UNIT TEH - BAH BUTONG
TINJAUAN PEKERJAAN MAHASISWA
4.4. Hasil Pekerjaan
4.4.1 Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi
Berdasarkan proses yang telah ada maka terdapat beberapa alat yang digunakan pada setiap stasiun. Dalam beberapa stasiun terdapat penggunaan alat yang sama, namun ada juga yang berbeda. Dari beberapa alat tersebut dari setiap stasiun menurut penulis terdapat hal-hal yang perlu dierbaiki. Berikut ini adalah alat yang menurut penulis yang perlu untuk diperbaiki dan alasan mengapa perlu diperbaiki adalah :
a. Monorail pada stasiun Penerimaan Daun Basah
Pada stasiun penerimaan daun basah terdapat monorail yang digunakan dalam pemindahan daun basah dari truk ke lantai 2 yaitu stasiun penerimaan daun basah. Berikut ini adalah monorail digunakan pada saat pemindahan daun basah dari truk ke stasiun penerimaan daun basah.
Gambar 4.1 Monoail Sebelum Inovasi
76
Monorail tersebut perlu diperbaiki dalam hal bentuknya, karena pada saat daun basah yang dibuat didalam fishet diletakkan keatas monorail tersebut terkadang fishet daun basah tersebut jatuh, sehingga perlu bantuan pekerja untuk memegang monorail tersebut agar fishet yang diletakkan tidak jatuh. Berikut ini adalah gambar pekerja yang memegangi monorail agar fishet yang dimasukkan kedalam monorail tidak jatuh.
Gambar 4.2 Pekerja Menurunkan Pucuk
Sehingga dengan desain monorail yang lama maka terdapat banyak pucuk daun teh basah yang jatuh kelantai, dan juga membutuhkan pekerja 2 orang untuk menurunkan daun basah. Sehingga hal tersebut dapat membuang waktu dan membutuhkan waktu yang lama dalam penurunan daun basah, daun yang jatuh ke lantai akan rusak dan memiliki mutu yang kurang baik. Sehingga perlu dilakukan perbaikan desain monorail untuk mengatasi masalah yang terjadi pada perusaan PTPN IV unit Bah Butong. Berikut ini adalah contoh daun basah yang banyak berjatuhan kelantai.
Gambar 4.3 Daun Basah
77
Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis membuat desain monorail yang baru. Berikut ini adalah dasain yang penulis usulkan
Gambar 4.4 Desain Monorail
Terjadi perubahan bentuk dari monorail sebelumnya. Perubahan bentuk tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah yang sebelumnya. Dimana dengan bentuk monorail seperti gambar diatas maka mempermudah dalam pengangkutan daun basah menuju WT, karena dengan bentuk seperti itu maka pada saat daun basah diletakkan kedalam monorail maka daun basah yang didalam fishet tersebut tidak akan jatuh, dan juga tidak membutuhkan bantuan pekerja lainnya untuk memegangi monorail tersebut. Karena dengan bentuk monorail seperti gambar diatas maka pada saat daun basah yang dibuat dalam fishet diletakkan pada monorail tersebut maka fishet tersebut akan tertahan didalam monorail tersebut, walaupun monorail tersebut dalam keadaan goyang maka daun basah yang dalam fishet tersebut tetap berada didalam monorail tersebut tanpa jatuh.
Sehingga dengan desain monorail seperti diatas pada saat penurunan daun basah dapat mengurangi pekerja yang dibutuhkan, dapat mengurangi daun basah yang jatuh dilantai dan dapat mempercepat pemindahan atau pengangkutan daun basah menuju WT.
b. Gerobak pada stasiun Pelayuan
Pada stasiun pelayuan terdapat beberapa alat yang digunakan, salah satunya adalah gerobak. Berikut ini adalah gambar gerobak yang sedang dipakai di perusahaan PTPN IV unit Bah Butong.
