Bab 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Perawatan Payudara pada Ibu Nifas
2.2.1. Fisiologi Laktasi
Selama 9 bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh untuk mempersiapkan fungsinya sebagai penyedia makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, hormon esterogen dan progesteron menurun sedangkan hormon prolaktin meningkat (Maryunani, 2009). Hormon prolaktin ini menyebabkan peningkatan sirkulasi darah pada payudara sehingga menyebabkan payudara terasa hangat, bengkak, dan menimbulkan rasa sakit (Hamilton, 1995). Selain itu, prolaktin ini juga merangsang sel-sel alveoli untuk menghasilkan ASI sehingga proses laktasi pun dimulai (Maryunani, 2009).
ASI biasanya diproduksi pada hari ketiga sampai hari keempat setelah melahirkan. Sebelum ASI dihasilkan, cairan yang diperoleh bayi setelah dilahirkan adalah kolostrum. Kolostrum merupakan cairan yang diproduksi oleh payudara selama tiga sampai empat hari pertama setelah melahirkan (Reeder, 2011). Kolostrum ini
mengandung protein, mineral, dan antibodi yang sangat diperlukan oleh bayi baru lahir (Sulistyawati, 2010). Setelah hari keempat maka kolostrum akan berubah menjadi ASI. Kandungan ASI terdiri dari protein, lemak, vitamin, mineral, dan gula yang dibutuhkan untuk gizi bayi (Reeder, 2011).
Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara refleks mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar pituitari (Mochtar, 1998). Oksitosin ini menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus payudara dan duktus laktiferus. Sel-sel inilah yang mendorong ASI keluar dari alveoli melalui duktus laktiferus menuju sinus laktiferus, tempat ASI akan disimpan. Pada saat bayi menghisap, ASI di dalam sinus tertekan keluar, ke mulut bayi. Gerakan ASI dari sinus ini dinamakan let-down reflect atau pelepasan (Sulistyawati, 2010). Hal ini menyebabkan produksi ASI menjadi semakin banyak, dan involusi uteri akan menjadi lebih sempurna (Mochtar, 1998).
Seiring dengan peningkatan produksi ASI maka bayi harus disusui dengan adekuat. Karena jika tidak, sisa ASI akan terkumpul di dalam saluran susu yang akan menyebabkan terjadi pembengkakan payudara. Selain pembengkakan payudara, terdapat beberapa masalah yang terjadi pada saat menyusui seperti puting susu lecet yang disebabkan oleh kesalahan teknik menyusui, saluran ASI tersumbat, dan mastitis (Maryunani, 2009). Masalah-masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan perawatan payudara. Oleh karena itu, perawatan payudara sangat dibutuhkan pada saat laktasi.
2.2.2. Prosedur Perawatan Payudara
Perawatan payudara pada masa nifas adalah perawatan yang dilakukan pada
payudara ibu pascasalin atau sesudah melahirkan. Tujuan perawatan payudara pada
masa nifas adalah untuk memelihara kebersihan payudara agar terhindar dari infeksi, meningkatkan produksi ASI dengan merangsang kelenjar-kelenjar air
susu melalui pemijatan, mencegah bendungan ASI/pembengkakan payudara, melenturkan dan menguatkan puting, mengetahui secara dini kelainan puting susu dan melakukan usaha untuk mengatasinya (Saryono & Pramitasari, 2008). Selain itu juga bertujuan untuk kenyamanan bagi ibu (Reeder, 2011).
Hal ini menunjukkan bahwa perawatan payudara sangat penting dilakukan pada masa nifas, sehingga ibu nifas harus bisa melakukan perawatan payudara setelah melahirkan. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka diperlukan suatu prosedur tindakan yang berisi langkah-langkah dalam melakukan perawatan payudara pada masa nifas. Prosedur tindakan perawatan payudara pada masa nifas dapat dilihat pada Tabel 2.1. Perawatan payudara ini dapat dilakukan sejak hari ke-2 setelah melahirkan, sebanyak 2 kali sehari dan sebaiknya dilakukan sebelum atau sewaktu akan mandi (Suherni, 2009).
Adapun sebelum melakukan tindakan perawatan payudara dibutuhkan persiapan alat berupa kain kasa atau kapas, minyak kelapa/baby oil, waskom berisi air hangat dan air dingin, handuk mandi, dan waslap. Selain persiapan alat, sebelum memulai prosedur tindakan yang perlu diperhatikan adalah pakaian dan bra harus dibuka, handuk diletakkan di atas bahu ibu, dan ibu harus mencuci tangan sebelum melakukan tindakan (Nur Afi Darti dkk, 2012).
Tabel. 2.1 Prosedur Tindakan Perawatan Payudara pada Masa Nifas Tindakan
Cara I:
• Lihat keadaan puting
• Basahi kedua telapak tangan dengan minyak kelapa/baby oil
• Tempatkan kedua tangan di tengah dada kemudian lakukan gerakan memutar/mengelilingi payudara ke arah atas kemudian ke arah payudara • Saat di bawah payudara,
angkat/sanggah payudara sebentar dan lepaskan secara perlahan ke arah
depan
• Lakukakn gerakan lebih kurang 25-30 kali
Cara II:
• Jika akan melakukan perawatan pada payudara kanan, tangan kanan membentuk kepalan, tempatkan di pangkal payudara. Tangan kiri menyangga payudara. Dengan buku-buku jari lakukan pengurutan dari pangkal payudara ke ujung ke arah puting susu. Lakukan merata ke seluruh payudara
• Jika akan melakukan pada payudara kiri, tangan kanan menyangga payudara, sedangkan tangan kiri melakukan pengurutan. Lakukan seperti yang di atas
• Lakukan gerakan lebih kurang 25-30 kali
Cara III:
• Jika akan melakukan pada payudara kanan, sisi tangan kanan diletakkan di pangkal payudara, tangan kiri menyangga payudara. Lakukan pengurutan dari pangkal ke ujung ke arah puting susu
• Jika akan melakukan pada payudara kiri, tangan kanan menyangga payudara, sedangkan tangan kiri melakukan pengurutan • Lakukan gerakan lebih kurang 25-30 kali
Cara IV:
• Tempatkan masing-masing ibu jari di atas payudara , dan jari-jari yang lain menyangga/menopang payudara. Gerakkan/massase jari-jari tersebut ke ujung payudara ke arah puting susu
• Lakukan massase berulang-ulang lebih kurang 25-30 kali
Perawatan Terakhir:
• Kompres puting dengan kapas yang diberi minyak selama 5 menit agar kotoran mudah dibersihkan
• Letakkan ibu jari dan telunjuk pada puting susu, lalu dengan hati-hati putarlah puting susu sambil ditarik ke luar. Lakukan berulang kali hingga lebih kurang 20 kali
• Kompres payudara dengan handuk/waslap yang telah dibasahi dengan air hangat selama 5 menit
• Kemudian ulangi pengompresan dengan menggunakan handuk/waslap yang telah dibasahi dengan air dingin
• Lakukan bergantian, dan akhiri dengan pengompresan menggunakan handuk/waslap yang dibasahi dengan air dingin
• Ulangi sebanyak 3 kali pada setiap payudara
• Lakukan pengeluaran ASI, kemudian keringkan, dan siap untuk menyusui bayi (Nur Afi Darti dkk, 2012)
2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perawatan Payudara Ibu