MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
PERANAN AGROFORESTRI DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
Agroforestry merupakan model pengelolaan hutan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil hutan, hasil pertanian/peternakan/ perikanan sehingga masyarakat dapat menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang. King & Chandler dalam Hairiah et al.(2003) menyatakan bahwa agroforestry sebagai sistem pengelolaan tanah berkelanjutan dan mampu meningkatkan produksi tanah secara keseluruhan.
Prinsip dalam agroforestry adalah keseimbangan lingkungan, ekonomi dan sosial. Apabila dilihat dari prinsip-prinsip di atas dan berbagai pendekatan yang dapat mencegah dan mengurangi perubahan iklim modelagroforestry dapat memitigasi dan mengadapatasi perubahan iklim dengan alasan-alasan sebagai berikut: a).
Pencampuran jenis pohon penghasil kayu, buah dan lain-lain, merupakan salah satu model tanaman campuran; b). Pencampuran jenis yang didasarkan pada sifat toleransi (kanopi dan undestory); c). Pencampuran perbedaan umur; d). Pencampuran berdasarkan perbedaan waktu pemanenan; e).Penggabungan nilai ekonomi, sosial dan budaya sehingga perubahan vegetasi dapat berjalan seiring dengan perubahan sosial dan budaya secara berangsur yang dapat disesuaikan dengan perubahan iklim dan f).
Dapat digunakan sebagai modeluntuk memfasilitasi perubahan kelompok vegetasi menjadi kelompok yang baru (adaptasi), seperti teori perubahan vegetasi melalui perladangan berpindah yang teratur. (Butarbutar 2009)
Dalam kaitan ini ada beberapa keunggulan agroforestri dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, yaitu (Latifah, et al. 2014):
a. Produktivitas (Productivity)
Produk total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada monokultur. Hal tersebut disebabkan bukan saja keluaran (output) dari satu bidang lahan yang beragam, akan tetapi juga dapat merata sepanjang tahun. Adanya tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen/jenis tanaman lainnya.
b. Diversitas (Diversity)
Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian, dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada budidaya tunggal (monokultur).
c. Kemandirian (Self-regulation)
Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestry diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produk-produk luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak memerlukan banyak input dari luar (seperti. pupuk, pestisida), dengan diversitas yang lebih tinggi daripada sistem monokultur
Agroforestry memberikan tawaran yang cukup menjanjikan untuk mitigasi akumulasi GRK di atmosfer (IPCC 2000). Gas CO2 sebagai salah satu penyusun GRK terbesar di udara diserap pohon dan tumbuhan bawah untuk fotosintesis, dan ditimbunnya sebagai C-organik dalam tubuh tanaman (biomasa) dan tanah untuk waktu yang lama, mencapai 30-50 tahun. Selama tidak ada pembakaran di lahan, emisi CO2 ke atmosfer dapat ditekan. Jumlah C yang tersimpan di lahan secara teknis disebut “cadangan C”atau “penyimpanan C”. Jumlah C yang tersimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomasa) pada suatu lahan adalah menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh tanaman (C-sequestration). Sedangkan jumlah C yang masih tersimpan dalam bagian tumbuhan yang telah mati (nekromasa) secara tidak langsung menggambarkan C yang disimpan dalam sistem untuk beberapa waktu lamanya, artinya CO2 tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran. Beberapa hasilpengukuran C tersimpan pada berbagai sistem penggunaan lahan (SPL) oleh tim peneliti Alternatives to Slash and Burn (ASB phase 1 dan 2) di Jambi (Tomich et al. 1998) dalam Hairiah et al .(2008), adalah sebagai berikut
1. Hutan alami menyimpan C tertinggi sekitar 497 ton ha-1 dibandingkan sistem penggunaan lahan (SPL) lainnya. Lahan ubikayu monokultur menyimpan C terendah (sekitar 49 ton ha-1).
2. Gangguan hutan alami menyebabkan hutan kehilangan C sekitar 250 tonha-1, dimana kehilangan C terbesar terjadi karena hilangnya pohon, sedang kehilangan C yang tersimpan dalam tanah relatif kecil.
3. Bila hutan sekunder terus dikonversi ke sistem ubikayu monokultur, maka kehilangan C di atas permukaan tanah bertambah menjadi 300-350 ton Cha-1. 4. Tingkat kehilangan C dapat diperkecil bila hutan dikonversi menjadi sistem
agroforestry berbasis karet. Karbon tersimpan di bagian atas tanah sekitar 290 ton C ha-1, dan bila dikonversi menjadi HTI sengon maka C yang tersimpan sekitar 370 ton C ha-1.
5. Penyimpanan C rata-rata per siklus tanam bervariasi tergantung umur tanaman.
Semakin banyak dan semakin lama C tersimpan dalam biomasa pohon semakin baik.
