• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. Bibit Rambutan

5. Perawatan Bibit Okulas

Langkah-langkah perawatan bibit okulasi yang dilakukan di daerah penelitian, antara lain :

a. Pemeriksaan okulasi, yaitu dengan cara membuka lilitan penempelan dan mengamati mata tunas yang menempel. Jika mata tunas berwarna hijau segar, berarti okulasi berjalan sukses, tetapi jika mata tunas berwarna coklat, hitam, dan kering, maka okulasi tidak berhasil.

b. Penyiraman, dilakukan secara rutin dengan frekuensi 1 sampai 2 kali sehari, terutama jika sedang musim kemarau.

c. Pemupukan, dilakukan dengan frekuensi 1 kali dalam 3 bulan, dengan menggunakan campuran pupuk urea, TSP, dan KCl dengan perbandingan 2:1:1 sebanyak 3 sampai 5 gram per bibit.

d. Pemotongan ujung batang yang tumbuh di atas bekas okulasi, hal ini dilakukan jika mata tempel sudah mengeluarkan 2 sampai 3 helai tunas atau daun.

6. Penjualan bibit

Bibit yang telah berumur enam sampai delapan bulan kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang berukuran 25 cm x 20 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 hingga mencapai ¾ volume polybag.

Selama masa penyimpanan, bibit harus dipelihara, seperti penyiangan rumput dan gulma, penyiraman pada sore hari dan pengendalian hama dan penyakit. Setelah berumur enam sampai delapan bulan, dan bibit telah mencapai tinggi tanaman 70-100 cm, bibit sudah siap untuk dijual.

Jadwal kegiatan usahatani pembibitan tanaman buah dilakukan dengan pola usaha polikultur (durian, mangga, dan rambutan) mulai dari pengumpulan biji, pembuatan bedengan, hingga panen berlangsung selama 14 bulan untuk satu musim tanam. Secara rinci, jadwal kegiatan usaha pembibitan tanaman buah dapat dilihat pada tabel 9 dan tabel 10.

Tabel 9. Jadwal Kegiatan Usahatani Pembibitan Tanaman Durian dan Mangga.

No. Bulan Kegiatan

1. Desember Pengumpulan Biji dan Pengolahan Tanah 2. Januari Pembuatan Bedengan

3. Februari Penyemaian biji untuk batang bawah 4. Maret – Juni Pemeliharaan bibit untuk batang bawah 5. Juli Penyambungan dengan pucuk atas 6. Agustus Pemeliharaan di dalam sungkup

7. September-Desember Pemeliharaan bibit hasil sambung pucuk 8. Januari Panen dan Penjualan bibit

Sumber : Data diperoleh dari Hasil Wawancara dengan Penangkar Bibit Tanaman

Tabel 10. Jadwal Kegiatan Usahatani Pembibitan Tanaman Rambutan

No. Bulan Kegiatan

1. Desember Pengumpulan Biji dan Pengolahan Tanah 2. Januari Pembuatan Bedengan

3. Februari Penyemaian biji untuk batang bawah 4. Maret – Juni Pemeliharaan bibit untuk batang bawah 5. Juli Okulasi bibit dengan batang atas 6. Agustus - Desember Pemeliharaan bibit hasil okulasi. 7. Januari Panen dan Penjualan bibit

Sumber : Data diperoleh dari Hasil Wawancara dengan Penangkar Bibit Tanaman

Tabel 11. Perbandingan Pengelolaan Usahatani Bibit Durian dan Bibit Mangga Antara Anjuran Tinjauan Literatur dengan Keadaan di Daerah Penelitian. No. Tahapan Kegiatan Anjuran Keadaan di Lapangan Keterangan 1. Pengumpulan Biji

Pada biji mangga, biji yang telah dikumpulkan terlebih dahulu kulit luarnya dibuang lalu dikeringkan. Sedangkan untuk biji durian, biji yang telah dikumpulkan langsung dibersihkan dari sisa-sisa daging buah, dicuci sampai bersih. Setelah itu dikeringkan.

Untuk biji mangga, biji terlebih dahulu dikupas dari kulit luarnya. Sedangkan untuk biji durian, biji dibersihkan dari sisa- sisa daging buah,dan dicuci sampai bersih, setelah itu biji dikeringkan dengan meletakkannya di atas goni plastik.

