• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Faktor Sosiodemografi terhadap Kanker

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Peranan Faktor Sosiodemografi terhadap Kanker

Sosiodemografi responden yang diteliti meliputi umur, jenis kelamin, status pekerjaan dan tingkat pendidikan. Data variabel yang sudah diubah menjadi bentuk kategori, dianalisis lanjut dengan uji chi square. Hasil uji chi square untuk faktor sosiodemografi dapat dilihat pada Tabel 3.

4.2.1. Hubungan faktor umur terhadap kanker

Umur responden baik pada populasi kasus dan populasi kontrol dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu kelompok umur < 46 tahun dan kelompok umur ≥ 46 tahun. Hasil analisa korelasi dua faktor menunjukkan bahwa 32.2% penderita kanker berumur < 46 tahun dan 67.8% penderita kanker berumur ≥ 46 tahun. Sedangkan pada populasi kontrol yang tidak kanker sebesar 61.1% berumur < 46 tahun dan 38.9% berumur ≥ 46 tahun (Gambar 5).

Gambar 5. Persentase distribusi responden berdasarkan faktor risiko umur terhadap kanker

Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan faktor-faktor risiko kanker

No Variabel Kanker Tidak Kanker Total

n % n % n % Faktor Sosiodemografi 1 Umur >= 46 tahun 61 68 35 39 96 53 < 46 tahun 29 32 55 61 84 47 Total 90 100 90 100 180 100 2 Jenis Kelamin Laki-laki 18 20 59 66 77 43 Perempuan 72 80 31 34 103 57 Total 90 100 90 100 180 100 3 Status Pekerjaan Tidak Bekerja 45 50 0 0 45 25 Bekerja 45 50 90 100 135 75

17 Total 90 100 90 100 180 100 4 Pendidikan Rendah 59 66 41 46 100 56 Sedang 24 27 40 44 64 36 Tinggi 7 8 9 10 16 9 Total 90 100 90 100 180 100

Faktor Pola Konsumsi

1 Konsumsi makanan hewani berbahan pengawet

Tidak pernah 25 28 25 28 50 28 Kadang-kadang 48 54 60 67 108 60 Sering 16 18 5 6 21 12 Total 89 100 90 100 179 100 2 Konsumsi sayuran Kadang-kadang 19 21 31 34 50 28 Sering 71 79 59 66 130 72 Total 90 100 90 100 180 100 3 Konsumsi Buah Kadang-kadang 71 79 82 91 153 85 Sering 19 21 8 9 27 15 Total 90 100 90 100 180 100

Faktor Perilaku dan Gaya Hidup

1 Aktivitas fisik berat setiap hari

Ya 19 21 90 100 109 61 Tidak 71 79 0 0 71 39 Total 90 100 90 100 180 100 2 Merokok Sering 12 13 42 47 54 30 Kadang-kadang 10 11 12 13 22 12 Tidak pernah 68 76 36 40 104 58 Total 90 100 90 100 180 100 Faktor klinis 1 IMT Obesitas 18 20 13 14 31 17 Tidak Obesitas 71 80 77 86 148 83 Total 89 100 90 100 179 100 2 Haemoglobin Anemia 17 20 4 4 21 12 Tidak Anemia 70 80 86 96 156 88 Total 87 100 90 100 177 100

Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan faktor sosiodemografi terhadap kanker.

No Variabel Kanker Tidak Kanker Total OR (95% CI) P Value n % n % n % Faktor Sosiodemografi 1 Umur >= 46 tahun 61 67.8 35 38.9 96 53.3 3.305 (1.792 – 6.098) 0.000 < 46 tahun 29 32.2 55 61.1 84 46.7 Total 90 100.0 90 100.0 180 100.0 2 Jenis Kelamin Perempuan 72 80.0 31 34.4 103 57.2 7.613 (3.876 – 14.954) 0.000 Laki-laki 18 20.0 59 65.6 77 42.8 Total 90 100.0 90 100.0 180 100.0 3 Status Pekerjaan

18 Tidak Bekerja 45 50.0 0 0.0 45 25.0 3.000 (2.363 – 3.808) 0.000 Bekerja 45 50.0 90 100.0 135 75.0 Total 90 100.0 90 100.0 180 100.0 4 Pendidikan Tinggi 7 7.8 9 10.0 16 8.9 0.025 Sedang 24 26.7 40 44.4 64 35.6 1.850 (0.638 - 5.368) Rendah 59 65.6 41 45.6 100 8. 2.398 (1.259 - 4.567) Total 90 100.0 90 100.0 180 100.0

Nilai p hasil uji chi square adalah p = 0.000, artinya ada hubungan yang signifikan antara umur dengan prevalensi kanker. Sedangkan hasil analisis risiko menunjukkan nilai Odd Ratio (OR) = 3.305, artinya kelompok umur ≥ 46 tahun terprediksi berisiko kanker 3.31 kali lebih besar dibanding kelompok umur < 46 tahun. Hal ini sesuai dengan data 2013 bahwa prevalensi kanker meningkat dengan bertambahnya umur. Hasil ini di dukung dengan penelitian Nur (2003), bahwa responden yang berumur ≥ 40 tahun memiliki risiko (OR) 4.52 kali lebih besar terprediksi berisiko kanker dibandingkan dengan yang < 40 tahun dengan signifikansi p < 0.05.

