• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Unit Bina Batu Mulia (UBIBAM) SRIPATI dalam Industri Kerajinan Batu Mulia

Unit Bina Batu Mulia atau UBIBAM didirikan pada tanggal 28 Maret

1989 atas prakarsa dari PT PUSRI (Pupuk Sriwijaya) Palembang dan diresmikan oleh Menteri Perindustrian pada saat itu, Ir Hartanto. PT PUSRI yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam rangka mengembangkan sentra industri kerajinan batu mulia dan himbauan dari pemerintah kepada BUMN untuk melaksanakan pembinaan terhadap industri kecil maka didirikan UBIBAM tersebut.

Pada awalnya, tujuan dari didirikannya UBIBAM adalah untuk membina pemuda yang putus sekolah atau pengangguran untuk dididik membuat dan mengolah batu mulia. Kebanyakan tenaga yang dipakai adalah penduduk setempat yang kebetulan longgar atau usaha mandiri di rumah. Sebelum adanya binaan dari PT. PUSRI para pengrajin batu mulia pengolahannya masih menggunakan alat yang masih tradisional yaitu dengan sistem genjot dan onthel. Setelah PT. PUSRI mengaadakan survey yang hasilnya menunjukkan para pengrajin batu mulia yang sudah ada tersebut sangat potensial untuk dibina terlebih bahan baku di Pacitan khusunya Kecamatan Donorojo

melimpah.25

Dalam pengembangannya, PT PUSRI bekerja sama dengan Pemerintah

Daerah Tingkat II Kabupaten Pacitan dan CV. TIASKY EMMS Cibogo, Bogor yang merupakan perusahaan pengolahan batu mulia yang cukup terkenal dan mempunyai nama sebagai konsultan. Dalam kerja sama tersebut, PT PUSRI menyediakan gedung, mesin peralatan, dan mengadakan diklat pengrajin batu mulia. Pemda Dati II Kabupaten Pacitan menyediakan tanah untuk bangunan

dan tenaga kerja. Sedangkan CV TIASKY EMMS menyeleksi tenaga kerja.26

Selanjutnya, pemuda atau tenaga pengangguran atau yang putus sekolah

tersebut dikirim ke CV. TIASKY EMMS untuk dilatih selama satu bulan untuk pengenalan dan pengolahan batu mulia. Setelah dilatih selama satu bulan,

25

Adany Dyah Pratita., 2001, ”Penerapan Kaizen Costing Sebagai Upaya Tercapainya Cost Reduction Pada Ubibam Sripati Di Pacitan”, Skripsi, Surabaya : Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Surabaya, hlm. 30

26

mereka kembali ke Pacitan, dilakukan pengenalan di UBIBAM dengan instruktur dari CV TIASKY EMMS tersebut selama setahun. Diharapkan dengan diberikannya pelatihan kepada pemuda atau tenaga kerja tersebut, maka akan tercipta pengrajin yang tangguh, terampil, dan mandiri sehingga dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dan memberi penghasilan kepada mereka. Selain itu dengan teciptnya produk berkualitas yang dihasilkan oleh para pengrajin, maka mampu mengundang wisatawan mancanegara maupun domestik.

UBIBAM sendiri berkantor di Desa Sukodono, bersebelahan dengan

Desa Gendaran, Kecamatan Donorojo. Kabupaten Pacitan khususnya Kecamatan Donorojo dipilih sebagai sentra industri kerajinan batu mulia karena keadaan geografis yang berbatu dan berbukit-bukit sehingga sangat memungkinkan tersedianya bahan baku yang melimpah untuk industri batu mulia. Selain itu di daerah ini juga banyak terdapat pengrajin-pengrajin batu mulia walaupun masih sangat tradisional dan memiliki potensi bebatuan yang sangat potensial untuk dikembangkan seperti calcedon, obsidian, mailed,

petrified wood, jasper, dan agate.27

Pada awal berdirinya UBIBAM memperkerjakan 20 orang tenaga kerja.

Untuk pengadaan bahan baku sendiri kebanyakan didapat dari daerah sendiri yakni Pacitan ataupun daerah sekitar seperti di daerah Ponorogo, Wonogiri, Trenggalek, dan sekitarnya. Batuan yang dicari biasanya jenis fosil, obsidian, dan onix. Pengadaan bahan baku bongkahan batu tersebut kemudian

27

berkembang ke luar daerah seperti daerah Lampung, dan Kalimantan. Namun karena pengadaan bahan baku dari kedua daerah tersebut memakan biaya yang cukup mahal, maka batuan tersebut digunakan hanya sebagai pelengkap.

Pada dasarnya pendirian UBIBAM ini adalah untuk melengkapi kekurangan-kekurangan pada pengrajin melalui penerapan-penerapan teknologi tepat guna. Dalam hal ini peran UBIBAM adalah memperkenalkan teknologi industri batu mulia kepada masyrakat adalah sebagai berikut :

1. Sebagai pusat pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat khususnya dalam pengembangan teknologi proses, desain dan pembinaan manajemen yang baik dalam industri kecil

2. Sebagai unit produksi dan pelatihan batu mulia dengan penerapan teknologi yang tepat guna sehingga menghasilkan produk yang berkualitas

3. Sebagai tempat promosi sehingga membuka peluang untuk mendapatkan pasar baik wilayah dalam negeri maupun luar negeri.

Tidak hanya teknologi saja yang diperkenalkan dalam pengolahan batu mulia, dalam peranannya, UBIBAM juga berusaha mengembangkan dan meningkatkan kualitas dari pengrajin dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mendorong semangat pengrajin dengan memberi motivasi bahwa industri batu mulia dapat dijadikan sebagai sumber hidup perekonomian mereka. Selain itu UBIBAM juga menyediakan fasilitas atau sarana untuk pengrajin dengan memberi tenaga ahli untuk mengajari mereka dalam berbagai bidang seperti manajemen dan teknologi, orientasi pendidikan, dan latihan dibidang pemasaran serta memberikan bantuan promosi. Tidak hanya pelatihan

saja UBIBAM juga memberikan keamanan kepada mereka dengan memberikan kesejahteraan karyawan dengan memberikan asuransi jiwa, kecelakaan, tenaga kerja dan menyediakan fasilitas kesehatan. Disamping itu para pengrajin juga dituntut untuk dapat membiayai biaya operasional sehari-hari secara mandiri. Karena dalam hal ini UBIBAM tidak hanya menghasilkan produk saja. Tetapi juga menghasilkan jasa berupa pengrajin yang bisa mandiri setelah

mendapatkan pelatihan kerja di UBIBAM.28

Dalam pemasaran produk hasil dari UBIBAM, UBIBAM

memperkenalkan produknya kepada masyarakat dan memperluas promosi produknya dengan mengadakan pameran-pameran di beberapa daerah. Untuk sistem kerjanya sendiri, para karyawan atau pengrajin bekerja biasa pada mulai pukul 07.00 hingga pukul 15.00 sore. Khusus untuk hari sabtu mereka hanya sampai pukul 13.00. kemudian mereka mereka mendapat jam istirahat pukul 09.30-10.00 untuk waktu jeda dan jam 12.00-13.00 untuk waktu sholat dan

makan siang. Setelah melewati jam itu mereka mulai melanjutkan kerja lagi. 29

28

Ibid., hlm. 33. 29

Dokumen terkait