• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI: HASIL DAN PEMBAHASAN

6.2 Keterkaitan (Linkages) Sektor Industri Agro dengan Sektor-sektor

6.3.2 Peranan Sektor Industri Agro terhadap Distribusi Pendapatan

Pada pembahasan ini, klasifikasi rumah tangga yang telah dijabarkan oleh Nugrahadi pada penelitiannya dikategorikan kembali ke dalam dua kelompok besar, yaitu: (1) kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah, serta (2) kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi. Dua kategori tersebut ditentukan berdasarkan tingkat pendapatan yang diterima oleh rumah tangga (Lampiran 7). Kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah terdiri dari rumahtangga buruh tani (BT), rumah tangga golongan rendah di perdesaan (GRD), serta rumah tangga golongan rendah di perkotaan (GRK). Sementara itu, kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi terdiri dari rumah tangga pengusaha pertanian (PP), rumah tangga penerima pendapatan di perdesaan (PPD), rumah tangga golongan atas di perdesaan (GAD), rumah tangga

penerima pendapatan di perkotaan (PPK), serta rumah tangga golongan atas di perkotaan (GAK). Selanjutnya, peranan sektor industri agro terhadap distribusi pendapatan dapat dilihat dari nilai multiplier pendapatan rumah tangga (household induced income multiplier/HIIM) yang didisagregasi berdasarkan klasifikasi rumah tangga yang terdapat dalam model SNSE Jawa Barat tahun 2003.

Tabel 24 di bawah merepresentasikan distribusi multiplier pendapatan rumah tangga di Jawa Barat. Secara umum, distribusi pendapatan rumah tangga pada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah diciptakan dengan baik oleh sektorpeternakan, dengan angka HIIM sebesar 0,5236; sedangkan pada kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi diciptakan oleh sektor jasa-jasa dengan angka HIIM sebesar 0,6262. Pada sektor industri agro, sektor industri makanan, minuman, dan tembakau memiliki peranan yang lebih besar dalam menciptakan efek multiplier pendapatan rumah tangga—baik rumah tangga berpenghasilan rendah, maupun rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi— jika dibandingkan dengan dua sektor industri agro lainnya. Akan tetapi, khusus untuk rumah tangga di perkotaan, peranan sektor industri tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki justru lebih besar daripada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau.

Tabel 24. Distribusi Multiplier Pendapatan Rumah Tangga Berdasarkan SNSE Jawa Barat, 2003

Nama Sektor Kode

Multiplier Pendapatan Rumah Tangga

Total Rumah Tangga Rendah Rumah Tangga Sedang & Tinggi

BT GRD GRK PP PPD GAD PPK GAK

Tanaman bahan makanan 15 0,1626 0,1701 0,1235 0,1605 0,0295 0,0712 0,0579 0,1184 0,8936 Perkebunan 16 0,2353 0,1665 0,1182 0,1655 0,0279 0,0700 0,0552 0,1284 0,9670 Peternakan 17 0,2277 0,1688 0,1271 0,1617 0,0276 0,0697 0,0563 0,1358 0,9746 Kehutanan 18 0,1369 0,1632 0,1206 0,1495 0,0282 0,0690 0,0569 0,1148 0,8389 Perikanan 19 0,1550 0,1621 0,1206 0,1503 0,0277 0,0677 0,0556 0,1170 0,8559 Pertambangan & penggalian 20 0,0437 0,1707 0,1349 0,1326 0,0290 0,0776 0,0677 0,1284 0,7845 Industri makanan, minuman & tembakau 21 0,0966 0,1547 0,1431 0,1205 0,0241 0,0591 0,0538 0,1287 0,7806 Industri tekstil, pakaian jadi, kulit & alas kaki 22 0,0387 0,1448 0,1521 0,0943 0,0211 0,0531 0,0525 0,1316 0,6881 Industri kayu, bambu, rotan & furnitur 23 0,0306 0,1080 0,1099 0,0726 0,0161 0,0405 0,0393 0,0956 0,5125 Industri kertas, percetakan & penerbitan 24 0,0421 0,1600 0,1742 0,0999 0,0226 0,0576 0,0581 0,1519 0,7665 Industri kimia, bahan kimia, karet & plastik 25 0,0419 0,1427 0,1465 0,0957 0,0211 0,0529 0,0516 0,1269 0,6793 Industri pengilangan minyak bumi 26 0,0437 0,1739 0,1562 0,1273 0,0280 0,0718 0,0656 0,1389 0,8054 Industri barang mineral bukan logam 27 0,0329 0,1299 0,1374 0,0833 0,0188 0,0478 0,0475 0,1198 0,6173 Industri logam dasar & barang jadi logam 28 0,0383 0,1497 0,1551 0,0987 0,0221 0,0553 0,0543 0,1337 0,7072 Industri pengolahan lainnya 29 0,0475 0,1467 0,1560 0,0963 0,0212 0,0525 0,0522 0,1344 0,7068 Listrik, gas & air bersih 30 0,0386 0,1477 0,1205 0,1097 0,0243 0,0683 0,0602 0,1203 0,6895 Bangunan,konstruksi 31 0,0435 0,1550 0,1417 0,0975 0,0227 0,0743 0,0682 0,1581 0,7609 Perdagangan, hotel & restoran 32 0,0492 0,1729 0,1419 0,1225 0,0275 0,0839 0,0742 0,1545 0,8266 Pengangkutan & komunikasi 33 0,0436 0,1592 0,1344 0,1098 0,0249 0,0768 0,0686 0,1465 0,7637 Keuangan, persewaan & jasa perusahaan 34 0,0441 0,1655 0,1347 0,1203 0,0269 0,0788 0,0695 0,1411 0,7809 Jasa-Jasa 35 0,0649 0,2148 0,1880 0,1234 0,0300 0,1176 0,1062 0,2491 1,0939

