• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kegiatan Inti

3. Perbandingan Hasil Siklus I dan Siklus II

a.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Perbandingan RPP antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 4.16

Perbandingan RPP Siklus I dan Siklus II

b.

Pelaksanaan Pembelajaran

Perbandingan pelaksanaan pembelajaran antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 4.17

Perbandingan Pelaksanaan Pembelajaran

c.

Observasi Sikap Cermat Peserta Didik.

Perbandingan observasi sikap cermat peserta didik antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

0 1 2 3 4 Siklus I Siklus II

Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 Siklus I Siklus II Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3

Grafik 4.18

Perbandingan Observasi Sikap Cermat.

d.

ObservasiSikap Mandiri Peserta Didik

Perbandingan observasi Sikap Mandiri peserta didik antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 4.19

Perbandingan Observasi Sikap Mandiri.

e.

Hasil Keterampilan Peserta Didik

Perbandingan hasil keterampilan peserta didik antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Siklus I 64% Siklus II 91% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Siklus I 62% Siklus II 92%

Grafik 4.20

Perbandingan Nilai Keterampilan Peserta Didik

f.

Hasil Belajar Peserta didik

Perbandingan hasil belajar peserta didik antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 4.21

Perbandingan Hasil Belajar Peserta Didik

g.

Nilai LKPD

Perbandingan nilai LKPD antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

0 20 40 60 80 100 Siklus I Siklus II

Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3

0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 100,00%

Pre-test Siklus I Pre-test Siklus 2 Post-test Siklus I Post-test Siklus 2 Pembelajaran 1 Pembelajaran 2 Pembelajaran 3

Grafik 4.22

Perbandingan Nilai LKPD

B. Pembahasan.

Berdasarkan tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I dan II dengan menggunakan model Discovery Learning untuk menumbuhkan sikap cermat dan mandiri serta nilai hasil belajar peserta didik pada Tema Kerukunan dalam bermasyarakat Sub Tema Hidup rukun kelas V SDN Soka 34 Bandung dapat dikatakan berhasil karena menurut pengamatan dan refleksi yang telah dilakukan, peserta didik terlibat langsung dalam proses pembelajaran, peserta didik dibimbing secara berkelompok mencari jawaban dan memperoleh pemahaman dalam belajar dengan pemecahan masalah yang diberikan oleh guru maupun masalah peserta didik rasakan sehingga peserta didik lebih cermat dan memiliki mandiri yang tinggi agar memahami apa yang dipelajari.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Siklus I Siklus II

Pada proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, ada beberapa tahapan, diantaranya tahap perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning, tahap pelaksanan pembelajaran, tahap penilaian sikap cermat dan mandiri, dan tahap penilaian hasil belajar peserta didik. Adapun rincian untuk setiap tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Peserta didik kelas V.

Masa kanak-kanak akhir menurut Piaget (Rita Eka Izzaty, dkk., 2008: 105-106) tergolong masa operasional konkret (usia 7-12 tahun) yaitu siswa berpikir logis terhadap objek yang konkret. Masa kelas tinggi SD (Rita Eka Izzaty, dkk.,11 2008: 116) berlangsung antara usia 9/10 tahun – 12/13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 4, 5, dan 6 SD yang memiliki ciri khas sebagai berikut:

1. Perhatian tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari. 2. Ingin tahu, ingin belajar dan realistis.

3. Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus.

4. Siswa memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.

5. Siswa-siswa suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.

2. Model Discovery Learning (DL).

Discovery dapat dipandang sebagai metode ataupun model pembelajaran.

Namun demikian, discovery lebih sering disebut sebagai model tinimbang sebagai model pembelajaran. Oleh karenanya, istilah yang sering muncul adalah model

discovery. Model discovery (dalam bahasa Indonesia sering disebut model

disajikan materi pembelajaran yang bersifat belum tuntas atau belum lengkap sehingga menuntut siswa menyiapkan beberapa informasi yang diperlukan untuk melengkapi materi ajar tersebut.

a. teori menyusun RPP ( DL)

Perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh peneliti pada dasarnya sudah sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik, karena didalam RPP yang telah dbuat oleh peneliti sudah sesuai dengan model yang digunakan. Hal tersebut terbukti dari adanya suatu masalah yang menjadi materi dalam pembelajaran.

