• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Wilayatul Hisbah dalam Mencegah Khalwat

BAB IV HASIL PENILITIAN & PEMBAHASAN

B. Peran Wilayatul Hisbah dalam Mencegah Khalwat

Sebagai salah satu lembaga yang mengawasi Syari’at Islam di Aceh tentu

Wilayatul Hisbah memiliki peran yang sangat besar dalam mencegah berbagai

pelanggaran-pelanggaran Syari’at, salah satunya pelanggaran Syari’at tentang

khalwat. Untuk wilayah Kabupaten Aceh Selatan, sebagaimana keputusan Bupati

Tahun 2005 tentang penepatan satuan Wilayatul Hisbah. Penetapan tersebut bertujuan untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas, fungsi dan pengawasan Syari’at Islam di Aceh Selatan. Diantara data yang kami dapatkan tentang peran

Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat adalah sebagai berikut:

Rudi Subrita, S. Ag, mengatakan bahwa peran Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat memang sudah menjadi Tupoksi Wilayatul Hisbah itu sendiri, seperti melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan dan pelanggar peraturan perundang undangan di bidang Syari’at Islam, terutama dibidang khalwat di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Wilayatul Hisbah melakukan pengawasan di siang hari dan di malam hari untuk mencegah terjadi pelanggaran khalwat. Selain itu Wilayatul Hisbah juga harus memberitahukan kepada masyarakat tentang adanya peraturan perundang-undangan dibidang Syari’at Islam.6

Wiwit Alfianis mengatakan peran Wilayatul Hisbah dalam mencegah

khalwat sudah dilaksanakan dengan baik dengan cara pembinaan seperti menegur,

memperingati, danmenasehati seseorang yang patut di duga telah melakukan pelanggaran yaitu khalwat. Wilayatul Hisbah berupaya menghentikan

6 Hasil Wawancara dengan Bapak Rudi Subrita, S. Ag selaku Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 28/11/2018.

kegiatan/perbuatan yang patut diduga telah melanggar peraturan perundang-undangan di bidang khalwat dan menyelesaikan perkara khalwat tersebut melalui Rapat adat Gampong. Selain itu Wilayatul Hisbah juga harus memberitahu pihak terkait tentang dugaan telah terjadinya penyalahgunaan izin penggunaan suatu tempat atau sarana. Wilayatul hisbah langsung terjun kelapangan yang di anggap rawan terjadinya khalwat, seandainya ada prilaku yang tertangkap langsung di bawa ke kantor untuk di berikan pembinaan kemudian mengajakwali dari pihak yang tertangkap untuk memberikan kesaksian agar perbuatan tersebut tidak akan terulang kembali, kalau terulang maka akan di berikan sanksi hukum sesuai qanun yang berlaku dengan tujuan timbulnya kesadaran untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang lurus yang di ridhai Allah SWT.7

Busyra, S. Hi, juga mengatakan bahwa peran Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat adalah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, terutama mencegah khalwat. Jika Wilayatul Hisbah melihat langsung orang yang berbuat

khalwat maka akan di tangkap, di proses, kalau yang bisa di bina maka akan di

bina, buat pelaporan dan di serahkan kepada penyidik Wilayatul Hisbah berikan kesaksian bahwa orang tersebut di tangkap sedang berdua-duaan, penyidik menyelidiki kembali setelah diselidiki maka penyidik melimpahkan kepada jaksa jadi jaksa menyelidiki lagi di lengkapkan bukti bukti setelah lengkap bukti-bukti apakah bisa di ajukan kepada pengadilan kalo lengkap saksi dan bukti oleh kejaksaaan di ajukan kepada mahkamah Syariah jadi Mahkamah Syariah lah yang memutuskan di cambuk atau tidaknya atau lepas atau bagaimana, berapa kali

7 Hasil Wawancara dengan Wiwit Alfianis selaku Agendaris Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 29/11/2018.

cambuk, berapa denda kalau penjara berapa lama jadi itu urusan hakim yang memutuskan perkara itu tidak boleh melenceng dari qanun khalwat, dan ada ketentuan hukumannya.8

