• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Evapotranspirasi Tanaman Acuan

12 2.3.Analisis Data Curah Hujan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perbandingan Evapotranspirasi Tanaman Acuan

Persyaratan air tanaman bervariasi selama masa pertumbuhan tanaman, terutama variasi tanaman dan iklim yang terkait dalam metode irigasi. Sebagian besar penyerapan air tanaman dari tanah hilang sebagai proses evapotranspirasi tanaman. Evapotranspirasi tanaman adalah sejumlah air yang hilang sebagai bentuk penguapan dari tanah dan transpirasi tanaman. Evapotranspirasi tanaman dapat diukur berdasarkan pendekatan Kc (koefisien tanaman) dimana evapotranspirasi tanaman dihitung menggunakan evapotranspirasi tanaman acuan dan koefisien tanaman spesifik.

Dalam pengukuran evapotranspirasi tanaman acuan secara langsung dengan menggunakan lisimeter bertimbang dibutuhkan biaya kerja yang mahal, sulit dan pengukuran ini hanya berlaku pada kondisi tempat yang diukur. Karena metode langsung tidak praktis digunakan dalam skala besar, maka dikembangkan metode dari persamaan Penman. Persamaan Penman tidak relatif pada tanaman karena penguapan yang dihasilkan didasarkan pada permukaan yang basah (jenuh) sehingga taksiran kebutuhan air tanaman menjadi tinggi. Model Penman kemudian dimodifikasi berdasarkan konsep perlawanan (resistensi) dan dikembangkan oleh Monteith dengan konsep “big leaf surface” mengenai resistensi kanopi dan aerodinamis. Menurut hipotesis, kanopi dapat dianggap sebagai daun tunggal yang besar dengan menganggap sumber panas dan fluks uap ditemukan pada lapisan yang sama. Kombinasi persamaan sebelumnya mengarah pada perkiraan evapotranspirasi tanaman acuan yang dikenal dengan persamaan

Penman-Monteith.

Faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi tanaman acuan (ETo) adalah parameter iklim yang dapat diketahui dari data cuaca. ETo yang diukur pada lokasi dan musim yang berbeda dapat dibandingkan karena mengacu pada evapotranspirasi dari permukaan referensi yang sama dengan asumsi tinggi tanaman 12 cm, permukaan resistansi tanaman tetap (70 det/m), albedo 0.23, menyerupai evapotranspirasi rumput dengan ketinggian yang seragam, tumbuh subur dengan ketersediaan air yang cukup. Setelah dilakukan perhitungan ETo dari parameter-parameter yang dibutuhkan dalam metode

Penman-Monteith dan Penman Modifikasi, maka didapatkan nilai ETo dari kedua metode tersebut. Nilai

ETo yang dihasilkan pada CROPWAT 8 dan KP-01 memiliki nilai yang berbeda dengan perbandingan persentase ETo Penman Modifikasi terhadap Penman-Monteith sebesar 123.61%.

Pada CROPWAT 8 digunakan metode Penman-Monteith dan KP-01 menggunakan metode

Penman Modifikasi. Selain menggunakan metode tersebut, nilai ETo dapat ditentukan dengan metode lain,

yaitu Blaney-Criddle, Panci evaporasi dan radiasi. Sejak tahun 1990 umumnya dalam menentukan ETo para peneliti menggunakan metode Penman-Monteith. Hal ini dikarenakan nilai taksiran yang dihasilkan metode tersebut tidak jauh berbeda dari kondisi di lapangan dibandingkan dengan metode lainnya. Parameter yang digunakan dalam metode ini cukup lengkap, meliputi data iklim (suhu maksimum, suhu minimum, kelembaban udara, kecepatan angin dan penyinaran matahari), sedangkan metode lain seperti metode radiasi digunakan apabila hanya tersedia data suhu dan penyinaran matahari. Metode Blaney- Criddle diusulkan untuk daerah dimana hanya tersedia data suhu udara saja, sehingga berdasarkan keterangan parameter yang dibutuhkan metode Penman-Monteith menghasilkan nilai yang mendekati

18

kondisi di lapangan. Sejak tahun 1990, penggunaan metode ini sudah banyak diterapkan dalam merencanakan perencanaan irigasi.