Angka multiplier pendapatan rumah tangga yang dimiliki oleh sektor industri makanan, minuman, dan tembakau terdistribusi lebih dominan untuk kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah, yaitu sebesar 0,0966 untuk rumah tangga buruh tani; 0,1547 untuk rumah tangga golongan rendah di perdesaan; serta 0,1431 untuk rumah tangga golongan rendah di perkotaan. Angka HIIM ini mengindikasikan jika neraca eksogen pada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau diinjeksi sebesar satu miliar rupiah, maka pendapatan kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah akan naik sebesar 0,0966 miliar rupiah untuk rumah tangga buruh tani; 0,1547 miliar rupiah untuk rumah tangga golongan rendah di perdesaan; serta 0,1431 miliar rupiah untuk rumah tangga golongan rendah di perkotaan.

Tingginya distribusi efek multiplier kelompok berpenghasilan rendah ini mungkin terjadi karena sebagian besar dari kelompok rumah tangga tersebut menggantungkan hidupnya sebagai tenaga kerja pada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau. Tidak hanya itu, keterkaitan sektor industri makanan, minuman, dan tembakau dengan sektor-sektor pertanian—khususnya sektor tanaman bahan makanan—secara tidak langsung juga turut mempengaruhi tingginya nilai multiplier pendapatan pada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah. Salah satu bentuk interaksi antara kedua sektor tersebut adalah penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian yang juga didominasi oleh kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah.

Sementara itu, untuk kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi, sektor industri makanan, minuman, dan tembakau memiliki angka HIIM sebesar 0,1205 untuk rumah tangga pengusaha pertanian; 0,0241 untuk rumah

tangga penerima pendapatan di perdesaan; 0,0591 untuk rumah tangga golongan atas di perdesaan; 0,0538 untuk rumah tangga penerima pendapatan di perkotaan; 0,1287 untuk rumah tangga golongan atas di perkotaan. Masing-masing angka HIIM tersebut mengandung makna jika sektor industri makanan, minuman, dan tembakau diinjeksi sebesar satu miliar rupiah, maka pendapatan pada masing-masing klasifikasi rumah tangga tersebut akan naik sebesar nilai angka multipliernya.

Pada sektor industri tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki, distribusi efek multiplier pendapatan rumah tangga kelompok berpenghasilan sedang dan tinggi lebih besar daripada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah. Angka HIIM kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi yang dimiliki sektor industri tekstil,pakaian jadi, kulit, dan alas kaki sebesar 0,0943 untuk rumah tangga pengusaha pertanian; 0,0211 untuk rumah tangga penerima pendapatan di perdesaan; 0,0531 untuk rumah tangga golongan atas di perdesaan; 0,0525 untuk rumah tangga penerima pendapatan di perkotaan; dan 0,1316 rumah tangga golongan atas di perkotaan. Sementara itu, distribusi efek multiplier kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah sebesar 0,0387 untuk rumah tangga buruh tani; 0,1448 untuk rumah tangga golongan rendah di perdesaan; serta 0,1521 rumah tangga golongan rendah di perkotaan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, peranan sektor industri tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki dalam distribusi efek multiplier rumah tangga di perkotaan (baik golongan rendah maupun golongan atas) lebih besar dibandingkan sektor industri makanan, minuman, dan tembakau.

Berbeda dengan dua sektor industri agro lainnya, sektor industri kayu, bambu, rotan, dan furnitur memiliki distribusi efek multiplier pendapatan rumah tangga terendah, bahkan tertinggal jauh dari sektor-sektor perekonomian lainnya. Angka HIIM yang dimiliki sektor industri kayu, bambu, rotan, dan furnitur pada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah sebesar 0,0306 untuk rumah tangga buruh tani; 0,1080 untuk rumah tangga golongan rendah di perdesaan; serta 0,1099 untuk rumah tangga golongan rendah di perkotaan. Sementara itu, angka HIIM yang dimiliki sektor industri kayu, bambu, rotan, dan furnitur pada kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi sebesar 0,0726 untuk rumah tangga pengusaha pertanian; 0,0161 untuk rumah tangga penerima pendapatan di perdesaan; 0,0405 untuk rumah tangga golongan atas di perdesaan; 0,0393 untuk rumah tangga penerima pendapatan di perkotaan; serta 0,0956 untuk rumah tangga golongan atas di perkotaan.

Berdasarkan hasil analisis di atas terlihat bahwa sektor industri agro belum dapat berperan cukup baik dalam distribusi pendapatan rumah tangga, baik pada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah maupun kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi. Pada kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah, hanya sektor industri makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki nilai multiplier yang relatif tinggi, yaitu pada kelompok rumah tangga buruh tani dan golongan rendah di perkotaan. Meskipun demikian, nilai multiplier tersebut masih tertinggal jauh dari angka multiplier yang dimiliki oleh sektor-sektor pertanian, terutama sektor perkebunan dan peternakan. Pada kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi, ketiga sektor industri agro tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam distribusi efek multiplier pendapatannya.

Distribusi pendapatan kelompok rumah tangga berpenghasilan sedang dan tinggi didominasi oleh sektor jasa-jasa.

Dokumen terkait