Yulmainar. SE berpendapat bahwa Wilayatul Hisbah telah cukup berperan dalam mencegah khalwat dan juga telah menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya seperti melakukan sosialisasi, pengawasan, dan juga melakukan patroli setiap minggunya di tempat-tempat yang mencurigakan dan tempat-tempat yang di kawatirkan seperti pondok-pondok yang di anggap rawan akan terjadinya pelanggaran seperti di Gampong Gunung Kerambil bertepatan di Kecamatan Tapak Tuan. Jika ada yang tertangkap maka Wilayatul Hisbah akan menasehati dan jika sudah melewati batas maka akan diproses dan di bawa ke kantor

Wilayatul Hisbah.9

Khairuman mengatakan bahwa lembaga Wilayatul Hisbah tersebut sangatlah penting akan tetapi Wilayatul Hisbah dalam menjalankan perannya dan tugasnya masih terbatas pada anggaran, menurut ia Wilayatul Hisbah belum maksimal dalam menjalan kan perannya, seperti maksiat di gunung kerambil belum bisa diatasi oleh Wilayatul Hibah tersebut tersebut dan pengharapan beliau lebih tegas dalammenjalankan tugas dan wewenangnya.10

Berdasarkan uraian data di atas bahwa peran Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan dapat peneliti simpulkan antara

8 Hasil Wawancara dengan Bapak Busyra, S. Hi selaku Kasi Pembinaan, Pengawasan dan Penyuluhan Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 03/12/2018.

9 Hasil Wawancara dengan Ibu Yulmainar. SE selaku Camat Kec. Tapak Tuan Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 05/12/2018.

10 Hasil Wawancara dengan Bapak Khairuman selaku Keuchik Gampong Air Berudang Kec. Tapak Tuan, Pada Tanggal 04/12/2018.

lain adalah melakukan pengawasan di siang hari maupun di malam hari cara pembinaan seperti menegur, memperingati, dan menasehati berupaya menghentikan kegiatan/perbuatan yang patut di duga telah melanggar peraturan perundang-undangan dan menyelesaikan perkaratersebut melalui Rapat adat Gampong. Selain itu Wilayatul Hisbah juga harus memberitahukan kepada masyarakat tentang adanya peraturan perundang-undangan dibidang Syari’at Islam, agar masyarakat mengetahui akan pentingnya menegakkan dan menjalankan Syari’at Islam. Memberitahu pihak terkait tentang dugaan telah terjadinya penyalahgunaan izin penggunaan suatu tempat atau sarana dan selanjutnya menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, terutama mencegahh

khalwat.

Adapun data dokumentasi yang peneliti dapatkan sebagai berikut:

Kewenangan Wilayatul Hisbah perspektif penegakkan Qanun Syari’at Islam.

1. Melakukan Pengawasan terhadap pelaksanaan dan pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang Syari’at Islam.

2. Melakukan Pembinaan dan advokasi spiritual terhadap setiap orang yang berdasarkan bukti permulaan patut diduga telah melakukan pelanggaran. 3. Menegur, menasehati, melarang setiap orang yang patut diduga telah, sedang

atau akan melakulan pelanggaran.11

Jadi berdasarkan data dokumentasi di atas dapat disimpulkan bahwa, melakukan pengawasan dibidang Syari’at Islam, melakukan pembinaan dan

11 Data Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 03/12/2018.

advokasi kepada setiap orang yang payut diduga telah melakukan pelanggran, menegur dan menasehat orang yang patut diduga telah melakukan pelanggran.

Tabel. 4.2 Jumlah Pelanggaran Syariat Islam Tentang Khalwat di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Bulan Jumlah

Kasus Hukum Adat Pembinaan

Januari 3 Kasus - - Bina di

Tempat Februari 2 Kasus

-

Di selesaikan

oleh adat -

Maret 3 Kasus - - Bina di

Kantor

April 1 Kasus DiCambuk

- -

Mei 1 Kasus Cambuk+

Denda Mas -

Wajib Lapor ke Kantor

Juni 2 Kasus - - -

Juli 1 Kasus - Di usir

sementara dari kediaman

-

Agustus 2 Kasus - - Penyuluhan

dan sosialisasi

September 3 Kasus - - Penyuluhan

dan sosialisasi

Oktober 2 Kasus - Denda Adat -

November 5 Kasus - Keputusan

Pemegang Adat Wajib Lapor ke Kantor

Desember 3 Kasus Di Cambuk Denda Adat -

Sumber Data : Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2018.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kasus khalwat di Kabupaten Aceh Selatan pada Tahun 2016 sebanyak 26 orang. Diselesaikan dengan hukum terdapat tiga (3) bagian, yang pertama (1) di cambuk, kedua (2) di cambuk+denda mas dan yang ke tiga di cambuk. Diselesaikan dengan Adat terdapat tiga (5)

