PERANAN PERUSAHAAN MIGAS ASING TERHADAP KETERSEDIAAN ENERGI INDONESIA
B. Peranan perusahaan migas asing terhadap keamanan pasokan energi Indonesia
Perusahaan migas asing merupakan suatu entitas ekonomi yang sangat besar dalam dunia Internasional. Aktivitas mereka tersebar ke berbagai negara di dunia. Pengalaman di sektor migas pun telah banyak dimiliki karena mereka telah beroperasi lebih dari setengah abad di bidangnya. Kontrol yang besar akan energi yang merupakan kebutuhan dasar dalam industry membuat kekuatan mereka sangat besar dalam lingkup internasional.
Perusahaan migas asing hadir di Indonesia ketika masa pendudukan Belanda. Kehadiran mereka di dasari oleh motif untuk mendapatkan keuntungan sebanyak banyaknya. Minyak dan gas alam yang di hasilkan oleh perusahaan migas asing di kirimkan kembali ke Negara asal perusahaan atau pun di jual kepada pembeli dengan penawaran tertinggi. Di masa pemerintah Belanda system yang di gunakan adalah system konsensi paling lama 75 tahun dalam mengolah minyak bumi dan gas ala mini.
Awal pasca kemerdekaan, pemerintah Indonesia yang baru terbentuk memandang perlu untuk membahas kehadiran perusahaan migas asing ini. Terdapat dua pendapat yaitu menasionalisasikan seluruh perusahaan migas asing yang ada di Indonesia atau merubah peraturan lama Hindia Belanda menjadi peraturan yang dapat menguntungkan Indonesia. Akhirnya di putuskan untuk
mengubah system konsensi menjadi system kontrak dengan memperkenalkan
Production Sharing Contract (PSC). Opsi untuk menasionalisasi perusahaan
migas asing di saat itu dirasa sangat susah untuk dilakukan dikarenakan Indonesia yang baru terbentuk tidak memiliki modal yang besar dan tenaga ahli untuk mengelola sektor migas ini.
Terhitung sejak konsep PSC diberlakukan perusahaan migas asing pun di anggap sebagai kontraktor dalam mengelola minyak dan gas Indonesia. Tiap tahunnya perusahaan migas asing ini harus mengeluarkan rencana kerja yang kemudian akan di setujui oleh PERTAMINA dulunya dan saat ini oleh SKKMigas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas).
Terlibat langsung dalam proses produksi minyak dan gas Indonesia apalagi memiliki dominasi yang sangat besar terhadap produksi tersebut tentu membuat perusahaan migas asing memiliki peranan dalam ketersediaan energi Indonesia. Ketersediaan yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk memberikan jaminan terhadap keamanan pasokan energi (security of energy supply). Secara umum peranan tersebut dapat di bagi dalam :
a) Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan untuk menemukan cadangan minyak bumi ataupun gas alam. Saat ini rasio cadangan minyak potensial Indonesia terhadap produksi adalah 12 tahun sedangkan gas hingga 56 tahun. Mengingat besarnya kebutuhan akan minyak maka kegiatan eksplorasi ini sangat penting untuk menemukan sumber energi fosil baru. Indonesia masih memiliki 22 lapangan hidrokarbon yang belum di eksplorasi. Hal ini dikarenakan kegiatan
eksplorasi penuh resiko dan membutuhkan modal yang sangat besar. Apalagi mayoritas dari 22 lapangan hidrokarbon tersebut berada di laut dalam Indonesia dan berada di wilayah bagian Timur Indonesia.101
Resiko terbesar yang dapat dialami oleh kontraktor adalah ketika pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Dalam PSC pun secara umum ditentukan bahwa resiko dari kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh kontraktor akan di tanggung oleh kontraktor sendiri dan tidak ditanggung oleh pemerintah.102
Perusahaan migas asing yang beroperasi di bidang eksploitasi di Indonesia salah satunya adalah Chevron dan Total E&P Indonesie. Chevron di Indonesia memiliki kegiatan eksplorasi yaitu PSC Blok East Ambalat dan PSC Blok West Papua I & III. Namun PSC Blok East Ambalat terhambat oleh sengketa blok Ambalat antara Indonesia dan Malaysia hingga saat ini. Sedangkan PSC Blok West Papua sudah mulai melakukan kegiatan eksplorasi beruppa survey geologi dan geofisika, survey seismic 2D dan pengeboran 1 sumur eksplorasi.103
Total E&P juga memiliki kegiatan eksplorasi di blok migas West Papua, laut dalam Kalimantan Timur dekat delta Mahakam dan Kepulauan Mentawai. Kegiatan eksplorasi mereka ialah berupa pemetaan dan seismic pencarian sumber migas.104
Industri migas yang high capital and high risk ini memang terbantukan dengan kehadiran perusahaan migas asing yang tentu memiliki modal yang
101
lihat penjelasan mengenai cadangan migas dan lapangan hidrokarbon di bab III hal. 41-44
102
lihat prinsip kerjasama PSC di bab III, hal.33-37
103
lihat kegiatan eksplorasi Chevron di Indonesia dalam bab III hal.61
104
besar. Apalagi lokasi eksplorasi cadangan migas Indonesia berada di wilayah bagian Timur Indonesia maupun dilaut dalam.