Contoh perbandingan ETo Penman-Monteith dan Penman Modifikasi pada stasiun Darmaga terdapat pada Gambar 3. Perbandingan evapotranspirasi tanaman acuan (ETo) Penman Monteith dan

Penman Modifikasi stasiun lainnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Dari kedua metode tersebut dapat

dilihat perbedaan nilai ETo yang dihasilkan dari perhitungan 10 stasiun yang diamati. Rata-rata nilai ETo yang dihitung berdasarkan metode Penman Modifikasi menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan

Penman-Monteith (123.61%). Hal ini dikarenakan Penman-Monteith merupakan pengembangan dari

Penman Modifikasi karena nilai taksiran ETo yang dihasilkan dengan Penman Modifikasi nilainya lebih

tinggi (overestimate). Perbedaan dari hasil perhitungan ETo juga disebabkan oleh ketetapan penggunaan albedo pada kedua metode tersebut. Albedo atau koefisien pemantulan adalah bagian dari radiasi matahari ektraterestrial yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Albedo dipengaruhi oleh penutupan tanah oleh vegetasi dan tingkat kebasahan permukaan tanah. Albedo dari permukaan tanah dan tanaman mempengaruhi penyerapan radiasi bersih (Rn) dengan permukaan yang merupakan sumber pertukaran energi untuk proses evaporasi. Salju yang baru turun memiliki albedo sekitar 0.95, sedangkan tutupan vegetasi hijau memiliki albedo sekitar 0.2-0.25. Pada tanaman referensi rumput hijau, Penman-Monteith

menggunakan nilai albedo 0.23 dan Penman Modifikasi digunakan albedo 0.25.

Gambar 3. Perbandingan ETo di Stasiun Darmaga

Dari kedua metode tersebut, besarnya perkiraan nilai ETo yang didapat dari penggunaan data iklim yang sama menghasilkan nilai yang berbeda. Tahun 1990 pakar FAO mencapai kesepakatan dalam merekomendasikan pendekatan Penman-Monteith sebagai metode yang paling tepat untuk memperkirakan ETo berdasarkan pengaruh data iklim. Standarisasi penggunaan metode Penman-Monteith dilakukan untuk memberikan rekomendasi ketika data meteorologi yang tersedia terbatas. Pendekatan Penman-

Monteith adalah metode yang dapat dipercaya dengan pencapaian nilai yang mendekati kondisi

sebenarnya, menggambarkan faktor fisik dan fisiologi yang mengatur proses evapotranspirasi. Konsep

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des

E To ( m m /h ar i) Bulan

19

ETo telah direvisi selama dekade terakhir sehingga dihasilkan prosedur komputasi standar oleh para ahli FAO dan kelompok revisi metodelogi FAO mengenai kebutuhan air tanaman yang diterbitkan dalam paper Irigasi dan Drainase no.56.

4.2.

Perbandingan Hujan Efektif

Sumber utama pasokan air untuk pertanian dalam memenuhi kebutuhan air irigasi padi adalah curah hujan. Curah hujan bervariasi dipengaruhi topografi dan kondisi iklim pada suatu daerah. Tidak semua curah hujan yang jatuh di permukaan bumi dapat terinfiltrasi ke dalam tanah. Jika intensitas hujan tinggi dibandingkan dengan laju infiltrasi yang terjadi, maka air yang tidak masuk ke dalam tanah akan mengalir sebagai aliran permukaan (runoff) dan bila lengas tanah telah mencapai kondisi kapasitas lapang, dengan intensitas hujan yang tinggi maka air akan mengalir sebagai perkolasi dalam.

Dalam penilaian sumberdaya air, intersepsi sering diabaikan. Intersepsi adalah air yang tertahan yang akan mengalami penguapan kembali ke atmosfer sebelum air tersebut mengalami proses infiltrasi dan menjadi aliran permukaan. Bagian dari curah hujan yang tidak tersedia untuk infiltrasi dan menjadi limpasan ini disebut kehilangan awal (initial loss). Pada CROPWAT, hujan efektif ditentukan dengan hujan yang terjadi dikurangi dengan kehilangan awal. Dalam menentukan kehilangan awal dapat digunakan dua persamaan, yaitu persamaan FAO dan USDA. Pada persamaan USDA, kehilangan awal sebanding dengan kuadrat curah hujan bulanan dimana banyaknya curah hujan dianggap sebagai peningkatan kehilangan awal hujan. Pada persamaan FAO, banyaknya curah hujan dianggap penurunan kehilangan awal dengan meningkatnya curah hujan.