Menurut Ukraintseva dan Yashin (2003), ada dua mekanisme untuk menjelaskan kenapa umur mempengaruhi risiko terhadap penyakit kanker. Pertama adalah durasi terpaparnya individu terhadap senyawa penyebab kanker (karsinogen) semakin meningkat terlepas dari penuaan dengan umur. Mekanisme kedua untuk peningkatan risiko kanker terhadap umur adalah kerentanan individu terhadap kanker meningkat dengan meningkatnya umur, dan proses penuaan pada manusia berkaitan sebagai penyebab peningkatan risiko ini. Penuaan dapat meningkatkan kerentanan dari suatu makhluk hidup terhadap kanker dikarenakan gangguan keseimbangan hormonal, peningkatan jumlah lokus proliferasi kronis, dan penurunan kekebalan seiring dengan bertambahnya umur.

4.2.2. Hubungan faktor jenis kelamin terhadap kanker

Distribusi responden berdasarkan berjenis kelamin perempuan (80%) pada populasi kanker lebih besar dibanding jenis kelamin pria (20%). Sedangkan pada populasi kontrol justru sebaliknya responden berjenis kelamin pria sebesar 65.6% sedangkan responden perempuannya sebesar 34.4%.

Nilai p hasil uji chi square adalah p = 0.000, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin responden terhadap prevalensi kanker. Hasil analisis risiko mendapatkan nilai OR sebesar 7.613. Terdapat hubungan antara positif pada kategori pertama yaitu perempuan terhadap kategori kedua yaitu laki- laki. Artinya responden berjenis kelamin perempuan memiliki faktor risiko 7.6 kali lebih besar menderita kanker dibanding dengan jenis kelamin pria. Hasil penelitian Emilia et al (2009), menunjukkan bahwa penelitian di Bandung terhadap penderita kanker tahun 2008 menemukan bahwa wanita (57.1 %) lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (42.9 %). Menurut Berta et al (2003), dalam setiap kelompok umur prevalensi hingga dua kali lebih tinggi terdapat pada pria dibandingkan pada wanita. Faktor yang menyebabkan jenis kelamin menjadi bagian dari risiko terjadinya kanker adalah diduga ditemukan perbedaan daya terima reseptor androgen, estrogen dan progesteron di sel kanker serta sel normal.

19

4.2.3. Hubungan faktor status pekerjaan terhadap kanker

Status pekerjaan responden dikategorikan dalam dua kelompok yaitu kelompok tidak bekerja dan kelompok bekerja. Distribusi status pekerjaan responden populasi kasus untuk kelompok tidak bekerja dan kelompok bekerja adalah sama sebesar 50%. Sedangkan pada populasi kontrol didapatkan 100 % responden berasal dari kelompok bekerja.

Hasil analisis chi square didapatkan nilai p = 0.000, menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan prevalensi kanker. Analisis risiko menunjukkan nilai OR = 3.000, artinya kelompok tidak bekerja memiliki risiko tiga kali lebih besar terkena kanker dibandingkan kelompok bekerja. Status bekerja ini mempengaruhi perilaku gaya hidup responden terutama pada aktivitas fisik yang dilakukannya tiap hari atau secara rutin dilakukan.

4.2.4. Hubungan faktor tingkat pendidikan terhadap kanker

Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu kelompok pendidikan rendah, kelompok pendidikan sedang dan kelompok pendidikan tinggi. Distribusi responden pada populasi kasus adalah 65.6% kelompok pendidikan rendah, 26.7% kelompok pendidikan sedang dan 7.8% kelompok pendidikan tinggi. Pada populasi kontrol terdiri dari 45.6% kelompok pendidikan rendah, 44.4% kelompok pendidikan sedang dan 10% kelompok pendidikan tinggi.

Hasil uji regresi logistik mendapatkan nilai p = 0.025, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara faktor tingkat pendidikan terhadap prevalensi kanker. Analisis risiko mendapatkan nilai OR = 2.398 untuk kelompok pendidikan sedang terhadap kelompok pendidikan rendah, dan OR = 1.850 untuk kelompok pendidikan rendah terhadap kelompok pendidikan tinggi. Artinya kelompok pendidikan rendah mempunyai risiko terkena kanker 2.4 kali lebih tinggi dibanding kelompok pendidikan sedang; dan 1.8 kali lebih tinggi terkena kanker dibanding kelompok pendidikan tinggi.

Hal ini sesuai dengan penelitian Leuven et al (2014) yang menyatakan bahwa pria dan wanita dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko kanker (jenis apapun) yang lebih rendah. Laki-laki dan perempuan berpendidikan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses sumber daya dalam melakukan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan kuratif untuk hidup yang lebih lama dan sehat, mampu mendeteksi kanker lebih dini, serta memiliki informasi lebih baik dalam mencari dan melakukan pengobatan kanker dan mengurangi risiko kanker.

Dokumen terkait