DIAGRAM KETUNTASAN SISWA PADA SIKLUS II
4.2.1. Perbandingan hasil belajar Siklus I dan siklus II
Data di atas menunjukan rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran headstand metode kartu tugas pada siklus II nilai rata-rata meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari banyaknya siswa yang tuntas, yaitu sebesar 76,5 % siswa (26 anak) dari jumlah keseluruhan 34 siswa memiliki nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75 dan rata-rata kelas 76,8 .
4.2. Pembahasan
4.2.1. Perbandingan hasil belajar Siklus I dan siklus II
Penilaian rata-rata peserta didik pada siklus I dan siklus II dapat diketahui dengan penilaian dari setiap aspek yaitu psikomotor, afektif dan kognitif dalam pembelajaran siklus I dan siklus II.
Peningkatan hasil pembelajaran headstand melalui metode kartu tugas yang dilakukan oleh 36 (tidak masuk 2) siswa kelas XI IPA ada tiga aspek yang dinilai yaitu aspek psikomotor, aspek afektif dan aspek kognitif. Dari ketiga aspek tersebut dapat diperoleh hasil sebagai berikut, pada tabel 4.15
Tabel 23. Perbandingan Hasil Belajar Sikus I dan Siklus II
No Jenis Penilaian
Rata-Rata Skor
Siklus I Bobot Siklus II Bobot 1 Psikomotor 51,18 4 71,91 4 2 Afektif 73,53 3 76,47 3 3 Kognitif 76,18 3 83,53 3 Jumlah Rata-Rata 65,4 10 76,8 10
Berdasarkan tabel diatas pada pembelajaran siklus I terlihat bahwa hasil pembelajaran belum bisa maksimal dan banyak siswa yang belum memenuhi
KKM pada aspek psikomotor dan afektif. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya :
1. Siswa masih kesulitan dalam melakukan latihan yang diberikan sehingga pembelajaran belum bisa berjalan dengan lancar sehingga menyebabkan antusiasme siswa dalam pembelajaran berkurang. Kesulitan-kesulitan tersebut diantaranya : siswa belum paham mengenai headstand sehingga posisi saat melakukan headstand kurang sempurna, kebanyakan siswa putri takut melakukan latihan headstand dengan bantuan tembok ataupun bantuan teman sehingga mengakibatkan siswa putri jarang yang bisa melakukan gerakan headstand dengan sempurna, kebanyakan siswa putra sering bercanda dalam melakukan latihan gerakan headstand sehingga hanya sedikit siswa yang bisa melakukan gerakan headstand.
2. Belum adanya reward atau penghargaan bagi siswa yang bisa melakukan gerakan headstand dengan sempurna sehingga anak belum termotivasi untuk melakukan gerakan headstand dengan sebaik mungkin.
3. Siswa yang belum memenuhi nilai KKM dikarenakan banyak siswa mendapatkan nilai psikomotor di bawah standar kelulusan yaitu 75, yaitu hanya 6 siswa yang medapat nilai di atas KKM dan lainnya di bawah standar KKM, ini dikarenakan ada 10 siswa mendapatkan nilai buruk pada apek tolakan kaki ke atas, 19 siswa mendapat nilai buruk pada aspek posisi tubuh saat headstand, 21 siswa mendapat nilai buruk pada aspek waktu saat headstand, 23 siswa mendapat nilai buruk pada sikap akhir. Kemudian 2 siswa mendapat nilai sedang pada aspek sikap awalan headstand, 12 siswa mendapat nilai sedang pada aspek tolakan kaki ke atas, 10 siswa mendapat nilai sedang pada aspek posisi tubuh saat headstand, 9 siswa mendapat
nilai sedang pada aspek waktu saat headstand, 9 siswa mendapat nilai sedang pada aspek sikap akhir. Hanya 19 siswa yang mendapat nilai afektif di atas standar KKM dan 15 siswa di bawah standar KKM, hal ini dikarenakan ada 12 siswa yang tidak menunjukan sikap bekerja sama dengan teman 1 tim, 9 siswa menunjukan sikap tidak sportif, 17 siswa tidak bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran, 3 siswa tidak menunjukan sikap menghargai teman, 4 siswa tidak disiplin dalam proses pembelajaran. Dan 22 siswa mendapat nilai kognitif di atas standar KKM sedangkan 12 siswa di bawah standar KKM.
Dari hasil pengamatan dan hasil penilaian siklus I diatas kemudian peneliti melakukan perbaikan dalam pembelajaran siklus II, diantaranya sebagai berikut :
1. Memperlihatkan gambar tahapan gerakan headstand di dalam kartu tugas yang lebih memudahkan siswa dalam melakukannya.
2. Membuat tali keseimbangan,supaya siswa paham akan titik keseimbangan dalam gerakan headstand.
3. Memberikan arahan kepada siswa supaya melakukan gerakan headstand secara bertahap seperti yang ada di alam kartu tugas.