Sesuai

2. Penyemaian Biji Biji yang telah dicuci dan dikeringkan kemudian disemai selama 2 sampai 3 bulan dengan sistem bedengan menggunakan media tanam tanah, dan

pupuk dengan perbandingan 1:1

Biji yang telah dicuci dan dikeringkan kemudian disemai di bedengan selama 2 sampai 3 bulan dengan media tanam tanah yang telah dicampurkan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 . Penyemaian dilakukan di bedengan. Di sekeliling media semai dibuat pagar pelindung, untuk menghindari

gangguan binatang piaraan atau ternak yang ada di sekitar lahan.

Sesuai

3. Penyambungan

Bibit

Bibit yang telah berumur sekitar 2 sampai 3 bulan disambung dengan pucuk yang telah disediakan. Penyambungan dilakukan di polybag yang telah diisi dengan campuran sabut kelapa (cocopeat) dan

tanah dengan perbandingan 1:3

Bibit yang telah disemai kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang berukuran tinggi 20 cm dan lebar 12 cm yang telah diisi dengan campuran sabut kelapa (cocopeat) dan tanah

dengan perbandingan 1: 3, lalu disambung dengan pucuk yang telah disediakan.

4. Pembuatan Sungkup Plastik

Setelah disambung, bibit diletakkan di dalam sungkup selama ± 1 bulan, kemudian bibit dibiarkan selama ± 1 bulan untuk beradaptasi dengan lingkungan luar.

Bibit yang telah disambung kemudian diletakkan di dalam sungkup selama ± 1 bulan sampai keluar tunas daun. kemudian bibit dibiarkan selama 20 hari untuk beradaptasi dengan lingkungan luar.

Sesuai

5. Pemeliharaan Setelah keluar dari

sungkup, bibit harus

dipelihara, seperti penyiangan rumput dan gulma, penyiraman pada sore hari dan pengendalian hama dan penyakit. Pemeliharaan setelah dikeluarkan dari sungkup harus dilakukan seperti penyiraman, penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit. Sesuai

6. Penjualan Bibit Bibit yang telah berumur lebih dari 1 bulan dikeluarkan dari dalam sungkup dipindahkan ke polybag baru yang diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang,pupuk kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1

hingga mencapai ¾ volume polybag. Setelah bibit berumur empat sampai enam bulan, dan telah mencapai tinggi tanaman 40-80 cm, bibit sudah siap untuk dijual.

Bibit yang keluar dari sungkup kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang berukuran 20 cm x 18 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 hingga mencapai ¾ volume polybag. Setelah bibit berumur empat sampai enam bulan, dan telah mencapai tinggi tanaman 40-80 cm, bibit sudah siap untuk dijual.

Tabel 12. Perbandingan Pengelolaan Usahatani Bibit Rambutan Antara Anjuran Tinjauan Literatur dengan Keadaan di Daerah Penelitian. No. Tahapan Kegiatan Anjuran Keadaan di Lapangan Keterangan 1. Pengumpulan Biji

Biji rambutan yang telah dikumpulkan dikupas kulit buahnya hingga diperoleh daging buah yang mengandung biji. Untuk menghilangkan daging buahnya dilakukan dengan cara fermentasi biasa atau dengan fermentasi asam keras.

Biji diperoleh penangkar dari penjual biji, biji yang digunakan penangkar ialah biji yang dibersihkan dengan fermentasi biasa. Kemudian biji dicuci bersih dengan air mengalir sampai bersih.

Sesuai

2. Penyemaian Biji

Penyemaian biji rambutan

dilakukan dengan sistem

pembedengan. Bedengan dilengkapi dengan tiang persemaian dan atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa atau plastik transparan (tembus cahaya). Semaikan biji rambutan satu per satu sedalam 1,5 cm sampai 2,5 cm. Siram medium semai hingga tanah agak basah atau lembab, biji rambutan biasanya akan tumbuh atau berkecambah setelah umur 15 hari.

Penyemaian

dilakukan di bedengan pembibitan

yang dibuat dengan lebar 1 sampai 2 meter dan dengan tinggi 20 sampai 30 cm.

Setelah biji ditanam, media semai disiram hingga cukup basah (jenuh dengan air). Kemudian media semai ditutup dengan plastik transparan untuk menjaga kelembapan media semai. Sesuai 3. Perawatan Bibit Semai Dilakukan kegiatan perawatan, seperti penyiraman yang dilakukan

1 sampai 2 kali sehari, penyiangan, pemupukan, penyemprotan pestisida dengan dosis rendah jika ada serangan hama dan penyakit.

