BAB IV. PERAN SERANGGA PENYERBUK PADA TANAMAN
4.4. Peran Serangga Penyerbuk Dalam Konservasi
sangat penting yaitu membantu penyerbukan 240.000 lebih tumbuhan berbunga yang sudah dikenal baik tanaman budidaya maupun tumbuhan liar. Peran serangga penyerbuk adalah dalam aktivitas pencarian pakan, serangga secara tidak sengaja memindahkan tepung sari dari anther ke stigma yang merupakanp proses penyerbukan. Hasil akhir penyerbukan adalah biji tanaman yang merupakan alat untuk memperbanyak keturunan atau kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan.
Peran serangga penyerbuk dalam penyerbukan tumbuhan liar terjadi dan sangat dibutuhkan oleh tumbuhan yang tidak mampu menyerbuk sendiri, tetapi juga sangat penting bagi tumbuhan yang mampu menyerbuk sendiri. Karena adanya serangga penyerbuk memungkinkan terjadinya penyerbukan silang yang secara genetik dan ekologi sangat penting dalam keberlangsungan sistem ekologi di daratan. Penyerbukan silang akan menghasilkan keragaman genetik yang lebih luas dibanding penyerbukan sendiri (inbreeding) sehingga keturunan yang dihasilkan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan dan mampu mempertahanakan keberlanjutan keberadaan suatu spesies tumbuhan di muka bumi.
Keragaman tumbuhan pada suatu ekosistem darat akan menjamin keberlangsungan fungsi ekologis dari suatu ekosistem sehingga keberlangsungan kehidupan dapat terjamin. Mengingat serangga penyerbuk juga berperan dalam penyerbukan tumbuhan
liar yang kebeeradaanya sangat banyak di alam maka ketidak hadiran serangga penyerbuk, terutama serangga penyerbuk spesialis akan menyebabkan kepunahan tumbuhan. (Kevan dan Phillips, 2007)
4.5. Dampak Kepunahan Serangga Penyerbuk Terhadap Tumbuhan Liar
Penurunan keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk dapat menyebabkan penurunan layanan jasa penyerbukan pada tumbuhan liar, dan selanjutnya akan menurunkan populasi tumbuhan liar yang penyerbukanya bergantung pada serangga. Dampak sebaliknya dari penurunan tumbuhan liar akan menyebakan penurunan serangga penyerbuk. Hampir 80% tumbuhan liar pembentukan buah dan bijinya dan sekitar 62%-73% tumbuhan yang diteliti mengalami keterbatasan penyerbukan minimal pada suatu waktu tertentu, tergantung pada lokasi dan musimnya.
Tumbuhan yang penyerbukan silangnya sepenuhnya bergantung pada serangga sangat peka terhadap penurunan keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk, dan biasanya penurunan populasi tumbuhan tersebut paralel dengan penurunan keragaman serangga penyerbuknya.hal ini diduga karena adanya keterbatasan polen. Hasil penelitian terjadinya metapopulasi pada 89 spesies tumbuhan liar sebagian besar terjadi karena adanya fragmentasi habitat yang menyebabkan ketidaksesuaian reproduksi karena keterbatas polen yang terjadi karena adanya isolasi habitat.
Spesies tumbuhan liar yang paling berisiko mengalami kepunahan adalah tumbuhan yang membutuhkan serangga penyerbuk khusus (spesialis). Namun demikian, Bukti terjadinya kepunahan masih sangat jarang, mungkin karena adanya mekanisme ketahanan yang dibangun pada berbagai jejaring hubungan antara tumbuhan dengan serangga penyerbuk yang menyediakan fasilitas pertahanan yang disebabkan oleh hilangnya serangga penyerbuk.
Umumnya hubungan tumbuhan dengan serangga penyerbuk merupakan hubungan asimetri dan biasanya tersarang, dengan inti sarang adalah spesies generalis yang memegang peranan kunci, spesies penyerbuk spesialis bergantung pada tumbuhan yang bersifat generalis, sebaliknya spesies tumbuhan spesialis bergantung pada spesies serangga penyerbuk spesialis.
