• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII APARATUR DAERAH

PERATURAN DAERAH DAN PERATURAN KEPALA DAERAH

Bagian Kesatu Umum

Pasal 118

(1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah dengan persetujuan bersama DPRD.

(2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.

(3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pengaturan untuk melaksanakan:

a. kewenangan yang dimiliki oleh daerah;

b. perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; dan

c. mengakomodasikan ciri khas daerah.

(4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan

dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

(5) Bertentangan dengan kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi:

a. terganggunya kerukunan antar warga masyarakat; b. terganggunya akses terhadap pelayanan publik; c. terganggunya ketentraman dan ketertiban umum; d. terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat; dan/atau

e. diskriminasi terhadap suku, agama, ras, antar golongan, dan gender.

(6) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah.

Bagian Kedua

Asas Pembentukan dan Materi Muatan

Pasal 119

Asas pembentukan dan materi muatan Perda berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan asas-asas hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagian Ketiga

Tata cara Pembentukan, Pembahasan dan Pengesahan Peraturan Daerah

Pasal 120

(1) Persiapan pembentukan, pembahasan, dan pengesahan rancangan Perda berpedoman kepada peraturan perundang-undangan.

(2) Masyarakat dapat memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan

rancangan Perda.

Pasal 121

(1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD atau Kepala Daerah.

(2) Kepala Daerah dan DPRD menyusun program legislasi daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan penjabarannya setiap tahun yang menjadi acuan bagi prakarsa penyusunan Perda.

(3) Rencana kerja tahunan penyusunan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibagi menurut inisiatif pemrakarsa.

(4) Rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disebarluaskan kepada masyarakat.

(5) Dalam hal tertentu, daerah dapat membentuk Perda di luar program legislasi daerah setelah mendapatkan kesepakatan antara Kepala Daerah dan DPRD.

(6) Program legislasi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan DPRD.

Pasal 122

(1) Rancangan Perda yang akan dibahas oleh DPRD harus disebarluaskan kepada masyarakat.

(2) Penyebarluasan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh sekretariat DPRD.

(3) DPRD dan kepala daerah wajib melaksanakan uji publik atas materi rancangan Perda dengan mengikutsertakan masyarakat.

Pasal 123

(1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan/pelaksanaan Perda, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

(2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya

(4) Selain sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perda dapat memuat ancaman sanksi yang bersifat mengembalikan pada keadaan semula.

Pasal 124

(1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan kepala daerah disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada kepala daerah untuk ditetapkan sebagai Perda. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

(3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh kepala daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak rancangan tersebut disetujui bersama.

(4) Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan kepala daerah dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. (5) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana

dimaksud pada ayat (4), rumusan kalimat pengesahannya berbunyi, “Perda ini dinyatakan sah,” dengan mencantumkan tanggal sahnya.

(6) Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum

pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah.

Pasal 125

(1) Gubernur wajib menyampaikan Perda Provinsi kepada Menteri paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan untuk mendapatkan nomor register Perda.

(2) Bupati/Walikota wajib menyampaikan Perda Kabupaten/Kota kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan untuk mendapatkan nomor register Perda.

(3) Gubernur secara berkala menyampaikan laporan Perda kabupaten/kota yang sudah mendapatkan nomor register kepada Menteri.

(4) Perda yang belum mendapatkan nomor registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) belum dapat diundangkan dalam lembaran daerah dan belum mempunyai kekuatan hukum mengikat.

(5) Tata cara penomoran register Perda diatur dengan Peraturan Menteri

Pasal 126

(1) Rancangan Perda Provinsi yang mengatur tentang RPJPD, RPJMD, APBD, Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Tata Ruang Daerah harus mendapat evaluasi Menteri sebelum ditetapkan.

(2) Rancangan Perda Kabupaten/Kota yang mengatur tentang RPJPD, RPJMD, APBD, Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Tata Ruang Daerah harus mendapat evaluasi gubernur selaku wakil pemerintah pusat.

(3) Hasil evaluasi Rancangan Perda Provinsi, Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), apabila disetujui diikuti dengan pemberian nomor register.

(1) Perda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dibatalkan oleh Menteri.

(2) Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (2) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dibatalkan oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.

(3) Pembatalan Perda Provinsi dengan Keputusan Menteri dan pembatalan Perda Kabupaten/Kota dengan Keputusan Gubernur selaku wakil pemerintah pusat.

(4) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud.

(5) Apabila Provinsi tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan, gubernur sebagai Kepala Daerah Provinsi dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, sejak diterimanya keputusan pembatalan.

(6) Apabila Kabupaten/Kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan, bupati/walikota dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, sejak diterimanya keputusan pembatalan.

Pasal 128

memberlakukan Perda yang dibatalkan oleh Menteri atau gubernur, dikenakan sanksi.

(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. sanksi administratif; dan

b. sanksi penundaan pencairan dana perimbangan.

(3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diterapkan pada saat daerah masih mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung.

Bagian Keempat Peraturan Kepala Daerah

Pasal 129

(1) Untuk melaksanakan Perda atau atas kuasa peraturan perundang-undangan, kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah.

(2) Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilarang bertentangan dengan kepentingan umum, Perda, dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

(3) Gubernur wajib menyampaikan peraturan gubenur kepada Menteri paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan untuk mendapatkan nomor register peraturan kepala daerah.

(4) Bupati/Walikota wajib menyampaikan peraturan bupati/walikota kepada gubernur paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan untuk mendapatkan nomor register peraturan kepala daerah.

(5) Peraturan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum, Perda dan peraturan perundang undangan yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibatalkan oleh menteri untuk peraturan gubernur dan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk peraturan bupati/walikota.

(6) Peraturan Kepala Daerah yang belum mendapatkan nomor register sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) belum dapat diundangkan dalam berita daerah dan belum mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Bagian Kelima

Pengundangan Perda dan Peraturan Kepala Daerah

Pasal 130

(1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah.

(2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah.

(3) Kepala daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah.

Bagian Keenam

Satuan Polisi Pamong Praja

Pasal 131

(1) Untuk membantu Kepala Daerah dalam menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja.

(2) Polisi pamong praja adalah jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang penetapannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Polisi Pamong Praja melaksanakan tugas yustisia dan non yustisia.

adalah :

a. melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap warga masyarakat atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

b. menertibkan dan menindak warga masyarakat atau badan hukum yang mengganggu ketentraman dan ketertiban umum.

(5) Tugas non yustisia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah melakukan pemberdayaan kepada warga masyarakat dan fasilitasi kepada badan hukum tentang Perda dan peraturan Kepala Daerah;

(6) Tugas yustisia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat dilakukan oleh Anggota Satuan Polisi pamong Praja yang berkualifikasi sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (7) Satuan polisi pamong praja diangkat dari Pegawai Negeri

Sipil yang memenuhi syarat.

(8) Pegawai Negeri Sipil yang bertugas sebagai polisi pamong praja berhak memperoleh gaji dan tunjangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(9) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional.

(10) Pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional sebagaimana dimaksud dalam ayat (9) dilakukan oleh Kementerian yang meliputi kecakapan berkomunikasi, negosiasi, dan tindakan polisional.

(11) Kementerian dalam melakukan pendidikan dan pelatihan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (10) berkoordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung.

(12) Anggota satuan polisi pamong praja yang memenuhi syarat dapat diangkat sebagai penyidik Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(13) Ketentuan mengenai Satuan Polisi Pamong Praja diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 132

(1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Dalam Perda dapat ditunjuk penyidik pegawai negeri sipil lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum dan berkoordinasi dengan penyidik kepolisian setempat

BAB IX

Dokumen terkait