• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

C. Peran Sosial Perempuan dalam Pandangan Islam

Dalam kalangan umat Islam, kaum perempuan juga mendapatkan perhatian khusus berupa pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi, supaya perempuan mengerti hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai muslimah dengan tujuan pembangunan umat Islam. Hal ini pertama kali dicetuskan oleh Syeikh Muhammad Abduh.33 Tidak hanya

dalam bidang sosial dan budaya saja yang memperdebatkan peran dari perempuan, agama pun juga turut berperan dalam pembentukan kehidupan sosial perempuan, salah satunya agama Islam.

Allah SWT telah menciptakan al-Qur‟an, dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur‟an merupakan kitab penyempurna dari

kitab-kitab sebelumnya, Zabur, Taurat, dan Injil. Dalam al-Qur‟an banyak

berbagai ayat yang membahas tentang kehidupan perempuan. Ada ayat yang membahas tentang hak dan kewajiban perempuan, bahkan menceritakan keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah kehidupan, contohnya seperti Siti Maryam, ibunda dari Nabi Isa AS. Selain namanya banyak disebutkan dalam al-Quran, Maryam juga merupakan nama dari salah satu surah dalam al-Quran. Berkat ketakwaannya kepada Allah SWT dan menjaga kesuciannya, maka Ia mendapatkan pahala dan derajat yang tinggi dari Allah SWT. Ada pula

33

Nur Latifa U.S, Perempuan Dalam Majalah Perempuan Muslim, Jurnal Kajian Tentang Perempuan, Vol. 2, No. 1, Juni 2010, h. 38.

Asiyah binti Mazahim, istri dari Fir‟aun. Asiyah merupakan perempuan

yang berani memperjuangkan kebenaran, Ia tetap bertakwa kepada Allah SWT dengan memegang teguh agama Allah SWT dan melawan Fir‟aun,

suaminya yang zhalim.

Ummu Imarah al-Anshari pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa Ia melihat wahyu-wahyu yang diturunkan Allah SAW selalu berkaitan dengan laki-laki, tidak pernah ada kaum perempuan disebut dalam wahyu Allah.34 Hingga akhirnya turunlah sebuah ayat yang

menanggapi perkataan Ummu Imarah al-Anshari tersebut. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Ahzab ayat 35:

Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka

ampunan dan pahala yang besar.35

34

Alfatih, Al-Qur’anul Karim: Mushaf Terjemah Aminah, (Jakarta: PT Insan Media Pustaka, 2012), h. 422.

35

Ayat di atas menjelaskan bahwa Agama Islam tidak membedakan peran dan hak untuk kaum laki-laki dan perempuan, serta tidak mendiskriminasikan salah satu gender. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah, laki-laki dan perempuan sama-sama-sama-sama sebagai khalifah, laki-laki dan perempuan sama-sama menerima perjanjian Tuhan, laki-laki dan perempuan sama-sama terlibat dalam drama kehidupan. Bahkan, laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi meraih prestasi dan pahala.36

Allah SWT menciptakan manusia, laki-laki maupun perempuan dengan potensi yang sama untuk mendapatkan tempat yang terbaik di mata Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT melihat manusia berdasarkan iman dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Manusia, baik laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk melaksanakan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-Nya. Maka selama kita melaksanakan suatu peran yang didasari atas keimanan kita kepada Allah SWT, kita akan mendapatkan pahala yang telah dijanjikan Allah SWT.

Dalam pandangan Islam, ada beberapa hak yang dimiliki oleh kaum perempuan, yaitu: Hak perempuan dalam bermasyarakat, hal ini terdapat dalam surah at-Taubah. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk saling tolong menolong dalam aspek kehidupan.

36

Amirullah Syarbini, Gender dan Peranan Wanita Perspektif Al-Qur’an, diakses dari

http://syaamilquran.com/gender-peranan-wanita-perspektif-al-quran.html, pada tanggal 25 Agustus 2014, pukul 22.23 WIB.

QS. at-Taubah ayat 71:

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh

Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.37

Selain hak dalam bermasyarakat, dalam pandangan Islam perempuan diberi hak dalam memilih pekerjaan. Pada masa awal Islam, banyak perempuan yang aktif dalam berbagai aktivitas. Para perempuan diperbolehkan berkarier di dalam rumah maupun diluar rumah, baik mandiri atau dengan orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta. Tetapi dengan syarat menjaga kehormatan, sopan, memelihara agama, dan menghindari perlakuan negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.38 Jelas, Islam merupakan agama yang

tidak memihak pada sistem patriarki. Islam memberikan hak kepada laki-laki dan perempuan untuk berkiprah di ruang publik. Perempuan boleh menuangkan segala potensi yang dimiliki, baik berorganisasi, membuka usaha, bekerja di kantor, bahkan terjun ke dunia politik.

37

Alfatih, Al-Qur’anul Karim: Mushaf Terjemah Aminah, h. 198.

38

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-13, (Jakarta: Mizan Pustaka, 1996), h. 140.

Islam tidak hanya memperbolehkan kaum perempuan untuk berkarier. Tetapi juga menjaga kaum perempuan dari hal-hal yang tidak diinginkan dengan syarat-syarat tertentu, yaitu dengan bermoral dan berpegang teguh pada perintah Allah SWT, mengerjakan perbuatan yang makruf dan mencegah yang munkar. Seperti yang dilakukan para pejuang Islam perempuan yang sukses dengan kariernya dan tetap berpegang teguh pada perintah Allah SWT.