Bibit rambutan kemudian dirawat sampai umur bibit 4-6 bulan. Dengan cara: Penyiraman, Penyiangan, Pemupukan, dan Pemberantasan hama penyakit Sesuai

4. Okulasi Bibit Tahapan pertama dalam

okulasi ialah menyediakan

cabang/dahan yang digunakan sebagai batang

atas. Kulit dahan yang bermata tunas beserta kayunya disayat menyerupai huruf U terbalik. disediakan cabang yang berfungsi sebagai batang atas yang telah diiris tipis sepanjang 3 cm.Kemudian disisipkan

Dipilih bibit yang digunakan sebagai batang bawah, pangkal pohon.

Kulit pohon diiris dengan membentuk huruf U terbalik, kulit bawahnya dikorek dengan menggunakan ujung pisau, lalu dikelupas. Memotong dua pertiga bagian

mata tunas ke dalam celah sayatan batang bawah yang telah disayat, lilit bidang tempelan dengan rafia, tempelan dibiarkan selama ± 2 sampai 3 minggu.

kulit batang bawah yang telah dikelupas, sedangkan sepertiga bagian tersisa digunakan untuk menjepit kulit ’mata’

yang akan ditempelkan.

Menyediakan pucuk yang berfungsi sebagai batang atas, pucuk diiris sepanjang 3 cm, lalu dipotong. Disisipkan mata tunas ke dalam celah sayatan batang bawah. Bidang tempelan dililitkan dengan tali rafia. Dibiarkan selama 25 hari.

Sesuai

5. Perawatan Bibit Okulasi

Bibit okulasi harus dipelihara, antara lain dengan langkah-langkah seperti pemeriksaan mata

tunas tempel, penyiraman,pemupukan,

pemotongan ujung batang pokok. Bibit okulasi sebaiknya dirawat selama kira-kira 6-8 bulan.

Bibit okulasi diperiksa, yaitu dengan cara membuka lilitan penempelan dan mengamati mata tunas yang menempel Penyiraman,

Pemupukan,

dilakukan dengan frekuensi 1 kali dalam

3 bulan, menggunakan

campuran pupuk urea, TSP, dan KCl dengan perbandingan 2:1:1 sebanyak 3 sampai 5 gram per bibit. Pemotongan ujung batang yang tumbuh.

Sesuai

6. Penjualan Bibit

Setelah umur bibit mencapai 6-8 bulan, dan tinggi bibit tanaman mencapai 70-100 cm kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang berukuran 25 cm x 20 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 hingga mencapai ¾ volume

polybag,bibit rambutan dapat

dijual.

Bibit yang telah berumur enam sampai

delapan bulan kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang berukuran 25 cm x 20 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 hingga mencapai ¾ volume polybag. Sesuai

Dari tabel 11 dan 12, dapat diketahui bagaimana pengelolaan usahatani Bibit Tanaman Buah di daerah penelitian. Dalam melakukan pengelolaan usahatani, petani di daerah penelitian pada umumnya sudah mengikuti anjuran yang terdapat pada literatur karangan AAK dan Neni Suhaeni. Maka hipotesis 1 yang menyatakan bahwa pengelolaan usahatani pembibitan tanaman buah sudah intensif dapat diterima.

Kesempatan Kerja

Dalam menjalankan usahataninya, petani membutuhkan tenaga kerja. Tenaga kerja manusia ini digunakan untuk tahapan kerja seperti pengupasan biji, penyemaian benih, penyiraman, penyambungan/okulasi, penyiapan media tanam, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Besarnya jumlah tenaga kerja yang digunakan diukur dari besarnya jumlah hari kerja setara pria (HKP). Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pembibtan tanaman buah ini meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga, akan tetapi di daerah penelitian lebih banyak dgunakan tenaga kerja luar keluarga dibandingkan tenaga kerja dalam keluarga.

Besarnya curahan tenaga kerja dalam usahatani pembibitan tanaman buah menurut jenis tanaman di daerah penelitian selama 1 tahun dapat dilihat pada tabel 13 :

Tabel 13. Total Rata-rata Curahan Tenaga Kerja pada Usahatani Pembibitan Tanaman Durian Per Petani Selama 1 Tahun.

