BAB 4 PERAWATAN KLEIDOKRANIAL DISPLASIA
4.2 Perawatan kombinasi pembedahan dan ortodonti
Perawatan terhadap anomali pada penderita Kleidokranial displasia dapat dilakukan dengan kombinasi tindakan bedah dan perawatan ortodonti. Menurut Davies,14 kombinasi tindakan bedah dan perawatan ortodonti lebih memuaskan, baik fungsional maupun estetis. Tindakan ini meliputi ekstraksi gigi desidui dan supernumerary teeth, exposure gigi permanen yang tidak erupsi dan traksi gigi dengan kekuatan ortodonti (Gambar16).18 Perawatan ini dilakukan sebelum pasien dewasa, maka rendahnya ketinggian wajah bagian tengah dan prognatisme mandibula dapat dicegah.2
a b
c
Gambar 16 a. Exposure mahkota gigi permanen pada regio anterior b. Pemasangan bracket ortodonti c. traksi gigi dengan kekuatan ortodonti (Hemalatha R, Balasubramaniam MR. Cleidocranial dysplasia: a case report. J Indian Soc Pedod Prev Dent 2008: 26(1) :40-3)
Menurut Jensen dan Kreiborg3, prognosa tindakan bedah dan perawatan ortondonti tergantung pada jumlah supernumerary teeth. Oleh karena itu, perawatan ortodonti sebaiknya dilakukan sebelum terbentuk supernumerary teeth.
Pesawat yang digunakan pasien terdiri dari 2 tahapan. Pada tahap pertama, pesawat ortondonti bertujuan untuk mengekstruksikan gigi permanen yang impaksi. Pesawat ini terbuat dari kawat stainless steel yang kaku, biasanya berdiameter 0,036 inci. Pada tahap kedua, pesawat ortodonti bertujuan untuk meluruskan/ menyusun posisi gigi pada lengkung rahang. Pesawat ini terbuat dari kawat yang lebih fleksibel yang dikenal dengan incisor aligning arch wire.27
Jika pasien memiliki kebiasaan mendorong lidah, Transpalatal arch space maintainer dengan fixed tongue crib dapat diberikan untuk menghentikan kebiasaan tersebut(Gambar17).28
Gambar 17 Transpalatal-arch wire dengan fixed tongue crib (Hemalatha R, Balasubramaniam MR. Cleidocranial dysplasia: a case report. J Indian Soc Pedod Prev Dent 2008: 26(1) :40-3)
Setelah pesawat ortodonti dibuat, seluruh supernumerary teeth dan gigi desidui pada regio anterior diekstraksi, dan dilakukan tindakan bedah untuk meng-exposure mahkota gigi permanen regio anterior. Jika perawatan dilakukan pada pasien yang telah dewasa, ekstraksi dilakukan pada seluruh gigi desidui sekaligus. Exposure mahkota gigi permanen hanya dilakukan pada tulang bagian labial/bukal untuk mempertahankan ketinggian tulang alveolar.
Selain kombinasi tindakan bedah dan ortodonti, salah satu pilihan perawatan masalah gigi geligi pada penderita Kleidokranial displasia adalah mengekstraksi seluruh gigi desidui diikuti dengan pembuatan gigi tiruan biasa atau penggunaan implan. Lombardas mengusulkan penggunaan osseointegrated implant pada lengkung maksila untuk menjaga estetis dan retensi gigi tiruan penuh.14
Namun pada saat ini, penanganan masalah gigi geligi penderita Kleidokranial displasia dengan kombinasi tindakan bedah dengan pemakaian protesa telah ditinggalkan. Karena kombinasi tindakan bedah dengan pemakaian protesa memperlihatkan prognosa yang rendah dan membutuhkan waktu kunjungan yang berulang.8
BAB 5 KESIMPULAN
Kleidokranial displasia adalah suatu sindroma kelainan pada tulang yang disebabkan oleh mutasi gen CBFA I(core binding factor alpha I)/RUNX2 pada kromosom 6p21. Mutasi gen ini dapat diturunkan melalui gen autosomal dominan dan dapat terjadi secara spontan.