78
Gambar 4.5 Gerobak
Gerobak diatas digunakan untuk mengangkut daun layu ke tempat penurunan daun layu menuju mesin OTR. Dalam satu mesin OTR membutuhkan 375 kg daun teh layu, sehingga untuk penurunan daun layu satu mesin OTR membutuhkan 3 kali angkut gerobak. Maka dalam gerobak minimal terdapat 125 kg dauh teh layu. Sehingga untuk memenuhi muatan tersebut gerobak diisi sampai menjulang keatas dan dengan tinggi melebihi tinggi pekerja. Dapat dilihat seperti gambar diatas. Berdasarkan gambar diatas maka pada saat gerobak didorong menuju penurunan daun layu maka terdapat daun yang berjatuhan dilorong WT maupun dijalan menuju penurunan. Dapat dilihat seperti gambar berikut ini
Gambar 4.6 Daun yang Berjatuhan
Sehingga membutuhkan tenaga kerja untuk mengumpulkan kembali daun teh yang berjatuhan dilorong maupun dijalan, hal tersebut dapat menambah pekerjaan dari pekerja. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis, pada saat pekerja memindahkan daun layu ke penurunan, pekerja mendorong
79
gerobak ke lokasi penurunan daun layu dan penurunan daun layu yang terdapat di dalam gerobak diturunkan dengan cara membalikkan gerobak sampai 360˚.
Dengan membalikkan gerobak sampai 360˚, pekerja harus mengeluarkan tenaga yang lebih sehingga pekerja cepat mengalami kelelahan.
Berdasarkan masalah tersebut maka penulis membuat desain gerobak yang baru, seperti gambar dibawah ini
Gambar 4.7 Desain Gerobak 3D Gambar 4.8 Desain Gerobak Tampak Samping
Gambar 4.9 Desain Gerobak Tampak Atas
Gambar diatas merupakan desain gerobak yang penulis usulkan pada saat pengangkutan daun layu yang akan di turunkan pada mesin OTR. Desain tersebut dibuat berdasarkan masalah-masalah yang terjadi pada saat penggunaan gerobak yang sedang diguakan sekarang diperusahaan tersebut.
80
Adapun masalah yang terjadi adalah banyaknya daun yang berjatuhan pada saat pemindahan daun layu, dan kelelahan yang dialami pekerja dalam penggunaan gerobak tersebut.
Untuk deskripsi dari gerobak yang penulis desain adalah gerobak ditingggikan keatas atau ditambahi bagian atasnya dengan tinggi yang sama dengan gerobak bagian bawahnya namun untuk gerobak yang bagian atas dapat diturunkan, sehingga pada saat pengisiaan gerobak yang bagian bawah tidak mengganggu pekerja dan setelah bagian bawah penuh maka gerobak bagian atas dapat ditarik untuk pengisian selanjutnya, namun agar pekerja tidak kesusahan dalam pengisian karena gerobak yang terlalu tinggi maka salah satu sisi dari gerobak bagian atas dapat dibuka atau dapat diturunkan, sehingga pada saat pengisian maka pekerja dapat dengan mudah memasukan daun layu, pada saat gerobak terisi penuh maka sisi yang diturunkan dapat diangkat kembali. Dengan begitu maka pada saat pemindahan daun ke penurunan mesin OTR, daun tidak jatuh-jatuh lagi dijalan. Pada saat ingin menurunan daun layu dari gerobak maka salah satu sisi samping dari gerobak bawah dan atas dapat dibuka, sehingga pada saat penurunan maka hanya membutuhkan sekali pembalikan gerobak atau hanya membentuk sudut 90 °, berbeda dengan penurunan daun layu pada gerobak yang dipakai saat ini di perusahaan. Penurunan daun layu dengan menggunakan gerobak yang digunakan saat ini membutuhkan tenaga yang besar, karena pekerja perlu membalikkan gerobak dengan sudut 360° agar daun yang terdapat didalam gerobak keluar secara keseluruhan. Selain itu penulis juga membuat desain gerobak dengan mengganti pegangan bagi gerobak dan membuat pegangan di kedua sisi yaitu pada sisi depan dan belakang. Alasan pegangan gerobak didesain seperi gambar diatas adalah agar pada saat pekerja mendorong gerobak dapat memegang sisi mana aja dari pegangan gerobak, dan pegangan gerobak dibuat bulat agar pekerja merasa nyaman pada saat mendorong dan tidak melukai tangan pekerja. Dan alasan penulis membuat desain dengan pegangan gerobak di dua sisi adalah agar memudahkan pekerja dalam mengoperasikan gerobak. Karena dari pekerjaan yang dilakukan dengan gerobak membutuhkan 2 orang pada saat sudah keluar dari daerah WT, dimana 1 pekerja bertugas untuk membantu menarik gerobak dari sela-sela WT, sehingga penulis membuat pegangan gerobak di dua sisi agar dapat membantu pekerja yang bertugas sebagai penarik gerobak.
