• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Ibu Dalam Keluarga Ibu atau mamak/ omak21

4.4. Peranan Keluarga Petani dalam Mengasuh Anak

4.4.1 Peranan Ibu Dalam Keluarga Ibu atau mamak/ omak21

Jam 5 pagi ibu sudah bangun mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluaan aktifitas dalam 1 (satu) hari, baik untuk keperluan ke ladang, keperluan

sapaan atau panggilan akrab di desa Jumantuang

adalah yang bertugas mendampingi suami dalam mencari keperluan keluarga. Seorang ibu berperan penting dalam perkembangan seorang anak dalam sebuah keluarga. Seorang informan mengatakan:

“Jika tidak ada ibu/omak dirumah tidak ada rumah bagaikan tidak lengkap, rumah akan berantakan,makan kami tidak teratur, mandi tidak teratur, Amran Padang 15 tahun, November 2010”

anak-anak untuk sekolah. Sebelum berangkat ke ladang ibu sudah mempersiapkan perlengkapan sekolah anak-anak dan mempersiapakan makanan untuk anak-anak pagi dan siang hari. Untuk anak yang belum sekolah akan dibawa keladang dan terkadang tinggal dirumah.

Rutinitas ibu mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan rumah tangga tidak selamanya bisa dikerjakan seorang ibu, terkadang dibantu oleh anaknya yang sudah remaja. Bisanya seorang ibu pergi keladang tidak sama dengan bapak, ibu berangkat ke ladang jam 7 (tujuh) pagi setelah anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Jam 12 siang akan pulang ke rumah untuk memeriksa rumah dan anak-anaknya yang belum sekolah.

Jam 5 (lima) sore ibu pulang kerumah lebih dulu dari suami untuk memasak dan mengatur keperluan rumah dan anak-anak seperti memasak. Setelah memasak ibu memandikan anak-anak. Mengurus ternak dan menemani anak-anakl bermain selam setengah jam, setelah itu mandi. Pada malam hari setelah makan ibu akan menemani anak-anak dalam mengerjakan pengerjaan rumah (PR) anak yang telah diberikan guru dari sekolah. Setelah 1 jam menemani anak belajar ibu dan anak. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan dalam peranan yang dilakukan oleh ibu dapat diambil dalam beberapa hal dalam pola pengasuhan anak antara lain :

a. Memberi makan/minum pada anak

Memberikan makan dan minum bagi seorang anak merupakan hal yang sangat penting karena sangat mempengaruhi proses pertumbuhan. Pada umunya di desa Jumantuang selain diberi ASI juga sudah diberi makanan yang lunak-lunak seperti bubur, pisang ataupun makanan yang sudah dilembutkan. Dengan

bertambahnya usia sianak maka berangsur-angsur ditingkatkan untuk makan nasi sebagai makanan pokoknya.

Pada umumnya bagi anak-anak yang masih dalam usia balita saat melakukan makan dan minum mereka harus dibantu dengan cara disuapi oleh orang tuanya, apabila sianak sudah dapat berjalan dan duduk sendiri maka mulailah sedikit demi sedikit diajari untuk makan sendiri tetapi walaupun begitu si ibu perlu mendampingi dan mengawasi untuk membantu atau membetulkan apabila sianak melakukan kesalahan, karena makan dengan cara yang sopan dan benar memang harus diajari sedini mungkin dan juga dibutuhkan suatu kesabaran bagi orang tuanya dalam mengajarkannya kepada sianak hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh informan biasa Ibu Siregar(35 tahun) :

“sewaktu anak saya masih kecil kalau makan saya suapi, tetapi setelah umur dua tahun saya sudah jarang menyuapi, hanya mengawasi saja karena saya sudah repot mengurusi adiknya yang masih kecil (wawancara 10 November 2010)

Anak-anak usia 4 (empat) tahun di desa Jumantuang sudah mampu menguasai tata cara makan dan minum yang telah diajarkan oleh orang tuanya yaitu sianak sebelum menyentuh makanan ataupun makan, terlebih dahulu mereka disuruh mencuci tangan sampai bersih. Hal ini dimaksudkan agar tangan yang sudah bersih tersebut setidaknya menghindari dari penyakit.