Hujan efektif adalah bagian dari hujan total yang digunakan oleh akar tanaman selama masa pertumbuhan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Sesuai dengan yang dijelaskan pada Lampiran 1 dalam menentukan hujan efektif, CROPWAT 8 dan KP-01 menggunakan cara yang berbeda. Pada CROPWAT 8, hujan efektif ditentukan dengan menggunakan hujan andalan (FAO) dengan peluang terlewati 80% yang menggambarkan kondisi tahun kering. Dalam KP-01 hujan efektif ditentukan dengan peluang hujan terlewati 80% (R80) dan koefisien hujan untuk tanaman padi. Besarnya R80 dapat ditentukan

dengan tiga cara, yaitu pengeplotan data dengan peluang hujan terlewati tahunan 80% kemudian ditentukan peluang hujan bulanannya, pengurutan data dari nilai terbesar hingga terkecil dan penggunaan RAINBOW.

Peluang hujan terlewati 80% (R80) yang didapat dari ketiga metode tersebut memiliki variasi nilai

yang berbeda. Rata-rata R80 yang didapat dari RAINBOW menghasilkan nilai yang lebih kecil

dibandingkan pengeplotan data dan pengurutan data. Contoh perbandingan R80 stasiun Darmaga dengan

tiga metode tersebut terdapat pada Gambar 4. Perbandingan R80 pada stasiun lainnya dapat dilihat pada

Lampiran 3.

Setelah didapatkan besarnya R80, maka dapat ditentukan hujan efektif dengan memperhitungkan

koefisien hujan tanaman padi (0.7) sesuai dengan ketetapan KP-01. Hujan efektif pada KP-01 memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan hujan efektif pada CROPWAT 8, seperti contoh perbandingan hujan efektif pada stasiun Darmaga pada Gambar 5. Hal ini dikarenakan hujan efektif yang ditentukan dalam KP-01 harus memperhitungkan koefisien hujan untuk tanaman padi dari peluang hujan terlewati 80%. Hujan efektif pada CROPWAT 8 memperhitungkan besarnya kehilangan awal akibat intersepsi sesuai dengan ketetapan FAO. Perbandingan hujan efektif pada stasiun lainnya dijelaskan pada Lampiran 4. Hasil hujan efektif dengan KP-01 hanya 42.91% dari hasil perhitungan dengan CROPWAT 8.

20

Gambar 4. Perbandingan R80 Stasiun Darmaga

Gambar 5. Perbandingan Re Stasiun Darmaga

4.3.

Perbandingan Pengolahan Tanah

Kebutuhan air irigasi padi tidak hanya ditentukan pada kebutuhan air selama periode pertumbuhan tanaman tetapi juga memperhitungkan kebutuhan air untuk pengolahan tanah termasuk untuk penjenuhan, pelumpuran dan penggenangan. Kebutuhan air untuk pengolahan tanah pada CROPWAT 8 memperhitungkan kebutuhan air pada masa pra pelumpuran dan masa pelumpuran, sedangkan KP-01 menggunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlstra. Pada KP-01 waktu untuk pekerjaan pengolahan tanah adalah satu bulan dengan kondisi tanah lempung sehingga kebutuhan air yang diperlukan untuk penjenuhan dan pelumpuran adalah 200 mm ditambah lapisan air sebesar 50 mm. Jadi total kebutuhan air untuk penjenuhan, pelumpuran dan penggenangan adalah 250

0 50 100 150 200 250 300 350 400

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des

R 80 (m m /b u lan ) Bulan

R80 (mm/bulan) Plot Data R80 (mm/bulan) KP-01 R80 (mm/bulan) RAINBOW

0.0 50.0 100.0 150.0 200.0 250.0 300.0 350.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des

H u jan E fekt if (m m /b u lan ) Bulan CROPWAT 8 KP-01

21

mm. Jika lahan dibiarkan kering lebih dari 2.5 bulan, maka total air yang dibutuhkan menjadi 300 mm. Dengan mempertimbangkan tingkat perkolasi (1-3 mm/hari), evaporasi, kebutuhan air untuk penjenuhan dan jangka waktu pengolahan tanah, maka kebutuhan air untuk pengolahan tanah dapat ditentukan berdasarkan metode yang dikembangkan Van de Goor dan Zijlstra yang akan dihasilkan dalam satuan mm/hari.

