BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG DISTRIBUTOR OUTLET
D. Peranan Distributor Dalam Pemasaran
Penerapan teknologi canggih di dalam perusahaan membawa masalah dan kesempatan-kesempatan baru, yang mengakibatkan suasana persaingan di pasar semakin pesat. Kemajuan teknologi bukan saja diterapkan pada bagian produksi, transportasi, sistem informasi dan komunikasi personalia, tetapi juga di bidang pemasaran. Kenyataan, semakin berkembangnya teknologi yang diterapkan tersebut fungsi-fungsi yang ada di dalam perusahaan juga mengalami perkembangan. Demikian juga halnya bagi bidang pemasaran, sehingga bidang pemasaran bukan hanya meliputi kegiatan penjualan atau menyampaikan barang dari produsen kepada konsumen saja tetapi lebih luas dari itu.
Bagi perusahaan kegiatan pemasaran dapat dikatakan sebagai salah satu kegiatan pokok dan harus dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan
hidupnya, untuk berkembang dan mendapat laba.
Dewasa ini fungsi pemasaran ditujukan untuk kegiatan-kegiatan mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan yang belum dipenuhi sekarang dan mengukur berapa besarnya, menentukan pasar-pasar mana yang paling baik dilayani organisasi dan menentukan berbagai produk juga program yang tepat untuk melayani pasar tersebut. Jadi pemasaran berperan sebagai penghubung antara kebutuhan-kebutuhan masyarakat dengan pola jawaban industri yang bersangkutan.
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan marketing (pemasaran) maka penulis mengemukakan beberapa pendapat para ahli ekonomi.
Pemasaran adalah : ―semua kegiatan aktivitas untuk memperlancar arus
barang-barang dan jasa-jasa dari produsen kepada konsumen secara efisien dengan maksud untuk menciptakan permintaan efektif ".36
Selanjutnya menurut Suljus A. Natoradjo memberikan defenisi marketing : Meliputi segala aktivitas-aktivitas yang menyangkut penciptaan faedah-faedah tempat, waktu dan hak milik, usaha pembelian dan penjualan dan meliputi aktivitas-aktivitas perdagangan yang menyangkut pergerakan arus barang dan jasa antara sektor produksi dan sektor konsumer.37
36
Alex S. Nitisemito, Marketing, Cetakan Ketujuh, Penerbit : Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002. hal 11
37
Dari kedua definisi di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa marketing (pemasaran) sebagai suatu sistem yang mencakup semua kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa kepada kelompok-kelompok pembeli.
Jadi marketing bukanlah sekedar hanya menjual barang dan jasa dari produsen saja. Tetapi lebih luas dan rumit. Kegiatan-kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang dibatasi oleh sumber-sumber atau kekuatan yang ada dari perusahaan itu sendiri, baik peraturan-peraturan maupun konsekwensi sosial dari perusahaan berusaha menghasilkan laba dari penjualan barang dan jasa yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
D.W. Foster mengemukakan delapan pokok untuk dapat memberikan suatu gambaran yang lebih lengkap tentang pemasaran :
1. Pemasaran adalah filsafat yang menyatakan bahwa perusahaan harus mempengaruhi pasarnya (konsumen) dan bukan oleh fasilitas produksi atau teknik yang dimiliki.
2. Pemasaran adalah suatu proses yang sistematik.
3. Pemasaran adalah bentuk organisasi komersial yang diperbaiki.
4. Pemasaran mempergunakan metode dan sistem-sistem yang diperbaiki berdasarkan hukum-hukum ilmiah yang ditarik dari ilmu ekonomi, statistik, keuangan dan ilmu-ilmu tingkah laku manusia.
5. Pemasaran adalah suatu sistem kecerdasan komersial. 6. Pemasaran memberikan dorongan untuk penemuan baru.
7. Pemasaran merupakan suatu metode untuk mencapai strategi perusahaan yang dinamis.
8. Pemasaran merupakan suatu bentuk "Management by objectives".38
38
Seluruh kegiatan dalam perusahaan yang menganut konsep pemasaran harus diarahkan untuk memenuhi kepuasan terhadap keinginan kebutuhan pembeli atau konsumen. Kegiatan ini meliputi semua kegiatan yang ada dalam perusahaan seperti kegiatan personalia, kegiatan produksi, kegiatan keuangan, riset dan pengembangan serta fungsi-fungsi lainnya.
