TINJAUAN PUSTAKA
2.21. Peran Serta Masyarakat
Negara diberi amanah dalam mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi. Dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor : 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Selanjutnya dalam Bab X Undang-undang Nomor : 41 tentang Kehutanan, telah diatur mengenai peran serta masyarakat.
Masyarakat mempunyai hak dalam dalam menikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan, dan juga dapat mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan, dan informasi kehutanan. Selain haknya tersebut, masyarakat berkewajiban untuk ikut serta memelihara dan menjaga kawasan hutan dari gangguan dan perusakan. Dalam hal ini pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang berdaya guna
dan berhasil guna. Peran serta masyarakat merupakan proses dimana masyarakat turut serta mengambil bagian dalam pengambilan keputusan tentang proyek, program dan kebijakan, Hadi (1999). Dengan adanya peran serta masyarakat tersebut anggota masyarakat mempunyai motivasi kuat untuk bersama-sama mengatasi masalah lingkungan hidup dan mengusahakan berhasilnya kegiatan pengelolaan lingkungan hidup, khususnya hutan. Terdapat 8 (delapan) tangga partisipasi masyarakat, menurut Arstein (1969) dalam Hadi (1999) yaitu, 1) manipulasi, 2) terapi, 3) menyampaikan/menginformasikan, 4) konsultasi, 5) peredaman kemarahan, 6) kemitraan, 7) pendelegasian kekuasaan dan 8) pengawasan masyarakat. Peran serta merupakan istilah yang sama artinya dengan keikutsertaan, keterlibatan dan partisipasi.
Keberhasilan strategi pembangunan berkelanjutan juga tidak terlepas dari pemerintahan (governance). Pemerintahan dikategorikan baik (good governance) apabila sumber-sumber daya dan masalah-masalah publik dikelola secara efektif, efisien yang merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat (Hadi, 1999). Selanjutnya good governance sebagaimana dirumuskan oleh Indonesian Centre for Environmental Law atau ICEL (1999) dalam Hadi (1999), mempersyaratkan lima hal :
1) Lembaga perwakilan yang mampu menjalankan fungsi kontrol dan penyalur aspirasi masyarakat (effective representative system).
2) Pengadilan yang mandiri, bersih dan profesional (judicial independence). 3) Birokrasi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan memiliki
integritas (reliable and responsive bureaucracy).
4) Masyarakat sipil yang kuat sehingga mampu melaksanakan fungsi kontrol (strong and participatory civil society).
Terselenggarakannya good governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara.
Dalam rangka pengurusan hutan juga diperlukan adanya sutau perubahan paradigma pemerintah, yaitu dari paradigma state based benefits menuju ke paradigma multistakeholders based benefits. Dengan paradigma seperti ini akan mendorong terpenuhinya berbagai prasyarat guna mencapai kepemerintahan yang
baik dalam pengurusan hutan (good forestry governance). Prasyarat dimaksud antara lain : 1) Adanya transparansi hukum, kebijakan dan pelaksanaan, 2) tersedianya mekanisme yang legitimate dalam proses akuntabilitas publik, 3) adanya mekanisme perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring/evaluasi yang partisipatif, 4) adanya mekanisme yang demokratis dalam memperkuat daerah melalui mekanisme otonomi daerah, sehingga daerah tidak tertinggal dan ditinggalkan dalam berbagai tahapan dan 5) memperbaiki birokrasi pusat yang tidak efektif dan efisien untuk perbaikan kinerja melalui pengembangan institusi yang mengarah kepada peningkatan pelayanan publik, bukan berorientasi internal pemerintah saja (Effendi, 2001). 2.22. Teori Perencanaan
Beberapa definisi perencanaan menurut pendapat beberapa tokoh dikutip dalam Hadi (2005), adalah sebagai berikut :
Menurut Dafidoff & Rainer (1962), Robinson (1972) Faludi (1973) perencanaan sebagai suatu proses untuk menentukan masa depan melalui suatu urutan pilihan. Menurut Dror (1963) perencanaan merupakan suatu proses yang mempersiapkan seperangkat keputusan untuk melakukan tindakan di masa depan. Menurut Friedman (1987) perencanaan merupakan suatu strategi untuk pengambilan keputusan sebelumnya sebagai suatu aktivitas tentang keputusan dan implementasi. Di sektor kehutanan, perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan.