Dalam sejarah peradaban Islam, perempuan-perempuan yang memiliki aktivitas di luar publik banyak sekali, seperti: Ummu Salamah, Shafiyah, Laila al-Ghaffariyah, Ummu Sinam al-Aslamiyah, mereka itu merupakan tokoh-tokoh perempuan yang terlibat dalam peperangan. Dalam bidang perdagangan, ada istri Nabi yang terbilang sangat sukses, yaitu Khadijah binti Khuwalid, begitu pula Qilat Ummi Bani Anmar. Ada juga yang bekerja untuk membantu suaminya demi mencukupi kebutuhan, yaitu Raithah, istri sahabat Nabi. Lalu, al-Syifa, seorang perempuan yang pandai menulis, dan oleh Khalifah Umar r.a ditugaskan untuk menangani pasar kota Madinah.39

Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan, seseorang akan memiliki hak untuk berkarier dan berkiprah di dunia publik. Selain itu, perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban untuk menuntut ilmu. Allah SWT pun menurunkan wahyu pertama pada surah al-Alaq, yang mana pada ayat kesatu sampai kelima bermakna mengajarkan manusia

39

untuk menulis dan membaca yang merupakan kunci dari ilmu pengetahuan. QS. al-Alaq ayat 1 sampai dengan 5, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa

yang tidak diketahuinya.40

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, banyak perempuan yang terlihat aktif dalam bidang ilmu pengetahuan. Salah satunya istri Nabi, Aisyah r.a, adalah seorang yang sangat hebat dalam pengetahuannya, dan dikenal sebagai kritikus. Selain itu, Sayyidah Sakinah putri al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, perempuan ini diberi gelar Fakhr al-Nisa’ (Kebanggan Perempuan).41

Sebagai seorang perempuan, yang mana berperan sebagai ibu, istri, serta aktif di ruang publik, harus memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Karena perempuan yang menimba ilmu pengetahuan akan mampu memajukan diri, keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan ilmu, perempuan juga mampu menghadapi rintangan dalam hidupnya. Ilmu yang dipelajari yaitu ilmu yang seimbang antara dunia dan akhirat. Islam pun mengajarkan kita untuk mencintai ilmu.42

Tokoh perempuan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan di atas dapat membuktikan bahwa Islam jauh lebih dulu menyerukan manusia untuk terus menimba ilmu pengetahuan. Maka tidak salah apabila kini ada perempuan yang terus bersekolah hingga menyetarai laki-laki. Karena ilmu yang diperoleh perempuan tidak hanya digunakan untuk dirinya

40

Alfatih, Al-Qur’anul Karim: Mushaf Terjemah Aminah, h. 597.

41

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-13, h. 143.

42

sendiri, tetapi bermanfaat untuk keturunannya kelak. Ada pepatah yang mengatakan perempuan merupakan al-ummu madrasatul ula, yang bermakna ibu adalah sekolah utama untuk anak-anaknya.

Dari beberapa hak yang dimiliki oleh perempuan, ada peran yang seharusnya tidak boleh ditinggalkan kaum perempuan dalam pandangan Islam, yaitu: Peranan sebagai ibu, Islam memandang dan memposisikan perempuan sebagai ibu dengan derajat yang tinggi. Orang tua, khususnya Ibu merupakan suatu peran yang sangat penting dalam kehidupan. Ibu memiliki jasa dan kasih sayang yang tidak dapat digantikan oleh apapun, bahkan materi. Karena ibu ikhlas mempertaruhkan jiwa hanya demi anaknya, sejak anak masih dalam kandungan, lahir hingga dewasa. Dalam al-Qur‟an pun ditegaskan untuk berbakti kepada Ibu.43

QS. Luqman ayat 14:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua

orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.44

Dalam suatu keluarga, ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak-anak. Naluri seorang ibu dapat merasakan dan mengenal pasti

problem anak-anaknya. Peranan ibu sangat dibutuhkan untuk menciptakan

interaksi dengan anak yang memiliki masalah dengan memberikan solusi.

43Siti Muri‟ah, Nilai-Nilai Pendidikan Islam dan Wanita Karier, (Semarang: Rasail Media Group, 2011), h. 147.

44

Hal ini akan memberikan dampak positif, adanya keterbukaan antar keluarga. Karena perhatian yang ditunjukan oleh ibu akan membuat anak-anak merasa lebih dihargai dan disayangi.45

Peran dan tanggungjawab seorang ibu sangatlah besar. Mulai dari mengandung anak, melahirkan, menyusui, merawat, dan membimbingnya hingga dewasa. Maka perempuan yang memutuskan untuk terjun ke dunia publik harus memikirkan matang-matang, bahwa tugas ibu sangat besar dalam membentuk pribadi anaknya di masa depan. Ibu yang melaksanakan tugasnya dengan baik akan menghasilkan anak yang baik pula.

Selanjutnya, peran sebagai istri, Allah telah menciptakan kaum laki-laki dengan kaum perempuan untuk saling berpasang-pasangan. Suami dan istri adalah sepasang makhluk manusia yang terikat dalam jalinan pernikahan. Keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan.46 Seorang suami dan istri harus memiliki rasa cinta dan

kasih satu sama lain, maka akan menciptakan suasana tenteram dan harmonis. Seperti firman Allah SWT yang terdapat pada QS. ar-Rum ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia

45

Bushrah Basiron, Wanita Cemerlang, h. 4.

46

menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan bukan untuk bersaing, melainkan untuk hidup berdampingan dan saling melengkapi. Suami memiliki peran dalam menafkahi keluarga, sedangkan perempuan mengurus keperluan rumah tangga, dan memberikan kehangatan dalam keluarga. Walaupun demikian suami dan istri memiliki tanggung jawab bersama dalam hal mengasuh dan mendidik anak. Tugas-tugas inilah yang sudah ditetapkan kepada seorang suami dan istri dalam membangun kehidupan rumah tangga.

Dokumen terkait