Pada masa yang silam, pemasaran lebih banyak menitikberatkan pada tujuan penjualan dengan ongkos produksi seminimal mungkin. Tujuan ini sangat bermanfaat secara individual, tetapi tidak harmonis dengan konsep pemasaran. Ini tidak berarti penjualan tidak tidak diabaikan bahkan penting karena laba yang diperoleh berasal dari penjualan.
Perusahaan yang berorientasi kepada pembeli atau customers harus memadukan keputusan-keputusannya dengan fungsi perusahaan lainnya sehingga tercapailah kesamaan sikap bagian-bagian yang bersangkutan terhadap konsumen yang dilayani. Oleh karena bagian pemasaran merupakan bagian perusahaan yang paling mengetahui tentang seluk-beluk pasar atau konsumen, maka sudah sewajarnyalah bagian pemasaran mengkoordinir tugas-tugas dalam memberikan bimbingan pada fungsi lainnya yang dibutuhkan untuk menghadapi pasar secara terintegrasi.
Dengan demikian konsep pemasaran menuntut adanya suatu logika tunggal perusahaan, yang harus dikembangkan secara kooperatif oleh seluruh bagian perusahaan. Di dalam melaksanakan kegiatannya, masing-masing bagian akan selalu memikirkan rangkaian kegiatan perusahaan secara keseluruhan.
Untuk mencapai tujuan operasi pemasaran, para manajer perusahaan perlu menerapkan cara pendekatan totalitas atas bagian pemasaran, produksi, keuangan dan kegiatan lainnya. Segala usaha perusahaan merupakan dasar yang kuat untuk analisa dan pelaksanaan kegiatan pemasaran maupun kegiatan lainnya. Cara ini menekankan segi pertautan antar faktor eksternal perusahaan yang bersangkutan dengan bidang usaha maupun peraturan diantara berbagai kegiatan komponen perusahaan. Cara ini juga memperhatikan korelasi antara semua pemasukan dan pengeluaran, serta membuat perusahaan menggunakan informasi pemasaran, teknologi, persaingan maupun hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Di dalamnya terkandung pula unsur pengembangan sistem pengawasan yang memungkinkan perusahaan memperbaharui rencana atau tindakannya guna menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam maupun di luar perusahaan.
Saat ini peran distributor dalam pemasaran diakui memberikan andil yang sangat besar bagi penyebaran produk perusahaan (distribusi). Bahkan sering muncul anggapan bahwa sebenarnya penguasa pasar itu bukanlah produsen tetapi distributor. Hal ini terjadi karena tanpa distributor produsen tidak akan dapat bersaing dengan lawan-lawan mainnya. Hal ini khususnya berlaku untuk produk-produk yang termasuk ke dalam consumer goods. Bayangkan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang ini, tanpa kehadiran retail-retail yang jumlahnya tersebar, mereka tidak akan menjangkau konsumen secara luas.
Tentu saja bobot pentingnya distributor dalam pemasaran ini berbeda-beda tergantung kepada berbagai faktor seperti jenis produk (seperti yang dijelaskan di atas), pola konsumsi masyarakat, dan cakupan pasar yang ingin dijangkau oleh produsen. Perusahaan membangun kolaborasi dengan modern outlet (pasar swalayan) sehingga memperoleh profit yang tinggi dari kolaborasi ini.
Secara umum terdapat lima sistem distribusi yang dapat dipakai oleh perusahaan.