6. Lahan hutan yang telah terganggu, lahan agroforestri multistrata (bermacam jenis pohon) dan agroforestri sederhana (tumpangsari pohon dan tanaman pangan) menimbun C dalam biomasa rata-rata sekitar 2.5 ton ha-1 th-1. Sedang penimbunan C dalam lahan pertanian semusim ubikayu- rumput-rumputan dapat diabaikan, karena kebanyakan C hilang oleh adanya pembakaran.
7. Besarnya penyimpanan C dalam suatu lahan dipengaruhi oleh tingkatkesuburan tanahnya. Penyisipan pohon leguminose dalam system agroforestry, akan memperbaiki kesuburan tanah sehingga pertumbuhan pohon di atasnya menjadi lebih baik dan meningkatkan jumlah C tersimpan dalam biomasa.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi agroforestry terhadap upaya mitigasi GRK di udara cukup besar melalui banyaknya C tersimpan dalam sistem tersebut. Besar karbon yang dapat ditambat dan biaya pelaksanaan kegiatan penambatan karbon beragam menurut lokasi dan jenis kegiatan. Untuk kegiatan mitigasi forestasi (afforestasi dan reforestasi) misalnya, potensi mitigasinya didaerah
lintang tinggi lebih rendah dibanding daerah lintang rendah, sedangkanbiaya mitigasi relatif hampir sama. Demikian juga untuk kegiatan agroforestri dilintah rendah jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lintang tengah, meskipunbiaya yang dikeluarkan sama.Salah satu contoh potensi serapan karbon pada agroforestri dijabarkan oleh Hairiah dan Rahayu (2010) yang membandingkan agroforestri multi strata berbasis kopi pada beberapa daerah di Indonesia. Agroforestri multistrata berbasiskopi yang diamati di Lombok Barat dan Malang memiliki nilai rata-rata cadangankarbon yaitu 43.88 ± 11.91 Mg ha-1 dan 43.49 ± 23.62 Mg ha-1
Menurut Latifah (2014) Masyarakat di sekitar DTA Danau Toba melakukan praktik agroforestry dengan memilih suren dikarenakan tanaman suren mampu memberikan naungan yang cukup bagi tanaman kopi. Tanaman kopi yang ada dibawahnya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat menjaga produktivitas dari tanaman suren. Potensi bimassa tegakan Toona sureni dengan rataan diameter 8- 13.5 cm adalah 0,84-14,10 ton / ha dan menyimpan karbon berkisar 0,39-6,49. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomasa rata-rata T.sureni yang berumur 15 tahun adalah 5,24 ton ha-1. Sedangkan potensi biomassa kopi Arabica dengan diameter 1-3.8 cm adalah 0,18-1,19 ton / ha dan potensi menyimpan karbonnya 0,08 hingga 0,55ton/ha. Kegiatan agroforestri T.sureni dengan tanaman coklat di Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun Sumatera menunjukkan usaha tani kakao mulai diperoleh pada saat tanaman berumur 3 tahun dengan harga jual rata-rata yang diterima petani adalah Rp25.000,00 per kg. Rata-rata-rata produksi biji kakao kering sekitar 1.960,42 kg/ha/tahun dengan pendapatan petani sekitar Rp 49.010.500 kg/ha/tahun. (Latifah et al. 2017)
Menurut Hairiah & Rahayu (2010) rata-rata cadangan karbon pada agroforestry sederhana berbasis kopi di Lampung Barat dan Malang menunjukkan nilai yang tidak jauh berbeda yaitu 20.11 ± 30.01 Mg ha-1 dan 24.60 ± 13.65 Mg ha-1 . Hasil pengamatan di Lampung Barat, menunjukkan bahwa laju pertumbuhan cadangan karbon pada agroforestri sederhana berbasis kopi (milik masyarakat) di Lampung Barat adalah 0.6 Mg ha-1 th-1 (Hairiah et al., 2006). Sementara itu, cadangan karbon pada kopi monokultur (hanya terdapat di Lampung Barat), hanya bersumber dari tanaman kopi saja yaitu rata-rata 13.8 ±14.09 Mg ha-1 pada kisaran umur lahan antara 1 sampai dengan 30 tahun.
Sementara itu, pemakaian sumber energi (bahan bakar) fosil dalam jumlah yang sangat besar dan selalu meningkat setiap tahunnya menimbulkan duamasalah sekaligus, yaitu terjadinya krisis energi yang melanda dunia dansekaligus pencemaran udara melalui gas sisa pembakaran, yang terpapar keatmosfer. Dua hal ini mendorong manusia mencari sumber-sumber energialternatif, yang lebih ramah lingkungan, sekaligus untuk mengatasi krisis energy dunia. Salah satu cara pengurangan emisi CO2 ,sekaligus mencari sumber energi alternatif dikembangkanlah produk biodiesel.