Air yang dibutuhkan untuk pengolahan tanah pada CROPWAT 8 mempertimbangkan air yang dibutuhkan pada masa penjadwalan pra pelumpuran dan penjadwalan pelumpuran. Tingkat laju perkolasi maksimum tanah tidak tergenang adalah laju infiltrasi hujan maksimum pangkat 0.33. Berdasarkan data tanah yang telah dijelaskan pada Lampiran 1, laju infiltrasi hujan maksimum adalah 30 mm/hari, sehingga laju perkolasi maksimum yang terjadi setelah pelumpuran yaitu 3.1 mm/hari. Berdasarkan pengaturan waktu irigasi dan banyaknya air yang diirigasikan, maka jumlah air yang dibutuhan untuk pengolahan tanah secara otomatis dapat diketahui.

Perbandingan total kebutuhan air untuk pengolahan tanah pada golongan 1 MT1 dan MT2 terdapat pada Gambar 6 dan Gambar 7. Perbandingan total kebutuhan air untuk pengolahan tanah setelah memperhitungkan hujan efektif golongan 2, 3 dan 4 dengan MT1 dan MT2 terdapat pada Lampiran 5 hingga Lampiran 7. Dari hasil tersebut dapat dilihat perbedaan kebutuhan air pengolahan tanah MT 1 dan MT2 pada golongan 1-4 dari 10 stasiun. Rata-rata kebutuhan air untuk pengolahan tanah yang dihasilkan CROPWAT 8 jumlahnya lebih besar dibanding KP-01. Hal ini dikarenakan CROPWAT 8 memperhitungkan kedalaman pelumpuran, waktu pemberian irigasi dan banyaknya air irigasi yang diberikan.

Kebutuhan air pengolahan tanah golongan 1 MT1 stasiun Darmaga dalam KP-01 dan CROPWAT 8 masing-masing sebesar 130.7 mm dan 297.7 mm, sedangkan MT2 kebutuhan air pengolahan tanah masing-masing sebesar 355.2 mm dan 228.6 mm. Persentase perbandingan air pengolahan tanah CROPWAT 8 terhadap KP-01 golongan 2 MT1 dan MT2 adalah 154.7% dan 144.7%, golongan 3 MT1 dan MT2 adalah 169.9% dan 146%, golongan 4 MT1 dan MT2 adalah 124.9% dan 149.6%. Pada golongan 1 MT1 dan MT2, kebutuhan air untuk pengolahan tanah KP-01 lebih besar dibandingkan CROPWAT 8, dengan perbandingan air pengolahan tanah KP-01 terhadap CROPWAT 8 MT1 dan MT2 masing-masing sebesar 107.3% dan 149.6% . Hal ini dikarenakan jumlah air yang dibutuhkan untuk perkolasi, evaporasi, air untuk penjenuhan dan penggenangan cukup besar sehingga tidak tercukupi oleh hujan efektif. Dalam KP-01 pemberian air irigasi untuk periode pengolahan tanah dilakukan setiap setengah bulanan, sehingga dalam satu bulan pemberian air dilakukan sebanyak dua kali. Kedalaman pelumpuran secara langsung tidak ditetapkan, tetapi pemberian air untuk penjenuhan telah ditetapkan, yaitu sebesar 200 mm dan 250 mm untuk tanah yang telah dibiarkan bera lebih dari 2.5 bulan. Dengan menggunakan Tabel 1, maka dapat ditentukan kebutuhan air selama pengolahan tanah dalam satuan mm/hari.