Oleh karena itu adanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam setiap siklus yang disusun secara sistematis kemudian untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam RPP setiap siklusnya disusun berdasarkan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan Model Discovery Learning ( DL )

Langkah-langkah yang akan dilalui oleh siswa dalam sebuah proses PBM adalah: (1) menentukan masalah; (2) mendifinisikan masalah; (3) mengumpulkan fakta dengan menggunakan KND; (4) pembuatan hipotesis; (5) penelitian; (6)

rephrasing masalah; (7) menyuguhkan alternatif; dan (8) mengusulkan solusi.

b. Teori konstruktivisme.

Dalam konstruktivisme istilah pendidikan diartikan mengajar (Tatang dan Kurniasih,2008: 124). Menurut teori konstruktivisme mengajar bukanlah kegiatan yang memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pengajar dalam mengkonstruksi pengetahuan,

membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifkasi. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettecourt, 1989 dalam Tatag dan Kurniasih, 2008: 124). Mengajar, dalam konteks ini adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri (Von Glaserfeld, 1989 dalam Tatang dan Kurniasih, 2008: 125). Dalam kegiatan mengajar, penyediaan prasarana dan situasi yang memungkinkan dialog secara kritis perlu dikembangkan. Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa mangajar juga adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi (Paul Suparno,1997 dalam Tatang dan Kurniasih,2008: 125).

c. Hasil Belajar Peserta Didik

Hasil pembelajaran menunjukan adanya suatu peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Hal tersebut menunjukan penelitian tindakan kelas dapat dilakukan dengan baik atau sesuai dengan prinsip PTK itu sendiri. Wujud nyata dari keberhasilan belajar ini dapat dilihat dari ranah kognitif, afektif dan psikomotornya yang sudah mencapai bahkan melebihi indikator yang ditetapkan oleh peneliti. Karena hasil belajar menurut Bloom dalam (Rusmono 2014, h. 8), merupakan: “Perubahan perilaku yang meliputi tiga ranah, yaitu ranah kognitf, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif tujuan-tujuan belajar yang berhubungan dengan memanggil kembali pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan. Ranah afektif meliputi tujuan-tujuan belajar yang menjelaskan perubahan sikap, minat, nilai-nilai, dan pengembangan apersepsi serta penyesuaian. Ranah psikomotorik mencakup perubahan perilaku yang

menunjukkan bahwa peserta didik telah mempelajari keterampilan manipulatif fisik tertentu”.

d. Teori Penilaian.

( Ngalim Purwanto 2013 : 121 ) Penilaian disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemampuan berpikir siswa. Soal-soal tes yang terlalu banyak mengakibatkan nilai peserta didik Sd rendah. Bahwa aspek kejiwaan yang sesuai diterapkan SD yaitu aspek ingatan,pemaham dan aplikasi.

3. Menumbuhkan Sikap cermat dan mandiri.

Seorang yang memiliki sikap cermat dan mandiri akan tugas yang telah diberikan oleh guru tentang segala sesuatu yang mereka pelajari. Lewat cermat dan mandiri, peserta didik akan berusaha untuk memecahkan setiap pertanyaan. Hal ini akan membuat peserta didik merasakan pengalaman baru dan juga membuat peserta didik mengetahui kebenaran. Segala sesuatu yang tampak nyata dalam hidup sepenuhnya selalu benar.

Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning (DL) merupakan alasan kuat peneliti untuk mampu meningkatkan cermat dan mandiri peserta didik, sehingga dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti dalam menerapkan model pembelajaran Discovery Learning (DL) dapat menumbuhkan sikap cermat dan mandiri yang dimiliki oleh peserta didik hal ini dibuktikan dalam pembelajaran peserta didik lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Untuk mengetahui peningkatan sikap cermat dan mandiri peserta didik setiap siklusnya adalah sebagai berikut:

(a) Hasil Sikap Cermat dan Mandiri Peserta Didik Siklus I

Sikap cermat dan mandiri peserta didik dalam setiap pembelajaran mengalami perbedaan. Pada siklus I presentase sikap pada cermat sebanyak 64% dan rasa ingin tahu 62%.

(b) Hasil Sikap cermat dan Mandiri Peserta Didik Siklus II

Pada siklus II presentase sikap cermat sebanyak 91% dan sikap Mandiri sebanyak 92%..

Akhirnya dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran

Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN Soka 34 Bandung

bisa dikatakan berhasil. Artinya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap hasil belajar, sikap Cermat dan Mandiri peserta didik untuk bisa memecahkan masalah dalam kegiatan pembelajaran maupun diluar pembelajaran.

Dokumen terkait