• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2. Peran Politik Wali Nanggroe Dalam Pemerintahan Aceh

39

Beberapa tujuan diatas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan dari pembentukan Wali Nanggroe ditujukan sebagai lembaga adat yang diberikan hak

.

3.2. Peran Politik Wali Nanggroe Dalam Pemerintahan Aceh

Dilihat dari Qanun, lembaga Wali Nanggroe diberikan ketegasan fungsi dan tujuan dalam Qanun Nomor 9 Tahun 2013—dalam pasal 3 dijelaskan bahwa lembaga Wali Nanggroe memiliki tujuan :

1. Mempersatukan rakyat Aceh

2. Meninggikan dinul Islam, mewujudkan kemakmuran rakyat, menegakkan keadilan, dan menjaga perdamaian

3. Menjaga kehormatan, adat, tradisi sejarah, dan tamadun Aceh; dan 4. Mewujudkan pemerintahan rakyat Aceh yang sejahtera dan bermartabat.

38 Qanun Nomor 9 Tahun 2013 Pasal 17 Ayat 5

39 Wawancara dengan Mohd.Zaini, SE.M.Si pada 31-03-2016

institusi dan memiliki pengaturan birokrasi untuk menjalankan lembaga Wali Nanggroe.Pengaturan ini dimanefestasikan dari adanya kesekretariatan lembaga Wali Nanggroe yang berfungsi untuk membantu pekerjaan Wali Nanggroe.

Berdasarkan Qanun Nomor 10 Tahun 2013 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Keurukon Katibul Wali dijelaskan bahwa dalam menjalankan perannya Wali Nanggroe dibantu oleh seperangkat kerja birokrasi atau struktural pendukung. Qanun Nomor 10 Tahun 2013 itu lebih menegaskan dan diakuinya sekretariat Wali Nanggroe dalam tata kerja birokrasi pada Pemerintahan Aceh.Sejak Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh disahkan—lembaga Wali Nangroe merupakan mandat keistimewaan Aceh yang diperoleh melalui MoU Helsinki yang mengakhiri konflik yang berkepanjangan antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia.Penjelasan lebih rinci tentang peran lembaga Wali Nanggroe ini memang baru diatur dalam Qanun perubahan yang terbaru.Walaupun posisi sebagai lembaga adat memang sudah melekat pada lembaga Wali Nangroe tetapi baru saat ini memiliki tata kelola kerja administrasi pemerintahan yang jelas seperti dijelaskan dalam Qanun Nomor 10 Tahun 2013.

Qanun nomor 8 Tahun 2012 memang telah direvisi oleh Kementrian Dalam Negeri sebagai upaya agar tidak ada kewenangan yang melebihi batas yang diberikan kepada Wali Nanggroe sebagai lembaga yang memang didirikan sebagai pemangku adat di Provinsi Aceh. Hal ini juga dijelaskan oleh Mohd.Zaini yang merupakan Kassubag Data Katibul Wali. Beliaumenjelaskan :

Lembaga Wali Nanggroe merupakan lembaga independen. Lembaga ini bukan lembaga politik, dan diluar seperti eksekutif . Jadi Lembaga Wali Nanggroe merupakan mitra kerja Pemerintah dalam membangun Aceh.

Tetapi kami di kerukunan khatibul Wali atau Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe merupakan SKPA, secara administratif kami bertanggung jawab kepada Gubernur, sedangkan operasional kami tunduk kepada Wali.

Hampir sama seperti Sekwan yang ada di DPRA40

Kita berupaya menyatukan masyarakat Aceh yang majemuk melalui lembaga Wali Nanggroe berdasarkan adat-istiadat, kebudayaan dan sejarah Aceh. Mengenai aspek geopolitiknya saya rasa akan berpengaruh juga.

Tetapi yang paling penting adalah Wali Nanggroe ini sebenarnya pemersatu dan pemimpin seluruh rakyat Aceh secara peradapan Aceh, bukan dari sisi kekuasaan politik

Hal dibenarkan oleh Bapak Fakhrulsyah Mega bahwa:

41

Memberikan pandangan, arahan dan nasihat kepada Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh serta Lembaga-Lembaga lainnya dalam perumusan kebijakan strategis dan penyelesaian masalah-masalah yang sifatnya genting

.

Permasalahan yang terjadi adalah aktivitas eksplisit yang dilakukan oleh Wali Nanggroe yang sering menjadi persoalan apa sebenarnya peran dan posisi Wali Nanggroe saat ini. Banyak pasal-pasal yang memang secara eksplisit keluar dari konteks Wali Nangroe sebagai lembaga pemangku adat di Provinsi Aceh.