Spesies generalis umumnya tahan terhadap perubahan dibanding spesies spesialis, karena mungkin merupakan bagian keberlanjutan dari struktur jejaring dalam perubahan kondisi lingkungan, namun demikian tetap saja spesies generalis dalam bahaya kepunahan.Hal ini ditunjukan dengan adanya kepunahan lokal lebah madu yang merupakan spesies super generalis yang disebabkan oleh penyakit. Kepunahan lebah madu secara lokal dapat menyebabkann kepunahan berbagai spesies tumbuhan.
Pola jejaring asimetris dan tersarang sangat tersebar dan tidak bergantung pada komposisi komunitas , lokasi geografis dan faktor-faktor lain . model jejaring asimetrik diduga mempunyai ketahanan yang tinggi sehinga mereka tahan terhadap kehilangan spesies dan hubungannya. Namun demikian , perubahan lingkungan global yang terus terjadi akan mempengaruhi bukan saja terhadap kehadiran suatu spesies, tetapi juga hubungan antar spesies dan jalur hubunganya. Sehingga tetap saja membahayakan jejaring hubungan antara tumbuhan dengan serangga penyerbuk, meskipun mempunyai struktur ketahanan. (Kevan dan Phillip, 2007).
BAB V FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENURUNAN KERAGAMAN DAN
KELIMPAHAN SERANGGA PENYERBUK
5.1. Latar Belakang
Penurunan keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk khususnya pada lahan pertanian telah terjadi pada berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Penyebab penurunan keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk berkaitan dengan aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur bentang alam terutama oleh perluasan lahan pertanian modern ( Pottset al., 2010). Perubahan struktur bentang alam meliputi terjadinya kerusakan habitat,fragmentasi habitat, dan kehilangan habitat. Fragmentasi habitat digambarkan sebagai penyebaran petak lahan yang sesuai sebagai habitat serangga penyerbuk dikelilingi oleh petak yang tidak sesuai sebagai habitat serangga penyerbuk dengan berbagai tingkat permeabilitas. Fragmentasi tidak hanya diartikan sebagi isolasi petak habitat, tetapi juga dapat diartikan sebagai suatu habitat terpotong-potong menjadi bagian kecil yang disebabkan oleh adanya aktivitas manusia sehingga hubungan antara satu petak dengan petak lainnya hilang.
Distribusi dan dinamika populasi serangga penyerbuk dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terkait fragmentasi. Pada kondisi alami petak habitat dipisahkan oleh tumbuhan liar, pohon dan semak belukar yang merupakan sumber pakan serangga penyerbuk, tempat bersarang, serta tumbuhan pakan stadia pradewasa. Adapaun pada habitat buatan habitat sering kali terisolasi oleh matrik habitat yang
lain yang melanda dunia saat ini adalah terjadinya pemanasan global. Secara garis besar faktor-faktor yang memengaruhi keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk adalah :
1) Fragmentasi dan kehilangan habitat 2) Intensifikasi lahan pertanian
3) Pemanasan Global
5.2. Kerusakan Dan Fragmentasi Habitat
Kerusakan dan fragmentasi habitat merupakan penyebab utama terjadinya penurunan keragaman serangga penyerbuk pada lahan pertanian, karena akan menganggu interaksi mutualistik antara tanaman dengan proses penyerbukan di .dalam ekosistem. Sistem penyerbukan alami dikarakterisasikan dengan adanya berbagai tipe bunga yang mampu memberikan kebutuhan pakan serangga penyerbuk sehingga akan menarik penyerbuk jenis tertentu. Jenis bunga yang berbeda fenologinya akan menarik berbagai serangga penyerbuk sehingga meningkatkan hubungan mutualisme diantara keduanya. Proses penyerbukan merupakan suatu proses yang kompleks (Hegland et al., 2009, dan Memmott et al., 2004), dan membutuhkan fungsi yang efektiv dari tiga komponen ekosistem yaitu : kepadatan tumbuhan, kepadatan serangga penyerbuk dan tingkah laku serangga penyerbuk, serta interaksi di dalam skala ruang.