Kleidokranial displasia biasanya ditandai dengan aplasia atau hipoplasia klavikula, baik unilateral maupun bilateral yang mengakibatkan hipermobiliti bahu. Gambaran klinis dari Kleidokranial displasia dapat dilihat juga pada sebagian besar anggota tubuh. Pada penderita Kleidokranial displasia dapat terlihat palatum yang tinggi pada rongga mulutnya. Hal ini disebabkan adanya pertumbuhan yang abnormal pada tengkorak. Penderita Kleidokranial displasia juga mengalami gangguan pertumbuhan gigi geligi seperti persistensi gigi desidui, keterlambatan atau kegagalan erupsi gigi permanen, dan perkembagan supernumerary teeth.
Pada pemeriksaan radiologi didapat gambaran yang kompleks. Pada foto rontgen tengkorak terlihat tulang frontal yang besar disertai dengan kurang menutupnya sutura. Pada foto dental terlihat susunan gigi geligi yang tidak beraturan dengan rahang yang sempit. Foto thorak terlihat tulang bahu yang mengalami aplasia atau hipoplasia. Foto pelvis terlihat penutupan simphisis yang kurang sempurna.
Perawatan dari Kleidokranial displasia ini tidak memiliki pola perawatan yang tepat dan jelas. Jenis perawatan yang diperlukan tergantung pada kesehatan individu tersebut. Untuk menangani masalah dental yang merupakan masalah yang utama bagi
penderita Kleidokranial displasia maka dilakukan beberapa perawatan yaitu perawatan bedah ortognatik dan perawatan ortodonti yang dikombinasikan dengan perawatan bedah.
Diagnosa dan perawatan Kleidokranial displasia sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk mencegah terjadinya anomali dental yang lebih parah. Anomali dental yang dijumpai pada Kleidokranial diplasia sangat kompleks sehingga diperlukan kerja sama yang baik dari beberapa disiplin ilmu seperti bedah mulut dan ortodontik sehingga diperoleh hasil perawatan yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Schuurs AHB, Moorer WR, Prahl-Andersen B, Thoden van Velsen SK, Visser JB. Patologi gigi geligi: kelainan-kelainan jaringan keras gigi. Alih bahasa: Sutatmi Suryo Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992: 280-8.
2. Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouqout JE. Oral & maxillofacial pathology. 2nd ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company,2002 : 537-9.
3. Stafne.EC. Oral radiographic diagnosis. 5th ed. Philadelphia : W.B.Saunders Company, 1985 : 286-287.
4. Sudiono.J. Gangguan tumbuh kembang dentokraniofasial. Jakarta : EGC, 2008 : 72-74.
5. Wood NK, Goaz PW. Differential diagnosis of oral and maxillofacial Lessions. 5th ed. St. Louis : Mosby, 1997 :506-507.
6. Mundlos S. Cleidocranial dysplasia: Clinical and molecular genetic. J med Ganet 1999: 36 : 177-82.
7. Children’s craniofacial association. Cleidocranial dysplasia. 20 Mei 2008. <
8. Kolokhita OG, Papadopoulou AK. Cleidocranial dysplasia: etiology, clinical characteristic, diagnostic information and treatment approach. Hell Orthod Rev 2008: 11: 21-33.
9. Tanaka JLO, Ono E, Filho EM, Castilho JCM, Moraes LC, Moraes MEL. Cleidocranial dysplasia: importance of radiographic images in diagnosis of the conditions. J Oral Sci 2006: 48(3): 161-6.