Seperti pasal 29 yang berbunyi :

42

Pasal dapat menunjukkan pemahaman tersendiri bahwa lembaga Wali Nanggroe juga ikut dalam kebijakan-kebijakan strategis bahkan pada lembaga legislatif yang notabene berbeda fungsi sangat jauh dari lembaga Wali Nanggroe

.

40Wawancara dengan Mohd. Zaini pada 31-03-2016

41Wawancara dengan Fakhrulsyah Mega pada 23-05-2016

42 Qanun Nomor 9 Tahun 2013 Pasal 29

yang hanya fokus mengurusi perkembangan adat di Aceh.Pasal 29 ini terkesan bahwa ada kontrol walaupun secara tidak langsung dari lembaga Wali Nanggroe kepada DPRA dalam menjalankan tugasnya.Dalam beberapa kasus memang terjadi pro dan kontra tentang perubahan Qanun yang baru ini—meskipun Qanun yang baru telah direvisi oleh Kemendagri tetapi tetap saja terdapat yang multitafsir menyebabkan keberadaan lembaga Wali Nanggroe dilemma antara posisi politik atau hanya sebagai posisi adat saja.Namun menurut Bapak Fakhrulsyah Mega, Lembaga Wali Nanggroe hanya sebagai pengawas dan Pembina. Seperti beliau jelaskan:

Lembaga Wali ini sebagai pemersatu.Wali Nanggroe bisa memperingatkan dan memberi solusi dan masukan kearah yang lebih baik.Lembaga ini sebagai pengawas dan membina.Kita libatkan semua ahli untuk melakukan analisis yang lebih bagus terhadap pembangunan Aceh.Masih banyak maslah seperti korupsi dan pertambangan yang tidak memperhatikan lingkungan ini salah satu yang membuat masalah.

Asal ada sumber yang bisa menghasilkan menghasilkan uang langsung digunakan tanpa berpikir apadampak yang bakal terjadi nanti43

Beberapa penolakan juga datang dari Komnas HAM dimana Komnas HAM mengkritik tentang subtansi dari Qanun tentang Wali Nanggroe ini—

permasalahan yang diajukan oleh Komnas HAM adalah tentang persyaratan siapa yang berhak menjadi Wali Nangroe dan persyaratan harus dapat berbahasa Aceh44

43Wawancara dengan Fakhrulsyah Mega pada 23-05-2016

44 Wawancara dengan Mohd.Zaini Pada Pukul 31-03-2016

.Kontradiksi juga terjadi sangat kontras ketika lembaga Wali Nanggroe dihadapkan pada problem apakah institusi Wali Nangrgoe merupakan produk politik apakah merupakan produk dari kebudayaan lokal (local wisdom) saja.

Hadirnya lembaga Wali Nanggroe kontras dengan kepentingan politik karena

prosesnya terjadi di DPRA yang dimana kita tahu bahwa ketika sudah masuk di legislatif maka telah terjadi proses tarik ulur politik disitu45 . Jadi sudah sepantasnya kecurigaan terhadap lembaga Wali Nanggroe sebagai produk politik adalah hal yang wajar.Tetapi jika dilihat dari tata kerja organisasi kepemerintahan—lembaga Wali Nanggroe memang ditujukan sebagai lembaga adat.Dalam Laporan Kinerja Pemerintah (LAKIP) Keurukon Katibul Wali46

No.

Tahun 2015 terlihat bahwa fokus kerja kelembagaan Wali Nanggroe adalah permasalahan adat di Aceh.Dalam Rencana Kerja Tahun 2015 juga strategi kerja lembaga Wali Nanggroe terdapat tujuh poin yang memuat strategi pengembangan adat di Aceh.