Interaksi di dalam skala yang meliputi : di dalam skala tumbuhan itu sendiri, di dalam suatu petak maupun di dalam bentang alam.
Kerusakan dan fragmentasi habitat akan menyebabkan enam hal berikut ini :
1) Kegagalan atau penurunan salah satu komponen proses di atas akan menyebabkan kegagalan proses penyerbukan setidak tidaknya pada tingkat individu tanaman. Sebagai contoh : perubahan dalam kepadatan tumbuhan dan perilaku serangga penyerbuk dapat menyebabkan pengurangan proses penyerbukan.
2) Berkurangnya kebutuhan minimum suatu habitat bagi serangga penyerbuk yaitu tersedianya sumber pakan bagi larva dan dewasanya yang berupa tepungsari dan nektar . Habitat untuk berbagai jenis lebah minimal harus terdiri atas petak yang mempunyai tumbuhan sumber pakan utama dan tempat untuk membuat sarang dan keduanya harus berada pada kisaran jarak terbang lebah.Tumbuhan sumber pakan utama berbeda-beda antar spesies serangga penyerbuk, khususnya lebah. Tetapi umumnya lebah mempunyai kisaran yang luas terhadap kandungan nektar tumbuhan, kecuali beberapa spesies lebah solitair. Beberapa spesies lebah solitair mempunyai kegemaran khusus yang sudah tetap pada suatu spesies atau genera tumbuhan tertentu, atau disebut “Oligolecty”untuk spesies-spesies tersebut, kehadiran serangga dewasa harus bertepatan dengan musim bunga dalam satu tahun.
3) Lebah yang mengalami multivoltine ( berreproduksi lebih dari 1 kali dalam satu tahun) atau lebah yang berumur panjang atau koloninya, mempunyai masalah yang berbeda , musim pencarian pakan mereka lebih lama dari pada periode pembungaan berbagai tanaman, sehingga di dalam radius terbang pencarian pakan mereka dari sarang membutuhkan petak dengan berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai waktu pembungaan berbeda sepanjang tahun.
4) Menurunnya kerapatan tanaman sejenis pada skala bentang alam. Berkurangnya kerapatan tanaman sejenis akan menyebabkan berkurangnya ketersediaan tepung sari sehingga akan menyebabkan penurunan jumlah sumber pakan yang tersedia untuk serangga penyerbuk. Sehingga kehilangan habitat jelas mempunyai dampak yang kuat terhadap kelimpahan serangga penyerbuk. Karena pada hampir semua kasus kehilangan habitat akan menyebabkan berkurangnya tumbuhan sebagai sumber pakan serangga penyerbuk maupun kelimpahan serangga penyerbuk sendiri.
5) Rusaknya habitat untuk bersarang yang meliputi : substrat yang sesuai untuk bersarang bagi lebah, substrat tersebut meliputi : lubang dengan ukuran yang sesuai bekas kumbang kayu, rongga pada pohon, lubang pada batang pohon dengan ukuran yang sesuai, lubang tikus yang telah tidak terpakai, tanah dengan texture, kedalaman, kelerangan, serta kelembabkan dan tutupan vegetasi yang sesuai . Ketersediaan habitat bersarang yang berdekatan sangat penting, karena sering terjadi kelangkaan sarang lebah pada lahan pertanian tanaman.
6) Berkurangnya permeabilitas matriks sekitar petak habitat dan jarak antar petak yang tersisolasi juga penting bagi serangga penyerbuk. Hasil penelitian Widhiono dan Sudiana (2014) menunjukan bahwa lahan pertanian yang berbatasan dengan habitat hutan mempunyai keragaman serangga penyerbuk yang lebih tinggi dibanding dengan yang jauh dari hutan .
5.3. Intensifikasi Pertanian 5.3.1. Intensifikasi Pertanian
Beberapa kondisi yang disebabkan oleh sistem pertanian modern dan banyak praktik pertanian membuat lahan pertanian menjadi habitat yang tidak sesuai bagi perkembanangan populasi serangga penyerbuk (Kremen et al., 2002).