bagian, yang pertama (1) diselesaikan oleh adat, yang kedua (2) diusir sementara dari kediaman, yang ketiga (3) Denda Adat, yang ke empat (4) keputusan pemegang adat, dan yang ke lima (5) denda adat. Dengan pembinaan ada empat (4) bagian, yang pertama (1) bina ditempat, yang kedua (2) bina di kantor, yang ke tiga (3) wajib lapor ke kantor dan yang ke empat (4) penyuluhan dan sosialisasi.

Tabel. 4. 3. Jumlah Pelanggaran Syariat Islam Tentang Khalwat di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2017

Bulan Jumlah Kasus Hukum Adat Pembinaan

Januari - - - -

Februari 4 Kasus - - 4 Orang

Maret 3 Kasus 3 Orang - -

April 3 Kasus 3 Orang - -

Mei 7 Kasus - - 7 Orang

Juni 5 Kasus - - 5 Orang

Juli 3 Kasus - - 3 Orang

Agustus 8 Kasus - - 8 Orang

September 3 Kasus 3 Orang - -

Oktober 7 Kasus - - 7 Orang

November 4 Kasus - - 4 Orang

Desember 11 Kasus - - 11 Orang

Sumber Data : Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2018.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah kasus khalwat di Kabupaten Aceh Selatan pada Tahun 2017 sebanyak 58 orang. Diselesaikan dengan hukum sebanyak 9 orang dan dengan pembinaan sebanyak 49 orang.

Tabel 4. 4. Ketentuan ‘Uqubat/Hukuman Bagi Pelanggaran yaitu Khalwat

No Jarimah/Pelanggaran Uqubat/Hukuman Pasal

mengatur

KHALWAT

1. Sengaja melakukan jarimah

khalwat. ‘Uqubat Ta’zir cambuk <10 kali atau denda <100 gram emas murni atau penjara <10

Pasal 23 ayat (1)

bulan. 2. Menyelenggarakan,

menyediakan fasilitas atau mempromosikan jarimah

khalwat.

‘Uqubat Ta’zir cambuk <15 kali dan/atau denda <150 gram emas murni dan/atau penjara <15 bulan.

Pasal 23 ayat 2 3. Jarimah khalwat yang

menjadi kewenangan

peradilan adat diselesaikan menurut ketentuan dalam

Qanun Aceh tantang

pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat dan/atau

peraturan

perundang-undangan lainnya mengenai adat istiadat.

Pasal 24

Sumber Data : Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2018.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa bagi yang sengaja melakukan

khalwat maka akan diuqubat Ta’zir cambuk <10 kali atau denda <100 gram emas

murni atau penjara <10 bulan, dan bagi yang menyediakan fasilitas akan diuqubat Ta’zir cambuk <15 kali dan/atau denda <150 gram emas murni dan/atau penjara <15 bulan, dan semua hukuman tersebut sesuai dengan ketentuan Qanun A/ceh, adat istiadat dan peraturan perundang undangan.

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti dapatkan bahwa peran Wilayatul

Hisbah dalam mencegah khalwat, sangat menonjol terutama dalam hal

pembinaan. Apabila Wilayatul Hisbah menemukan pelaku pelanggaran, Wilayatul

Hisbah membawa ke kantor untuk dimintai keterangan dari pelaku pelanggaran,

jika kasus yang di dapati ringan maka akan diberikan binaan, nasehat kepada pelaku pelanggaran agar pelaku pelanggaran tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah dilakukannya dan di berikan surat untuk ditanda tangani dan surat tersebut berisikan tidak akan mengulangi kembali pelanggran yang teah dilakukan

jika kedapatan kembali maka akan dipanggil orang tua dan pak Keuchik. Dan jika pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku sudah berat maka tidak akan diberikan binaan lagi akan tetapi akan di proses da dibawa keranah hukum.12

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa peran Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat sudah dilakukan sebagaimana semestinya berdasarkan tugas-tugas, fungsi dan wewenang yang telah dibebankan kepada lembaga

Wilayatul Hisbah, seperti pengawasan, pembinaan, nasehat dll.