Tabel.3. Strategi Kebijakan Pengembangan Adat Keurukon Katibul Wali Tahun 2015

Program

1. Peningkatan pemberian apresiasi kepada yang berjasa memajukan peradaban Aceh

2. Peningkatan pembinaan keanekaragaman budaya/adat dan istiadat

3. Peningkatan data dan informasi serta pendokumentasian naskah kuno (manuskrip)

4. Peningkatan peraturan ketatalaksanaan kelembagaan dan adat istiada berdasarkan nilai-nilai dinul islam

5. Pergeseran fungsi kebudayaan dari tontonan menjadi tuntutan

45 Wawancara dengan Aryos Nivada, Pengamat Politik dan Keamanan Aceh Institute dan Jaringan survey Inisiatif pada 07-04-2016

46Kerukon Katibul Wali merupakan unsur pelayanan terhadap Lembaga Wali Nanggroe.Istilah bahasa Aceh memang sangat kontras dalam administrasi pemerintahan Aceh. Hal ini merupakan wujud dari keistimewaan Aceh dalam UU Nomor 11 Tahun 2006

6. Peningkatan dukungan penyediaan data/informasi dibidang kebudayaan dan program

7. Peningkatan pembinaan dan pelestarian serta pengembangan seni, budaya, dan adat istiadat yang islam

Sumber: Rencana Kerja Katibul Wali Tahun 2015 (diolah Peneliti)

Strategi yang berkaitan dengan adat ini menunjukkan bahwa peran Wali Nanggroe dalam memajukan perkembangan adat di Aceh mendapatkan dasar dalam Rencana Kerja (Renja) pada tahun 2015.Dalam menjalankan tata kerja organisasinya, lembaga Wali Nanggroe juga dibantu oleh beberapa majelis-majelis berdasarkan bidang tertentu47. Posisi majelis yang ada saat ini adalah Majelis Adat Aceh, Majelis Ulama Aceh, Majelis Hakim, dan Majelis Tuha Delapan48

Kedudukan Lembaga Wali Nanggroe dengan Majelis Adat Aceh tidak ada masalah. Sesuai Qanun, Majelis Adat Aceh berungsi sebagai lembaga operasional dibawah Wali Nanggroe. Dari aspek hokum kedudukannya personal rex individual, person Wali itu struktur aspek kenegaraan, makanya Wali perlu dibantu oleh Majelis Ulama, Majelis Adat, Majelis Hakim, Majelis Mukim dan Majelis Tuha Delapan.Majelis-majelis ini semua mendukung kewibawaan Lembaga Wali Nanggroe, untuk mendukung kerja Lembaga Wali Nanggroe, sehingga pada saat wali menjalankan tugs adat terangkum semuannya. Dari sisi formal ada hubungan sangat konkrit tapi tidak bisa dipisahkan.Fungsi wali naggroe menjalankan adat, menggali, mengembangkan, membina, dan mengawasi adat.Dalam anun ada strukturnya, disebutkan lembaga itu sebagai fungsional. Majelis Adat Aceh masuk struktural dibawah koordinasi Wali.

Wali Nanggroe, lembaga besar yang dalam qanun disebut independen, memberi masukan kepada Gubernur

. Adanya majelis ini karena posisi wali sebagai rex individual atau posisi kewibawaan dalam ketatanegaraan. Seperti dijelaskan oleh Ketua MAA :

49

47 Wawancara dengan Mohd.Zaini pada pada 31-03-2016

48 Wawancara dengan Ketua Majelis Adat Aceh pada 01-04-2016

49 Wawancara dengan Ketua Majelis Adat Aceh pada 01-04-2016

Dalam Qanun Nomor 9 Tahun 2013 memang dijelaskan bahwa terdapat majelis-majelis lain yang akan membantu kelembagaan Wali Nanggroe. Terdapat Majelis Kehutanan Aceh, Majelis Khazanah dan Kekayaan Aceh, Majelis Ekonomi Aceh, Majelis Pertambangan Energi, Majelis Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan, dan Majelis Perempuan. Adanya majelis-majelis ini juga semakin menguatkan bentuk bahwa adanya kecenderungan lembaga Wali Nanggroe ingin menjadi lembaga setara dengan eksekutif bahkan melebihi dari eksekutif.Seperti yang dijelaskan oleh Ketua MAA bahwa Wali Nanggroe merupakan struktur kenegaraan oleh sebab itu dibutuhkan bantuan dari para majelis-majelis ini dalam membantu pekerjaan lembaga Wali Nanggroe.Hal ini sejalan dengan pasal 29 yang menjelaskan secara eksplisit bahwa Wali Nanggroe dapat menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan yang dilakukan oleh DPRA dan Gubernur Aceh dalam menjalankan kebijakannya.Fungsi kontrol ini diaktualisasikan lewat bahwa lembaga Wali Nangrgoe dapat memberikan masukan kebijakan kepada DPRA dan Gubernur Aceh. Terlihat inkonsistensi antara fungsi adat yang melekat di lembaga Wali Nanggroe dengan aturan dalam Qanun—terlihat bahwa ada potensi bahwa Wali Nanggroe akan berkembang secara alamiah maupun disengaja sebagai lembaga yang setara dengan Gubernur dan DPRA bahkan melebihi kedua lembaga ini. Kecenderungan kekuasaan dan potensi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang ada dalam lembaga Wali Nanggroe memang sangat kental.