22

Gambar 6. Kebutuhan Air Pengolahan Tanah Golongan 1 Masa Tanam 1

Gambar 7. Kebutuhan Air Pengolahan Tanah Golongan 1 Masa Tanam 2

4.4.

Perbandingan Data Tanah dan Tanaman

Dalam menentukan kebutuhan air irigasi padi, CROPWAT 8 memperhitungkan data tanah dan tanaman sesuai dengan karakteristik jenis tanah dan tanaman seperti yang dijelaskan pada Lampiran 1. Data tanah yang digunakan untuk menghitung kebutuhan air irigasi padi baik CROPWAT 8 maupun KP- 01 mempergunakan data tanah umum, yaitu tanah lempung yang berpengaruh dalam proses pengolahan tanah. Data tanaman yang dibutuhkan dalam CROPWAT 8 meliputi koefisien tanaman, kedalaman perakaran, kedalaman pelumpuran, deplesi kritis dan faktor respon hasil sesuai dengan ketetapan yang

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0 K e b u tu h an Ir ig asi Pad i (m m ) Stasiun CROPWAT 8 KP-01 0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 K e b u tu h an Ir ig asi Pad i (m m ) Stasiun CROPWAT 8 KP-01

23

terdapat pada panduan CROPWAT 8. Dalam KP-01 besarnya koefisien tanaman padi sesuai dengan ketetapan FAO terdapat pada Tabel 2.

Dalam menentukan kebutuhan konsumtif tanaman dibutuhkan koefisien tanaman (Kc). Koefisien tanaman padi yang digunakan dalam CROPWAT 8 meliputi koefisien basah (Kwet) dan koefisien kering

(Kdry) selama periode pertumbuhan tanaman, yaitu tahap awal, pertengahan musim dan tahap akhir. Hal ini

dilakukan karena pada saat awal tanam, kondisi lahan tergenang oleh air sehingga Kwet yang berperan

dalam kondisi ini, sedangkan Kdry digunakan pada saat tanah kering tidak tergenang oleh air.

Dalam CROPWAT 8 periode waktu yang dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhan, yaitu pembibitan 30 hari, tahap awal 20 hari, perkembangan 25 hari, pertengahan musim 20 hari dan tahap akhir 20 hari, sehingga total waktu yang dibutuhkan dari periode pembibitan hingga panen adalah 115 hari. Pada KP-01 periode waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan tanah satu bulan, tahap vegetatif satu bulan, tahap generatif (pembungaan) satu bulan, tahap pengisian biji dan pematangan selama satu bulan, sehingga total waktunya adalah empat bulan. Faktor-faktor dari parameter inilah yang menyebabkan besarnya kebutuhan air irigasi padi berbeda, selain dipengaruhi kebutuhan konsumtif tanaman dan hujan efektif yang terjadi.

4.5.

Perbandingan Kebutuhan Air Irigasi

Dalam mengoptimalkan penggunaan sumberdaya air, dibutuhkan pengelolaan air dan pengaturan penggunaan air secara tepat. Hal ini dilakukan agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal, guna memenuhi kebutuhan air tanaman yang tidak terpenuhi oleh hujan efektif. Pada kegiatan ini dilakukan perhitungan kebutuhan air irigasi padi dari tahap awal hingga tahap akhir, dengan menggunakan KP-01 dan CROPWAT 8. Dalam perhitungan kebutuhan air irigasi padi yang didasarkan pada KP-01 dibuat dengan menggunakan program excel sesuai dengan parameter yang dibutuhkan. Kebutuhan air irigasi padi yang didapat dari CROPWAT 8 didasarkan pada data iklim, data tanah dan tanaman. Perbandingan parameter yang mempengaruhi besarnya kebutuhan air irigasi padi dengan kedua metode tersebut telah dibahas pada pembahasan sebelumnya (sub bab 4.1-4.4).

Perhitungan kebutuhan air irigasi padi dari data iklim 10 stasiun dilakukan untuk melihat perbedaan kebutuhan air irigasi padi antara KP-01 dan CROPWAT 8. Contoh perhitungan tersebut dimulai dari tahap awal hingga tahap akhir dari golongan 1-4 pada MT1 dan MT2. Perbandingan kebutuhan air irigasi padi dari tahap awal hingga tahap akhir golongan 4 MT1 dan MT2 dari kedua metode tersebut terdapat pada Gambar 8 dan Gambar 9.