81 c. Gerobak pada stasiun Penggulungan
Pada stasiun penggulungan terdapat gerobak, yang mana gerobak tersebut digunakan untuk mengangkut bubuk yang telah selesai digulung pada mesin OTR. Setelah bubuk selesai diangkut dari mesin OTR lalu selanjutnya bubuk basah dipindahkan atau dimasukkan ke mesin ayakan DIBN. Gerobak yang digunakan pada saat ini di stasiun penggulungan pendek dan tidak meiliki pegangan, hal tersebut dibuat agar gerobak dapat masuk kebawah mesin OTR untuk mengangkut daun basah. Berikut ini adalah gambar gerobak yang sedang digunakan pada saat ini.
Gambar 4.10 Gerobak di Stasiun Penggulungan
Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa gerobak tersebut memiliki ketinggian yang pendek dan tidak memiliki pegangan, sehingga pekerja yang bertugas untuk memindahkan gerobak tersebut harus membungkuk dan langsung berpegang pada gerobak. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4.11 Pemindahan Bubuk
82
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pekerja mendorong gerobak tersebut dengan keadaan membungkuk, sehingga jika hal tersebut dilakukan dengan jangka waktu yang lama maka dapat mengakibatkan nyeri pada punggung dan pegal. Jika telah terjadi nyeri dan pegal pada pekerja, maka pekerjaan akan terganggu. Sehingga berdasarkan masalah tersebut penulis membuat desain gerobak yang baru seperti gambar dibawah ini.
Gambar 4.12 Desain Gerobak di Penggulungan
Gambar 4.13 Desain Gerobak Tampak Samping
Gerobak tersebut penulis desain dengan bentuk yang sama seperti gerobak sebelumnya, namun ada yang ditambah dan diubah. Untuk elemen yang ditambah adalah pegangan dari gerobak. Penulis membuat desain gerobak dengan pegangan, dimana pegangan tersebut dibuat dengan bentuk yang bulat, hal tersebut dibuat agar pekerja nyaman pada saat mendorong. Pegangan gerobak memiliki tinggi yang disesuaikan dengan tinggi pekerja. Pegangan gerobak tersebut dapat dinaik dan turunkan, agar gerobak tetap dapat dimasukkan kebawah mesin OTR untuk mengangkut bubuk basah. Untuk yang diubah dari gerobak tersebut adalah buttom roda dari gerobak. Dimana buttom roda tersebut dapat dinaikan dan diturunkan. Hal tersebut dibuat agar pada saat
83
ingin memasukkan gerobak kebawah mesin OTR dan ketika sudah dikeluarkan dari bawah mesin OTR tinggi gerobak dapat diubah sesuai dari tinggi pekerja dan senyamannya pekerja. Sehingga pada saat pekerja mendorong gerobak tersebut, pekerja tidak lagi terlalu membungkuk. Sehingga dapat menurunkan resiko bayaha bagi pekerja.
Desain gerobak tersebut bermanfaat juga untuk stasiun pengeringan.
Karena pada saat pengeringan badag, pemindahan badag dari stasiun penggulungan menggunakan gerobak yang pendek dan tidak memiliki pegangan. Sehingga pekerja harus mendorong gerobak dengan posisi yang membungkuk dengan jarak yang termasuk jauh, karena dari stasiun penggulungan menuju stasiun pengeringan dan melewati stasiun fermentasi.