Manajemen kekuasaan yang tidak diatur justru akan membuat tindakan-tindakan lembaga ini kedepan harus mendapatkan kontrol publik yang baik, apalagi Aceh

masih dalam keadaan transisi perdamaian sangatlah penting mengelola kekuasaan dengan baik tanpa ada tumpang tindih kekuasaan. Dilihat dari aktivitas dan kemunculannya memang lembaga Wali Nanggroe hanya permainan politik para elit GAM saja50

Kalau kita melihat UU Pemerintah Aceh dikatakan Lembaga Wali Nanggroe itu adalah kepemimpinan adat.Kemudian kewenangganya, membina lembaga adat.Kemudian ditentukan lagi, lembaga-lembaga yang diatur adalah bukan lembaga-lembaga politik dan bukan lembaga-lembaga pemerintahan.Nah, jadi ini secara jelas disebut dalam UU Pemerintahan Aceh

.Dilihat dari fungsinya juga, jika lembaga Wali Nanggroe mengurusi permasalahan adat—lalu bagaimana peran Majelis Adat Aceh (MAA) yang notabene juga menjadi majelis yang juga sebagai lembaga adat aceh.Dalam kacamata teori peran (role theory) terdapat peran bayangan yang melekat dalam lembaga Wali Nanggroe.Peran bayangan yang dimaksud adalah pola kecenderungan kepentingan peran yang tidak Nampak pada legitimasi formal melainkan memiliki jangkauan formal yang luas sehingga tidak nampak dipermukaan peran politik dari lembaga Wali Nanggroe ini.Dalam praktiknya terlihat bahwa peran Wali Nanggroe memang diluar dari wilayah adat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Mawardi Ismail :

51

Mawardi Ismail menjelaskan bentuk perlampuan wewenang yang melekat pada lembaga Wali Nanggroe adalah pengaturan fungsi tata kelola kerja lembaga Wali Nangroe itu sendiri.Adanya majelis-majelis yang dibawah lembaga Wali Nanggroe sebenarnya telah menyalahi wewenang yang diberikan oleh Wali

.

50 Wawancara dengan Rizky Nanda pada pukul pada 07-04-2016

51 Wawancara dengan Mawardi Ismail pada 08-04-2016

Nanggroe.Hal ini terkesan seperti Wali Nanggroe sebagai presiden dan majelis sebagai menteri-menteri yang membantu Wali Nanggroe dalam pekerjaannya52

52 Wawancara dengan Mawardi Ismail pada 08-04-2016

.Kesan bahwa ada kewenangan yang melebihi itu memang dapat dilihat lebih dalam lagi—jika mengacu pada Qanun Nomor 9 Tahun 2013 memang secara subtansi lembaga Wali Nangroe merupakan lembaga adat.Tetapi jika ditafsir lebih jauh terdapat pasal-pasal yang memiliki kecenderungan lembaga Wali Nanggroe memiliki peran yang lebih dalam pemerintahan Aceh.Salah satu bentuknya adalah pembagian yang kurang jelas antara majelis-majelis pembantu dan lembaga Wali Nanggroe. Pengaturan yang tidak jelas tentunya akan menjadi kebingungan yang tiada ujung. Apalagi lembaga Wali Nanggroe merupakan lembaga adat terhormat yang mengurusi kehidupan adat di Aceh. Jika terdapat distorsi kewenangan yang kontras justru publik akan berpandangan bahwa lembaga Wali Nanggroe hanya pola kekuasaan yang berbalutkan adat saja.

Subtansi Qanun Nomor 9 Tahun 2013 memang didominasi penjelasan mengenai posisi adat lembaga Wali Nanggroe—tetapi munculnya pasal-pasal yang melebihi kewenangan ini membuat juga potensi kekuasaan yang melebihi posisi alamiah lembaga Wali Nanggroe.Kesejarahan Aceh yang memang dengan kehidupan adatnya memang layak mendapatkan perlakuan istimewa dalam menjalankan pemerintahannya.Apalagi, saat ini desentralisasi juga memberikan hak kepada daerah untuk mengatur daerahnya sendiri. Memang dalam perjalanan sejak Aceh mengadakan perdamaian dengan Indonesia terdapat pola warisan

kekerasan(violence legacy) dan dominasi kekuasaan(power domination) para mantan elit Gerakan Aceh Merdeka dalam proses transisi dan pasca perdamaian.