Tahapan Kegiatan Jlh.T.Kerja (Orang) Curahan Tenaga Kerja (HKP) Total Per Petani (HKP ) Persentase (%) TKD K TKL K TKD K (HKP) TKL K (HKP) TKD K (%) TKL K (%) Pembersihan Biji 6,40 16,30 6,8 17,96 24,76 27,46 72,53 Penyemaian Benih 1,40 4,70 4,04 13,5 17,54 23,03 76,96 Penyiraman 1,17 4,03 39,66 134,16 173,82 22,81 77,18 Penyiapan Media Tanam 0,70 3,50 7 33,2 40,2 17,41 82,58 Penyambunga n 0,93 3,00 3.4 19,43 22,83 14,89 85,10 Pemupukan 0,97 3,33 3.8 19,06 22,86 16,62 83,37 Pengendalian HPT 1,13 3,30 6,8 19,8 26,6 25,56 74,43 TOTAL 12,70 38,16 71,5 257,11 328,61 21,75 78,25

Sumber : Data diolah dari Lampiran 8.

Berdasarkan tabel 13 di atas dapat diketahui bahwa total rata-rata untuk curahan tenaga kerja pada usahatani pembibitan tanaman durian per petani selama 1 tahun adalah sebesar 328,61 HKP dengan uraian curahan tenaga dalam keluarga adalah sebesar 71,5 HKP per petani atau 21,75 % dari total curahan tenaga kerja per petani dan curahan tenaga luar keluarga adalah sebesar 257,11 HKP atau 78,25 % per petani dari total curahan tenaga kerja per petani.

Tabel 14. Total Rata-rata Curahan Tenaga Kerja pada Usahatani Pembibitan Tanaman Mangga Per Petani Selama 1 Tahun.

Tahapan Kegiatan Jlh.T.Kerja (Orang) Curahan Tenaga Kerja (HKP) Total Per Petani (HKP ) Persentase (%) TKD K TKL K TKD K (HKP) TKL K (HKP) TKD K (%) TKL K (%) Pembersihan Biji 6,90 16,00 7,20 17,44 24,64 29,22 70,77 Penyemaian Benih 1,06 5,10 3,12 14,48 17,6 17,72 82,27 Penyiraman 1,00 3,40 33,83 111,53 145,36 23,27 76,72 Penyiapan Media Tanam 0,70 3,70 7,00 34,73 41,73 16,77 83,22 Penyambunga n 0,97 2,33 3,8 15,03 18,83 20,18 79,81 Pemupukan 0,97 2,33 3,66 14,86 18,52 19,76 80,23 Pengendalian HPT 0,97 2,33 5,8 14,00 19,8 29,29 70,70 TOTAL 12,57 35,19 64,41 222,07 286,48 22,48 77,51

Sumber : Data diolah dari Lampiran 10

Berdasarkan tabel 14 di atas dapat diketahui bahwa total rata-rata untuk curahan tenaga kerja pada usahatani pembibitan tanaman durian per petani selama 1 tahun adalah sebesar 286,48 HKP dengan uraian curahan tenaga dalam keluarga adalah sebesar 64,41 HKP per petani atau 22,48 % dari total curahan tenaga kerja per petani dan curahan tenaga luar keluarga adalah sebesar 222,07 HKP atau 77,51 % per petani dari total curahan tenaga kerja per petani.

Tabel 15. Total Rata-rata Curahan Tenaga Kerja pada Usahatani Pembibitan Tanaman Rambutan Per Petani Selama 1 Tahun.

Tahapan Kegiatan Jlh.T.Kerja (Orang) Curahan Tenaga Kerja (HKP) Total Per Petani (HKP) Persentase (%) TKDK TKLK TKDK (HKP) TKLK (HKP) TKDK (%) TKLK (%) Pembersihan Biji 6,60 17,00 7,03 19,57 26,60 26,43 73,56 Penyemaian Benih 1,36 6,40 3,96 18,44 22,4 17,67 82,32 Penyiraman 1,17 4,03 36,83 124,58 161,41 22,81 77,18 Pemupukan 4,70 15,10 7,6 38,4 46 16,52 83,47 Okulasi Bibit 0,97 3,33 3,96 20,06 24,03 16,50 83,49 Pemeriksaan Hasil Okulasi 0,97 3,33 2,97 15,05 18,02 16,50 83,49 Pengendalian HPT 0,97 3,33 5,8 20 25,8 22,48 77,51 TOTAL 16,74 52,52 68,19 256,14 324,24 21,01 78,92

