• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Ki Sugondo Kartoprojo Sebagai Anggota BOMPA

KI SUGONDO KARTOPROJO SEBAGAI PEJUANG KEMERDEKAAN 4.1 Ki Sugondo Kartoprojo Sebagai Anggota PARINDRA Sumatera Timur

4.3 Peranan Ki Sugondo Kartoprojo Sebagai Anggota BOMPA

1903 stbl. No. 329 dan dipimpin oleh seorang Ketua Gemeenteraad. E.G.Th. Maeir yang menjabat sebagai asisten residen Deli Serdang pada waktu itu dijadikan sebagai Ketua

Gemeenteraad Medan secara resmi pada 1 April 1909.

Maka sejak tanggal 1 April 1909 inilah Medan resmi menjadi Gemeente sesuai menurut besluit pembentukkannya yang dikeluarkan di Bogor pada tanggal 5 Maret 1909, yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal J.B Van Heutz.62

4.3 Peranan Ki Sugondo Kartoprojo Sebagai Anggota BOMPA

Pada pemilihan terakhir tahun 1938, Sugondo Kartoprojo terpilih sebagai anggota

Gemeenteraad untuk periode 1938-1942. Bersama-sama Adinegoro, Sulaiman Basibuan, Baharuddin, Burhanuddin dan Sutan Laut, mereka duduk di dewan kotapraja Medan.

Sebagai seorang yang nasionalis, Sugondo memanfaatkan Gemeenteraad untuk menunjukkan keberaniannya. Terbukti pada sidang ketiga, Sugondo tidak lagi mempergunakan Bahasa Belanda tetapi Bahasa Indonesia. Pemerintah Belanda yang ikut sidang menjadi murka dan melakukan aksi protes dengan keluar dari persidangan. Melihat sikap Belanda justru membuat Sugondo semakin tidak peduli dan tetap terus melanjutkan persidangan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Sugondo beralasan bahwa beliau dipilih sebagai anggota dewan karena beliau seorang anggota pergerakan. Sebagai anggota pergerakan, Sugondo ikut bersumpah pada tahun 1928 untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Jadi sudah sepatutnya, Sugondo juga menggunakan bahasa Indonesia. Ternyata tindakan Sugondo ini membawa keberhasilan, terbukti dengan dibentuknya Seketariatan (Panitia) Sidang Bagian Bahasa Indonesia.

62

Di dalam usahanya untuk membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah meletuskan suatu perang di Asia Pasifik.63

Untuk wilayah Sumatera, Jepang melanjutkan gerakannya di wilayah Palembang terlebih dahulu karena jika Palembang dapat dikuasai maka semakin terbuka lebarlah peluang untuk menduduki Sumatera. Jepang dengan pasukan payungnya tiba di Palembang pada 14 Februari 1942. Dua hari setelah menduduki Palembang, Jepang berhasil menguasai seluruh Palembang dan sekitarnya. Dengan didudukinya wilayah Palembang, Jepang semakin mudah untuk menduduki pulau Jawa. Melihat kenyataan tersebut, Belanda segera berinsiatif untuk membentuk suatu komando oleh pihak serikat yang dikenal dengan ABDACOM (American British Dutch Australian Command) yang bermarkas di wilayah Lembang, Bandung. Letnan Jenderal H.Ter Poorten diangkat sebagai Panglima Tentara Hindia Belanda (KNIL).

Ditandai dengan dibom atomnya pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour pada 8 Desember 1941, di mana pangkalan laut tersebut merupakan pangkalan terbesar di wilayah pasifik. Setelah lima jam penyerangan terhadap Pearl Harbour, Gubernur Jenderal Belanda saat itu Tjarda Van Starkenborgh menyatakan perang terhadap Jepang. Jepang yang berambisi ingin menjadi penguasa di Asia terus bergerak ke selatan sampai akhirnya tiba di Indonesia. Jepang sampai ke Tarakan, Kalimantan Timur pada 10 Januari 1942, dan pada 13 Januari 1942, Komandan Belanda yang berkuasa di wilayah itu menyatakan kalah terhadap Jepang. Tepat seminggu setelah menguasai wilayah Tarakan, Jepang pun berhasil menguasai wilayah Balikpapan yang kaya akan hasil minyaknya. Kemudian Pontianak dan Martapura juga turut jatuh ke tangan Jepang pada 2 Februari 1942 dan 10 Februari 1942.

