Pahat
Tebal
Pemakanan Sempel
Ra μm
Rz μm
Angka kelas kekasaran
T1 T2 T3
CNMG 1 mm
B.1 2,11 2,83 2,50 2,48 N8 B.2 2,99 2,97 2,64 2,87 N8 B.3 2,61 2,47 1,91 2,33 N8
DNMG 1 mm
D.1 5,00 5,03 4,99 5,01 N9 D.2 5,25 5,24 5,22 5,24 N9 D.3 5,15 5,06 5,05 5,09 N9
Hasil penelitian yang didapat dari kedalaman perbandingan pemakanan 1 mm antara padat CNMG dan pahat DNMG dapat dilihat pada tabel 4.8 dimana nilai kekasaran rata - rata paling rendah yaitu 1,61 (μm) didapat pada kedalaman pemakanan 0,5 mm dari pahat CNMG dengan angka kelas kekasaran N7 dan sedangkan nilai kekasaran rata -
rata paling tinggi yaitu 6,89 (μm) dari pahat DNMG yang didapat pada kedalaman pemakanan 0,5 mm dengan angka kekasaran N10. Untuk kecepatan spindel 3987 rpm.
Grafik 4.5 Perbandingan Pahat CNMG dan Pahat DNMG Pemakanan 1 mm
Hasil penelitian berupa grafik dengan perbandingan pahat CNMG dan pahat DNMG dalam pemakanan 1 mm. Menunjukan adanya perubahan atau pengaruh penggunaan variasi sudut pahat yang cukup terlihat pada grafik 4.5. Terlihatnya pengaruh sudut pahat dan jenis pahat yang berbeda dapat mempengaruhi kualitas kekasaran permukaan. Pada pahat CNMG terlihat kualitas kekasarannya lebih rendah dari pahat DNMG yang tinggi pada rata-rata nilai kekasarannya. Dari hasil penelitian variasi sudut pahat yang berbeda yang digunakan dalam penelitian ini, hasil rata - rata dari pengujian kekasaran, nilai kekasaran dan pemakanan yang terbaik dihasilkan pada pahat CNMG mm. Dapat ditarik kesimpulan pada grafik tersebut pahat CNMG lebih baik dari pahat DNMG karena Ra yang dihasilkan lebih kecil dari pahat DNMG.
Spesimen 1 spesimen 2 spesimen 3
CNMG 2,48 2,87 2,33
DNMG 5,01 5,24 5,09
0 1 2 3 4 5 6
kekasaran Rz μm
Pemakanan 1 mm
Hasil dari perbedaan pahat menggunakan pahat CNMG dan DNMG menunjukan sudut pahat, dan kedalaman pemakanan berpengaruh terhadap kekasaran permukaan.
4.4 Hasil Uji Pengaruh Sudut Pahat Terhadap kekasaran Permukaan
4.4.1 Hasil Uji Homogenitas.
Uji homogen merupakan salah satu langkah awal yang dilakukan untuk mengetahui apakan variasi beberapa data dari populasi memiliki varian yang sama atau tidak. Pada penelitian ini uji homogenitas dilakukan untuk melihat hasil dari pengukuran sudut pahat dengan tebal pemakanan terhadap kualitas permukaan. Selain hal tersebut, uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui langkah selanjutnya pada uji statistik.
Pedoman pengambilan keputusan dalam uji statistik adalah sebagai berikut:
1. Jika nilai signifikan atau sig. < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih pada kelompok yang diujikan memiliki data yang tidak sama atau tidak homogen
2. Jika nilai signifikan atau sig > 0,05 , maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih pada kelompok yang diujikan memiliki data yang sama atau homogen.
Berikut ini adalah hasil dari pengujian homogenitas pada penelitian ini :
Tabel 4.9 Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Dalam satuan Rz
Levene Statistic df1 df2 Sig.
hasil Based on Mean 2,273 3 8 ,157
Berdasarkan uji homogenitas yang dilakukan, dapat diketahui bahwa nilai signifikan menunjukkan lebih dari 0,05 yaitu 0,157. Nilai signifikan tersebut memiliki makna bahwa varians pada penelitian ini sama atau homogen.
4.4.2 Hasil Uji Statistik
Uji selanjutnya yaitu uji hipotesis menggunakan ANOVA.
Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Hipotesis :
H0 = Tidak ada perbedaan yang signifikan antara sudut pahat dengan tebal pemotongan terhadap kualitas kekasaran permukaan hasil pembubutan baja AISI 1045 menggunakan mesin QTN 100 U Hi = Ada perbedaan yang signifikan antara sudut pahat dengan tebal
pemotongan terhadap kualitas kekasaran permukaan hasil pembubutan baja AISI 1045 menggunakan mesin QTN 100 U Kriteria yang digunakan adalah:
1. Jika harga sign < 0,05 maka H0 ditolak dan Hi diterima. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sudut pahat dengan tebal pemotongan terhadap kualitas kekasaran permukaan hasil pembubutan baja AISI 1045 menggunakan mesin QTN 100 U
2. Jika harga sign > 0,05 maka H0 diterima dan Hi ditolak . Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara sudut pahat dengan tebal pemotongan terhadap kualitas kekasaran permukaan hasil pembubutan baja AISI 1045 menggunakan mesin QTN 100 U
Hasil uji statistik adalah sebagai berikut : Tabel 4.10 Hasil Uji Stasistik
ANOVA
hasil
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 49,347 3 16,449 358,760 ,000
Within Groups ,367 8 ,046
Total 49,714 11
Data hasil uji statistik diatas menunjukkan bahwa nilai sign <
0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa H0 ditolak dan Hi diterima.
Dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan antara sudut pahat dengan tebal pemotongan terhadap kualitas kekasaran permukaan hasil pembubutan baja AISI 1045 atau terdapat pengaruh yang signifikan.
4.4.3 Hasil Besar Pengaruh
Uji statistik yang dilakukan telah dinyatakan terdapat perbedaan atau dengan kata lain dapat diartikan bahwa ada pengaruh. Hal itu ditunjukkan dengan nilai sig < 0,05. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dilakukan uji lanjut untuk mengetahui pengaruh terbesar. Pengujian dilakukan dengan uji Post Hoc untuk membandingkan mean differrence dengan menggunakan Tukey LSD dengan hasil tabel 4.11 sebagai berikut:
Tabel 4.11 Uji Post Hoc untuk membandingkan mean differrence dengan menggunakan Tukey LSD.
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Hasil Tukey HSD
(I) Benda (J) Benda
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
A B -,99667* ,17483 ,002 -1,5565 -,4368
C -5,12000* ,17483 ,000 -5,6799 -4,5601
D -3,55000* ,17483 ,000 -4,1099 -2,9901
B A ,99667* ,17483 ,002 ,4368 1,5565
C -4,12333* ,17483 ,000 -4,6832 -3,5635
D -2,55333* ,17483 ,000 -3,1132 -1,9935
C A 5,12000* ,17483 ,000 4,5601 5,6799
B 4,12333* ,17483 ,000 3,5635 4,6832
D 1,57000* ,17483 ,000 1,0101 2,1299
D A 3,55000* ,17483 ,000 2,9901 4,1099
B 2,55333* ,17483 ,000 1,9935 3,1132
C -1,57000* ,17483 ,000 -2,1299 -1,0101
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Keterangan : A = menggunakan pahat CNMG kedalaman pemakanan 0,5 mm.
B = menggunakan pahat CNMG kedalaman pemakanan 1 mm.
C = menggunakan pahat DNMG kedalaman pemakanan 0,5 mm.
D = menggunakan pahat DNMG kedalaman pemakanan 1 mm.
Hasil uji Post Hoc diatas disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 4.12 Hasil uji Post Hoc
Pengujian benda Mean Difference
A B 0,99667
C 5,12000
D 3,55000
B C 4,12333
D 2,55333
C D 1,57000
Berdasarkan hasil uji Post Hoc diatas ditunjukkan bahwa benda paling kecil mean difference terdapat pada A dengan nilai mean difference sebesar 0,99667 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa benda yang berpengaruh paling besar yaitu pada C.
99 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian dan melakukan analisa data maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kedalaman pemakanan 0,5 mm menghasilkan panas pemakanan minimum sebesar 1361,5 J/s dan pada kedalaman pemakanan 1 mm menghasilkan panas pemakanan maksimum sebesar 2723,5 J/s, panas yang timbul akan megakibatkan keausan pada pahat.
2. Variasi sudut pahat yang berbeda akan menghasilkan kualitas kekasaran yang berbeda. Pada pahat CNMG menghasilkan kekasaran terendah 1,46 µm dengan sudut potong 95º dan sudut pahat 80º dan kekasaran tertinggi pada pahat DNMG 6,89 µm dengan menggunakan sudut potong 95º dan sudut pahat 55º.
3. Pada pahat DNMG kedalaman pemakanan 0,5 mm menghasilkan angka kekasaran N10 dan kedalaman pemakanan 1 mm menghasilkan angka kekasaran N9. Belum tentu pemakanan 0,5 mm megakibatkan kehalusan yang lebih baik. Ditunjukan pada gambar grafik 4.6 dikarnakan sudut potong yang sama 95º tetapi sudut pahat CNMG 80º dan pahat DNMG 55º yang berbeda akan menghasilkan kekasaran yang kurang optimal.