1. Sistem Pertama : Produsen menjual ke sole agent (agen tunggal), kemudian sole agent ini mendistribusikan ke berbagai sub-agen yang tersebar di berbagai kota. Umumnya sole agent ini dimiliki oleh produsen itu sendiri. Sub agen ini kemudian menyalurkan produk tersebut ke wholesaler yang meneruskannya ke retailer. Retailer inilah yang menjual langsung kepada konsumen akhir atau kepada warung-warung yang ada. Sistem ini paling banyak digunakan di Indonesia dalam proses distribusi barang. Jika digambarkan, sistem ini terlihat seperti berikut : Produsen -> Sole Agent -> Sub Agen > Whole Saler > Pengecer Modern > Pengecer Konvensional -> Konsumen
2. Sistem Kedua : Hampir sama dengan sistem pertama, namun pada sistem kedua ini peran sub-agen ditiadakan. Jadi sole agent langsung menyalurkan melalui whole saler. Dalam hal ini, sole agent biasanya mendirikan sejumlah cabang sendiri di kota-kota besar. Nampaknya sistem ini digunakan agar pengendalian distribusi di kota-kota besar dapat dilakukan
penuh oleh sole agent. Keberhasilan distribusi dengan mengunakan sistem ini ditentukan oleh distributor nasional dengan jaringan cabangnya tersebut. Produsen -> Sole Agent -> Whole Saler -> Pengecer Modern -> Pengecer Konvensional -> Konsumen
3. Sistem Ketiga : Produsen melalui Sole Agent melakukan aktivasi penjualan langsung (direct sales). Pola distribusi ini cocok untuk produk dengan ciri-ciri : frekwensi pemakainnya sering dan tingkat persaingan di retail outket sangat ketat serta distribusi nya intensif. Sistem ini membutuhkan investasi yang besar dalam sarana transportasi, pergudangan dan tenaga penjual. Gambarnya adalah sebagai berikut : Produsen -> Sole Agent -> Pengecer Modern -> Pengecer Konvensional -> Konsumen
4. Sistem Ke empat : Sistem distribusi ini mengandalkan sales force yang menjual langsung kepada konsumen tanpa melalui retailer. Sistem ini dikenal dengan sistem distribusi non-store distribution. Sistem ini biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan direct marketing, termasuk di dalamnya multilevel marketing seperti Amway, CNI dan Avon. Jadi bila digambarkan, sistem nya akan terlihat : Produsen -> Sole Agent -> Sales Force -> Konsumen Akhir
5. Sistem Ke Lima : adalah produsen menyalurkan produknya melalui jaringan tokonya. Produsen -> Own Retail Outlet -> Konsumen.39
39 Ruang Catatan, ―Peran Distributor Dalam Pemasaran‖,
http://mulairuangcatatan.blogspot.com/2012/12/peran-distributor-dalam-pemasaran.html, Diakses tanggal 10 Mei 2013.
Dari gambaran di atas, terlihat jelas peranan distributor dan kedudukannya dalam strategi pemasaran. Untuk mendukung kerjasama yang lebih erat antara produsen dan distributor, perusahaan-perusahaan biasanya mengembangkan pola partnership dalam sistem distrubusi. Di sisi lain, untuk mengurangi ketergantungan yang besar kepada distributor tertentu, maka produsen bisa mengembangkan multi-channel dan tidak tergantung kepada distributor nasional tertentu.
Mengingat pentingnya peran distribusi dalam pemasaran perusahaan, sudah seharusnya produsen/ perusahaan mengelola sistem distribusi produk nya (Place), jangan hanya terpaku kepada 3P (Product, Price, Place, dan
Promotion).40
40
BAB IV
PELAKSANAAN KONTRAK KERJASAMA KONSINYASI ANTARA SUPPLIER DENGAN DISTRO
A. Bentuk Kontrak Kerjasama Konsinyasi Antara Supplier Dengan Distro
Bentuk kontrak kerjasama Konsinyasi antara Supplier dengan Distro ini dibuat secara tertulis dimana para pihak yang membuat perjanjian sepakat terhadap hal-hal pokok yang dimuat dalam perjanjian tersebut.
Kontrak kerja Konsinyasi antara supplier dengan distro tersebut diberi
judul ―Kontrak Kerjasama Supplier Dengan Distro‖, selanjutnya di bawahnya
diberi nomor.
Pada bagian pertama diterangkan tentang para pihak yang mengadakan kontrak kerjasama konsinyasi tersebut. Penyebutan kedua belah pihak ini dimaksudkan untuk mengenal siapa-siapa yang mewakili para pihak dalam hal kontrak kerjasama konsinyasi antara supplier dengan distro.
Adapun hal-hal yang diatur dalam kontrak kerjasama Konsinyasi antara supplier dengan distro adalah:41
1. Spesifikasi
a. Model Peralatan : Counter Standard b. Alamat Usaha : Sei Bahorok c. Model Tempat Usaha : Distro
d. Luas Tempat Usaha : ……….