C. Strategi Wilayatul Hisbah dalam Mencegah Khalwat di Kabupaten Aceh Selatan

Dari hasil penelitian, dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi terkait strategi Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan peneliti berhasil mengumpulkan beberapa data seperti yang dijelaskan berikut ini:

Sakim Effendi, menjelaskan bahwa strategi Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat ialah melakukan pengawasan yaitu pengawasan terhadap pelaksanaan dan pelanggar peraturan perundang undangan dibidang Syari’at Islam, terutama tentang khalwat di Wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Wilayatul

Hisbah melakukan pengawasan di siang hari dan di malam hari untuk mencegah

terjadi pelanggaran dibidang khalwat.13

Ibu Fitriani, SH,menjelaskan bahwa strategiWilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat, sosialisasi dengan cara ceramah target sosialisasi pada

12 Hasil Observasi, pada Tanggal 30/11/2018.

13 Hasil Wawancara dengan Bapak Sakim Effendi selaku Anggota Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 28/11/2018.

sekolah-sekolah terutama sekali pada anak SMP, SMA, sosialisasi ke warung-warung dan cafe-cafe tempat rawan terjadinya khalwat, mengirimkan surat-surat yang berisikan qanun tentang larangan berbuat khalwat agar pemilik warung dan cafe senantiasa memantau pelanggan yang berdua-duaan yang bukan muhrim, agar tidak terjadi prilaku khalwat di warung dan cafe tersebut. Dan juga target sosialisasi selanjutnya ialah kepada masyarakat umum,agar masyarakat mengetahui akan pentingnya menegakkan dan menjalankan Syari’at Islam. Jika masyarakat menemukan adanya perbuatan pelanggaran terhadap ketentuan Syari’at Islam yaitu khalwat, maka masyarakat harus melaporkan kepada

Wilayatul Hisbah agar bisa diberi binaan, nasehat dll.14

Misbah mengatakan bahwa, untuk di tahun 2018 Wilayatul Hisbah telah berperan aktif di Gampong Ujung Tanah karena apabila dibandingkan pada Tahun-tahun sebelumnya masih terdapat pelanggaran-pelanggaran. Dan menurut ia Wilayatul Hisbah juga telah melakukan sosialisasi seperti mengedarkan surat-surat tentang peraturan-peraturan Syari’at Islam kepada tempat yang terindikasi terjadinya pelanggaran seperti cafe, warung yang berada di Gampong Ujung Tanah Kecamatan Samadua.15

Rudi Subrita, S. Ag, mengatakan bahwa strategi yang harus dilakukan

Wilayatul Hisbah adalah melakukan patroli rutin, baik di siang hari dan pada

malam hari, paling kurang seminggu tiga kali, dari labuhan haji barat sampai ke Trumun Timur, tidak langsung ke desa desa akan tetapi pada tempat-tempat yang

14 Hasil Wawancara dengan Ibu Fitriani, SH selaku Kasi Advokasi dan Perlindungan Ham Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 29/11/2018.

15 Hasil Wawancara dengan Bapak Misbah selaku Keuchik Gampong Ujung Tanah Kec. Samadua, pada Tanggal 05/12/2018.

di anggap rawan akan terjadinya pelanggaran Syari’at Islam terkait dengan

khalwat yaitu di pinggir-pinggir pantai yang ada pondok-pondok dan cafe

remang-remang, di hotel-hotel yang di anggap rawan akan terjadinya khalwat, kawasan yang sering Wilayatul Hisbah melakukan patroli adalah di Kec. Tapak Tuan dan Kec. Samadua karena dua kecamatan tersebut adalah kota dari Kabupaten Aceh Selatan yang dianggap rawan terjadinya perbuatan khalwat.16

Dra. Lernawati berpendapat bahwa strategi yang dilakukan Wilayatul

Hisbah yaitu dengan cara patroli rutin di tempat-tempat yang di anggap rawan

akan terjadinya pelanggaran seperti di Samadua yang ada cafe-cafe, warung-warung kopi, dan pondok-pondok di tepi pantai.17

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti dapatkan bahwa strategi

Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat yaitu dengan cara patroli, anggota Wilayatul Hisbah melakukan patroli di pagi hari sekitaran jam 10.30 WIB dengan

mobil patroli yang terdapat di kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Aceh Selatan yang di pimpin oleh Danton Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan.