10. Mendozo-Londono R, Lee B. Cleidocranial dysplasia. January 3 2006.
11. Reddy SK. Cleidocranial Dysplasia (Dysostosis) – A Case Report. The Orthodontic CYBERjournal, March 2010.
12. Vojvodić D, Komar D, Žabarović D. Prosthetic Rehabilitation of a patient with
Cleidocranial dystosis: a clinical report. Acta Stomatol Croat 2007 : 41(3) : 273-8.
13. Silva. C, Dirienzo. S,Serman. N. Cleidocranial dysplasia: a case report. Col Dent Rev 1997: 2 :26.
14. López BSG, Solalinde CO, Ito TK, Carillo EL, Soladinde EO. Cleidocranial dysplasia: report of a family. JOral Sci 2004: 46(4): 259-66.
15.Go lan I, Bau mert U, Hrala BP, Műβig D. Dentomaxillofacial variability of
cleidocranial dysplasia: clinicoradiological presentation and systematic review. Dentomaxillofacial radiology 2003: 32: 347-54.
16. Laskaris George. Color atlas of oral diseases. Greece: Litsas Medical Publications ,1986 : 36-37.
17. Archer. WH. Oral and maxillofacial surgery. Vol I. 5th ed.Philadelphia : W.B.Saunders Company, 1975 : 366-74.
18. Daskalogiannakis J, Piedade L, Lidholm TC, Sándor GKB, Carmichael RP. Cleidocranial dysplasia: 2 generations of management. J Can Dent Assoc 2006: 72(4): 337-42.
19. McNamara CM, O’Riordan BC, Blake M, Sandy JR. Cleidocranial dysplasia : Radiological appearances on dental panoramic radiography. Dentomaxillofacial Radiology 1999: 28 : 89-97.
20. Garg RK, Agrawal P. Clinical spectrum of cleidocranial dysplasia: a case
report. 8 Desember 2008. <
Agustus 2010).
21. Genetic Information and Patient Services Inc. Cleidocranial dysplasia.
22. Babyn PS. Teaching atlas of pediatric imaging. New York: Thieme Medical Publishers Inc,2005 :619.
23. Jensen BL, Kreiborg S. Dental treatment strategies in cleidocranial dysplasia. Br Dent J 1992: 172: 243-7.
24. Angle AD, Robellato J. Dental management for a patient with cleidocranial dystosis. Am J Orthod DentofacialOrthop 2005; 128: 110-7.
25. Ishii K, Nielsen IL, Vargervik K. Characteristics of jaw growth in cleidocranial dysplasia. Cleft Palate-Craniofacial J 1998: 35(2): 161-6.
26. Petropoulus VC, Balshi TJ, Balshi SF, Wolfinger GJ. Treatment of a patient with cleidocranial dysplasia using osseointegrated implants: a patient report: Int J Oral Maxillofac Implants 2004: 19: 282-7.
27. Adrian Becker. The orthodontic treatment of impacted teeth. 2nd ed. United Kingdom: Informa, 2007: 299-23.
28. Hemalatha R, Balasubramaniam MR. Cleidocranial dysplasia: a case report. J Indian Soc Pedod Prev Dent 2008: 26(1) :40-3.
29. Langlais.RP. Atlas berwarna kelainan rongga mulut yang lazim. Jakarta: Hipokrates, 1998 :14.
30. Dhaif B, McManus . Cleido-cranial dystosis. case report and review of skeletal abnormalities. Bahrain Medical Bulletin 1996: 18(4)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap : Imme Paulina
Tempat/ Tanggal Lahir : Dumai/18 Januari 1988 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jln.Setia Budi Psr.1 gg. Beo no 9A Orangtua
Ayah : Janaik Saragih, SE.,MBA Ibu : Dameria Nababan
Alamat : Jln.Setia Budi Psr.1 gg. Beo no 9A Riwayat Pendidikan
1. 1993-1999 : SD St.Tarcisius, Dumai 2. 1999-2002 : SLTP St.Tarcisius, Dumai 3. 2002-2005 : SMA Negeri 4, Medan