Sumber : Data diolah dari Lampiran 12

Berdasarkan tabel 15 di atas dapat diketahui bahwa total rata-rata untuk curahan tenaga kerja pada usahatani pembibitan tanaman rambutan per petani selama 1 tahun adalah sebesar 324,24 HKP dengan uraian curahan tenaga dalam keluarga adalah sebesar 68,19 HKP per petani atau 21,01 % dari total curahan tenaga kerja per petani dan curahan tenaga luar keluarga adalah sebesar 256,14 HKP atau 78,92 % per petani dari total curahan tenaga kerja per petani.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa untuk keseluruhan penggunaan tenaga kerja dalam usahatani pembibitan buah di daerah penelitian lebih banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga daripada tenaga kerja dalam keluarga.

Untuk tahapan kerja seperti pembersihan biji, penyemaian benih, penyiraman, dan penyiapan media tanam tidak memerlukan skill (kemampuan

khusus), dan tahapan kerja ini lebih banyak dikerjakan oleh tenaga kerja pria dan wanita yang berasal dari luar keluarga.

Sedangkan untuk tahapan kerja seperti penyambungan, pemupukan, dan pengendalian HPT memerlukan skill (kemampuan) khusus seperti teknik penyambungan bibit, teknik okulasi bibit, dimana petani lebih banyak menggunakan tenaga kerja pria luar keluarga yang telah memiliki skill khusus ini. Di daerah penelitian, petani memberikan upah yang lebih tinggi kepada tenaga kerja yang memiliki skill khusus yaitu Rp.60.000/HKP, dan upah untuk tenaga kerja yang tidak memiliki skill khusus yaitu Rp.30.000/HKP untuk tenaga kerja pria dan Rp.25.000 untuk tenaga kerja wanita.

Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan bahwa curahan tenaga kerja luar keluarga lebih besar daripada curahan tenaga kerja dalam keluarga pada usahatani pembibitan tanaman buah di daerah penelitian dapat diterima.

Biaya Produksi

Biaya produksi ialah keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh petani selama proses produksi masih berlangsung. Biaya produksi terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost).

Di dalam usahatani pembibitan tanaman buah, yang menjadi komponen biaya tetap (fixed cost) meliputi biaya : biaya pajak tanah (PBB), dan penyusutan peralatan. Biaya tidak tetap (variable cost) meliputi : biaya tenaga kerja, yaitu tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga, biaya sarana produksi yaitu biaya pupuk, biaya obat-obatan, biaya bibit, biaya polybag, dan biaya media tanam.

Komponen Biaya Tetap (Fixed cost) Biaya Lahan

Biaya lahan yang dimaksud adalah biaya pajak tanah (PBB). Sebagian besar petani di daerah penelitian mempunyai lahan sendiri, sehingga petani harus membayar pajak tanah (PBB) sebesar yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Besarnya biaya lahan yang harus dibayar oleh petani setiap tahunnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 16. Total Rata-rata Biaya Pajak Tanah Pada Usahatani Pembibitan Tanaman Buah Selama 1 Tahun

Luas Lahan (Ha) Biaya Pajak Per Petani (Rp)

Total 13,86 2.962.000

Rataan 0,46 98.733

Range 0,12 – 3 25.000-645.000

Sumber : Data diolah dari Lampiran 15.

Berdasarkan tabel 16 di atas dapat diketahui bahwa total rata-rata biaya untuk pajak tanah (PBB) selama 1 Tahun adalah Rp. 98.733/petani dengan rataan luas lahan adalah 0,46 Ha/petani.

Biaya Penyusutan Peralatan

Nilai penyusutan peralatan yang dihitung adalah biaya penyusutan peralatan yang digunakan petani selama 1 tahun.

Peralatan yang digunakan dalam usahatani pembibitan tanaman buah adalah : Cangkul, Pisau Okulasi, Bambu, Plastik Sungkup, Beko, Selang air, dan Mesin air.

Besarnya biaya penyusutan peralatan pada usahatani pembibitan tanaman buah ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 17. Total Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Usahatani Pembibitan Tanaman Buah Per Petani Selama 1 Tahun.