Bentuk dominasi yang dilakukan bisa dalam bentuk formal dan informal.Pola dominasi formal adalah aktualisasi praktik politik lokal di Aceh yang diwujudkan dalam bentuk pembentukan partai politik lokal.Partai Aceh merupakan partai lokal Aceh yang terbesar yang banyak menampung para mantan elit GAM terdahulu.Dimulai dari Irwandi Yusuf, Zaini Abdullah, dan Muzakir Manaf—

walaupun dalam perjalanannya terdapat konflik kepentingan yang terjadi didalam konsolidasi elit GAM pada Partai Aceh dengan membentuk partai-partai lokal yang baru diluar Partai Aceh.

Lembaga Wali Nanggroe pada awalnya merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada Hasan Tiro yang merupakan tokoh kharismatik sekaligus pendiri Aceh Freedom Movement yang membangun dan meluaskan pengaruh GAM menjadi gerakan separatis yang diperhitungkan didunia.Simpati yang didapat oleh Hasan Tiro bukan hanya Indonesia melainkan dunia. Terbukti proses perdamaian di Aceh banyak melibatkan beberapa aktor-aktor dan lembaga internasional untuk membantu proses perdamaian di Aceh. Posisi kehormatan yang melekat dalam diri Hasan Tiro jika dilihat dari peran sebagai pendiri GAM memang tidak bisa ditolak lagi, selain kemampuan intelektualnya—Hasan Tiro juga seorang penggiat organisasi yang sangat giat dalam membesarkan organisasi GAM.Teuku Mahmud Malik Al-Haytar berbeda dengan Hasan Tiro.Teuku Mahmud merupakan pengusaha sukses yang dilahirkan di Aceh dan berkarir sampai besar di Singapura

dan juga terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka. Kondisi ini secara otomatis proses penerimaan sosial masyarakat Aceh oleh sosok Wali Nanggroe sangatlah sulit. Selain karena persoalan ketokohan seorang Teuku Malik Mahmud yang diragukan, juga persoalan apakah ia mengetahui seluk beluk Aceh sama dengan kemampuan seorang Hasan Tiro yang sangat paham betul soal Aceh dan berperan banyak pada proses perdamaian dan perbaikan kehidupan di Aceh. Terjadi kesenjangan sosok antara Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe yang memang sangat dihormati masyarakat Aceh dengan Wali Nanggroe setelah Hasan Tiro meninggal, terkhusus Teuku Mahmud.Untuk mengisi kesenjangan sosok ini Qanun yang menguatkan posisi lembaga Wali Nanggroe menjadi alternatif legitimasi kekuasaan untuk dapat memperoleh kehormatan kembali lembaga Wali Nanggroe pada saat Hasan Tiro menjabat sebagai seorang Wali Nanggroe.Tetapi dalam praktiknya, Qanun yang sudah disahkan secara subtansi banyak mengandung kewenangan lebih yang melekat banyak dalam lembaga Wali Nanggroe. Meskipun tata kerja lembaga Wali Nanggroe memang berfungsi untuk melakukan pekerjaan pengembangan adat di Aceh, tetapi terdapat proyeksi kewenangan yang sedikit demi sedikit akan mengubah posisi lembaga Wali Nanggroe berperan sebagai lembaga politik bahkan eksekutif53

53 Wawancara dengan Aryos Nivada pada 07-04-2016

. Meskipun baru pada tahun 2012 pengaturan lembaga Wali Nanggroe baru defenitif, disisi lain terdapat pola konsolidasi kekuasaan terutama diantara elit-elit mantan GAM yang ingin membuat Aceh dalam bingkai imajinasi nasionalisme lokal yang memang

warisan dari perjuangan Gerakan Aceh Merdeka sebagai gerakan separatisme54

Qanun Nomor 9 Tahun 2013 merupakan kebijakan legal dan merupakan mandat keistimewaan yang diperoleh dari MoU Helsinki dan menghasilkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dilihat dari arti kata saja Wali Nanggroe memiliki arti Wakil Negara

. Beberapa aktivitas-aktivitas politik GAM juga banyak yang mendukung perubahan-perubahan besar di Aceh. Apalagi jabatan-jabatan politik di Kabupaten/Kota di Aceh banyak dikuasai oleh tokoh-tokoh GAM melalui Partai Aceh sebagai partai politik lokal yang paling besar dan memiliki jaringan elit dan massa yang paling besar dibandingkan dengan partai lokal yang lain.