b) Eksploitasi atau Produksi
Terdapat keyakinan umum di masyarakat maupun pemerintah Indonesia bahwa negara ini memiliki kekayaan alam yang banyak terutama minyak. Padahal minyak merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui dan akan habis. Tanpa mempertimbangkan ketersediaannya untuk jangka panjang proses eksploitasi minyak bumi di Indonesia terjadi terus menerus sejak hampir seabad lalu.
Perusahaan asing memegang andil yang cukup besar dalam eksploitasi migas Indonesia. Kehadiran mereka bahkan sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Walaupun kini Indonesia telah lepas dari penjajahan asing namun dominasi perusahaan asing tetap terasa di bidang hulu migas Indonesia. Terbukti 85,4 persen dari 137 wilayah kerja pertambangan migas nasional saat ini dimiliki oleh perusahaan migas asing. Chevron yang merupakan perusahaan migas dari Amerika Serikat memproduksi 51 persen dari total keseluruhan produksi minyak bumi Indonesia. Sedangkan untuk gas alam, Total E&P Indonesie dari Perancis memproduksi 39 persen gas alam Indonesia.105
Sayangnya, dari produksi yang sangat besar oleh kedua perusahaan tersebut hanya sebagian yang di pasarkan ke Indonesia. Indonesia sendiri menetapkan
105
lihat mengenai penguasaan perusahaan migas asing di sektor migas Indonesia dalam bab III, hal.54-55
dalam Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 2010 kontraktor wajib memenuhi kewajiban DMO dengan menyerahkan 25 persen bagiannya dari produksi minyak bumi dan/atau gas bumi yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.106
Jumlah DMO yang sangat kecil ini tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi migas nasional maka tak heran jika Indonesia kini menjadi negara net-importir minyak.
Sangat ironis melihat negara yang memiliki cadangan minyak yang tidak cukup banyak harus terus dikuras oleh perusahaan migas asing yang hasil produksinya malah sebagian besar di ekspor. Hal yang sama terjadi dengan gas Indonesia. Menurut Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Indonesia diprediksikan akan menjadi negara net-importir gas pada tahun 2016. Walaupun saat ini Indonesia merupakan produsen gas terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah produksi mencapai 2,800 miliar kaki kubik (bcf) namun Indonesia juga memiliki produksi gas yang berorientasi ekspor. Jika beberapa tahun kedepan Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan lebih memprioritaskan produksi untuk keperluan ekspor maka kemungkinan besar Indonesia harus mengimpor gas dari luar negeri. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sempat mengemukakan rencana mereka untuk membeli gas dari Qatar di tahun 2012.107
106
DMO (Domestic Market Obligation) adalah kewajiban penyerahan bagian kontraktor berupa minyak dan/atau gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. UU no.