64

Di dalam menghadapi Jepang pada saat itu, Belanda mendapatkan bantuan dari Inggris, Amerika dan Australia yang terdiri dari empat divisi dengan jumlah bataliyon

63

Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonsia VI, Jakarta:Balai Pustaka,1977,hal.1

64

sebesar 40.000 orang. Jepang sendiri pada saat itu memiliki kekuatan dua kali lipat lebih banyak dari yang dimiliki Belanda yaitu sekitar enam sampai delapan divisi dengan jumlah bataliyon sebesar 100.000-120.000 orang. Untuk mendapatkan pulau Jawa dari tangan Belanda, Jepang dipimpin oleh tentara ke-16 yang dipimpin oleh Letnan Jenderal H.Immamura. Jepang berhasil mendarat di Banten pada 1 Maret 1942. Dengan mendaratnya Jepang di pulau Jawa, empat hari berselang Belanda mengumumkan bahwa ibukota Batavia resmi menjadi “kota terbuka”, dan jatuhlah kota Batavia ke tangan Jepang. Jepang terus bergerak untuk menguasai beberapa kota di pulau Jawa sampai pada 4 Maret 1942 dengan pertempuran yang sengit, Jepang berhasil menduduki kota Kalijati. Setelah berhasil menguasai Kalijati, Jepang terus bergerak ke Bandung. Pada awalnya Jepang menggempur daerah Ciater sehingga tentara Hindia Belanda terpaksa mundur ke wilayah Lembang, namun sekali lagi wilayah ini tak dapat dipertahankan. Pada 7 Maret 1942, Lembang berhasil dikuasai oleh tentara Jepang. Melihat wilayah Bandung yang tidak aman, Letnan Jenderal Ter Poorten selaku Panglima Besar KNIL mengeluarkan keputusan kepada Mayor Jenderal J.J Pesman selaku Komandan di Bandung untuk menghentikan pertempuran. Keberhasilan Jepang menduduki posisi pertahanan Tentara KNIL di Lembang, memaksa Belanda untuk mengadakan suatu perundingan dengan Jepang. Maka pada 7 Maret 1942 pada petang harinya datanglah utusan Jenderal Pesman ke Lembang denga permintaan untuk berunding mengenai gencatan senjata.65

Akhirnya diadakan suatu perundingan yang berakhir dengan menyerahnya Belanda tanpa syarat kepada tentara Jepang. Perundingan tersebut diadakan di daerah Kalijati. Jepang yang langsung diwakili oleh Jenderal Immanura berhadapan langsung dengan Gubernut Jenderal Tjarda dan Jenderal Ter poorten. Yang diikuti dengan beberapa pejabat tinggi militer dan seorang pentejemah. Adapun tentang penyerahan tanpa syarat tersebut, Jepang meninta

65

kepada Jenderal Ter Poorten untuk mengumumkannya sendiri kepada semua pasukannya melalui siaran radio. Tidak hanya itu Jepang juga menginginkan agar semua senjata harus diletakkan di tempat-tempat yang dapat dilihat pada 8 Maret 1942 sebelum pukul 12.00.

Setelah Jepang resmi menduduki Negara Indonesia, Jepang langsung membagi wilayah-wilayah nusantara dibawah pemerintahan militer yang dimilikinya. Sumatera sendiri berada dibawah kekuasaan pemerintahan militer Tentara ke-25 Jepang. Pada mulanya, pemisahan Sumatera dari Jawa adalah politik yang sengaja dijalankan Jepang terutama berdasarkan pentingnya minyak dan karet Sumatera untuk negeri itu, dan kedua berdasarkan adanya anggapan bahwa di pulau itu nasionalisme masih belum berkembang.66

Di dalam membagi struktur pemerintahan, Jepang melakukan perubahan. Tentara Jepang di Sumatera Timur membagi Sumatera Timur di dalam 5 pusat: Binjai/ Padang Berahrang, Sumgai Karang (Galang), Dolok Merangir, Kisaran dan Perkebunan Wingfoot.

Bahkan ketika di Jawa digalakkannya semangat pro-Jepang dengan Gerakan 3A, Sumatera justru dilarang untuk mengobarkan semangat tersebut oleh pemerintahan militer Tentara ke-25 Jepang. Pemerintahan militer Tentara ke-25 Jepang berusaha melarang keras masuknya semangat propagandis dari Jawa. bahkan dari banyaknya organisasi yang berdiri sebelum kedatangan Jepang di Indonesia, hanya organisasi Islam Muhammadiyah dan Wasliyah saja yang bebas beraktifitas di Sumatera, tidak bergantung dan lepas dari pengaruh pusat yang ada di Bukit Tinggi.

67

 Bala Tentara ke-25 bermarkas besar di Bukit Tinggi dan meliputi Riau. Adapun Tentara ke-25 Jepang membagi Sumatera antara lain:

 Divisi ke-2 bermarkas besar di Medan dan meliputi daerah Sumatera Timur serta Aceh.

66

Anthony Reid,op.cit.,hal.176

67

 Brigade ke-25 bermarkas di Sibolga dan meliputi daerah Tapanuli.

 Brigade ke-26 bermarkas di Lahat dan meliputi daerah Jambi, Palembang, Bengkulu, Bangka dan Belitung serta lampung.

 Divisi ke-4 bermarkas besar di Padang dan meliputi daerah Sumatera Barat.

 Divisi ke-9 Udara bermarkas besar di Palembang dan meliputi daerah Palembang, serta tambang minyak Pangkalan Brandan.

