BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2.1 Pengertian Kader
2.2.1.3 Peranan Kader
Dalam melaksanakan tugas-tugasnya para kader pembinaan atau para pekerja sosial telah mempunyai tugas sesuai dengan jenjang jabatan masing-masing. Menurut buku BKKBN (2013:5) ada beberapa penjelasan tentang peranan kader pembinaan dalam melaksanakan peranannya antara lain:
a. Pembina
Memberikan bantuan untuk mengenal hambatan-hambatan, baik yang di luar maupun di dalam situasi hidup dan kerjanya, melihat segi-segi positif dan negatifnya serta menemukan pemecahan-pemecahan yang mungkin terjadi.
b. Motivator
Sebagai motivator yaitu suatu upaya untuk memberikan dukungan dan membangun proses psikhologis/interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan kebutuhan yang terjadi pada diri klient, keluaraga dan masyarakat setiap akan melakukan.
c. Fasilitator
Sebagai sarana untuk memberi fasilitas kepada objek yang diteliti agar mereka mendapatkan pelayanan yang memadai.
d. Katalisator
Peranan yang bertujuan untuk memacu suatu permasalahan agar mengalami perubahan pada objek yang diteliti.
e. Perencanaan
Sebagai perencanaan yaitu: merumuskan dan menetapkan tujuan, kebutuhan dan target yang akan dicapai, serta bagaimana pada setiap pelayanan kesejahteraan sosial dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Dengan demikian, kader pembinaan kesehatan memiliki tugas yaitu memberikan penyuluhan atau pengetahuan kepada para WPS terkait dengan pembinaan kesehatan, melakukan pemeriksaan setiap minggunya, memberikan pengamanan untuk para WPS dalam melakukan hubungan, mengadakan kunjungan untuk pendataan kasus gejala HIV/AIDS atau penyakit lainnya yang berbahaya.
2.2.2 Kesehatan
Pada tahun 1982 dikeluarkan konsep „Sistem Kesehatan Nasional‟ (SKN)
yang merupakan tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan seperti dimaksud dalam pembukaan UUD 1945. Dan pada tahun 1986, (WHO) dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan itu sendiri yakni sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan melainkan dari konsep positif untuk menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik. Kesehatan menurut Wikipedia adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948, menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan. Dari aspek pendidikan kesehatan itu sendiri yaitu proses membantu seseorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri atau secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang lebih sederhana diajukan oleh (Larry Green dan para koleganya, 2013) yang menulis pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
Pada dasarnya kesehatan itu meliputi beberapa aspek (Notoatmodjo, 2007) antara lain:
a) Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan. b) Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yaitu pikiran, emosional
dan sepiritual.
c) Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
d) Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarga secara finansial.
Adapun tujuan kesehatan dalam segala aspek, salah satunya dari tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan ketentraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.
Tujuan Pembangunan Kesehatan (Notoatmodjo, 2007):
1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.
2. Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. 3. Peningkatan status gizi masyarakat.
4. Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
5. Pengembangan keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pendekatan yang digunakan pada abad ke-21, sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya aspek iti meliputi rasa memiliki kekuasaan, hubungan kasih sayang, semangat hidup, jaringan dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat kemandirian tertentu. Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut WHO (1947) sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dengan demikian WHO mempunyai karakteristik yang positif untuk meningkatkan konsep kesehatan itu sendiri (Edelman dan Mandle, 1994). Antara lain sebagai berikut:
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasikan lingkungan internal dan eksternal.
Sehat menurut DEPKES RI. Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Setiap pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya. UU No.23 Th. 1992 dan UU No.29 Th. 2004 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan kesehatan.
2.2.3 Kader Kesehatan
Kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat dan bertugas mengembangkan
masyarakat (Zulkifli, 2003). Kader kesehatan adalah seseorang yang mau dan mampu melaksanakan upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di bawah pembinaan petugas kesehatan yang dilakukan atas kesadaran diri sendiri dan tanpa pemrih apapun. Kesehatan dapat dilihat dari suatu dimensi yaitu dimensi tingkat pelayanan kesehatan. Dari dimensi sasaranya dapat dikelompokan menjadi 3 yakni:
a. Pembinaan atau pendidikan kesehatan individual, dengan sasaran individu. b. Pembinaan atau pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok. c. Pembinaan atau pendidikan kesehatan masayarakat dengan sasaran
masyarakat luas.
Berdasarkan pengertian yang lain tentang kader kesehatan adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk di tempat yang dekat dengan pemberian pelayanan kesehatan. Kader kesehatan itu juga sebagai tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat. Dalam hal ini kader disebut juga sebagai penggerak atau promotor kesehatan.