4. Pahat CNMG mengakibatkan keausan 0,01 mm pemakanan 0,5 mm dan 0,02 mm pemakanan 1 mm. Pahat DNMG mengakibatkan 0,02 mm pemakanan 0,5 mm dan 0,03 pemakanan 1 mm yang paling bagus digunakan pada proses pembubutan QTN 100 U yaitu pahat CNMG.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang diperoleh dapat disampaikan saran sebagai berikut:
1. Dilakukan pengembangan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan variasi parameter sudut pahat 90º, 60º dan 30º dengan kedalaman pemakanan 1 dan jenis pahat karbida dengan merk ISCAR dan SANDVIK yang berbeda supaya sebagai pembanding dari penelitian untuk pengaruh jenis pahat dan sudut pahat dengan pahat potong karbida pada proses pembubutan bahan AISI 1045 C menggunakan CNC QTN 100 U.
2. Perlu adanya pengadaan alat pengujian kekasaran permukaan (Surface Tester) untuk meminimalisir biaya pengujian dan mempercepat proses penelitian di Laboratorium Pengujian Bahan IST AKPRIND Yogyakarta.
3. Peningkatan perawatan mesin CNC QTN 100 U di Laboratorium CNC IST AKPRIND Yogyakarta. Seperti pelumasan dengan menggunakan pelumasan oli dibagian mesin poros spindel, eretan toolshock eretan melintang dan memanjang, dan lakukan perbaikan sensor automatis penyetel titik sumbu 0 supaya tidak menyetel secara manual dan bisa menghemat waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Purnomo, 2011, Karakteristik Mekanik Proses Hardening Baja Aisi 1045 Media Quenching Untuk Aplikasi Sprochet Rantai. Jurnal Teknik Mesin, Universitas Sultan Agung Tirtayasa.
Ardi, Bastian. 2016. “Pengaruh Sudut Pahat Dan Jenis Pahat Terhadap Kekasaran Dan Keausan Hasil Proses Pembubutan Baja AISI 1045”. Tugas Akhir Teknik Mesin. IST AKPRIND Yogyakarta.
Arisandy, R.S. Kosjoko dan Finali, A. 2016. “Pengaruh Depth Of Cut Dan Sudut Potong Pada Proses Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Material ST-41”. Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhamadiyah Jember.
Daryus, Asyri., 2008, Diklat Kuliah Proses Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Darma Persada, Jakarta
Hantolo, Sinu., 2012, "Studi Pengaruh Sudut Potong (Kr) Pahat Karbida Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Oblique Terhadap Kekasaran Permukaan", Jurnal Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Iscar,2017. “Complete Mechining Solutions Non-Rotating Tool Lines”; Jakarta Lilih, 2001.,” Pemrogaman Mesin CNC; ITB
Muin, S. A., 1985. Dasar-dasar Perancangan Perkakas dan Mesin Perkakas.
Edisi 1, Cetakan 1, CV Rajawali, Jakarta
Munadi. 1980. Dasar-Dasar Metrologi Industri BAB VII Pengukuran Kekasaran Permukaan. Jakarta.
Phandhu, P., “Pengaruh Jenis Pahat, Sudut Pahat dan Kedalaman Pemakanan Terhadap Tingkat Kekasaran dan Kekerasan Pada Proses Bubut Rata Baja ST 42”. Jurnal Teknik Mesin, Universitas Negeri Surabaya.
PT. Bhineka Bajanas, 2016, Produksi Baja AISI 1045 bersertifikat, Jakarta.
Rochim, T., 2001, Sprsifikasi,Mertologi & Kontrol kualitas Geometrik, Bandung;
ITB.
Rochim, T., 2007, Proses Pemesinan Buku 1 : Klasifikasi Proses, Gaya dan Daya Pemesinan, Bandung; Penerbit FTI-ITB.
Rochim, T., 2007, Proses Pemesinan Buku 2 : Perkakas & Sistem Pemerkakasan umur pahat, cairan pendingin, Bandung; Penerbit FTI-ITB.
Susarno, A. Hendrawan, M.A dan Supriyono. 2012. Studi Pengaruh Sudut Potong Pahat HSS Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Orthogonal Terhadap Kekasaran Permukaan. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik.
Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Sandvik, 2015. “General information”. Jakarta.
Widarto, 2008. Teknik Pemesinan Jilid 2 untuk SMK. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
LAMPIRAN
Katalog ISCAR
Katalog SANDVIK
Pemrogaman pemakanan 0,5 mm
Pemrogaman pemakanan 1 mm