• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan dan Mobilitas Kaum Santri dalam Mengawal NKRI

2. KOORDINASI, SINKRONISASI, DAN PENGENDALIAN KEBIJAKAN DI BIDANG KESATUAN BANGSA

2.7. Dialog Kebangsaan Menko Polhukam dengan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Civitas Akademika

2.7.8. Peranan dan Mobilitas Kaum Santri dalam Mengawal NKRI

Deputi Kesbang turut mengambil bagian dalam memperingati Hari Santri Tahun 2021 dengan memfasilitasi kegiatan Dialog Kebangsaan antara Menko Polhukam dengan para Pimpinan Pondok Pesantren dengan tema “Peranan dan Mobilitas Kaum Santri dalam Mengawal NKRI”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 29 Oktober 2021

Indonesia bisa merdeka karena kebersatuan kita sebagai bangsa, dari berbagai perbedaan. Dari Islam saja ada perbedaan di dalam ormas-ormasnya, misalnya NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam dan lainnya yang semuanya bersatu pada tanggal 28 Oktober 1928, yang bersatu dengan nama Indonesia, keutuhan tanah air dan bahasa kita bahasa Indonesia.

Selama periode tahun 1928 sampai tahun 1945, butuh 17 tahun waktunya sebelum Indonesia merdeka. Padahal dari tahun 1598 dan 1602 tercatat Indonesia sudah mulai dijajah. Yang memerdekan bangsa ini, adalah bangsa dengan keterikatan primordial. Dalam upaya tersebut yang cukup berperan adalah kaum santri yang mendorong hingga Indonesia merdeka.

Peran kaum santri di Indonesia luar biasa, misalnya Bung Kurno sebenarnya santri Muhammadiyah yang selalu belajar agama, Bung Hatta juga santri Minang. Namun saat itu yang disebut santri adalah yang berasal dari Ponpes, diantaranya nama-nama seperti Wahid Hasyim, Hasyim Asy'ari, Kahar Moezakir, Bagus Hadikusumo, Bisri Syansuri dan lainnya yang ikut membangun negara ini yang berdasar Pancasila.

Pada saat Indonesia merdeka terdapat 2 (dua) kelompok yang berkeinginan membangun konsep ketatanegaraan, pertama kelompok yang ingin negara Islam, dan kelompok kedua yang ingin negara sekuler. Yang pada masa itu, jika konsep negara dan agama bersatu, keduanya akan mengalami kemunduran seperti negara Timur Tengah, dipihak lain muncul tulisan dari penulis muda, atas nama Muclis yang aslinya adalah Moh. Natsir, yang mempertanyakan kenapa Bung Karno memilih sekuler? Jika membentuk negara harus Islam karena dalam Islam segala pengaturan sektor kehidupan itu lengkap. Hal ini juga menjadi konsekuensi mayoritas penduduk Islam negaranya harus Islam.

Sejarah terus bergulir, pada 9 September 1945 Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad di Tebu Ireng, dimana umat Islam wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Rapat pada 21 –

Menko Polhukam, Mahfud MD bersilaturahmi secara Virtual dengan para Sahabat (Tokoh Senior), Kamis, 26 Agustus 2021 (Foto: Deputi Kesbang)

mempersatukan ideologi, sehingga lahir NKRI yang berdasarkan Pancasila. Sebelum merdeka, santri tidak dibekali ilmu yang memadai (selain ilmu agama) hal ini dikarenakan sistem pendidikan Belanda di mana santri tidak diperbolehkan ikut pendidikan formal. Ketika akhirnya merdeka, tidak dapat pekerjaan yang selayaknya, misal mendaftar tentara atau pegawai karena tidak punya ijazah.

Bagi golongan santri yang tidak terima ini memunculkan gerakan Darul Islam.

Pada tahun 1990-an mulai menjamur pengajian di kantor-kantor Pemerintah serta banyak dibangun masjid untuk sarana ibadah. Coba dibandingkan pada tahun 1970-an dimana ketika melihat tentara atau polisi pasti dipikir bukan beragama Islam, disamping citranya yang galak dan ditakuti, namun sekarang, santri dapat masuk Akmil dan Akpol hingga banyak yang menjadi Jenderal. Inilah yang disebut mobilitas vertikal, dari udik (guru ngaji) sejak tahun 1990-an sudah menjadi Dokter, Kepala RS, Rektor dan lain sebagainya. Mobilitas ini bisa terjadi melalui pendidikan. Yang harus dijaga, karena santri ikut mendirikan Indonesia, terus menjaga dan jangan sampai tersisih. Apalagi setelah reformasi semakin meningkat, banyak yang jadi Menteri (di luar Menag), Menlu, Meneg PPA, Mendikbudristek, Rektor, hingga Presiden.

Bersyukur saat ini sangat banyak pesantren yang telah maju, sangat berbeda dengan zaman saya di pesantren sekitar tahun 1968/1969 dengan kondisi sangat sederhana. Misalnya, di pesantren Kyai Cholil Nafis ada laboratorium pertanian yang dulu tidak terbayangkan ada, dimana santri diajarkan untuk bercocok tanam yang secara teknologi/sains diterima, sehingga dapat bermanfaat meningkat kehidupan ekonomi masyarakat di sekitar. Akses terhadap sumber daya yang dimiliki negara dibuka tetapi tidak mengurangi kemandiri pesantren itu sendiri.

