Dalam Tabel 15 ditampilkan data jawaban responden terhadap gangguan kesehatan anak. Gangguan kesehatan yang dimaksud adalah gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pengkonsumsian pangan jajanan yang dijual di sekolah. Dilihat dari hasil penelitian, menurut orang tua anak yang mengalami gangguan kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami gangguan kesehatan (65,76%). Sedangkan menurut guru sebagian besar anak didik tidak pernah mengalami gangguan kesehatan (89,11%). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh gejala sakit yang dialami anak baru dirasakan setelah anak berada di rumah sehingga dari kedua responden orang tualah yang mengetahui sakit yang dialami oleh anak. Orang tua lebih komunikatif terhadap anak sehingga lebih detail terhadap segala sesuatu yang dialami anak.
Tabel 15. Gangguan kesehatan anak menurut responden orang tua dan guru
Respon Orang tua N % N N Guru % N
Gangguan Kesehatan ● Ya ● Tidak 121 63 65,76 34,24 17 136 10,89 89,11 Gejala Gangguan kesehatan anak
● Demam
● Diare/ sakit perut ● Mual ● Lainnya 10 80 24 7 8,26 66,12 19,83 5,79 0 14 3 0 0,00 82,35 17,65 0,00 Menurut Pratomo (2002), faktor-faktor yang dimungkinkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan antara lain adalah jarak waktu antara pembelian pangan jajanan sampai dengan pengkonsumsian pangan jajanan tersebut serta faktor yang berasal dari pangan jajanan itu sendiri. Makanan yang paling banyak menjadi penyebab gangguan kesehatan di kantin kampus dari hasil penelitian Rahayu et al. (2002) adalah gado-gado (54,50%) dan disusul dengan mie ayam (6,80%).
Gejala utama gangguan kesehatan yang sering dirasakan anak menurut orang tua maupun guru yaitu diare atau sakit perut. Diare merupakan salah satu sindrom (syndrome) penyakit pangan yang dapat disebabkan oleh berbagai agen penyebab. Sebesar 1.3 milyar kasus non-typhoid di dunia disertai gejala atau sindrom diare/gastroenteritis akut yang menyebabkan kematian (Pang et al., 1995). Gejala gangguan kesehatan tersebut menurut guru banyak terjadi setelah anak mengkonsumsi pangan jajanan yang dijual di sekitar sekolah.
Pedagang yang berjualan disekitar sekolah umumnya tidak memperhatikan sanitasi dan higienis saat mengolah pangan jajanan maupun saat berjualan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pratomo (2002), pedagang tidak memperhatikan kualitas dan mutu dari bahan baku pangan jajanan (44,44%).
Menurut orang tua, gangguan kesehatan tersebut dapat terjadi dalam jangka waktu 1 kali per bulan (4,95%), 2 kali per bulan (2,48%), 1 kali per
tahun (43,81%), 2 kali per tahun (13,22%) dan 3 kali per tahun (1,65%) (Gambar 7 dan Lampiran 32).
Gambar 7. Tabulasi silang antara gejala gangguan kesehatan anak dan frekuensi gangguan kesehatan yang dialami anak
2. Bahan Kimia Berbahaya
Maraknya fenomena peredaran bahan kimia berbahaya menjadi masalah bagi keamanan pangan khususnya pangan jajanan anak sekolah. Oleh karena itu diperlukan perhatian serius dan konsisten dari semua pihak. Tabel 16 menampilkan data jawaban responden tentang bahan kimia berbahaya. Dari 232 responden orang tua, sebanyak 85,78% menyatakan bahwa mereka mengetahui tentang jenis bahan kimia berbahaya untuk pangan dan sebanyak 94,97% mengetahui pengaruh yang akan timbul akibat bahan kimia berbahaya. Responden guru semuanya mengetahui jenis-jenis bahan kimia berbahaya (100,00%) dan 99,38% mengetahui pengaruh yang akan ditimbulkan akibat pengkonsumsian bahan kimia berbahaya. Jenis bahan kimia berbahaya pada pangan jajanan menurut orang tua antara lain formalin, boraks, penyedap rasa, serta zat pewarna tekstil. Sebagian besar orang tua menyebutkan semua jenis bahan kimia berbahaya tersebut (82,91%). Jawaban tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh guru, namun ada pula jenis bahan kimia lain yang menurut guru dapat membahayakan tubuh yaitu pemanis buatan (Lampiran
Gejala dan Waktu Gangguan Kesehatan
3.31 0.83 0.83 0.83 1.65 1.65 2.48 1.65 3.31 1.65 9.9 4.97 4.95 2.48 43.81 13.22 1.65 0.83 0 10 20 30 40 50 1 kali/ bulan 2 kali/ bulan 1 kali/ tahun 2 kali/ tahun 3 kali/ tahun Persentase (% )
Diare/ sakit perut Mual
Demam Lainnya
33). Kedua responden berpendapat bahwa pengkonsumsian bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan kanker, ginjal dan stroke.
