• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Provos dalam proses penyelesaian kasus

Dalam dokumen BAB IV PENYELESAIAN KASUS ANGGOTA POLRI (Halaman 33-39)

Provos sebagai penegak hukum disiplin dilingkungan anggota Polri berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia yang kemudian ada perubahan atas keputusan tersebut dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/07/I/2005 tanggal 31 Januari 2005 di mana didalamnya diatur mengenai tugas pokok Provos adalah (1) membina dan menyelenggarakan penegakkan disiplin anggota Polri dan PNS Polda, (2) membina dan menyelenggarakan penegakkan hukum bagi anggota yang melakukan pelanggaran disiplin maupun tindak pidana yang selanjutnya diserahkan kepada Reskrim untuk dilakukan penyidikan dan penyelidikan.

Sebagaimana disampaikan oleh Kasubbid Provos AKBP K, SH. bahwa

“Provos bergerak dalam bidang disiplin saja untuk pidana diserahkan kepada Reskrim karena kewenangan Provos hanya sebatas pada pelanggaran disiplin saja”.

Wewenang Provos sebagaimana tercantum dalam pasal 22 Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2003 adalah (a) melakukan pemanggilan dan pemeriksaan;

(b) membantu pimpinan menyelenggarakan pembinaan dan penegakkan disiplin, serta memelihara tata tertib kehidupan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia; (c) menyelenggarakan sidang disiplin atas perintah Atasan yang berhak menghukum; (d) melaksanakan putusan Atasan yang berhak menghukum.

Berdasarkan tugas dan wewenang tersebut diatas Kasubbid Provos menyatakan Provos mempunyai peran untuk menegakkan disiplin anggota Polri agar dapat terpelihara ketertiban dalam kehidupan anggota Polri dengan menyelenggarakan pembinaan dan penegakkan disiplin melalui supervisi, serta gakkum dan gaktib secara bertahap dan berkesinambungan. Kegiatan tersebut dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali secara bergantian dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Supervisi yang dilakukan mengenai penanganan kasus yang

dilaksanakan oleh Provos mengenai berapa kasus yang sudah selesai dan kasus yang belum selesai serta hambatannya dimana hal tersebut merupakan tugas dari Gakkum.

Penegakkan tata tertib dilakukan pada bulan Juni menjelang hari ulang tahun Bhayangkara, dimana tata tertib tersebut meliputi tata tertib berpakaian, disiplin dalam tugas, kelengkapan berkendaraan, dan pemegang senjata api.

Keterangan dari AKP B Kanit P3D Banyumas mengatakan bahwa “Provos melakukan pemeriksaan berdasarkan laporan yang diterimanya kemudian membuat laporan polisi. Laporan Polisi tersebut ditindak lanjuti dengan melakukan penyidikan oleh Provos dengan membuat berkas perkara penyidikan”.

Provos dalam menerima pengaduan dan laporan dari masyarakat tidak langsung ditangani tetapi diterima lebih dahulu untuk diberikan kepada Pelayanan dan Pengaduan (Yanduan). Setelah mendapatkan penomoran dari Yanduan, laporan tersebut kemudian diserahkan kepada Kasubbid untuk kemudian ke Provos untuk dilakukan penyidikan.

Dalam penanganan kasus terhadap semua kasus yang mengarah pada tindak Pidana diarahkan pada pasal 3 g UU No. 2 tahun 2003, yang mana kewenangan dari provos sebatas pada penegakkan disiplin. Sehingga hukum disiplinlah yang digunakan walaupun dalam berkas tetap unsur–unsur pelanggaran yang terjadi diuraikan didalamnya, tetapi pada kesimpulan pelanggaran tetap berpedoman pada hukum disiplin Polri.

Penanganan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Provos hanya berwenang pada pelanggaran disiplin saja namun bila kasus yang dihadapi merupakan kasus pidana maka Provos akan memproses secara hukum disiplin Polri dan mengarahkan dengan membuat surat untuk dilakukan penyidikan oleh Reskrim. Namun demikian setelah ada saran dari Bidbinkum baru Provos melaksanakan sesuai dengan saran tersebut” Sebagaimana dikemukakan oleh Bripka H, anggota Provos Banyumas, bahwa penanganan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga diserahkan sepenuhnya (terutama oleh korban) kepada Provos agar pelaku jera sehingga diproses secara hukum disiplin Polri.

Sesuai dengan pernyataan tersebut diatas, guna membuat jera pelaku, maka Provos dalam penerapan pasal terutama kasus penelantaran keluarga, sebagian Provos telah menguraikan bahwa kasus tersebut telah melanggar Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dijelaskan secara kronologis pidananya tetapi ditampung atau dimasukkan pada pelanggaran pasal 3g Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Polri.

