• Tidak ada hasil yang ditemukan

% Apakah Saudara

5.2 Peran Keluarga dalam Upaya Pencegahan Penyakit TBC

5.2.3 Peran Responden dalam Mengetahui Siapa yang dapat tertular oleh Penyakit TBC

Sesuai dengan pendapat Arifin (1990) bahwasanya pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan darah). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan.

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa peran responden untuk mengetahui cara penularan penyakit TBC sudah baik.

5.2.3Peran Responden dalam Mengetahui Siapa yang dapat tertular oleh Penyakit TBC

Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa peran keluarga dalam mengetahui siapa saja yang dapat tertular oleh penyakit TBC ini sebagian besar responden yaitu 90,0% telah mengetahui bahwa semua orang bisa tertular oleh penyakit TBC. Dan hanya sebagian kecil saja yaitu 9,1% yang menjawab anggota keluarga saja.

Siapa saja bisa tertular TBC, ditempat umum, atau jika dirumah atau tetangga, atau murid sebangku, pembantu, baby sitter, mungkin merupakan sumber penyakit TBC. Namun, tentu tidak semua yang tertular pasti terjangkit TBC. Bila sudah diimunisasi atau daya tahan tubuh kuat, orang tidak jatuh sakit TBC. Sebaliknya jika tidak imunisasi, tubuh lemah dan kurang gizi, rentan tertular atau terkena TBC (Nadesul, 2006).

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa responden telah memiliki peran yang baik dalam mengetahui siapa saja yang dapat tertular, sehingga responden dapat melakukan usaha pencegahan sedini mungkin.

5.2.4 Peran Responden tentang Pola Hidup yang Baik untuk Mencegah Penyakit TBC

Dari tabel 4.10 dapat dilihat peran responden tentang pola hidup yang baik sebagian besar menjawab benar 3-4 jawaban yaitu 40,9%, 34,1% bisa menjawab benar 1-2 jawaban, dan 25,0% bisa menjawab >4 jawaban.

Sebanyak 25,0% responden mampu memberikan >4 jawaban, yang mengatakan bahwa pola hidup yang baik adalah tidak minum alkohol, tidak merokok, makan buah dan sayur, olah raga dan istirahat cukup.

Sebanyak 34,1% responden mampu memberikan 1-2 jawaban benar. Jawaban yang terbanyak diberikan oleh responden yang mengatakan bahwa bahwa pola hidup yang baik adalah tidak merokok dan mengkonsumsi buah dan sayur.

Sebanyak 40,9% responden menjawab 3-4 jawaban benar. Jawaban yang terbanyak diberikan oleh responden yang mengatakan bahwa bahwa pola hidup yang baik adalah tidak merokok, mengkonsumsi buah dan sayur dan istirahat yang cukup.

Pola hidup sehat dapat dibiasakan dengan mengkonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, istirahat yang cukup, sinar matahari dapat masuk kerumah sehingga tidak lembab, dan sirkulasi yang baik. Tekanan stres dapat pula mempengaruhi daya tahan tubuh, oleh karena itu kesehatan mental dan jiwa pun harus mendapatkan perhatian agar pencegahan TBC lebih maksimal (Misnadiarly, 2006).

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa bahwa peran responden dalam mengetahui pola hidup yang baik dalam mencegah penyakit TBC cukup baik.

5.2.5 Peran Responden dalam Mencegah Penularan Penyakit TBC

Dari tabel 4.11 dapat dilihat peran responden dalam mencegah penularan penyakit TBC sebagian besar responden menjawab benar 1-2 jawaban yaitu 75,0% dan 25,0% responden menjawab benar 3-4 jawaban yaitu 25,0%.

Sebanyak 75,0% responden mampu memberikan 1-2 jawaban benar. Jawaban yang terbanyak diberikan oleh responden yang mengatakan bahwa menutup mulut disaat batuk dan mengobati.

Sebanyak 25,0% responden mampu memberikan 3-4 jawaban benar. Jawaban yang terbanyak diberikan oleh responden yang mengatakan bahwa menutup mulut disaat batuk, tidak meludah sembarangan, menjauhkan dari bayi atau balita mengobati.

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa peran responden dalam mencegah penularan penyakit TBC masih sangat kurang.

5.2.6 Peran Responden dalam Membantu Mencegah Penyakit TBC

Dari tabel 4.12 dapat dilihat peran responden dalam membantu mencegah penyakit TBC sebagian besar responden menjawab benar 1-2 jawaban yaitu 50,0%, 20,0% responden menjawab benar 3-4 jawaban yaitu 45,4%, dan 4,6% responden menjawab benar >4 jawaban.

Untuk peran dalam membantu mencegah penyakit TBC sebagian besar responden yaitu 50,0% menjawab 1-2 jawaban yang benar yaitu mengurangi konsumsi rokok dan meningkatkan gizi, 45,4% menjawab benar 3-4 jawaban dan 4,6% menjawab benar >4 jawaban.

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa peran keluarga dalam hal upaya membantu mencegah penyakit TBC masih kurang, hal ini dikarenakan oleh tingkat

pendidikan keluarga yang rendah dan kurangnya mendapat informasi tentang penyakit TBC.

Informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang. Menurut Notoatmodjo (2008) bahwa semakin banyak informasi dapat mempengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

5.2.7 Peran Responden dalam Menangani Penderita Batuk

Dari tabel 4.13 dapat dilihat peran responden dalam menangani penderita TBC batuk sebagian besar responden menjawab benar 1-2 jawaban yaitu 86,4%, 6% responden menjawab benar 3-4 jawaban.

Untuk peran dalam menangani penderita batuk sebagian besar responden yaitu 86,4% menjawab 1-2 jawaban yang benar yaitu menyarankan batuk diudara terbuka dan memberi air hangat, 6% menjawab benar 3-4 jawaban yaitu menyarankan batuk diudara terbuka,menyarankan membuang dahak diair mengalir dan memberi air hangat.

Kuman TBC akan rusak pada pemanasan 60oC dalam 20 menit atau 70oC dalam 5 menit (Aditama, 2002). Kuman TBC dapat hidup bertahun-tahun lamanya ditempat yang sejuk dan lembab. Tapi kuman ini akan mati apabila terkena sinar matahari, terkena panas api atau air mendidih, terkena sabun, lisol, karbol dan bahan sejenisnya.

Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa peran keluarga dalam menangani penderita TBC batuk masih kurang.

5.2.8 Peran Responden dalam Menangani Tempat Makan dan Minum Penderita TBC

Dari tabel 4.14 dapat diketahui bahwa sebanyak 52,3% responden menyatakan tidak memisahkan tempat makan dan minum penderita TBC dirumah dengan anggota keluarga lainnya.

Dalam hal ini penulis berasumsi bahwa sebagian besar responden belum melakukan tindakan yang benar dalam hal pencegahan penyakit TBC. Hal ini dapat disebabkan ole tigkat pendidikan responden yang renda, seingga kurang memaami tentang pendidikan keseatan keluarga.

Hal ini sesuai dengan pendapat Effendy 1997 yang mengatakan bahwa pendidikan kesehatan bertujuan untuk merubah perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga dan masyarakat yang sesuia dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan sosial seingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.

5.2.9 Peran Responden dalam Menyediakan Tempat Penampungan Dahak

Dokumen terkait