Pada permulaan pendudukan di Sumatera Timur, Jepang mengangkat Kolonel Nakagawa sebagai gubernur.68

68

Anthony Reid, op.cit., hal.177

Tetapi setelah kekuasaan di Sumatera Timur berhasil sepenuhnya diduduki Jepang, maka yang menjabat sebagai gubernur diserahkan kepada Jenderal Nakashima. Sebagai gubernur, Nakashima melakukan beberapa tindakan seperti menyuruh raja-raja untuk menggunakan kekuasaannya memaksa rakyat membantu pasukan Jepang. Sebagai imbalannya, Jepang akan memenuhi persediaan bahan makanan yang diminta raja-raja Sumatera Timur pada awal pendudukan 1942. Selain itu, Nakashima juga menyerahkan keamanan di bawah polisi rahasia Jepang yaitu Kempetai.

Seperti yang kita ketahui, perlawanan terhadap Belanda dilakukan oleh para pemuda yang ingin mewujudkan kebebasan. Melihat potensi para pemuda bangsa inilah yang dimanfaatkan Nakashima untuk membantu perlawanan Jepang kepada Sekutu, dan untuk itu pada 28 November 1943, Jepang membentuk Badan Oentoek Membantu Perang Asia (BOMPA). Adapun tujuan Jepang membentu BOMPA adalah membantu Jepang di dalam menghadapi perlawanan sekutu. Walau pada perkembangan selanjutnya BOMPA dipergunakan para pemuda untuk kepentingan mereka memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai pengurus BOMPA, maka dipilihlah tokoh-tokoh nasionalis sebagai pengurusny antara lain:

1. Mr. Mohd Hasan

2. Mohd Nur Lubis

3. Dr. Pirngadi 4. Achmad Tahir 5. Karim M.S 6. Abu Bakar 7. Sugondo Kartoprojo 8. Dr. Sahir

Pemilihan nama BOMPA tersebut oleh para tokoh nasionalis sebenarnya memiliki makna ganda yaitu bermakna golongan mana yang akan BOMPA bantu sebenarnya, dan tentu saja bukan Jepang. Sebelum bergabung dengan BOMPA, Sugondo telah aktif di kantor sosial yang didirikannya dengan dibantu oleh bekas anggota PARINDRA. Kantor sosial tersebut bertujuan untuk rakyat yang mengalami kesulitan pasca Jepang menduduki Sumatera Timur. Kantor sosial tersebut dijadikan sarana perantara untuk mendapatkan bantuan Jepang berupa beras, Jagung dan ikan asin. Kantor sosial itu dibantu oleh Tarigan, Ibnu dan Devretus dengan jumlah pembantu ± 10 orang.69

69

Pemerintah Propinsi Tingkat I Sumatera Utara,loc.cit.,hal.430

Seperti diketahui, pendudukan Jepang sangat menyiksa rakyat, dan melihat penderitaan rakyat yang semakin sulit karena kesulitan mendapatkan bahan makanan, Sugondo meminta kepada walikota Jepang agar tanah-tanah perkebunan Belanda dan bangsa asing lainnya kiranya dapat dibagikan kepada rakyat masing-masing ± 1 Hektar agar rakyat dapat menanami tanaman padi, dan lain-lain untuk dijadikan bahan makananan. Ternyata permintaan Sugondo tersebut diterima oleh Jepang,

sehingga kesulitan bahan makananan rakyat dapat diatasi. Tidak hanya itu, tanah yang diberikan juga dapat didirikan rumah tempat tinggal. Kemudian ada beberapa romusha dari Jawa juga mendapatkan tanah dan gubuk.

Waktu saudara Suangkupon meninggal dunia, Sugondo diminta Jepang untuk menggantikan kedudukan beliau. Pada awalnya Sugondo menolaknya tetapi setelah meminta pendapat dengan rekan-rekan BOMPA lainnya, akhirnya Sugondo menerima permintaan tersebut dengan harapan adanya kepercayaan Jepang terhadapnya untuk mengurus masalah sosial untuk Sumatera Timur, setidaknya sedikit banyak Sugondo dapat memberikan sumbangsih pikirannya kepada Jepang.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pendirian BOMPA bertujuan untuk membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Setiap residen oleh penguasa militer Jepang diharuskan mengirim para pemudanya untuk bergabung dalam badan bentukkan Jepang.70

Pada akhir tahun 1944, Jepang yang sebelumnya merupakan Negara yang adidaya pada kancah Perang Dunia II, harus merasakan situasi yang terjepit karena pihak sekutu telah

Tetapi ternyata keinginan Jepang tersebut tidak dapat dipenuhi karena kebanyakan para pemuda yang bergabung di BOMPA berdasarkan keinginannya sendiri, selain itu para tokoh nasionalis yang menjadi pengurus BOMPA memiliki sugesti untuk mempengaruhi para pemuda demi kepentingan bangsa khususnya Sumatera Timur. Oleh karena itu, selain BOMPA, Jepang juga mendirikan giyugun. Di dalam perkembangannya giyugun ternyata jauh lebih penting daripada BOMPA, karena tugas dan posisi giyugun ditempatkan pada letak geografis yang penting seperti pantai.

4.4 Peranan Ki Sugondo Kartoprojo Sebagai Pejuang Kemerdekaan