Mengenai kasus-kasus yang tidak bisa ditangani oleh Provos pada tingkat kewilayahan, menurut AKP S kanit Idik Polda Jawa Tengah, kasus yang ada akan ditangani oleh Provos pada tingkat yang lebih tinggi mengenai kasus-kasus yang langsung dilaporkan ke Polda oleh anggota/korban karena tidak ditangani di Polres (daerah). Disamping itu pada kasus–kasus yang menonjol seperti penembakan, perkelahian antar anggota, perkelahian antara Polri dan TNI , atensi pimpinan, korban merupakan orang yang berpengaruh, maka Provos Polda Jateng langsung bisa turun ke wilayah untuk melakukan penyidikan dan memproses hingga sidang disiplin atau sidang Komisi Kode Etik Profesi.

Penanganan kasus bagi anggota yang melakukan tindak pidana, maka Provos akan membuat surat kepada Reskrim untuk diproses pidananya dan proses disiplin tetap dijalankan, atau dari pihak pelapor yang langsung melaporkan kepada Reskrim untuk diproses pidana.

Penyelesaian perkara dalam hal untuk hukuman disiplin bisa dilakukan sidang disiplin, dapat dilakukan selama 7 s/d 10 hari dengan adanya saksi dan tersangka. Namun dengan tidak adanya saksi, atau tesangka yang sulit untuk ditemukan keberadaannya akan memperpanjang dalam proses penyidikan dan pemberkasan terhadap kasus tersebut.

Menurut Kanit Idik AKP S dalam hal saksi tidak dapat hadir atau karena sesuatu hal sehingga tidak pernah mau datang untuk dilakukan pemeriksaan, maka Provos bisa langsung datang ke tempat dimana saksi berada dan pemeriksaan bisa dilakukan di Polres, Polsek atau dikantor saksi yang telah tersedia komputer sehingga proses pemeriksaan dapat terselesaikan.

Hambatan yang lain adalah adanya pelaksanaan pasal 21 dan 23 PP No. 2 tahun 2003 yang membuat Provos harus mengambil keputusan tepat dalam penanganan kasus yang diselesaikannya, di mana pasal 21 PP No, 2 tahun 2003 disebutkan ” Sebelum melaksanakan Sidang Disiplin, Ankum meminta pendapat dan saran hukum dari satuan fungsi pembinaan hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia guna menentukan perlu tidaknya dilakukan sidang disiplin”, dengan pasal tersebut Atasan yang berhak menghukum selalu memintakan saran pendapat kepada Bidang Pembinaan Hukum lebih dahulu sebelum melaksanakan sidang disiplin tetapi karena lamanya saran tersebut diterima mengakibatkan terganggunya proses penyelesaian menjadi lama, bahkan bisa melebihi ketentuan yang telah ada sebagaimana disebutkan pada pasal 23 PP No. 2 tahun 2003 bahwa

“ Ankum menyelenggarakan Sidang Disiplin paling lambat 30 hari setelah menerima Daftar Pemeriksaan Pendahuluan Pelanggaran Disiplin dari satuan fungsi Provos.

Dengan adanya permasalahan tersebut maka Divisi Pembinaan Hukum Mabes Polri (Div Binkum) mengeluarkan surat No. TR/53 tahun 2005 bahwa untuk kasus-kasus kecil sebaiknya dipertimbangkan mengenai waktu untuk penyelesaian terutama saran pendapat harus melihat bobot perkara yang ada.

Disamping itu dituntut adanya keaktifan dari Provos untuk mengantar, melakukan koordinasi dan mengambil berkas yang dikirimkan ke Bidang Pembinaan Hukum untuk mendapatkan saran dan pendapat hukum, agar tidak terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan sidang disiplin.

Berdasarkan uraian diatas peran Provos terutama Provos Polda masih sangat kurang, karena supervisi yang dilakukan tidak menyentuh mengenai penyeragaman dalam penanganan kasus anggota. Dilihat dari data mengenai kasus–kasus anggota yang sudah lama belum selesai masih dalam proses menunjukkan bahwa pengaturan dan pelaksanaan tugas tidak berjalan dengan baik, sehingga penegakkan hukum pun tidak berjalan.

Berdasarkan pembahasan mengenai peran Bidang Pembinaan Hukum dan Provos dalam penyelesain kasus, seharusnya proses penanganan pelanggaran/tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam hal ini

khususnya mengenai kasus penelantaran keluarga, dalam penerapan hukum untuk anggota Polri yang dilakukan oleh Bidang Pembinaan Hukum dan Provos dapat kita lihat dalam skema berikut ini.

