• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

4. Perangkat pembelajaran Fisika

Perangkat pembelajaran mencakup segala hal yang berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penyusunan perangkat pembelajaran dilandasi pengalaman di kelas dan penelitian pendidikan. Oleh sebab itu, perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru sebelum memulai sebuah pembelajaran. Sugihartono (2007) menyatakan bahwa pembelajaran di kelas hendaknya dikembangkan berdasarkan teori belajar dan tahapan perkembangan kognitif. Hasil telaah literatur psikologi, terdapat empat teori belajar yaitu: teori belajar kognitif, teori belajar behavioristik, teori belajar humanistik, dan teori belajar konstruktivistik.

Penelitian ini mengacu pada teori belajar konstruktivistik. Bagi konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, di mana peserta didik membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan tingkah lakunya. Peserta didik mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari. Peserta didik sendiri yang bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Mereka sendiri yang membuat penalaran dengan apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya dengan pengalaman dan situasi baru.

Pembelajaran di kelas perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Pelajar tingkat sekolah menengah atas menurut perkembangannya termasuk dalam kategori remaja. Piaget berpendapat bahwa perkembangan

23

kognitif remaja termasuk tahap operasional formal. Kemampuan kognitif peserta didik pada tahapan operasional, antara lain memiliki kemampuan introspeksi dirinya sendiri; berpikir logis dan menyimpulkan hal-hal penting; berpikir berdasarkan pengujian hipotesis; menggunakan simbol-simbol; serta berpikir secara fleksibel pada berbagai kepentingan. Oleh sebab itu, penyusunan perangkat pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan eksplorasi menerapkan kemampuan kognitifnya.

Berdasarkan Permendikbud No. 65 Tahun 2013 mengenai Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, dijelaskan bahwa salah satu perencanaan pembelajaran yakni penyusunan perangkat pembelajaran. Perencanaan perangkat pembelajaran terdiri dari penyusunan silabus, RPP, media pembelajaran, sumber belajar, perangkat penilaian, dan skenario pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut.

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. Abdul Majid (2007) menyatakan bahwa Kurikulum 2004 menghendaki penyusunan persiapan mengajar mencakup komponen sebagai berikut.

a. Identitas mata pelajaran (nama pelajaran, kelas, semester dan waktu atau banyaknya jam yang dialokasikan).

24

c. Materi pokok (beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar).

d. Strategi pembelajaran/tahapan-tahapan proses belajar mengajar (kegiatan belajar mengajar secara konkret yang harus dilakukan oleh siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar).

e. Media (yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran).

f. Penilaian dan tindak lanjut (instrumen dan prosedur yang digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa serta tindak lanjut hasil penilaian, misal remidial, pengayaan atau percepatan. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran sebaiknya disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Kondisi peserta didik kelas XI SMA N 3 Bantul sangat heterogen, ada yang pro aktif, biasa saja da nada juga yang pendiam. Peserta didik sering merasa bosan dan kurang semangat ketika beajar fisika. Sehingga dalam penelitian ini dikembangkan perangkat pembelajaran fisika yang inovatif sehingga mampu menarik perhatian peserta didik untuk lebih termotivasi dalam belajar fisika. Model pembelajaran yang dipilih yaitu Problem Based Learning. Pembelajaran berbasis masalah lebih berpusat pada peserta didik sehingga mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Konsep dan pengalaman belajar peserta didik dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis masalah.

RPP yang dikembangkan dalam penelitian memiliki kegiatan yang telah disesuaikan dengan sintaks Problem Based Learning. Sehingga dalam setiap tahapnya dirancang untuk menstimulasi aspek-aspek keterampilan proses peserta didik.

25 b. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) menurut Abdul Majid (2007) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas di dalamnya harus jelas kompetensi yang akan dicapainya. Dengan adanya LKS dapat memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis.

LKPD yang dikembangkan dalam penelitian ini berisi panduan kegiatan pemecahan masalah melalui eksperimen berdasarkan tahapan- tahapan yang disesuaikan dengan sintak PBL yang ditujukan untuk mengasah aspek keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif peserta didik. Di dalamnya terdapat enam indikator keterampilan proses yaitu: inferensi, prediksi, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengidentifikasi variabel dan interpretasi data. Keenam indikator tersebut diwujudkan dalam bentuk jawaban secara tertulis sehingga penilaiannya diperoleh melalui analisis jawaban peserta didik dalam LKPD tersebut. Selain itu LKPD juga dilengkapi dengan latihan soal untuk mengasah aspek kognitif peserta didik.

c. Instrumen Penilaian

Instrumen penilaian dalam pendidikan sangat perlu digunakan sebagai alat untuk mengetahui tingkat kelulusan seorang peserta didik.

26

Trianto (2014: 129) mengungkapkan bahwa instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi. Abdul Majid (2007) menyatakan bahwa pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), komponen penilaian/evaluasi dikenal dengan “assessment” yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas setelah kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen penilaian merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi siswa dalam bentuk tes mapun nontes. Adapun instrumen penilaian yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu:

1) Instrumen Penilaian Aspek Kognitif

Instrumen penilaian aspek kognitif dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar peserta didik. Instrumen yang dikembangkan yaitu berupa soal tes (pretes dan posttest) dengan bentuk soal pilihan ganda. Bentuk soal terdiri dari item (pokok soal) dan option (pilihan jawaban). Terdapat 5 pilihan jawaban yang terdiri atas satu kunci jawaban dan lainnya pengecoh. Penyusunan butir soal mengacu pada Taksonomi Bloom pada level C1 sampai C4, yaitu C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (menerapkan), dan C4 (menganalisis). Setiap butir soal mewakili indikator pencapaian tujuan pembelajaran yang telah disusun dalam

27

RPP. Selanjutnya nilai hasil tes dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar peserta didik setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah.

2) Instrumen Penilaian Aspek Psikomotor

Penilaian merupakan salah satu bagian dari pembelajaran yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Instrumen penilaian ranah psikomotor yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa lembar observasi keterampilan proses sains, yakni berupa daftar cek dengan skala penilaian 1 sampai 4 yang berisi pernyataan indikator keterampilan proses dan disertai dengan rubrik penilaian. Hasil penilaian kemudian dianalisis secara statistik untuk mengetahui tingkat ketercapaian keterampilan peserta didik setelah mengikut pembelajaran berbasis masalah.

Dokumen terkait