107
Merdeka, (2012), Indonesia akan mulai impor LNG tiga tahun lagi. Diperoleh tanggal 6 Februari 2013 dari http://www.merdeka.com/uang/indonesia-akan-mulai-impor-lng-tiga-tahun-lagi.html
Kebijakan Indonesia yang berorientasi ekspor untuk memenuhi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) seringkali hanya melihat migas sebagai suatu komoditas saja dan bukan sebagai barang strategis. Contohnya dalam proses produksi minyak di lapangan Duri yang di kelola oleh Chevron dengan menggunakan system Enhancement Oil Recovery (EOR) di butuhkan gas untuk meningkatkan lifting minyak. Gas yang awalnya akan di salurkan ke Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Tawar (Jawa Barat) sebesar 100 mmscfd di alihkan ke Chevron untuk peningkatan produksi minyak yang akan di ekspor ke Singapura.108
Hal ini tentu membuat pasokan gas untuk domestic menjadi berkurang. Bahkan PLTU harus kekurangan sumber daya akibat hal ini dan kembali menggunakan solar untuk pembangkitnya yang tentu memelurkan biaya yang lebih banyak. Hingga saat ini masih banyak pembangkit PLN yang kekurangan pasokan gas. PLTU Tanjung Priok dan PLTU Muara Karang membutuhkan gas sebesar 300 billion british thermal unit per day (bbtud). Namun baru mendapat aliran gas sebanyak 130 bbtud.109
Perusahaan asing merupakan entitas ekonomi yang bermotif keuntungan. Tak heran sejak beroperasinya mereka di Indonesia, hasil dari produksi migas akan di jual ke penawar tertinggi yang seringkali berada di luar negeri. Kontrol
108
Kompas, (2012), BP Migas Sulit alihkan pasokan ke PLN. Diambil tanggal 24 November 2012 dari
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/03/22181514/BP.Migas.Sulit.Alihkan.Pasokan .ke.PLN
109
Liputan6, (2012), PLN:Inefisiensi terjadi karena PLN kekurangan gas. Data diambil tanggal 15 Desember 2012 dari http://bisnis.liputan6.com/read/493020/bos-pln-inefisiensi-terjadi-karena-pln-kekurangan-gas
pemerintah menjadi berkurang dalam pengelolaan energi dengan berkuasanya perusahaan migas asing di bidang hulu. Kejadian kekurangan pasokan gas yang di alami oleh beberapa PLTU ini membuktikan bahwa walaupun Indonesia memiliki cadangan gas alam yang banyak dan produksi yang besar, hal ini tidak menjamin kebutuhan gas Indonesia dapat terpenuhi selama perusahaan asing masih menguasai sumber daya ini.
Sejauh ini perusahan migas asing kehadirannya oleh Indonesia hanya dimanfaatkan untuk proses produksi migas semata dan tidak di berdayakan sepenuhnya untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional. Keuntungan dari ekspor minyak dan gas memang sangat besar namun hal ini tidak dapat di bandingkan dengan resiko dan ancaman akan terganggunya pasokan energi Indonesia jika Indonesia harus melakukan impor.
Indonesia merupakan negara berdaulat yang seharusnya lebih mampu
menerapkan ‗sovereign power’ dalam berinteraksi dengan perusahaan migas asing sehingga dapat menjamin ketersediaan energi nasional. Indonesia pun tak seharusnya melihat migas sebagai komoditas semata melainkan juga sebagai sesuatu yang strategis. Sebab ia menggerakan hampir seluruh roda perekonomian dan kehidupan. Penguasaan pihak asing atas elemen dasar dari perekonomian Indonesia merupakan suatu kelemahan bagi Indonesia secara sistemik dalam bidang ketersediaan energi.
Perusahaan migas seharusnya dapat menjadi partner dalam menemukan cadangan migas baru maupun memproduksi migas untuk kebutuhan energi
domestic. Namun yang terjadi adalah kehadiran perusahaan migas asing ini malah mengancam ketersediaan energi Indonesia. Dengan pengurasan yang terjadi sejak dulu dan produksi yang bertujuan ekspor, peranan perusahaan migas asing menjadi sangat minim bahkan dapat mengancam terjaminnya ketersediaan energi