41
e. No. Anggota : …/CS/GRC/… /10
f. Jenis Menu : Local & Homemade 2. Tugas dan tanggung jawab Pihak Pertama :
a. Menyiapkan baju , sepatu, tas dan pernak–pernik lainnya untuk dijual ke masyarakat
b. Menyiapkan sarana penjualan, counter penjualan & peralatan usaha dalam jumlah dengan kualitas dan mutu yang telah di tetapkan bersama dengan desain yang telah di tetapkan bersama juga.
c. Memberikan pengetahuan / pelatihan proses membuat dan pemilihan bahan pakaian sampai benar-benar Pihak Kedua mampu memproduksi dan bisa memilih bahan pakaian sesuai dengan standard pihak Pertama. d. Memberikan konsep pemasaran & pengembangan usaha sesuai dengan
konsep Shopaholic
e. Memberikan jaminan terhadap tersedianya bahan pakaian tepat waktu, tepat jumlah dan tepat mutu. Jika ada keterlambatan penyediaan bahan pakaian tepat jumlah dan tepat kualitas yang membuat Pihak Kedua tidak bisa melakukan aktivitas penjualan, maka Pihak Kedua berhak mendapat ganti rugi berupa 2 % dari omzet bulan terakhir tiap harinya. f. Rutinitas monitor kegiatan akan di lakukan dengan komunikasi Telp /
Hp.
3. Tugas dan tanggung jawab Pihak Kedua :
a. Bersemangat dan serius dalam usaha penjualanDistro Shopaholic b. Menyediakan tempat usaha yang telah disetujui Pihak Pertama.
c. Menyediakan tenaga pelaksana dalam semua kegiatan tersebut.
d. Menerima, melaksanakan dan menjaga konsep Sistem Usaha Bersama (SUP).
e. Membuat laporan analisa usaha setiap bulan untuk solusi & pengembangan usaha.
f. Menyediakan dana dalam semua aktivitas usaha.
4. Konsep Usaha Bersama yang harus dipenuhi & dilaksanakan oleh Pihak Kedua:
a. Pemakaian nama (merk) ―Distro Shopaholic―
b. Sumber bahan pakaian, tas, sepatu dan pernak - pernik dari Pihak Pertama.
c. Proses produksi sesuai dengan prosedur tetap ( SUP ) d. Counter penjualan sesuai design Pihak Pertama
e. Setiap melakukan pengembangan & penyempurnaan kegiatan dimintakan persetujuan dari Pihak Pertama (membuka lokasi baru dan menambah counter jual) diatur dengan perjanjian baru.
f. Pihak Kedua sepakat / setuju untuk melaksanakan sepenuhnya konsep usaha & ketentuan
Distro Shopaholic ( pemasaran, quality, service, penampilan, dll ) 5. Perlengkapan dan sarana dalam prosesDistro Shopaholic :
a. Investasi :
1) Peralatan Usaha 2) Peralatan Menjahit
3) Sarana Tempat + Modal Usaha
4) Peralatan yang di investasikan tetap menjadi milik Pihak Kedua meskipun perjanjian ini sudah berakhir.
b. Modal Kerja : 1) Tenaga Kerja 2) Bahan Tekstil 3) Bahan Memproses 4) Pembungkus / Kemasan 5) Sarana & Upaya Promosi 6. Jangka waktu :
a. Ikatan kerjasama dengan jaminan penggunaan bahan pakaian Distro Shopaholic tersebut selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan baru.
b. Perpanjangan kerjasama setelah 5 (lima) tahun, untuk 5 (lima) tahun berikutnya Pihak Kedua akan dikenakan management fee yang besarnya 30 % dari investasi peralatan tersebut (dengan catatan masih menggunakan peralatan yang sama).
7. Perhitungan kompensasi Sistem Usaha Bersama (diatur secara sepakat) a. Disepakati besarnya biaya peralatan paket memasak lengkap (sesuai
gambar) sebesar Rp ………...
(……….) diluar pekerjaan & peralatan tambahan,
dibayar awal sebesar Rp ………..…...
pelunasan bertahap s/d peralatan di serahkan.
2. Perhitungan harga tekstil disesuaikan dengan standard harga jual produk.
3. Harga tekstil akan ditinjau secara berkala, kenaikan harga akan dipertimbangkan dari harga bahan tekstil & kondisi pasar.