Intensifikasi lahan pertanian telah menyebabkan terjadinya bentang alam yang homogen, yaitu adanya lahan yang luas dengan satu jenis tanaman pertanian tanpa gulma dan menyempitnya habitat semi alami ( hilangnya habitat pinggiran, yang merupakan penyedia sumber pakan dan tempat bersarang bagi lebah liar pada tepi lahan pertanian), Sehingga kompleksitas struktur lahan di antara lahan pertanian dengan ekosistem yang berdekatan berkurang atau menghilang. Hilangnya jejaring vegetasi liar yang menopang serangga penyerbuk, menyediakan tempat bersarang serta mikrohabitat untuk menetaskan telur dan pertumbuhan periode larva. Sealin itu intensifikasi pertanian juga akan meningkatkan penggunaan bahan kimia (pestisida), yang akan menyebabkan berkurangnya jumlah serangga penyerbuk pada lahan pertanian (Kevan, 1999).
5.3.2. Penyeragaman tanaman pada lahan pertanian
Dalam sistem pertanian modern proses koevolusi antara bunga dengan serangga telah mengalami gangguan karena lahan didominasi oleh jenis bunga yang seragam dalam ukuran, warna dan bentuk. Bunga-bunga ini biasanya mekar bersamaan dan hanya bertahan dalam beberapa pekan, sehingga jumlah puncak penyerbuk hanya dibutuhkan dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini disebabkan oleh diterapkanya sistem monokulture yang berdampak pada penurunan keragaman serangga penyerbuk dalam skala yang luas. Sebuah hasil riset yang besar menunjukan bahwa lahan pertanian modern yang dikelilingi oleh habitat pertanian yang lain memiliki jumlah lebah yang lebih sedikit dibandingkan dengan lahan pertanian modern yang dikelilingi lahan semi alami. Pada bentang lahan pertanian yang mempunyai jenis tanaman yang berbeda ternyata ditemukan jenis serangga penyerbuk yang lebih bervariasi dibanding lahan dengan satu jenis tanaman pertanian ( Widhiono dan Sudiana, 2015a).
5.3.3. Pengolahan tanah
Praktik pengolahan tanah, biasanya berkaiatan dengan ketersediaan gulma yang ada. Pengolahan lahan secara intensif akan menyebabkan perubahan pada komposisi dan kelimpahan spesies gulma yang ada dalam sistem pertanian. Hal ini akan berpengaruh pada berkurangnya sumber daya floral bagi penyerbuk. Praktik pengolahan tanah secara luas akan merusak sarang harus serangga penyerbuk di tanah.
5.3.4. Dampak penggunaan insektisida
Penggungaan pestisida dalam pertanian sebagai penyebab berkurangnya penyerbuk, terutama ketika waktu penyemprotan bersamaan dengan waktu pembungaan. Insektisida menjadi ancaman utama bagi penyerbuk, dan penggunaan pestisida yang
Penggunaan diazinon untuk mengontrol kutu daun dalam lahan alflfa menghasilkan penurunan besar-besaran penyerbuk lebah alkali, yang membutuhkan beberapa tahun untuk pemulihan. Teracuninya lebah madu dapat menghasilkan kematian langsung dan berpindahnya lebah ratu. Berbagai serangga penyerbuk liar lebih rentan terhadap pestisida dibandingkan dengan lebah madu domestik, dan penyerbuk liar mungkin dapat punah dari lingkungan lahan pertanian dan sekelilingnya atau membutuhkan beberapa waktu untuk mencapai masa recoveri sehingga kembali pada bentuk sebelum penggunaan pestisida dilahan tersebut. Sementara para petani mungkin sadar bahwa pestisida tidak seharusnya digunakan pada tanaman pertanian yang membutuhkan penyerbuk pada saat pembungaan, pestisida digunakan pada periode lain pada tumbuhan akan berpengaruh pada bunga gulma, dan penyerbuk, dimana kunjungannya pada bunga, mungkin juga akan terpengaruh akibat penggunaan pestisida. Penyerbuk yang hidup lahan alami yang berdekkatan dengan lahan pertanian dapat terpengaruh penggunaan pestisida baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dan efeknya dapat berupa efek berbahaya langsung maupun efek sampingan berbahaya. Dampak dari penggunaan pestisida, sangat bervariasi tergantung dari jenis pestisida yang digunakan, kerentanan spesies penyerbuk, tipe vegetasi dan lama penggunaan pestisida dilahan tersebut. Penggunaan insectisida untuk mengontrol hama non-pertanian pada ekosistem non-non-pertanian dapat juga berefek pada kelimpahan serangga penyerbuk dan aktivitas disekitar lahan pertanian. herbisida juga dapat secara dahsyat mempengaruhi populasi penyerbuk dengan menghancurkan sumber makanan periode larva dan tempat yang aman untuk bersarang, (Kevanet al. 1997).