24

Gambar 8. Kebutuhan Air Irigasi Padi Golongan 4 Masa Tanam 1.

Gambar 9. Kebutuhan Air Irigasi Padi Golongan 4 Masa Tanam 2.

Perbandingan kebutuhan irigasi padi untuk golongan lainnya terdapat pada Lampiran 8 hingga Lampiran 10. Dari lampiran tersebut dapat dilihat perbedaan kebutuhan air irigasi padi yang dibutuhkan untuk mengairi irigasi padi sawah. Dari hasil perhitungan CROPWAT 8, air irigasi padi yang dibutuhkan umumnya jauh lebih rendah dari KP-01. Hal ini disebabkan karena hujan efektif yang terjadi telah memenuhi kebutuhan air tanaman, sehingga permintaan kebutuhan air menjadi lebih sedikit dibandingkan permintaan kebutuhan air pada KP-01. Faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut, yaitu adanya periode pemberian irigasi yang dilakukan setiap setengah bulanan. Pada metode KP-01, untuk mengganti kehilangan air akibat kebutuhan konsumtif tanaman, perkolasi dan penggenangan, sehingga air yang

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0 K eb u tu h an Ir ig as i P adi (m m ) Stasiun CROPWAT 8 KP-01 0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0 800.0 K eb u tu h an Ir ig as i P adi (m m ) Stasiun CROPWAT 8 KP-01

25

dibutuhkan untuk irigasi padi dari tahap awal hingga tahap akhir menjadi lebih banyak dibandingkan dengan CROPWAT 8.

Contoh perhitungan kebutuhan air irigasi padi sawah pada stasiun Dabo Singkep golongan 4 MT1 dan MT2. Pada MT1 air irigasi yang dibutuhkan untuk tahap awal, perkembangan, pertengahan musim dan tahap akhir pada CROPWAT 8 masing-masing 83.4 mm, 0 mm, 20.3 mm, dan 60 mm. Pada KP-01 air yang dibutuhkan untuk masa vegetatif, generatif (pembungaan), dan pengisian biji (pematangan) masing-masing sebesar 175.1 mm, 208.9 mm dan 108.9 mm. Total air yang dibutuhkan untuk irigasi padi sawah pada CROPWAT 8 dan KP-01 adalah 163.7 mm dan 492.9 mm.

Dengan metode CROPWAT 8 pada MT2, air irigasi yang dibutuhkan dari tahap awal hingga akhir periode penanaman masing-masing sebesar 0 mm. Pada KP-01 air yang dibutuhkan untuk masa vegetatif, generatif (pembungaan), dan pengisian biji (pematangan) masing-masing sebesar 122.1 mm, 163.7 mm dan 81.3 mm. Total air yang dibutuhkan untuk irigasi padi sawah pada CROPWAT 8 dan KP- 01 adalah 0 mm dan 367 mm. Persentase perbandingan air irigasi padi CROPWAT 8 terhadap KP-01 golongan 4 MT1 dan MT2 adalah 24.6% dan 12.3%.

26

V.

SIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Simpulan

1. Dari analisis beberapa parameter yang berpengaruh, besarnya kebutuhan air irigasi padi yang dihitung dengan menggunakan metode KP-01 lebih besar dibandingkan dengan CROPWAT 8. Parameter yang mempengaruhi kebutuhan air irigasi padi pada KP-01 dan CROPWAT 8, yaitu evapotranspirasi tanaman acuan, hujan efektif, air untuk pengolahan tanah dan air untuk irigasi padi dari tahap awal hingga tahap akhir.

2. Persentase perbandingan evapotranspirasi tanaman acuan Penman Modifikasi dalam KP-01 terhadap Penman-Monteith dalam CROPWAT 8 adalah 123.61%, sedangkan hujan efektif dengan KP-01 adalah 42.91% dari hasil perhitungan hujan efektif dengan CROPWAT 8.