Tabel 16. Pengetahuan orang tua dan guru tentang bahan kimia berbahaya
Persepsi Orang tua N % N N Guru % N
Mengetahui Jenis bahan kimia berbahaya
● Ya
● Tidak 199 33 85,78 14,22 160 0 100,00 0,00
Mengetahui pengaruh bahan kimia berbahaya ● Ya ● Tidak 189 10 94,97 5,03 159 1 99,38 0,62 Pengetahuan yang dimiliki oleh kedua responden tentang jenis dan pengaruh bahan kimia berbahaya cukup bagus, namun mereka tidak mengetahui secara jelas mana bahan kimia yang dilarang dan mana bahan kimia yang diperbolehkan dengan dosis tertentu.
3. Sanitasi dan Higienitas
Masalah keamanan pangan banyak ditimbulkan karena kondisi sanitasi dan higienitas yang rendah sehingga mengakibatkan terjadinya kontaminasi pada pangan. Pengetahuan yang terbatas merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah keamanan pangan tersebut (Winarno et al., 1993).
Tabel 17 menampilkan jawaban responden tentang sanitasi dan higienitas. Dari tabel tersebut diketahui bahwa sebagian besar orang tua tidak mengetahui pengaruh yang timbul akibat pangan jajanan yang tidak higienitas (75,43%). Hal ini berbanding terbalik dengan guru, dimana sebagian besar mengetahui pengaruh yang timbul akibat penanganan pangan jajanan yang tidak higienis (70,00%). Penanganan pangan jajanan yang tidak higienis dapat menimbulkan penyakit bagi anak yang mengkonsumsi pangan jajanan tersebut. Dari hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa mereka dituntut memiliki wawasan yang luas tentang banyak hal. Menurut Moleong, 2004, guru harus memiliki kompetensi pribadi yang meliputi: (1) beragama dan berbudi luhur; (2) memiliki minat
dan perhatian pada anak; (3) sehat jasmani (tidak memiliki kecacatan yang dapat menghambat tugasnya sebagai pendidik); (4) sabar dan menyenangkan; (5) cukup cerdas; (6) kreatif; (7) memiliki komitmen tinggi; (8) cakap berkomunikasi dengan anak; dan (9) berwawasan multi budaya.
Tabel 17. Respon orang tua dan guru terhadap sanitasi dan higienitas
Respon Orang tua Guru N % N N % N
Mengetahui pengaruh penanganan pangan yang tidak higienis
● Ya ● Tidak 57 175 24,57 75,43 112 48 70,00 30,00 Mengingatkan anak mencuci tangan
● Ya ● Kadang - kadang ● Tidak 179 46 7 77,15 19,83 3,02 47 101 12 29,37 63,13 7,50 Memonitor praktek cuci tangan anak
● Ya ● Kadang - kadang ● Tidak 125 97 3 55,56 43,11 1,33 68 75 5 45,95 50,68 3,37 Higienitas dalam penanganan pangan jajanan merupakan kunci untuk mengontrol pertumbuhan mikroba pada produk pangan. Terjadinya kasus-kasus keracunan sebagian besar disebabkan oleh pangan jajanan yang tidak higienis dan kondisi sanitasi penjual pangan jajanan yang tidak baik dan tidak memadai.
Higienitas bukan hanya merupakan tanggung jawab pengolah makanan atau pedagang pangan jajanan saja, melainkan juga merupakan tanggung jawab setiap individu. Penerapan higienitas yang baik dapat memutuskan rantai infeksi terhadap pangan (Hobbs dan Robert, 1989). Higienitas individu merupakan salah satu tindakan melindungi terjadinya penyakit akibat pangan. Manusia dapat berperan sebagai penyebab terjadinya penyakit melalui pangan dan juga sebagai korban dari kejadian
timbulnya penyakit melalui pangan. Oleh karena itu sebelum mengkonsumsi pangan diharapkan mencuci tangan terlebih dahulu. Tangan merupakan sumber kontaminasi kuman yang cukup besar. Di dalam tangan terdapat mikroba yang dapat menghasilkan galur-galur toksigenik Staphilococcus aureus yang dapat menghasilkan racun pada tangan (Supardi dan Sukamto, 1999).
Sebanyak 96,98% orang tua dan sebanyak 92,50% guru mengingatkan anak untuk mencuci tangan sebelum menyentuh pangan. Umumnya kedua responden mengetahui fungsi mencuci tangan sebelum memegang pangan yaitu mencegah kuman masuk kedalam tubuh yang dapat menimbulkan penyakit. Gerakan mencuci tangan terbukti sangat efektif untuk mencegah masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh seseorang. Menurut Nadesul (2006), terdapat lebih dari 20 penyakit yang timbul akibat tidak cuci tangan. Misalnya, penyakit yang ditimbulkan oleh adanya transmisi kotoran, dalam istilah medis disebut fecal oral. Fecal berasal dari kotoran dan tinja yang mencemari minuman yang tidak dimasak atau tangan yang kotor sehingga dapat menjadi sumber mikroba patogen yang akan menimbulkan diare, typhoid, disentri, hepatitis A, dan tifus.