Pada saat pemindahan bubuk badag ke mesin pengeringan dengan gerobak yang pendek, maka pekerja harus membungkuk dalam menjangkau bubuk dari dalam gerobak. Dapat dilihat dari gambar dibawah ini.
Gambar 4.14 Pemindahan Bubuk ke dalam Mesin
Sehingga desain gerobak tersebut juga berlaku untuk stasiun pengeringan, yaitu dalam hal pemindahan bubuk badag dari stasiun penggulungan.
d. Gerobak pada stasiun Sortasi
Pada stasiun sortasi terdapat gerobak yang digunakan untuk menampung bubuk bahan dari mesin yang satu ke mesin yang lainnya. Dimana gerobak tersebut memiliki bentuk persegi panjang tanpa pegangan dan memiliki siku-siku.
Sehingga pada saat pekerja mendorong gerobak maka pekerja langsung berpegangan dengan gerobak. Bagian salah satu sisi dari gerobak dapat dibuka
84
agar memudahkan pekerja dalam pemindahan bubuk dari gerobak. Berikut ini adalah gambar gerobak yang terdapat pada stasiun sortasi
Gambar 4.15 Gerobak di Sortasi
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa gerobak tersebut tidak memiliki pegangan dan sisi atas dari gerobak tersebut memiliki sisi yang tidak nyaman untuk digunakan dan dapat melukai pekerja yang menggunakan gerobak tersebut secara terus menerus. Sehingga penulis membuat desain gerobak yang baru tanpa mengubah fungsi dari gerobak. Namun ada bagian yang ditambahi, dapat dilihat seperti gambar dibawah ini.
Gambar 4.16 Desain Gerobak di Sortasi
85
Gambar 4.17 Gerobak Tampak Atas
Gambar 4.18 Gerobak Tampak Samping
Gambar 4.19 Gerobak Tampak Bawah
86
Dari gambar diatas kita dapat melihat bahwa bagian yang ditambahi adalah pegangan dari gerobak. Hal tersebut bertujuan agar memudahkan pekerja dalam mendorong gerobak tersebut. Pegangan dari gerobak tersebut disesuaikan dengan tinggi pekerja, sehingga pada saat pekerja mendorong gerobak tersebut tidak perlu lagi membungkuk. Sehingga dapat mengurangi cedera bagi pekerja.
Dan pegangan tersebut dibuat berbentuk melingkar agar pekerja nyaman dan tidak menyakiti tangan pekerja. Gerobak dibuat dengan sisi yang melengkung, agar tidak menyakiti pekerja ketika terkena sisi gerobak. Namun desain tersebut tetap dibuat dengan satu sisi dapat dibuka agar memudahkan pekerja dalam pemindahan bubuk dari dalam gerobak.
87 BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
a. Proses pengolahan bubuk teh hitam terdiri dari proses pelayuan, proses penggulungan, proses fermentasi, proses pengeringan, proses
prasortasi,proses sortasi dan proses pengepakan.
b. Proses produksi di PT Perkebunan Nusantara IV unit Bah Butong menghasilkan 16 jenis bubuk dengan 3 grade.
c. Pada stasiun pelayuan banyak daun layu yang berjatuhan dari gerobak akibat pengisian gerobak memiliki kapasitas yang berlebihan.
d. Gerobak yang digunakan pada stasiun penggulungan dapat menyebabkan nyeri pada punggung pekerja.
e. Gerobak yang digunakan pada stasiun sortasi memiliki bentuk siku-siku yang dapat melukai pekerja
5.2 Saran
a. Untuk mengurangi resiko kecelakaan pada pekerja pada setiap stasiun kerja, dilakukan perancangan sistem kerja dengan prinsip ergonomi dengan
perancangan alat.
b. Untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja maka perlu dilakukan perbaikan pada alat yang digunakan yaitu gerobak dan monorail
88
89