5.4. Dampak Pemanasan Global Terhadap Serangga Penyerbuk Pada saat ini isu utama berkaitan dengan kegiatan pertanian adalah terjadinya pemanasan global yang perlu diantisipasi dengan model adaptasi. Pemanasan global juga berpengaruh terhadap hubungan antara serangga penyerbuk dengan tumbuhan, yang secara garis besar terjadi melalui 3 proses yaitu : perubahan fenologi pembungaan, terjadinya perubahan hubungan serangga penyerbuk dan terjadinya ketidak sesuaian antara serangga penyerbuk dengan bunga.
5.4.1. Perubahan Phenology
Banyak organisme merespon perubahan temperatur dengan merubah aktivitas dan metabolismenya, atau melakukan perbuahan phenology. Hingga saat ini kekuatan dan arah tanggapan fenologi tehadap kenaikan temperatur dan apakah perubahan fenologis sebagai respon terhadap perubahan iklim terjadi pada semua komunitas di alam masih belum diketahui, namun demikian dalam sepuluh tahun terakhir telah menjadi perhatian utama tentang respon fenologis terhadap pemansan global (Post dan Inouye 2008; Rosenzweig et al., 2008) dan banyak pemahaaman tentang pemanasan global berasal dari kajian fenologi. Perubahan phenology pada tumbuhan yang berkaiatan dengan penyerbukan meliputi empat hal yaitu :
1) Awal pembungaan
Secara umum munculnya bunga tampaknya berhubungan dengan suhu rata-rata dalam sebulan atau bulan sebelum waktu pembungaan. Respon awal pembungaan terhadap kenaikan suhu bersifat linier, yang akan menjadi hal yang penting bagai hubungan antara tumbuhan dengan serangga penyerbuk. Sparks dan Menzel (2002) menemukan hubungan yang linier antara variasi suhu dengan 25 jenis tumbuhan di Inggris 23 diantaranya melakukan pembungaan lebih awal ketika terjadi kenaikan suhu udara. Untuk memahami pengaruh pemanasan global, penjelasan respon spesies
yang ikut berpengaruh seperti fotoperiodsitas, penguapan dan kelembaban tanah dan juga kombinasinya. Jika perubahan iklim merusak hubungan antar faktor lingkungan yang digunakan oleh tumbuhan sebagai perangsang awal pembungaan, kombinasi yang terjadi sebelumnya mungkin akan muncul kembali pada musim berikutnya, yang akan menyebabkan waktu pembungaan yang aneh.
Selanjutnya respon fenologis tumbuhan terhadap kenaikan temperatur sebelumnya tidak menunjukan apakah respon lebih lanjut dari tumbuhan terhadap temperatur akan terus linier, datar, atau akan mengikuti hubungan yang lain. Beberapa respon lanjutan tidak saja bergantung pada respon langsung suatu tanaman terhadap suhu atau faktor lingkungan yang lain, tetapi juga bergantung pada modifikasi ekologis maupun evolusi oleh hubungan tumbuhan dengan penyerbuknya.