8. Ketentuan lain-lain :
a. Dalam evaluasi wilayah usaha (area) disesuaikan antara kapasitas pasar dengan jumlah armada counter, apabila kapasitas pasar mempunyai potensi penambahan armada, pemegang area disarankan untuk menambah armada. Jika saran tersebut tidak mendapat tanggapan, maka Pihak Pertama berhak untuk mengisi armada baru.
b. Pembagian area tersebut tidak termasuk dalam program usaha ecer/boutique khususnya di jalan-jalan utama.
c. Penguasaan area dalam radius 100 (seratus) m dari titik tempat usaha yang disepakati bersama menjadi monopoli Pihak Kedua, pihak lain tidak diperkenankan memasuki area tersebut kecuali ketentuan pasal VIII.1 dan VIII.2.
d. Pihak Pertama telah memiliki legalitas Nama Usaha, Logo, termasuk sarana/alat-alat yang diciptakan sendiri.Apabila Pihak Kedua terbukti mengcopy/meniru/menggandakan apa yang menjadi hak Pihak Pertama maka hal tersebut akan menjadi penyimpangan hukum termasuk Pihak Pertama berhak memutuskan hubungan kerjasama sepihak.
sejenis ―Shopaholic― dengan nama/merk berbeda, menyimpang terhadap hal tersebut, Pihak Pertama secara sepihak berhak untuk melakukan pemutusan kerjasama.
f. Pihak Kedua diwajibkan memakai tekstil Homemade Of Clothes sesuai aturan yang berlaku, apabila terbukti memakai bahan tekstil yang lain maka akan dikenakan sanksi pemutusan hubungan kerjasama sepihak. g. Pihak Kedua dapat mengusulkan menambah model baru, penambahan
model menjadi tanggung jawab Pihak Pertama dan penambahan model akan disesuaikan dengan kondisi/peluang pasar setempat.
h. Apabila Pihak Kedua melakukan perubahan standard model, versi counter Single/Double/Island menjadi/menambah ruang distro dan memperluas ruang distro, Pihak Pertama berhak melakukan penambahan peralatan & biaya konsultan dihitung secara proporsional.
i. Training dilakukan di lokasi Pihak Pertama, apabila dilakukan di lokasi Pihak Kedua akan dikenakan biaya sesuai tempat & lamanya training ( minimal 1 ( satu ) hari ).
j. Pihak Kedua diwajibkan training ulang di lokasi Pihak Pertama secara berkala atau pada saat ada perubahan SUP. Apabila Pihak Kedua tidak hadir pada acara training ulang Pihak Pertama berhak memberikan Surat Peringatan ke 1, ke 2 dan langkah terakhir bisa dikenakan sanksi pencabutan sebagai anggota franchisee.
k. Untuk kemajuan usaha / peningkatan omzet penjualan, Pihak Pertama akan melakukan kunjungan dengan jadwal diatur bersama meliputi
kontrol: Kualitas, Pemasaran, Brand image, Penghematan-penghematan, Penambahan model & SUP baru. Lama waktu kunjungan untuk minimal 1 (satu) hari disesuaikan dengan kondisi setempat maka biaya kunjungan menjadi tanggung jawab Pihak Kedua (transport, akomodasi & jasa tekhnisi)
l. Pengiriman peralatan counter/distro akan dikenakan tambahan biaya transport yang besarnya sesuai lokasi Pihak Kedua.
m. Apabila di kemudian hari ada pemindahtanganan counter, maka harus dilakukan oleh pihak Shopaholic pusat. Biaya administrasi transfer counter antar member Shopaholic atau balik nama sebesar Rp 1,000,000 ,- (satu juta rupiah) per counter.
n. Pemakaian bahan tekstil dan kemasan harus sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang berlaku, apabila menyimpang dari SOP Pihak Kedua akan dikenakan sanksi pencabutan sebagai anggota franchisee.
o. Apabila Pihak Kedua tidak operational selama 3 (tiga) bulan, maka Pihak Kedua dianggap sudah mengundurkan diri sebagai penerima Sistem Usaha Bersama Shopaholic, sehingga semua identitas Shopaholic akan dicabut sedangkan semua peralatan menjadi hak milik Pihak Kedua.
p. Pihak Pertama tidak punya kewajiban membeli ulang paket peralatan yang sudah dibeli oleh Pihak Kedua, tetapi dapat membantu untuk mengoperasikan & memindahtangankan kepada pihak lain.
q. Apabila dalam masa perjanjian terjadi hal - hal di luar kekuasaan para pihak (force majeure) seperti bencana alam, kebakaran, huru hara, pemogokan masal, dan lain-lain yang mengakibatkan salah satu atau kedua belah pihak tidak dapat memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian ini dan kerugian yang menimpa para pihak bukanlah merupakan beban pihak manapun yang terkait dalam perjanjian ini.
