• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi, dan kekurangan Vitamin A.

1. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe)

Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi.

Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. Penanggulangan masalah anemia gizi besi berfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. Ibu hamil mendapatkan tablet tambah darah 90 tablet (Fe3) selama kehamilannya. Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah Fe3 selama 6 tahun terakhir dapat dilihat pada Grafik IV.18 dibawah ini.

42

Grafik IV.18

Persentase Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe3 Di Kabupaten Seruyan Tahun 2008-2012

(Sumber data : Bidang Yankes, Seksi Gizi dan KIA)

Pada Grafik IV.18 terlihat cakupan Fe3 di Kabupaten Seruyan terlihat fluktuatif. Namun cakupan Fe3 tahun 2012 menunjukkan tren kenaikan dibandingkan dengan tahun 2011. Sebaran cakupan pemberian tablet Fe3 pada ibu hamil menurut per Puskesmas dapat dilihat pada Grafik IV.20 berikut ini.

Grafik IV.19

Persentase Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe3 Menurut Puskesmas Di Kabupaten Seruyan Tahun 2012

(Sumber data : Bidang Yankes, Seksi Gizi dan KIA)

Puskesmas dengan cakupan tertinggi Fe3 adalah Puskesmas Terawan (130,3%), kemudian Puskesmas Pembuang Hulu (93,1%) dan Puskesmas Rantau Pulut II (92,2%). Sedangkan cakupan terendah adalah Puskesmas Tumbang Manjul (31,8%), diikuti Puskesmas Tumbang Langkai (0,0%).

43

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepatuhan ibu hamil menelan tablet Fe. Walaupun dari pelaporan dihasilkan bahwa cakupan ibu hamil yang mendapat tablet Fe3 cukup baik namun jika tidak dikonsumsi oleh ibu hamil maka efek minum tablet Fe yang diharapkan tidak akan tercapai.

2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila cakupannya tinggi.

Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan) diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi diberikan setahun sekali pada bulan Februari atau Agustus. Sedangkan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan diluar pelayanan tersebut selama ibu nifas tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.

Grafik IV.20

Persentase Cakupan Balita Yang Mendapatkan vitamin A Menurut Puskesmas Di Kabupaten Seruyan Tahun 2012

(Sumber data : Bidang Yankes, Seksi Gizi)

Terlihat pada Grafik IV.20 dimana cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita menurut sebaran per Puskesmas dengan cakupan tertinggi >80% yaitu Puskesmas Pembuang Hulu sebesar 10,7%, Puskesmas Kuala Pembuang sebesar 82%, Puskesmas Danau Sembuluh sebesar 80,7% dan Puskesmas Terawan sebesar 80,2 %. Sedangkan cakupan terendah yaitu Puskesmas Tumbang Manjul sebesar 13,6% dan Puskesmas Telaga Pulang 27,7%.

44

Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi tahun 2012 pada Puskesmas dengan cakupan pemberian kapsul vitamin A > 80% yaitu Puskesmas Danau Sembuluh (88,6%) dan Puskesmas Asam Baru (84,4%). Sedangkan Puskesmas yang cakupannya terendah yaitu Puskesmas Kuala Pembuang I sebesar 20,1% dan Puskesmas Tumbang Manjul sebesar 22%. Jelasnya dapat dilihat pada Grafik IV. 21 berikut.

Grafik IV.21

Persentase Cakupan Bayi Yang Mendapatkan vitamin A Menurut Puskesmas Di Kabupaten Seruyan Tahun 2012

(Sumber data : Bidang Yankes, Seksi Gizi)

Berdasarkan laporan program tahun 2012 di Kabupaten Seruyan untuk cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas sebesar 80,6%. Menurut sebaran per Puskesmas cakupan tertinggi yaitu Puskesmas Rantau Pulut II sebesar 93,8%, Puskesmas Rantau Pulut I sebesar 93,3%, dan Puskesmas kuala Pembuang I sebesar 91,9%. Sedangkan cakupan terendah pada Puskesmas Tumbang Manjul sebesar 39% dan Puskesmas Tumbang Langkai 5,7%. Lebih lanjut terlihat pada Grafik IV.22 berikut ini.

Grafik IV.22

Persentase Cakupan Ibu Nifas Yang Mendapatkan Vitamin A Menurut Puskesmas Di Kabupaten Seruyan 2012

45

Upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping pada daerah yang cakupannya masih rendah dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.

3. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu

Cakupan penimbangan balita di Posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya Imunisasi serta prevalensi gizi kurang. Semakin tinggi cakupan D/S, semakin tinggi cakupan vitamin A, semakin tinggi cakupan Imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang.

Berdasarkan laporan program tahun 2011 cakupan penimbangan balita di Posyandu sebesar 45,2% dengan cakupan balita Berat Badan Naik sebesar 95,1% dan BGM sebesar 1,9%. Sedangkan untuk tahun 2012 cakupan penimbangan balita di Posyandu sebesar 48,7% dengan cakupan balita Berat Badan Naik sebesar 93,5% dan BGM sebesar 1,9%. Cakupan penimbangan balita di Posyandu, cakupan Berat Badan Naik serta BGM menurut per Puskesmas tahun 2012 dapat dilihat pada lampiran tabel 44.

Masalah yang teridentifikasi berkaitan dengan kunjungan Posyandu antara lain dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan Posyandu, tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling, tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat Posyandu, serta pelaksanaan pembinaan kader.

4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cakupan pemberian makanan pada bayi yang benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengerahui beberapa hal, terutama masih sangat terbatasnya dan atau belum tersedianya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan tentang pemberian ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MP-ASI.

46

Berdasarkan laporan program cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-5 bulan maupun 6 bulan tahun 2011 di Kabupaten Seruyan sebesar 34,4% dan untuk tahun 2012 sebesar 33,6% artinya cakupan masih rendah dari acuan Susenas 2009 sebesar 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi menurut per Puskesmas dapat dilihat pada lampiran tabel 41.

Rendahnya cakupan pemberian eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan.

Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif, peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu, peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula.

47

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada bab ini, sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.

Dokumen terkait