Wilayatul Hisbah melakukan patroli di Kecamatan Tapak Tuan tepatnya di

Gampong Air Berudang dan di Kecamatan Tapak Tuan tepatnya di Gampong Ujung Tanah.18

Harun Arrasyid juga mengatakan bahwa strategi Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat yaitu adanya kerja sama dengan instansi-instansi terkait, bekerja sama dengan pihak, Satpol PP, Dinas Syari’at Islam, Kepolisian, TNIdan

16 Hasil Wawancara dengan Bapak Rudi Subrita, S. Ag...

17 Hasil Wawancara dengan Ibu Dra. Lernawati selaku Sekcam Kec. Samadua Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 04/12/2018.

sebagainya untuk patroli, dan turun kelapangan untuk mengawasi tempat-tempat yang rawan akan terjadinya perbuatan khalwat. Wilayatul Hisbah juga meminta bantuan dari masyaraka tagar mengawasi dan memantau tempat-tempat yangrawan terjadinya khalwat.19

Adapun data dokumentasi yang peneliti dapatkan sebagai berikut:

1. Strategi yang Telah dilaksanakan Lembaga Wilayatul Hisbah di Kabupaten Aceh Selatan.

a. Pengawasan Penerapan Syari’at Islam. b. Pelaksanaaan Razia.

c. Patroli Rutin.

d. Pembinaan Terhadap Pelanggar Qanun Syari’at Islam.20

2. Strategi yang akan dilaksanakan lembaga Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan

a. Sosialisasi/Pendekatan Khusus pada Remaja

Perlu adanya suatu konsep dan sistem yang memusatkan pencegahan penyimpangan Syari’at Islam pada remaja, pada semua lembaga pendidikan. b. Kerjasama Semua Unsur

Ini merupakan suatu pilar yang paling kokoh dalam membangun keterlibatan masyarakat sebagai sistem pencegahan prilaku menyimpang.

c. Pembuatan Pos Pengamanan Wilayatul Hisbah.

19 Hasil Wawancara dengan Bapak Harun Arrasyid selaku Anggota Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 30/11/2018.

20 Data Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 03/12/2018.

Perlunya pendirian pos-pos Wilayatul Hisbah pada kawasan-kawasan yang menonjol prilaku khalwat dan penyimpangan.

d. Pengembangan Struktur Organisasi Wilayatul Hisbah Tingkat Gampong. Perlunya pembentukan Muhtasib Gampong.21

Jadi berdasarkan uraian data di atas bahwa strategi Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan dapat peneliti simpulkan antara lain adalah melakukan pengawasan, sosialisasi dengan cara ceramah, target sosialisasi pada sekolah-sekolah, kepada masyarakat, agar masyarakat mengetahui akan pentingnya menegakkan dan menjalankan Syari’at Islam. Sosialisasi ke warung-warung dan cafe-cafe dengan, mengirimkan surat, surat yang berisi qanun larangan berbuat berkhalwat agar pemilik warung dan cafe senantiasa memantau pelanggan yang berdua-duaan yang bukan muhrim. melakukan patroli rutin ,baik di siang hari dan pada malam hari, paling kurang seminggu tiga kali yang terindikasi akan terjadinya pelanggaran dibidang khalwat seperti di pantai-pantai, warung, cafe-cafe dan di hotel. Adanya kerjasama dengan instansi-instansi terkait, dan pembuatan pos pengaman.

D. Faktor Pendukung dan Penghambat Wilayatul Hisbah dalam Mencegah Khalwat di Kabupaten Aceh Selatan

Dalam menjalankan berbagai tugas pasti terdapat beberapa poin penting yang harus di perhatikan seperti faktor pendukung dan juga faktor penghambat dari masalah itu sendiri, begitu juga dalam hal mencegah khalwat yang di lakukan

21 Data Dokumentasi dari Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 03/12/2018.

oleh Wilayatul Hisbah selama ini. Adapun data yang peneliti dapatkan tentang faktor pendukung dan penghambat Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan sebagai berikut:

1. Faktor Pendukung

Nazri mengatakan bahwa faktor pendukung Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat selama ini adanya bantuan dan kerjasama dari pihak Kepolisian, TNI, Kejaksaan dan Provos Kodim Aceh Selatan melakukan razia gabungan.