Usaha pertama kali agar sianak makan sendiri tentu maasih belum sempurna oleh karena itu masih berceceran, baik nasi ataupun lauknya tetapi dengan dilakukan berulang kali lama-kelamaan hal tersebut tidak akan terjadi lagi. Dalam menyediakan makan dan minum pada anak kebanyakan dilakukan oleh ibu yang sering berada di rumah sedangkan ayah jarang sekali memberi makan/minum karena harus bekerja dan kedekatan ibu pada anak tersebut.

b. Menemani Anak Tidur

Masyarakat di desa Jumantuang khususnya pada keluarga petani tidak menanamkan waktu-waktu istirahat/tidur seperti halnya sebagian masyarakat diperkotaan dimana dalam masyarakat perkotaan banyak para orang tua yang menerapkan pada anaknya agar istirahat secara teratur misalnya kapan mereka harus tidur. Lain halnya yang ada didalam masyarakat Desa Jumantuang terutama kepada keluarga petani yang masih memiliki anggapan bahwa seorang anak itu sudah diatur dan mempunyai jam-jam tersendiri kapan mereka harus tidur dan kapan mereka harus bangun apabila sianak sudah merasa lelah, letih dan ngantuk maka dengan sendirinya akan tidur dengan sendirinya tanpa diperintah. Mereka tidak pernah mempermasalahkan apabila ada seorang anak tidur diluar jam tidur.

Seorang anak akan tidur pulas dan lelap manakala tidurnya mendapat dekapan dari orang tuanya atau setidak-tidaknya berada dengan orang tuanya berada dalam satu ranjang. Kasih sayang orang tua terhadap anak yang berupa dekapan dalam tidur akan berdampak positif yaitu anak akan cenderung menurut dengan orang tua karena secara psikologis anak akan merasa mendapat perhatian dari orang tua.

Pada malam hari desa Juamantuang sangat sepi dan gelap karena tidak ada sarana penerangan pada malam hari di jalan dan diluar rumah. Umumnya anak-anak usia sepuluh tahun kebawah biasanya sudah magrib mereka berkumpul dirumah masing-masing atau jika mereka bermain hanya dimuka rumah saja, Setelah pukul 20.00 mereka pun sudah tidur.

Dalam masalah istirahat/tidur umumnya orang tua tidak menerapkan masalah disiplin bagi anak-anaknya karena mereka beranggapan anak itu sudah

mempunyai waktu-waktu isitirahat sendiri tanpa ada adanya unsur paksaaan. Dari hasil pengamatan dilapangan diketahui bahwa yang menemani anak tidur sebagian besar di desa Jumantuang adalah orang tua perempuan (ibu) yang kebanyakan bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membantu suami keladang. Sedangkan ayah mereka kurang begitu perduli karena setelah pulang dari ladang mereka mengisi kesibukanmya pada malam hari pergi ke kedai tuak.

c. Membantu Anak Dalam Proses Belajar Mengajar

Faktor orang tua dan lingkungan amat dipengaruhi sikap disiplin pada perkembangan anak. Suatu perilaku yang diterapkan pada anak-anak lama kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan, suatu kebiasaan yang berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dan dilakukan dengan rutin dan baik akan mewujudkan tindakan disiplin.

Anak-anak usia kanak-kanak pola pikirnya masih berdasarkan realita yaitu kenyataan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Kemampuannya untuk membedakan segala sesuatunya sudah nampak dan perlu dorongan dan pengalaman serta petunjuk-petunjuk dengan benar. Pada masyarakat desa Jumantuang yang memiliki pandangan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat sudah seharusnya saling rukun hal ini sudah juga diterapkan semenjak masih kanak-kanak. Cara mengajarkan norma-norma, etika dan sopan santun, berpicara, dan berprilaku pada anak-anak ini pada umunya dapat dilakukan orang tua pada setia waktu dan kesempatan yang tepat.