Produk ini memiliki berbagai keunggulan, terutama yang berhubungan dengan karakteristiknya yang ramah lingkungan, sehingga berpeluang membuka pasar nasional maupun internasional.Salah satu sumber energi alternatif potensial yang terbarukan yangditanam dalam sistem agroforestry adalah Jarak Pagar (Jatropha curcas L.), yang minyaknya merupakan non-edible oil. Upaya pengembangan minyak jarak untuk biodiesel di Indonesia didasarkan pada tujuan untuk menggantikan bahan bakar fosil dan mengurangiemisi gas rumah kaca, berkontribusi untuk mengendalikan
pemanasan global,untuk mengembangkan konversi energi dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran.
SIMPULAN
Besarnya C tersimpan pada sistem agroforestry tidak bisa menyamai hutan alami, tetapi masih jauh lebih baik dari pada sistem pertanian monokultur. Hal yang terpenting adalah agroforestry dapat memperkecil ancaman terjadinya alih guna lahan di masa yang akan datang, karena dengan pengelolaanyang benar dan pemilihan jenis pohon serta didukung dengan kebijakan pasar yang tepat, agroforestry dapat melindungi pendapatan petani. Agroforestri diperlukan dalam rangka mengembalikan fungsi hutan dan lahan kritis agar dapat bermanfaat secara ekologi bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Butarbutar T. 2009. Inovasi Manajemen Kehutanan Untuk Solusi Perubahan Iklim di Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 6(2):121 – 129
Hairiah K, Sardjono MA, Sabarnurdin S. 2003, Pengantar Agroforestri,Bahan Ajar Agroforestri 1, World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor Indonesia,www,icraf,cgiar,org/sea
Hairiah K, Widianto, Suprayogo D. 2008. Adaptasi dan Mitigasi Pemanasan Global:
Bisakah Agroforestri Mengurangi Resiko Longsor dan Emisi Gas Rumah Kaca.
Kumpulan Makalah (Bungai Rampai) INAFE. Pendidikan Agroforestri Sebagai Startegi Menghadapi Perubahan Iklim Global. Surakarta. Hal 42 – 62 Hairiah K, Rahayu S. 2010. Mitigasi Perubahan Iklim Agroforestri Kopi untuk
Mempertahankan Cadangan Karbon Lanskap. Makalah Padan Seminar Kopi di Bali ,4 – 5 Oktober.
[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2006. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories
Locatelli B, Evans V, Wardell A, Andrade A, Vignola R. 2011. Forest and climatechange in Latin America: Linking adaptation and mitigation Forests 431-450.
Latifah S, Tobing MC, Martial T, Naibaho IE. 2014. Jenis Komoditi dan Analisis Nilai Ekonomi Produk Agroforestri di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian Kabupaten Samosir. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XVII. Diselenggarakan atas kerjasama MAPEKI dan USU, Medan, 11 Nopember 2014, ISSN 2407-2036, hal: 40-45
Latifah S, Tobing MC, Martial T. 2014. Agroforestri Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lahan (Seri Iptek Bagi Wilayah).63 hlm. Penerbit:CV. Kiswa Tech.
Medan. ISBN 978-602-70174-1-2
Latifah S, Afifuddin Y,Widya S. 2017. Analysis of Community Income on Suren (Toona sureni (Blume) Merr.) and Cacao Crops (Theobroma cacao L.) in Simalungun, North Sumatera- Indonesia. Proceeding series of Earth and Environmental Science International Conference on Agriculture, Environment, and Food Security. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 122:
012140.
Latifah S, Muhdi, Purwoko A, Tanjung E. 2018. Estimation of aboveground tree biomass Toona sureni and Coffea arabica in agroforestry system of Simalungun, North Sumatra, Indonesia. Jurnal BIODIVERSITAS 19(2):590-595.
Oyebade BA, Aiyeloja AA, Ekeke BA. 2010. Sustainable agroforestry potentials and climate change mitigation. Advances in Environmental Biology 4(1):58-63 RECOFTC – The Center for People and Forests .2012. .Kita hutan dan perubahan
iklim. Pusdiklat Kehutanan Jalan Gunung Batu.
Lestari S, Premono BT .2014. Penguatan Agroforestri Dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim: Kasus Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 11(1):1 – 12
Stern N. 2007. The Stern Review: The The Stern Review: The Economics of Climate Change. Cambridge University Press. Cambridge
Tisdell CA, Elgar E. 2007. Economics of environmental conservation (2 ed.) UK:
Edward Elgar Publishing Limited