Selanjutnya perjanjian tersebut ditutup dan ditanda tangani oleh masing-masing pihak.
B. Proses Pembuatan Terjadinya Kontrak Kerjasama Konsinyasi Antara
Supplier Dengan Distro
Pada dasarnya suatu perjanjian akan dilaksanakan apabila para pihak telah sepakat pada hal pokok mengenai perjanjian yang mereka perbuat dan sepakat mereka tersebut diteruskan dalam suatu penandatanganan akan perjanjian yang telah mereka sepakati.
Demikiain juga halnya dalam pelaksanaan kontrak konsinyasi distributor outlet (distro) fashion dengan supplier ini bahwa terjadinya perjanjian di atas adalah dengan telah sepakatnya para pihak terhadap hal-hal yang pokok dalam pelaksanaan perjanjian tersebut, dan sepakat mereka tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian.
Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya di dalam pasal 1320 KUH Perdata bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat, yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal.
Apabila keadaan dari pasal 1320 KUH Perdata tersebut di atas dihubungkan dengan pelaksanaan dari terjadinya kontrak konsinyasi distributor outlet (distro) fashion dengan supplier ini maka setelah sepakatnya para pihak atas hal yang pokok dalam perjanjian tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa empat syarat di atas telah dipenuhi oleh para pihak tersebut.
Sepakat para pihak dalam hal pokok yang ditentukan dalam kontrak konsinyasi distributor outlet (distro) fashion dengan supplier adalah disimpulkan dalam suatu bentuk perjanjian tertulis. Perjanjian tertulis adalah suatu bentuk kesepakatan antara para pihak yang menuangkan kesepakatan tersebut tersebut dalam bentuk tertulis, dimana di dalamnya disebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban dan hak masing-masing pihak.
Perjanjian tertulis juga merupakan suatu bentuk perjanjian yang menjelaskan dari klausula-klausula apa saja yang disepakati oleh para pihak dalam kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier. Klausula tersebut juga menjelaskan identitas para pihak yang mengadakan perjanjian, sistem pembayaran yang akan dilakukan serta hal-hal lainnya yang dianggap memiliki hubungan dengan kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier.
Hal-hal yang di ataslah yang mendasari terjadinya suatu kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier. Ditambah dengan keadaan-keadaan yang harus dipenuhi dari ketentuan bunyi pasal 1320 KUH Perdata di atas.
Terhadap ketentuan pasal 1320 KUH Perdata tersebut dapat dilakukan pembahasan. Keempat syarat yang ditentukan pasal 1320 KUH Perdata tersebut apabila kita tarik kepada pelaksanaan kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier ini dapat dibagi menjadi dua syarat. Kedua syarat yang pertama yang oleh ahli hukum dinamakan syarat subjektif, karena kedua syarat tersebut mengenai subjek perjanjian, yang apabila kita lihat dalam kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier maka kedua syarat tersebut adalah dilakukan oleh masing-masing pihak pimpinan, merekalah yang membuat kesepakatan karena mereka dianggap layak untuk itu oleh masing-masing pihak. Kedua syarat terakhir yang ditentukan pasal 1320 KUH Perdata merupakan syarat objektif karena mengenai obyek dari perjanjian.
Dalam kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier telah dapat dilihat jelas bahwa suatu hal tertentu yang antara lain adalah menitipkan suatu produk fashion sedangkan suatu sebab yang halal, bahwa produk fashion tersebut karena kepentingannya tidaklah melanggar hukum.
Selalu dipertanyakan saat-saat terjadinya perjanjian antara pihak, Mengenai hal ini ada beberapa ajaran yaitu :
1. Teori kehendak (wilstheorie) mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan , misalnya dengan menuliskan surat.
2. Teori pengiriman (verzendtheorie) mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima tawaran.
3. Teori pengetahuan (vernemingstheorie) mengajarkan bahwa pihak yang menawakan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori kepercayaan (vertrouwenstheorie) mengajarkan bahwa kesepakatan
itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan.
Terjadinya pelaksanaan kontrak kerjasama konsinyasi distributor outlet fashion dengan supplier ini adalah sebagaimana telah diuraikan di muka, yaitu telah disepakatinya hal-hal yang pokok dan diikuti dengan penandatanganan hitam di atas putih.