Perpres tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren akan kita kawal melalui Kementerian Agama, melalui K.H. Ma’ruf Amin sebagai Wapres yang diamanatkan untuk memperhatikan hal-hal tersebut. Akan diatur seperti adanya dewan pengelola dana bantuan yang independen, sehingga tidak boleh lagi ada dana bantuan pada saat kampanye Pemilu atau Pilkada, dimana orang membawa uang sendiri-sendiri ke pesantren lalu deklarasi dukungan meskipun Kyainya tidak menyatakan apa-apa namun muncul di pemberitaan. Hal ini akan diatur sehingga pesantren tidak dieksploitasi.

Saat ini banyak pesantren-pesantren yang muncul, tidak menggunakan dana negara tetapi memiliki gedung yang megah, kemungkin dana dari luar negeri yang tidak terkontrol, dan itu bisa saja bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah yang kita kembangkan dengan Islam Moderat/Wasathiyah Islam, sehingga diusulkan ada kontrol kurikulum terhadap pesantren-pesantren tersebut. Sebagai contoh, salah satu kabupaten daerah Yogyakarta, ada satu pondok pesantren yang eksklusif, mewah, dan bagus, tetapi orang luar tidak boleh masuk, tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak boleh hormat bendera dan setelah dipaksa masuk oleh pemerintah, ternyata diketahui dananya dari Yaman dan guru-gurunya juga dari Yaman. di Indonesia tidak boleh ada sekolah eksklusif dan tertutup.

Agama dan negara itu adalah saling melengkapi, saling menghidupi, saling membina, tetapi tidak saling intervensi. Negara melindungi kehidupan agama, negara bukan merupakan negara agama, karena bila negara agama konsepnya adalah negara tersebut hanya berdasar salah satu agama tertentu saja, seperti Vatikan dan Arab Saudi. Tetapi bila negara sekuler adalah negara yang tidak ingin tahu urusan agama seperti di Turki yang dibangung Kemal Ataturk, bukan Turki Usmani yang merupakan negara agama. Indonesia bukan sekuler dan bukan negara agama, tetapi Indonesia adalah religious nation state/negara kebangsaan yang berketuhanan.

Menko Polhukam, Mahfud MD bersilaturahmi secara Virtual dengan pimpinan pondok pesantren, Jumat 29 Oktober 2021 (Foto: Deputi Kesbang)

2.7.9. Penguatan Ideologi Pancasila dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Pada 21 Oktober 2021, dilaksanakan kegiatan Silaturahmi Menko Polhukam dengan Senat Akademik dan Dewan Profesor Universitas Diponegoro dan Forkopimda Jawa Tengah dengan tema “Penguatan Ideologi Pancasila dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Pada pengantar silaturahim, Menko Polhukam menyebutkan ideologi Pancasila sudah final karena sudah mengalami berbagai proses dan tantangan dalam berbagai momentum. Jalan konstitusional saat dibahas di BPUPKI, Pancasila disepakati sebagai dasar negara. Upaya memberi kesempatan perubahan konstitusi melalui Pemilu dan membuka ruang bagi partai politik saat B.J.

Habibie menjadi Presiden, juga berakhir dengan dukungan tetap pada Pancasila. Jalan perang seperti G30S/PKI dan NII, juga tidak berhasil menggoyahkan Pancasila.

Beberapa konsep yang perlu dikuatkan diantaranya restorative justice dalam penyelesaian perkara melalui kearifan lokal dan tidak boleh menghadapi kritik dengan tindakan represif. Namun harus dipahami, bahwa kritik kepada pemerintah dapat dijawab dengan dukungan data yang relevan dan valid, sehingga tidak bisa dikritik yang asal-asalan dibiarkan karena bisa menyesatkan.

Menko Polhukam menganggap Indonesia masih menghadapi berbagai masalah yang merupakan permasalahan masa lalu ataupun masalah yang dihadapi disaat ini, yang harus diselesaikan tanpa harus saling menyalahkan. Permasalahan yang penting sekarang ini, di antaranya adalah tentang mafia tanah, beberapa pasal di Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE), serta masalah yang terkait dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang sampai sekarang terus bermunculan.

Namun ditengah masalah tersebut, Bangsa Indonesia tetap harus optimis dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045 yang akan menempatkan Indonesia menjadi negara besar bersama dengan China, Amerika Serikat, India dan Jepang. Prediksi itu diperkuat dengan berbagai kajian, bukan saja oleh lembaga nasional, tapi juga lembaga internasional seperti McKinsey dan Pricewaterhouse Coopers. Adil dan makmur pada akhirnya akan bisa dicapai pada Indonesia Emas 2045 selama tahapan prosesnya yaitu Merdeka, Bersatu, dan Berdaulat bisa dilakukan dengan baik.