No. Peralatan Biaya Penyusutan Per Petani (Rp) Persentase (%) 1. Cangkul 12.400 0,4 2. Pisau Okulasi 12.083 0,38 3. Bambu 280.670 9,04 4. Plastik Sungkup 2.058.212 66,22 5. Beko 118.667 3,82 6. Selang air 55.958 1,80 7. Mesin air 570.000 18,34 Total Biaya 3.107.990 100

Sumber : Data diolah dari Lampiran 14

Berdasarkan tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa total biaya untuk penyusutan peralatan pada usahatani pembibitan tanaman buah per petani selama 1 tahun adalah sebesar Rp. 3.107.990. Biaya penyusutan terbesar adalah pada plastik sungkup yaitu Rp. 2.058.212/petani atau 66,22 %, hal ini disebabkan karena plastik sungkup memiliki umur ekonomis yang tidak terlalu lama yaitu 2 tahun apabila dibandingkan dengan peralatan lainnya, sehingga petani lebih sering mengganti dan membeli plastik sungkup yang baru.

Biaya penyusutan terkecil adalah pada pisau okulasi yaitu Rp.12.083/ petani atau 0,38 %. Hal ini disebabkan pisau okulasi yang memiliki

umur yang lebih lama dibandingkan dengan peralatan lainnya yaitu 6 tahun, sehingga petani tidak sering mengganti dan membeli pisau okulasi.

Komponen Biaya tidak tetap (Variable cost) Biaya Sarana Produksi

Biaya sarana produksi pada usahatani pembibitan tanaman buah meliputi : biaya pupuk, biaya obat-obatan, biaya bibit, biaya polybag, dan biaya media

tanam. Besarnya biaya sarana produksi pada usahatani pembibitan tanaman buah di daerah penelitian menurut jenis tanaman dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 18. Total Rata-rata Biaya Sarana Produksi Usahatani Pembibitan Tanaman Durian Per Petani Selama 1 Tahun

No. Sarana

Produksi Biaya Sarana Produksi Per Petani (Rp) Persentase (%) 1. Bibit 2.287.200 31,79 2. Polybag 470.318 6,53 3. Pupuk 1.993.676 27,71 4. Obat-obatan 1.757.332 24,42 5. Media Tanam 686.160 9,53 Total Biaya 7.194.686 100

Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

Berdasarkan tabel 18 di atas dapat diketahui bahwa total biaya untuk sarana produksi pada usahatani pembibitan tanaman durian per petani selama 1

tahun adalah sebesar Rp. 7.194.686. Biaya bibit adalah sebesar Rp. 2.287.200/ petani. Biaya polybag adalah sebesar Rp. 470.318/ petani. Biaya

pupuk adalah sebesar Rp. 1.993.676/ petani. Biaya obat-obatan adalah sebesar Rp. 1.757.332/ petani. Biaya media tanam adalah sebesar Rp. 686.160/ petani.

Biaya sarana produksi terbesar adalah bibit yaitu Rp. 2.287.200/petani atau 31,51%. Hal ini disebabkan karena petani membeli biji dan pucuk yang berasal dari luar daerah, sehingga harga per bijinya mahal. Biaya sarana produksi terkecil adalah polybag yaitu Rp. 470.318/ petani atau 6,53 %, hal ini disebabkan karena petani tidak sulit dalam memperoleh sarana produksi ini, harga per polybagnya juga tidak mahal karena petani membeli dalam jumlah banyak (per 1 bal).

Tabel 19. Total Rata-rata Biaya Sarana Produksi Usahatani Pembibitan Tanaman Mangga Per Petani Selama 1 Tahun.

No. Sarana Produksi

Biaya Sarana Produksi Per Petani (Rp) Persentase (%) 1. Bibit 3.038.933 31,14 2. Polybag 341.264 3,49 3. Pupuk 2.884.170 29,55 4. Obat-obatan 2.542.261 26,05 5. Media Tanam 951.280 9,75 Total Biaya 9.757.908 100