Proses penanganan pelanggaran/tindak pidana KDRT

Sidang

BAP

LAP

Reskrim Anggota Polri Ankum/Provos Bidbinkum Kapolda/pimp

Psl 9 PP no.2/2003

Dari skema diatas dapat diketahui bahwa proses penanganan kasus penelantaran keluarga yang seharusnya, baik pelanggaran dan tindak pidana yang dilaporkan, ditemukan, dan tertangkap tangan akan di periksa oleh Provos untuk dibuatkan pemberkasan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan dan diserahkan kepada Ankum. Provos melakukan hal tersebut atas perintah Ankum sesuai dengan pasal 19 Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2003.

Provos dalam penerapan pasal terhadap kasus penelantaran keluarga dikenakan pasal 3 huruf g dan pasal 5 huruf a dan j Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2003. Dalam pasal 3 huruf g diuraikan mengenai pelanggaran terhadap UU No. 23 tahun 2004, namun kesimpulan akhir tetap berpedoman melanggar

peraturan disiplin, karena kewenangan provos hanya pada penegakkan hukum disiplin saja.

Berdasarkan pasal 21 Undang-undang No. 2 tahun 2002 dan Pasal 28 Kep 43 /X/2004 Atasan yang berhak menghukum diharuskan untuk meminta saran dan pendapat hukum kepada fungsi pembina hukum dalam hal ini Bidang Pembinaan Hukum. Bidang Pembinaan Hukum dalam penerapan pasal terhadap penelantaran keluarga dikenakan pasal 3 huruf g dan pasal 5 huruf a dan j Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2003. Penerapan pasal 3 huruf g harus dijelaskan mengenai perundang-undangan yang dilanggar yaitu UU No. 23 tahun 2004 sehingga jelas. Hal tersebut berdasarkan pada pasal 29 UU No. 2 tahun 2002 bahwa anggota Polri tunduk pada Peradilan Umum, sehingga dapat dilakukan sidang disiplin dan atau dilanjutkan untuk diproses secara pidana.

Pemberian saran pendapat hukum yang sudah selesai, berkas perkara dikembalikan kepada Atasan yang berhak menghukum/Provos, yang selanjutnya kewenangan untuk dilaksanakan atau tidak sidang disiplin dan untuk dilanjutkan ke Peradilan Umum adalah keputusan dari Atasan yang berhak menghukum.

Apabila atasan yang berhak menghukum menghendaki untuk dilaksanakan sidang disiplin, maka Provos yang bertugas untuk melaksanakan sidang disiplin atas perintah Atasan yang berhak menghukum. Namun bila akan diajukan ke Peradilan Umum, maka Provos membuat surat pengantar untuk diserahkan ke Reskrim guna dilakukan penyelidikan dan diproses secara pidana.

Sidang disiplin yang dilaksanakan akan menentukan hukuman disiplin bagi si pelaku. Hukuman disiplin tersebut sesuai dengan pasal 9 Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2003 dan pasal 11 Kep/42/XI/2004 terdiri dari (1) teguran tertulis, (2) penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 (satu) tahun, (3) penundaan gaji berkala, (4) penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun, (5) mutasi yang bersifat demosi yaitu mutasi yang tidak bersifat promosi jabatan, (6) pembebasan dari jabatan, (7) penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 (dua puluh satu) hari.

Penjatuhan hukuman disiplin tersebut diatas yang terdiri dari 7 (tujuh) jenis hukuman disiplin, bisa dijatuhkan secara alternatif atau kumulatif.

Penjatuhan secara alternatif ialah penjatuhan hukuman disiplin hanya dikenakan satu jenis hukuman saja, sedangkan penjatuhan hukuman secara kumulatif adalah penjatuhan hukuman bisa lebih dari satu jenis hukuman disiplin.

Pelaku yang telah menjalani hukuman disiplin tersebut, setelah selesai harus meminta rehabilitasi kepada Bidpropam dalam hal ini Kasi Rehab yang akan membantu dalam pemulihan nama baik dan memberikan keputusan pengakhiran hukuman yang nantinya dapat digunakan antara lain untuk mengikuti kenaikan pangkat, mengikuti pendidikan, untuk memperoleh jabatan kembali.

Bagi anggota yang diproses pidananya, maka sidang disiplin tetap dilaksanakan dan proses pidana tetap dilanjutkan.

Dalam dokumen BAB IV PENYELESAIAN KASUS ANGGOTA POLRI (Halaman 33-39)

Dokumen terkait