55

Yang paling mendekati adalah Malaysia. Ada Raja, tapi ada beberapa Negara bagian di Malaysia yang tidak punya sultan, maka dibentuklah Lembaga Yang Dipertuan Negeri. Jadi kita di Aceh ini kurang lebih seperti itulah.Dan Wali Nanggroe tidak bermaksud untuk membangun kerjaaan atau sistem monarki di Aceh.

. Pengertian lembaga Wali Nanggroe ini bisa disejajarkan dengan Lembaga Yang Dipertuankan yang berada di Malaysia. Seperti dijelaskan Bapak Fakhrulsyah Mega bahwa:

56

Meskipun berbeda dengan di Aceh, Qanun Nomor 9 Tahun 2013 juga memiliki subtansi hukum yang sama. Meskipun penegasan politik nya tidak jelas, tetapi secara eksplisit ada makna kewenangan yang lebih dari posisi awal sebagai lembaga adat.Seperti yang ditunjukkan dalam beberapa pasal-pasal yang ada

54 Ahmad Taufan Damanik, Op.Cit. Hal 35.

55Nanggroe dalam bahasa Aceh memiliki arti Negara. Nama Nangroe Aceh Darussalam sudah dilarang oleh pemerintah Indonesia karena mengandung potensi separatisme di Aceh

56Wawancara dengan Fakhrulsyah Mega pada 23-05-2016

didalam Qanun tersebut tetapi jika dilihat dari Rancangan Kerja dan Rencana Strategis Keurukon Katibul Wali memang lembaga Wali Nanggroe fokus ditujukan untuk pengembangan kehidupan adat di Aceh.

Masuknya Wali Nanggroe sebagai salah satu unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang terdiri atas Wali Nanggroe, Gubernur, Pangdam iskandar Muda, Kapolda dan Kajati Aceh memperjelas posisi Wali Nanggroe sebagai Lembaga yang tidak hanya memiliki peran yang dalam ruang lingkup Adat. Sebagaimana dijelaskan Bapak Dedy Andrian kasubbid penyelesaiana Konflik SaraKesbangpol bahwa:

Wali Nanggroe termasuk Forkopimda Aceh, beliau telah banyak memberikan masukan dalam forum tersebut.Kehadiran Wali Nanggroe mampu memberikan energi baru untuk mempercepat pembangunan Aceh kearah yang lebih baik. Wali Nanggroe ini diharapkan mensinergikan semua elemen masyarakat.57

1. Menampung Aspirasi masyarakat dan Mencari solusi

Disisi lain Wali Nanggroe juga telah banyak berperan dalam berbagai aspek percepatan kemajuan Aceh. Lembaga Wali Nanggroe merupakan mitra kerja Pemerintah yang banyak memberikan kontribusi terhadap Aceh.

Diantaranya:

2. Melobi Pemerintah Pusat terkait pembangunan infrastruktur Besar seperti Terowongan Gurutee dan 5 rumah sakit regional di Aceh.

3. Melobi Pemerintah Pusat terkait Percepatan realisasi Mou Helsinki

57 Wawancara dengan Dedy Andrian pada 25-10-2016

4. Melakukan pendekatan ke Pemerintah Pusat terkait persoalan Aceh yang masih tarik-ulur salah satunya terkait Lambang dan Bendera Aceh.58 Secara peran terdapat dua peran yang dimainkan lembaga Wali Nanggroe berdasarkan Qanun Nomor 9 Tahun 2013.Pertama, peran posisi kehormatan yang diaplikasikan lewat kehidupan adat di Aceh yang kita tahu bahwa Aceh memiliki sejarah adat yang sangat luar biasa.Kedua, peran sosiologis, peran ini lebih kepada posisi kehormatan Wali Nanggroe itu sendiri harus dihormati sebagai wujud dari kekayaan dan sejarah panjang di Aceh. Faktor sosiologis ini akan menimbulkan pemahaman sosial secara strategis bahwa lembaga Wali Nanggroe tidak hanya mengurusi permasalahan adat tetapi harus dapat menentukan perkembangan sosial dan pembangunan di Aceh. Kedua peran inilah yang dibangun oleh lembaga Wali Nanggroe saat ini dan ini berimplikasi panjang.

3.3. Peran Wali Nangroe Dalam Membina Partai Politik Lokal dan