4. Mencari lapangan yang lebih rata daripada lapangan yang digunakan saat siklus 1.
5. Memberikan reward atau penghargaan kepada siswa yang berhasil melakukan gerakan headstand dengan baik.
6. Memberikan motivasi kepada siswa supaya tidak takut dan melakukan gerakan dengan sungguh-sungguh.
Dengan adanya perbaikan-perbaikan pada pembelajaran siklus II diatas didapatkan hasil pembelajaran yang jauh meningkat dari siklus I. Siswa lebih tertarik dengan pembelajaran dan sangat antusias dengan latihan-latihan yang diberikan dan bahkan ingin melakukan terus latihan yang diberikan. Pada siklus II siswa terlihat melakukan gerakan dengan serius dan bersemangat saat pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan tabel 4.16 dapat dilihat peningkatan pembelajaran dari siklus I dan siklus II. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran headstand melalui metode kartu tugas mengalami peningkatan baik penilaian psikomotorik, afektif, maupun kognitif.
Tabel 24. Prosentase Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Siklus Aspek psikomotor Aspek afektif Aspek kognitif
Pertama 11,76% 58,82% 64,71%
Kedua 70,59% 76,47% 91,18%
Gambar 6. Diagram Batang Perbandingan Prosentase Hasil Siklus I dan II 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
psikomotorik afektif kognitif
siklus 1 siklus 2
4.2.2. Analisis Pembelajaran
Pada siklus pertama hasil aktivitas gerak siswa dalam melakukan pembelajaran headstand melalui metode kartu tugas adalah nilai tertinggi 81 sedangkan nilai terendah 48 dan nilai rata-rata 65,21. Siswa yang telah mencapai KKM adalah 6 siswa dan yang belum tuntas adalah 28 siswa sehingga keberhasilan pada siklus I adalah 17,65% dan yang belum tuntas adalah 82,35%. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus II adalah nilai tertinggi 91, sedangkan nilai terendah 55, dan nilai rata-rata 76,76. Siswa yang telah mencapai KKM adalah 26 siswa dan yang di bawah KKM adalah 8 siswa, sehingga keberhasilan pada siklus II adalah 76,5% dan siswa yang belum tuntas 23,5%. Dengan demikian nilai aktivitas gerak pada siswa telah berhasil karena telah melebihi 75% dari jumlah siswa.
Pada penilaian afektif pada saat pelaksanaan pembelajaran siklus I nilai tertinggi 100, sedangkan nilai terendah 40 dan nilai rata-rata 73,53. Siswa yang telah mencapai KKM 19 siswa atau 58,82% dan yang belum tuntas sebanyak 15 siswa atau 44,12%. Sedang pada siklus II nilai tertinggi 100 dan terendah 60 dengan nilai rata-rata 76,47. Siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 26 atau 76,47% dari jumlah siswa dan yang belum mencapai KKM sebanyak 8 atau 23,53%. Dengan demikian penilaian terhadap sikap siswa pada siklus II telah berhasil karena telah mencapai 75% dari jumlah siswa yang mampu mencapai KKM
Penilaian kognitif yang dilaksanakan setelah pembelajaran dengan cara menjawab 10 soal pilihan ganda, pada siklus I memperoleh nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70 dengan nilai rata-rata 76,18%. Siswa yang mampu mencapai
KKM sebanyak 22 siswa atau 64,71% dari jumlah siswa. Pada siklus II nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70 dengan nilai rata-rata 83,53. Siswa mampu mencapai KKM sebanyak 31 siswa atau 91,18% dari jumlah siswa. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dapat dikatakan berhasil karena telah mencapai 75% dari jumlah siswa yang mampu mencapai KKM
Dari 8 siswa yang belum mencapai KKM karena siswa itu mendapatkan nilai psikomotor di bawah standar KKM, hal ini disebabkan 4 siswa mendapatkan nilai buruk pada aspek tolakan kaki ke atas, 7 siswa mendapat nilai buruk pada aspek posisi tubuh saat headstand, 7 siswa mendapat nilai buruk pada aspek waktu saat headstand, 5 siswa mendapat nilai buruk pada aspek sikap akhir, kemudian 2 siswa mendapat nilai sedang pada aspek sikap awal, 2 siswa mendapat nilai sedang pada aspek tolakan kaki ke atas, 1 siswa mendapat nilai sedang pada aspek posisi tubuh saat headstand, 1 siswa mendapat nilai sedang pada aspek waktu saat headstand, dan 3 siswa mendapat nilai sedang pada aspek sikap akhir. 8 siswa ini juga mendapat nilai afektif di bawah KKM, dikarenakan ada 3 siswa yang tidak bisa bekerja sama dengan teman 1 tim, 1 siswa tidak menunjukan sikap sportif, 4 siswa tidak menunjukan sikap bersungguh-sungguh dalam proses pembelajaran, dan 3 siswa tidak disiplin dalam proses pembelajaran, sehingga mereka mendapatkan nilai di bawah standar KKM. Dan 31 siswa mendapat nilai kognitif di atas standar KKM sedangkan 3 siswa di bawah standar KKM