• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

B. Bank Syariah

3. Perbandingan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

Terdapat perbedaan antara BUS dan UUS. Pertama ialah dalam kegiatan usaha. Merujuk pasal 19 ayat 1 Undang-Undang Repulik Indonesia No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, kegiatan BUS ialah:43

a. Menghimpun dana dalam betuk simpanan berupa giro, tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

b. Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa deposito, tabungan, atau bentuk lainya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad murabahah, akad salam, akad istisna, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

42Undang-Undang Repulik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Pasal 1 Ayat (10).

43Rachmat Hidayat, Efisiensi Perbankan Syariah Teori dan Praktik (Bekasi: Gramata Publishing, 2014), h. 38-39.

e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qord atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

f. Menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah mutahiyah bittamlik atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

g. Melakukan pengambilalihan hutang berdasarkan akad hawalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

h. Melakukan usaha kartu kredit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan prinsip syariah

i. Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan prinsip syariah. Seperti akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah atau hawalah.

j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia.

k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antar pihak ketiga berdasarkan prinsip syariah.

l. Melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu akad yang bedasarkan prinsip syariah.

m. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan prinsip syariah.

n. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah berdasarkan prinsip syariah.

o. Melakukan fungsi sebagai Wali Amanat bardasarkan akad wakalah berdasarkan prinsip syariah.

p. Memberikan fasilitas surat kredit/pembiayaan (L/C) atau bank garansi berdasarkan prinsip syariah.

q. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Sedangkan kegiatan usaha UUS merujuk pasal 19 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah ialah:44

a. Menghimpun dana dalam betuk simpanan berupa giro, tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

b. Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa deposito, tabungan, atau bentuk lainya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

44Ibid., h. 39-41.

c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad murabahah, akad salam, akad istisna, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qord atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

f. Menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah mutahiyah bittamlik atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

g. Melakukan pengambilalihan hutang berdasarkan akad hawalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

h. Melakukan usaha kartu kredit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

i. Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan prinsip syariah. Seperti akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah atau hawalah.

j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia.

k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antar pihak ketiga berdasarkan prinsip syariah.

l. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan prinsip syariah.

m. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah berdasarkan prisnip syariah.

n. Memberikan fasilitas surat kredit/pembiayaan (L/C) atau bank garansi berdasarkan prinsip syariah.

o. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Kedua adalah usaha lain yang dapat dilakukan. Dalam pasal 20 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, usaha lain yang dapat dilakukan oleh BUS ialah:45

a. Melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan prinsip syariah.

b. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada BUS atau lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaanya.

45Ibid., h. 41.

d. Bertindak sendiri sebagai pengurus dana pensiun berdasarkan prinsip syariah.

e. Melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan ketentuan perundang-undangan di bidang pasar modal.

f. Menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan prinsip syariah dengan menggunakan sarana elektronik.

g. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan prinsip syariah secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang.

h. Menerbitkan, menawarkan dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar modal.

i. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha BUS lain yang bersadarkan prinsip syariah.

Kegiatan usaha lain yang dapat dilakukan UUS merujuk pasal 20 ayat 2 Undang-Undang Repulik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Perbankan Syaiah adalah:46

a. Melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan prinsip syariah.

b. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaanya.

46Ibid., h. 42.

c. Melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan ketentuan perundang-undangan di bidang pasar modal.

d. Menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang bedasarkan prinsip syariah dengan menggunakan sarana elektronik.

e. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan prinsip syariah secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang.

f. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha BUS lain yang bersadarkan prinsip syariah.

Ketiga ialah aspek pimpinan. BUS dipimpin oleh seorang Direktur Utama, sedangakan UUS dipimpin oleh seorang Direktur UUS (PBI No. 11/10/PBI/2009). Demikian pula dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) DPS BUS berkedudukan di BUS, sedangkan DPS UUS berkedudukan di UUS (PBI No. 11/10/PBI/2009).47

Keempat ialah dari aspek modal yang diserahkan. Merujuk PBI No. 11/3/PBI/PBI/2009 tentang Bank Umum Syariah, jumlah modal yang disetor BUS minimum sebesar 1 triliun rupiah, dan juga tidak boleh 100% dimikili pihak asing. Sedangkan modal yang disetor UUS diatur dalam PBI No. 11/10/PBI/2009 tanggal 19 maret 2009 tentang Unit Usaha Syariah sekurang-kurangnya sebesar 500 miliar rupiah dan

47Ibid., h. 42.

wajib ditingkatkan secara bertahap menjadi minum sebesar 1 triliun selambat-lambatnya 10 (sepuluh) tahun setelah izin BUS diberikan.48

Menurut Rivai dalam Jurnal Hesti Kustanti dan Astiwi Indriani menjelaskan bahwa BUS adalah bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, sedangkan UUS adalah unit usaha kerja di kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah atau unit syariah.49

Perbedaan BUS dan UUS terletak pada bentuk badan usaha, dimana BUS setingkat dengan bank umum konvensional, sedangkan UUS berada tepat satu tingkat dibawah direksi bank umum konvensional yang bersangkutan. Perbedaan ini membuat BUS dan UUS mempunyai wewenang yang berbeda arah dalam menentukan kebijakan bank. Dalam BUS penentuan kebijakan ditentukan sendiri oleh bank syariah yang bersangkutan. Sedangkan UUS kebijakan ditentukan oleh bank umum konvensional dimana UUS berada. Hal ini kemudian dapat berdampak pada kinerja BUS dan UUS.50

Dari uraian diatas dapat disimpulkan antara perbedaan BUS dan UUS dapat disimpulkan bahwasanya perbedaan antara BUS dan UUS baik dari aspek kegiatan usaha, kegiatan usaha lainnya, pimpinan dan modal yang disetor. Untuk aspek kegiatan usaha, UUS tidak dapat

48Ibid., h. 42-43.

49Hesti Kustanti, Astiwi Indriani, “Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS)”. Jurnal ManajemenI & Organisasi, Vol. 5 No. 3 (Desember 2016), h. 3.

50Ibid.

melakukan kegiatan usaha seperti, menjamin atas risiko sendiri, melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu akad yang berdasrkan prinsip syariah, melakukan fungsi sebagai wali amanat berdasarkan akad wakalah berdasarkan prinsip syariah. Usaha lain yang tidak dapat dilakukan oleh UUS adalah kegiatan penyertaan modal BUS menerbitkan, menawarkan dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang. Aspek pimpinan BUS dipimpin oleh Direktur Utama sedangkan UUS dipimpin oleh Direktur UUS. Untuk modal yang disetor BUS pada awal pendirian adalah 1 Triliun, sedangkan UUS 500 Miliar. DPS BUS berkedudukan di BUS sedangkan DPS UUS berkedudukan di UUS.

Dokumen terkait