Kesempatan memberikan pengajaran kepada anak-anak yang masih balita pada umumnya berupa petunjuk-petunjuk, pengarahan dan perintah-perintah disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan pada anak. Nasihat diberikan sesudah

anak mulai berjalan berbicara yaitu pada anak usia 1,5 tahun. Sesudah usia ini perintah dan pengarahan yang mulai baik harus mulai diberikan, untuk memberikan nasihat pada anak-anak perlu peragaan, dan alat yang diperagakan baik bentuk, mimic ataupun kode-kode tangan.

Nasihat-nasihat yang diberikan pada anak-anak dalam keluarga petani di desa Jumantuang biasanya pada waktu-waktu dan kesempatan siang hari diamana anak-anak sedang melakukan proses belajar mengajar dengan penglihatannya untuk mencontoh dan menanggapi semua tindakan dan ucapan-ucapan yang dilihat disekelilingnya. Kesempatan memberikan nasihat-nasihat pada anak biasanya dilakukan dalam kegiatan sehari hari, baik sewaktu digendong, diajak bermain, di waktu berjalan-jalan dan sebagainya. Hal ini senada sesuai dengan yang diungkapkan seorang informan biasa oleh ibu bermarga Boyman Bancin (30 tahun) yang menyatakan bahwa mereka sebagai orang tua menginginkan anak-anaknya dapat menjadi orang baik dan berguna dalam masyarakat.

“walau saya orang yang tidak berpendidikan, tapi saya mau anak saya menjadi orang yang baik dan berguna dalam masyarakat. Maka dari kecil anak-anak saya sudah saya ajarkan tata karma dan sopan santun kepada yang lebih tua,” dan mendidk anak saya ( wawancara Dumaris Simamora 33 tahun)

d. Menemani Anak Bermain

Pada umumnya orang tua pada keluarga petani di desa Jumantuang kurang memiliki waktu untuk bermain bersama-sama dengan anak-anaknya. Walaupun ada waktu biasanya sore hari dan itupun tidak dipergunakan untuk menanyakan bagaimana keadaan anak-anaknya karena mereka beranggapan bahwa menemani anak itu tidak begitu penting. Dengan waktu yang berjalan anak-anak pasti akan mencari teman-teman sebayanya untuk diajak bermain bersama.

Gambar 4.3 Anak-anak yang Sedang Bermain Tanpa Dampingan Orang Tua

Sumber : Koleksi Foto-foto Pribadi e. Penanaman sopan santun

Didalam hidup bermasyarakat niali-nilai dan norma-norma dalam berperilaku sangatlah penting bagi individu. Khususnya pada anak-anak yang beranjak dewasa. Dalam bertingklah laku anak harus dibiasakan untuk bersikap sopan santun sesuai dengan tata karma.

Orang tua (ibu) pengasuhan anak juga membari tugas pada putera-puterinya supaya dapat lebih mandiri. Kenyataan tersebut bisa saja dicontohkan dalam keluarga ibu boru Dinar Sagala (32 tahun) seorang informan biasa yang bekerja sebagai seorang buruh tani, seorang anaknya masih duduk di bangku SMP kelas 1. anaknya setiap hari diberi tugas atau pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu dan menjaga adiknya yang masih berumur tiga tahun dan juga pekerjaan lainnya. Anak pada usia tersebut lebih ditekankan pada hal-hal yang praktis dan berhubungan dengan kegiatan sehari-harinya. Kebanyakan untuk anak perempuan ditekankan pada pekerjaan rumah didapur. Anak laki-laki biasanya

lebih cenderung kepada hal-hal yang berada diluar rumah seperti membantu ayahnya diladang.