3. Kebutuhan air pengolahan tanah golongan 1 MT1 stasiun Darmaga pada KP-01 dan CROPWAT 8 masing-masing sebesar 130.7 mm dan 297.7 mm, sedangkan MT2 kebutuhan air pengolahan tanah masing-masing 355.2 mm dan 228.6 mm. Persentase air pengolahan tanah KP-01 terhadap CROPWAT 8 golongan 1 MT1 dan MT2 masing-masing 107.3% dan 135.6%.

4. Total kebutuhan air irigasi padi dari tahap awal hingga akhir golongan 4 stasiun Dabo Singkep pada CROPWAT 8 dan KP-01 adalah 163.7 mm dan 492.9 mm, sedangkan MT2 total kebutuhan air irigasi masing-masing 0 mm dan 367 mm. Persentase air irigasi padi tahap awal hingga tahap akhir CROPWAT 8 terhadap KP-01 golongan 4 MT1 dan MT2 adalah 24.6% dan 12.3%. Banyaknya kebutuhan air irigasi padi pada KP-01 lebih besar dibandingkan CROPWAT 8 disebabkan hujan efektif yang ditentukan dengan metode KP-01 nilainya lebih rendah dibandingkan CROPWAT 8. Faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut, yaitu adanya pemberian air irigasi setiap setengah bulanan yang mencakup kebutuhan konsumtif tanaman, perkolasi dan penggenangan sehingga air yang butuhkan menjadi lebih banyak.

5.2.

Saran

1. Dari analisis kebutuhan air irigasi padi berdasarkan metode KP-01 dan CROPWAT 8 didapatkan hasil yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh parameter yang digunakan dalam menentukan besarnya evapotranspirasi tanaman acuan, hujan efektif, pengolahan tanah, data tanah dan tanaman, sehingga diperlukan pengkajian dalam parameter tersebut serta tidak menutup kemungkinan dilakukan pembaharuan KP-01 (1986).

2. Dengan adanya perhitungan kebutuhan air untuk tanaman padi sawah, diharapkan dapat dikembangkan perhitungan kebutuhan air untuk tanaman padi palawija.

27

DAFTAR PUSTAKA

Allen R G, Pereira LS, Raes D, and Smith M.1998. Crop evapotranspiration: Guidelines for Computing

Crop Water Requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper 56. Rome.

Asdak C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

[PU] Pekerjaan Umum. 1986a. Standar Perencanaan Irigasi-Kriteria Perencanaan 01. Jakarta: Direktorat Jendral Pengairan Pekerjaan Umum.

[PU] Pekerjaan Umum. 1986b. Standar Perencanaan Irigasi-Kriteria Perencanaan 03. Jakarta: Direktorat Jendral Pengairan Pekerjaan Umum.

Doorenbos J, Kassam.1979. Yield Response to Water. FAO Irrigation and Drainage Paper 33. Rome. Evaporation Symposium and Report on the Lysimeters in the Netherland. 1959. Proceedings and

Information No. 4, The Hague: TNO.

Fraiture C, Restrepo CG. 1997. Assesing Trends and Changes in Irrigation Performance: The Case of Samaca Irrigation Scheme, Colombia. Paper International Workshop on Irrigation Performance. Mendoza.

Gray D. M. 1961. Interrelationship of Watershed Characteristic. J. of Geophys. Res. 66: 1215-1223. Groen M, Savanije G. 2006. A monthly interception equation based on the statistical characteristics of

daily rainfall. Water Resources Research 42: 1-10

Kassam A, Smith M. 2001. FAO Methodologies on Crop Water Use and Crop Water Productivity. Paper No CWP-M07. Rome.

Raes D. 2009. The ETo Calculator: Evapotranspiration from a Reference Surface. Rome: FAO of the United Nation Land and Water Division.

Seyhan E. 1990. Dasar – Dasar Hidrologi. Penerjemah: Ir. Sentot Subagyo. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Sosrodarsono S. 2006. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

Wilson E. 1969. Hidrologi Teknik. Penerjemah: MM Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

28

LAMPIRAN

29

Lampiran 1. Perbandingan Parameter Metode KP-01 dan CROPWAT 8

Parameter Simbol CROPWAT 8 KP-01 (1986)

Evapotranspirasi Tanaman Acuan

ETo Metode Penman-Monteith

Dokumen terkait