2) Lama waktu pembungaan
Lama waktu pembungaan merupakan aspek fenologis lain yang sangat penting baik bagi reproduksi tumbuhan maupun sebagai penyedia pakan serangga penyerbuk. Sangat jelas bukti terjadinya perpanjangan musim pertumbuhan pada berbagai tumbuhan di Eropa selama sepuluh tahun terakhir, tetapi lama waktu musim bunga tampaknya tidak terpengaruh terutama untuk spesies yang bunganya muncul lebih lambat yang menunjukan lebih banyak variasi respon terhadap pemansan global
3) Pemunculan serangga penyerbuk
Sebagian besar penyerbuk adalah serangga yang bertubuh kecil dan bersifat poikilothermic (suhu tubuh dipengaruhi suhu lingkungan) sehingga sangat rentan terhadap perubahan suhu yang akan mempengaruhi siklus hidup dan pola aktivitasnya. Seperti tumbuhan, pada serangga juga terjadi hubungan linier antara suhu dengan pehenology serangga penyerbuk dan pengaruhnya sangat kuat pada awal musim.
4) Kelimpahan dan penyebaran tumbuhan dan serangga penyerbuk
Suhu merangsang terjadinya perubahan kelimpahan bunga yang akan sangat berpengaruh terhadap interkasi penyerbukan. Peningkatan jumlah bunga merupakan salah satu respon yang terjadi pada tanaman ketika terjadi kenaikan suhu udara. Peningkatan jumlah bunga akan menyebabkan terjadinya peningkatan keberhasilan reproduksi pada spesies tumbuhan. Misalnya melalui peningkatan jumlah kunjungan serangga penyerbuk sebagai akibat dari perubahan tingkah laku dan komposisi serangga penyerbuk dalam komunitas yang akhirnya akan meningkatkan penyerbukan silang dan jumlah biji yang dihasilkan (Hegland et al, 2009). Sebaliknya peningkatan jumlah bunga individu tanaman kemungkinan akan menyebabkan meningkatnya penyerbukan sendiri yang disebabkan oleh adanya geitonogamy.
Peningkatan jumlah bunga juga akan mempengrauhi serangga penyerbuk karena ketersediaan pakan yang meningkat merupakan faktor yang sangat penting yang mengatur aktivitas dan kepadatan populasi serta keragaman serangga penyerbuk (Steffan-Dewenter dan Schiele, 2008). Bukti langsung pengaruh suhu terhadap kelimpahan serangga penyerbuk masih jarang. Namun demikian informasi dari penelitian sepanjang gradient ketinggian tempat maupun garis lintang untuk menggambarkan pengaruh suhu, menunjukan pengaruhnya pada komunitas serangga penyerbuk terpengaruh oleh perubahan iklim. Misalnya penyerbuk dari kelompok lalat lebih banyak ditemukan pada daerah yang lebih dingin dan lebih basah, sedangkan lebah lebih banyak ditemukan pada daerah yang lebih panas dan lebih kering. Yang diduga sebagai dampak dari pemanasan global.
5) ketidaksesuaian antara tumbuhan dan serangga penyerbuk
Hubungan tanaman dengan penyerbuk dapat terganggu melalui dua cara yaitu ketidak seuaian waktu (phenological mismathces) dan ketidak sesuai ruang dan waktu (distributional mismathces), yang akan merubah ke tersediaan pasangan hubungan mutualistik. Mismatches terjadi apabila pasangan hubungan mutualisme yang asli berkurang pemanfaat habitat bersama baik dalam skala waktu dan tempat, sehingga akan mulai terjadi pemisahan tingkat trophik nya. (Memmott et al., 2007) membuat simulasi bagaimana pemanasan global mempengaruhi jejaring hubungan antara tumbuhan dengan penerbuk yang sudah terjalin lama. Mereka menemukan bahwa berdasarkan pada perubahan fenologis, antara 17 and 50% dari semua spesies serangga penyerbuk menderita karena kerusakan ketersediaan pakan yang disebabkan oleh ketidak sesuaian waktu. Serangga penyerbuk spesial akan lebih menderita dengan kekurangan pakan, tetapi serangga generalis dengan jumlah sumber pakan yang lebih banyak juga mengalami kekurangan pakan.