Anak yang mempraktekkan mencuci tangan sebelum menyentuh pangan berbeda-beda yaitu ada yang selalu mempraktekkan sebelum menyentuh pangan, kadang-kadang saja mempraktekkannya dan ada pula yang tidak mempraktekkannya sama sekali. Menurut orang tua anak yang selalu mempraktekkan mencuci tangan sebelum menyentuh pangan sebanyak 55,56% sedangkan menurut guru anak yang selalu mempraktekkan mencuci tangan sebelum menyentuh pangan sebanyak 45,95%.
4. Sumber informasi tentang Keamanan Pangan
Sumber informasi orang tua dan guru tentang keamanan pangan jajanan ternyata berbeda-beda ada yang berasal dari TV/Radio, Koran/Majalah, Puskesmas, Dokter/Bidan, serta lainnya seperti: pihak keluarga, pengalaman, dan teman (Tabel 18). Sebagian besar orang tua
mendapatkan informasi tersebut dari media elektronik seperti: TV atau radio (52,58%). Sedangkan guru sebagian besar mendapatkan informasi tentang keamanan pangan dari media cetak seperti: koran atau majalah (40,00%). Perbedaan sumber informasi antara orang tua dan guru disebabkan guru termasuk dalam orang pekerja yang hanya memiliki separuh waktu berada dirumah, sehingga waktu untuk melihat TV atau mendengar radio relatif kecil. Media telah menjadi ciri khas masyarakat modern. Setiap hari masyarakat disajikan beragam informasi dari media yang dapat mempengaruhi persepsi.
Tabel 18. Informasi tentang keamanan pangan
Informasi tentang pangan
Orang tua Guru
N % N N % N TV/ Radio 123 53,02 43 26,87 Koran/ Majalah 53 22,84 64 40,00 Puskesmas 9 3,88 23 14,38 Dokter/ Bidan 17 7,33 16 10,00 Lainnya 30 12,93 14 8,75 Total 232 100,00 160 100,00
Menurut Jahi (1988), TV dan radio merupakan media komunikasi massa yang memiliki kemampuan yang besar untuk mengantarkan dan menyebarkan pesan–pesan. Pesan tersebut disampaikan kepada massa yang berada di tempat terpencar dan tersebar luas, secara serentak dan dengan kecepatan tinggi. TV sebagai salah satu medium komunikasi mempunyai potensi yang cukup besar untuk menghasilkan efek. Hal ini dimungkinkan oleh sifatnya yang audio visual. Penyampaian pesan yang disertai gambar-gambar dapat bergerak mempunyai daya tarik yang kuat dan dapat memberikan kesan yang mendalam, sehingga memungkinkan untuk menghasilkan efek yang cukup besar. Efek dapat berupa bertambahnya pengetahuan, sikap, persepsi dan bahkan sampai mengubah perilaku (Merril dan Lowenstein, 1971). Radio sebagai salah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia ikut berpartisipasi dalam penyampaian informasi yang
dibutuhkan komunitasnya, baik menyangkut aspirasi warga masyarakat maupun program-program yang dilakukan pemerintah untuk bersama-sama menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya. Koran dan Majalah merupakan komunikasi massa yang berisikan informasi-informasi kepada masyarakat berbentuk tulisan dan gambar.
Puskesmas adalah sarana untuk berobat masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang yang mengerti tentang kesehatan, contohnya bidan. Dewasa ini fungsi bidan telah bergeser yang dahulu hanya sebagai orang yang membantu persalinan, periksa kehamilan dan imunisasi. Sekarang dapat berfungsi dalam pelayanan umum dan memberikan informasi kesehatan (Manalu di dalam Megasari 2006). Sedangkan dokter merupakan orang yang mengerti akan kesehatan, seorang dokter diharuskan untuk mampu memahami segala sesuatu yang menyangkut kesehatan, sehingga dapat memberikan informasi kepada pasien.
5. Klasifikasi Tingkat Persepsi Responden Terhadap Keamanan Pangan
Pada Tabel 19 diketahui bahwa tingkat persepsi orang tua (71,98%) dan guru (75,63%) berada pada kategori sedang. Sedang disini maksudnya adalah orang tua maupun guru memiliki sikap dan perilaku yang cukup bagus terhadap keamanan pangan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai elemen seperti usia, pendidikan dan pengetahuan, dimana ketiganya saling mempengaruhi satu sama lain Adanya pengetahuan yang ditunjang dengan usia dan pendidikan akan menyebabkan seseorang mempunyai sikap positif, kemudian akan mempengaruhi niatnya untuk ikut serta dalam suatu kegiatan yang akan diwujudkan dalam suatu tindakan (Noor, 1999).
Tabel 19. Klasifikasi tingkat persepsi responden terhadap keamanan pangan
Respon Orang tua Guru
N % N N % N
Bagus 33 14,22 12 7,50
Sedang 167 71,98 121 75,63
Buruk 32 13,79 27 16,87
H. KORELASI ANTAR PARAMETER TERHADAP PERSEPSI