahan baru terutama dari sisi bertambahnya angka pengangguran, semakin tingginya kesenjangan pendapatan dan akan memperbesar permasalahan sosial yang dihadapi oleh suatu daerah.

Jika lebih diperinci dampak negatif atau biaya-biaya yang harus dikeluarkan akibat pembentukan KEK terdiri dari biaya yang dapat dihitung dan biaya yang tidak dapat dihitung. Biaya pengembangan KEK adalah biaya yang dapat dihitung, sementara biaya-biaya sosial atau kesejahteraan akibat pengembangan KEK adalah biaya yang tidak dapat dihitung.

Implementasi pembentukan KEK pada dasarnya juga sangat ditentukan oleh kesiapan daerah dari sisi kemampuan untuk menjalankan pemerintahan yang baik (good governance) dengan dukungan kelembagaan yang handal. Kriteria ini sangat penting dalam menyeleksi kesiapan daerah. Prinsip pengelolaan KEK harus dilakukan dengan orientasi bisnis dan manajemen yang handal.108

Pemerintah daerah harus mampu mempercepat pelayanan kepada masyarakat terutama pelaku usaha yang akan menanamkan modalnya di daerah secara lebih cepat, efektif, dan efisien.109 Pemerintah berwenang menetapkan kebijakan penanaman modal tersendiri di kawasan ekonomi khusus.110

108 Tumpal Sihaloho dan Naufa Muna, Kajian dampak ekonomi pembentukan kawasan ekonomi khusus, http://www.kemendag.go.id/files/pdf/2013/04/25/-1366882248.pdf, Diupload pada tanggal 25 April 2013 (diakses pada hari senin tanggal 13 februari 2017)

109 Ermanto Fahamsyah, Op.Cit, hal 88

110 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

BAB IV

TUGAS DEWAN NASIONAL DALAM MEMANTAU DAN