Variasi antar spesies terhadap respon fenologis terhadap pemanasan global mungkin juga menyebabkan ketidak sesuaian hubungan serangga dengan tanaman yang ditimbulkan oleh ketidak mampuan serangga mengunjungi bunga yang biasa dkunjungi, terutama apabila bunga mekar terlalu awal atau terlalu terlambat. (Memmott et al., 2007) kebanyakan serangga penyerbuk mengunjungi bunga berdasarkan kebiasaan, seperti suatu kesesuaian fenologis terjadi dan muncul dari proses yang panjang dari hubungan antara tumbuhan dengan serangga penyerbuk. Hasil ini dapat menjelaskan bagaimana serangga penyerbuk merespon pemanasan global dan hubungannya dengan ketersediaan pakan. Respon suhu dan munculnya mismacthes dalam hubungan penyerbukan sangat bervariasi antar spesies dan antar daerah.
6) Dampak dari ketidak sesuaian
Kesesuaian waktu dalam hubungan mutualisme merupakan hal yang sangat penting untuk efesiensi bagi tumbuhan dan kelangsungan hidup serangga penyerbuk. Oleh karena itu salah satu hal yang perlu diperhatikan dari dampak pemanasan global terhadap hubungan penyerbukan adalah dampak demografi dari ketidak sesuaian antara tumbuhan dengan serangga penyerbuk. Penjelasan bagaimana hubungan penyerbukan merespon terhadap pengaruh iklim pada mismatches masih dalam bentuk prakiraan, karena masih sedikitnya bukti bahwa peningkatan suhu mempengaruhi demografi dan dinamika populasi antara tumbuhan dengan serangga penyerbuknya. Pengaruh perubahan iklim terhadap ketersediaan pakan bagi serangga penyerbuk dan ketersediaan penyerbuk bagi tumbuhan sulit untuk diprediksi karena masih belum jelasnya sistem pengaturan populasi apakah dari atas atau dari bawah (Steffan-Dewenter dan Schiele, 2008). Jika kejadian mismatches berdampak serius terhadap demografi, kepadatan dan distribusi populasi serangga penyerbuk, berarti kondisi ini dipengaruhi oleh pengaruh dari bawah seperti kelimpahan bunga. Sedangkan apakah mismatches akan secara nyata berpengaruh terhadap demografi tumbuhan sangat bergantung pada pengaruh dari atas yaitu melalui pengaruh kelimpahan serangga penyerbuk terhadap ketersediaan dan penyebaran tepungsari.
7) Pada tanaman,
Ketidaksesuaian serangga penyerbuk yang penting akan mengurangi peletakan tepungsari melalui perubahan kunjungan serangga penyerbuk baik jumlah maupun kualitas kunjungan pada bunga, meningkatkan keterbatasan tepungsari. Diantara tumbuhan,sangat umum terjadi keterbatasan reproduksi yang disebabkan oleh kekurangan penyerbukan (Ashman et al., 2004) dampak lain dari mismatches is adnya dampak berurutan yang mungkin terjadi berupa interaksi spesies pada akhir musim bunga. Penurunan secara drastis populasi serangga penyerbuk pada awal mungkin akan berpengaruh terhadap tanaman yang berbunga lebih awal maupun pada tanaman terlambat berbunga yang secara berturutan tanaman
8) Pada serangga penyerbuk
Pada serangga penyerbuk, ketidak sesuaian dengan spesies sumber pakan utama akan mengurangi asesibilitas pakan melalui perubahan ketersediaan karbohidrat dan protein ( nektar dan tepungsari ), yang akhirnya akan mempengaruhi kelulushidupan dan reproduksi serangga penyerbuk. Dampak mismatches pada dinamika populasi serangga penyerbuk akan lebih berbahaya dibanding bagi tanaman, karena serangga penyerbuk sering kali bergantung sepenuhnya pada