Berdasarkan teori perencanan menurut Hudson dalam Hadi (2005) membagi teori perencanaan ke dalam lima kategori yang meliputi ; 1) Sinoptik Komprehensif, 2) Inkremental, 3) Transaktif/pembelajaran sosial, 4) Advokasi dan 5) Radikal : a) Anarkis dan b) Marxis.
Sebuah perencanaan pembangunan yang banyak dilakukan di Indonesia selama kurun waktu yang lama dengan mengatasnamakan kepentingan nasional, yang birokratis dan top down. Dalam teori perencanaan, model ini dikenal suatu perencanaan dengan pendekatan sinoptik komprehensif. Perencanaan demikian adalah suatu perencanaan yang mengabaikan aspirasi dan kepentingan dari bawah karena sebenarnya masyarakatlah yang harus memetik manfaatnya. Karakteristik lain dari teori perencanaan ini adalah tersentralisasi dan tidak fleksibel. Sebagaimana dijelaskan Hadi (2005), jika perencanaan sinoptik komprehensif
(rasional) diterapkan pada organisasi akan menghasilkan birokrasi yang sentralis, spesialisasi, situasi yang tidak manusiawi, sangat prosedural, banyak diskresi, kurang mengakomodasi banyak kepentingan dan distorsi komunikasi. Tidak ada dimensi sosial yang muncul pendekatan perencanaan sinoptik, karena faktor sosial sepert nilai, aspirasi dan kepentingan tidak mendapat perhatian. Dengan pendekatan perencanaan sinoptik, masyarakat yang akan menerima pengaruh dari program pembangunan dilihat sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, tidak melihat bahwa masyarakat adalah sekumpulan yang terdiri dari individu yang tentu sangat pluralistik. Sehingga perencanaan dengan pendekatan sinoptik dianggap terlalu menyederhanakan persoalan.
Beberapa tahap/langkah perencanaan sebelum diambil suatu keputusan dikenal dengan the seven magic steps of planning (tujuh langkah perencanaan sebelum diambil sebuah keputusan) yaitu ; 1) Identifikasi masalah, 2) Formulasi tujuan, 3) Penilaian situasi, 4) Alternatif kebijakan, 5) Pilihan alternatif, 6) Kajian Alternatif (dampak) dan 7) Keputusan (implementasi). Setiap tahap perencanaan dilakukan bersama masyarakat dan pihak terkait lainnya mulai identifikasi masalah sampai dengan implementasi.
2.23. Evaluasi
Pengawasan kehutanan dimaksudkan untuk mencermati, menelusuri, dan menilai pelaksanaan pengurusan hutan, sehingga tujuannya dapat tercapai secara maksimal dan sekaligus merupakan umpan balik bagi perbaikan dan atau penyempurnaan pengurusan hutan lebih lanjut.
Agar pelaksanaan pengurusan hutan dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, maka pemerintah wajib melakukan pengawasan kehutanan. Masyarakat dan atau perorangan berperan serta dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan kehutanan baik langsung maupun tidak langsung sehingga masyarakat dapat mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan dan informasi kehutanan. Sejalan dengan hal tersebut, untuk lebih mengetahui apa yang terjadi di lapangan diperlukan evaluasi untuk penyempurnaan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam. Evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan dan/atau kegagalan suatu rencana kegiatan atau program (Suharto, 2006). Evaluasi berusaha
mengidentifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program.
Evaluasi program merupakan kajian terhadap program dengan fokus perhatian pada hasil dan dampak yang ditimbulkan baik secara positif dan negatif. Sebagaimana disampaikan Hadi, dalam Woeryanto (2003), bahwa fungsi evaluasi adalah :
1. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah program mampu memecahkan masalah yang dirumuskan pada tahap awal perencanaan. Ketika implementasi dilaksanakan akan diketahui lebih lanjut tentang masalah dan mungkin kita perlu memikirkan kembali tentang tujuan dan proyek.
2. Evaluasi diperlukan untuk mengkaji informasi yang dapat dipergunakan untuk mengambil keputusan dalam melakukan perbaikan.
3. Evaluasi diperlukan untuk memberikan masukan bagi pelaksanaan proyek, yang terlibat dalam implementasi proyek. Informasi tentang bagaimana proyek berlangsung menjadi sumber penting sebagai motivasi dan kepuasan pihak-pihak yang terlibat.