Hendri Safri juga mengatakan bahwa fakor pendukung Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat adalah dengan cara bekerjasama dengan tokoh masyarakat dalam hal mengawasi pelanggaran Syari’at Islam dibidang khalwat, dan tokoh masyarakat juga memberitahukan kepada lembaga Wilayatul Hisbah jika di suatu tempat ada terjadinya pelanggaran dibidang khalwat.22

Dari beberapa jawaban hasil wawancara dengan beberapa narasumber di atas tentang faktor pendukung Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan dapat peneliti simpulkan antara lain adanya kerjasama dari Kepolisian, TNI, Kejaksaan dan Provos Kodim Aceh Selatan melakukan razia gabungan. Dan juga mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat, dengan cara bekerjasama dalam hal mengawasi Syari’at Islam.

2. Faktor Penghambat

a. Penghambat Internal 1) Terbatasnya anggaran

22 Hasil Wawancara dengan Nazri, selaku Danru I Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 30/11/2018.

Arkanuddin Aiyub perpendapat bahwa faktor penghambat Wilayatul

Hisbah dalam mencegah khalwat, kurangnya dana, dana adalah kebutuhan utama

untuk membantu kelancaran Wilayatul Hisbah dalam menjalankan tugasnya seperti patroli/razia, keperluan dana tersebut untuk makan minum ketika

Wilayatul Hisbah melakukan patroli dan sosialisasi,jika dana tersebut kurang

maka akan terhambatnya Wilayatul Hisbah dalam menjalankan tugasnya tersebut. Dan dana tersebut guna untuk membayar gaji honorer Wilayatul Hisbah dalam menjalankan razia/patroli.23

2) Terbatasnya sarana dan prasarana

Harrun Al Rasyid berpendapat bahwa faktor penghambat Wilayatul Hisbah dalam mencegah khalwat yaitu minimnya sarana dan prasarana seperti kendaraan untuk patroli masih kurang, seperti mobil patroli Wilayatul Hisbah hanya ada satu unit saja dan sebelumnya ada motor untuk patroli akan tetapi sekarang tidak ada lagi. Sebenarnya sarana dan prasana tersebut adalah hal yang sangat paling utama dan hal yang paling penting bagi Wilayatul Hisbah, guna untuk kelancaran dalam menjalankan tugasnya seperti patroli rutin dalam hal mencegah terjadinya pelanggran Syari’at Islam dibidang khalwat.24

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti dapatkan sarana dan prasarana yang terdapat di kantor Satuan Polisi Pamong Praja masih minim seperti mobil patroli hanya ada satu unit saja sedangkan motor untuk patroli tidak ada.25

23 Hasil Wawancara dengan Bapak Arkanuddin Aiyub selaku Danton Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 28/11/2018.

24 Hasil Wawancara dengan Bapak Harun Al Rasyid selaku Anggota Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 30/11/2018.

25 Hasil Observasi di Kantor Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Selatan, pada Tanggal 28/11/2018.

3) Kurangnya personil

Rudi Subrita, S. Hi mengatakan bahwa faktor penghambat Wilayatul

Hisbah dalam mencegah khalwat kurangnya personil Wilayatul Hisbah di wilayah

Kabupaten Aceh Selatan di sekian banyak Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan ada sekitar 18 kecamatan seharusnya tingkat 30 orang lebih anggota Wilayatul

Hisbah, akan tetapi di Kabupaten Aceh Selatan cuma ada 22 personil saja,

dengan demikian maka terhambatnya personil Wilayatul Hisbah dalam menjalankan tugas, fungsi dan wewenangnya untuk mencegah terjadinya pelanggaran Syari’at Islam dibidang khalwat.26

Berdasarkan uraian di atas tentang faktor penghambat internal Wilayatul

Hisbah dalam mencegah khalwat di Kabupaten Aceh Selatan dapat peniliti

simpulkan antara lain adalah kurangnya dana, kurangnya sarana dan prasara. Kemudian kurangnya personil Wilayatul Hisbah di wilayah Kabupaten Aceh Selatan di sekian banyak Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan ada sekitar 18 kecamatan seharusnya tingkat 30 orang lebih anggota Wilayatul Hisbah, akan tetapi di Kabupaten Aceh Selatan cuma ada 22 personil Wilayatul Hisbah.

Adapun data dokumentasi yang peneliti dapatkan sebagai berikut:

26 Hasil Wawancara dengan Bapak Rudi Subrita, S. Ag ...

Penghambat dalam Melaksanakan Tugas Penegakkan Perda

Masih Minimnya Jumlah

Dokumen terkait