Sumber : Data diolah dari Lampiran 5

Berdasarkan tabel 19 di atas dapat diketahui bahwa total biaya untuk sarana produksi pada usahatani pembibitan tanaman mangga per petani selama 1

tahun adalah sebesar Rp. 9.757.908. Biaya bibit adalah sebesar Rp. 3.038.933/petani. Biaya polybag adalah sebesar Rp. 341.264/ petani. Biaya

pupuk adalah sebesar Rp. 2.884.170/ petani. Biaya obat-obatan adalah sebesar Rp. 2.542.261/ petani. Biaya media tanam adalah sebesar Rp. 951.280/ petani. Biaya sarana produksi terbesar adalah pada bibit yaitu Rp. 3.033.067/petani atau 31,10 %. Hal ini disebabkan karena petani memperoleh biji dan pucuk berasal dari luar daerah, sehingga harga bibit per bijinya mahal. Biaya sarana produksi terkecil adalah pada polybag yaitu Rp. 340.624/ petani atau 3,49 %, hal ini disebabkan karena petani tidak sulit dalam memperoleh sarana produksi ini, harga per polybagnya juga tidak mahal karena petani membeli dalam jumlah banyak (per 1 bal).

Tabel 20. Total Rata-rata Biaya Sarana Produksi Usahatani Pembibitan Tanaman Rambutan Per Petani Selama 1 Tahun.

No. Sarana Produksi

Biaya Sarana Produksi Per Petani (Rp) Persentase (%) 1. Bibit 2.198.900 33,83 2. Polybag 651.833 10.04 3. Pupuk 439.955 6,77 4. Obat-obatan 1.621,479 24,98 5. Media Tanam 1.557.823 24,31 Total Biaya 6.489.991 100

Sumber : Data diolah dari Lampiran 7

Berdasarkan tabel 20 di atas dapat diketahui bahwa total biaya rata-rata untuk sarana produksi pada usahatani pembibitan tanaman rambutan per petani

selama 1 tahun adalah sebesar Rp. 6.489.991. Biaya bibit adalah sebesar Rp. 2.198.900/ petani. Biaya polybag adalah sebesar Rp. 651.833/ petani. Biaya

pupuk adalah sebesar Rp. 439.955/ petani. Biaya obat-obatan adalah sebesar Rp. 1.621,479/ petani. Biaya media tanam adalah sebesar Rp. 1.557.823/ petani.

Biaya sarana produksi terbesar adalah pada bibit yaitu Rp. 2.198.900/petani atau 33,83 %. Hal ini disebabkan karena petani memperoleh biji dan pucuk berasal dari luar daerah, sehingga harga bibit per bijinya mahal. Biaya sarana produksi terkecil adalah pada pupuk yaitu Rp. 439.955/ petani atau 6,77 %. Hal ini disebabkan karena bibit rambutan menggunakan dosis pupuk yang lebih sedikit dibandingkan dengan pupuk yang digunakan pada tanaman durian dan mangga.

Biaya Tenaga Kerja

Dalam usahatani pembibitan tanaman buah ini, petani lebih banyak menggunakan tenaga kerja manusia dalam kegiatan usahataninya. Tenaga kerja manusia ini digunakan untuk tahapan kerja seperti pengupasan biji, penyemaian benih, penyiraman, penyambungan/okulasi, penyiapan media tanam, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Besarnya biaya tenaga kerja pada usahatani pembibitan tanaman ini berbeda untuk setiap tahapan kerja yang dilakukan. Rata-rata penggunaan tenaga kerja di daerah penelitian menurut jenis tanaman dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 21.Total Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Usahatani Pembibitan Tanaman Durian Per Petani Selama 1 Tahun.

Biaya Tenaga Kerja

Curahan Tenaga Kerja Per Petani (Rp)

Persentase (%) TKDK TKLK TKDK TKLK Pembersihan Biji 196.667 521.000 8,85 6,43 Penyemaian Benih 118.000 393.000 5,33 4,85 Penyiraman 1.166.667 3.885.000 52,53 48,01 Penyiapan Media Tanam 210.000 960.000 9,46 11,86 Penyambungan 204.000 1.166.000 9,18 14,41 Pemupukan 114.000 572.000 5,13 7,06 Pengendalian HPT 204.000 594.000 9,18 7,34 TOTAL 2.213.334 8.091.000 21,48 78,52 TOTAL BIAYA 10.304.334 100

Sumber : Data diolah dari Lampiran 9

Berdasarkan tabel 21 di atas dapat diketahui bahwa total biaya rata-rata untuk penggunaan tenaga kerja pada usahatani pembibitan tanaman durian per petani selama 1 tahun adalah sebesar Rp. 10.304.334. Biaya tenaga kerja ini terdiri dari biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan biaya tenaga kerja luar

Dokumen terkait