BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Perbandingan LDL, HDL dan Rasio LDL/HDL pada Kelompok BMI < 23
Pada penelitian ini responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
. Kelompok BMI <23,0 kg/m2 merupakan responden dengan berat badan normal yang berjumlah 31 orang dan kurus yang berjumlah 9 orang. Kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
merupakan responden overweight yang berjumlah 9 orang, obesitas kelas I yang berjumlah 12 orang, dan obesitas kelas II yang berjumlah 8 orang. Responden yang overweight, obesitas kelas I, dan obesitas kelas II dikelompokkan menjadi satu karena menurut Mawi (2003) mereka yang overweight dan obesitas, mempunyai risiko sama terjadinya PJK yaitu 1,79 kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok underweight dan ideal.
Dilakukan uji beda untuk melihat adakah perbedaan antara kedua kelompok tesebut. Data responden wanita dan pria yang telah dibagi menjadi dua kelompok kemudian diuji normalitas nya menggunakan uji Shapiro Wilk , apabila data tidak terdistribusi normal maka perbandingan nilai data diuji menggunakan uji Mann-Whitney, sedangkan apabila data terdistribusi normal maka perbandingan nilai data diuji menggunakan t-test.
Berdasarkan uji normalitas, kadar LDL, HDL, dan rasio LDL/HDL responden wanita pada kedua kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0
kg/m2 mempunyai distribusi normal (p>0,05) sehingga dapat dilanjutkan dengan t-test untuk mengetahui perbandingan kadar LDL, HDL, dan rasio LDL/HDL. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar LDL dan HDL berbeda tidak bermakna (p>0,05)
antara kelompok kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
, sedangkan rasio LDL/HDL berbeda bermakna (p<0,05) pada kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
.
Pada responden pria kadar HDL pada kedua kelompok BMI <23,0 kg/m2
dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
mempunyai distribusi yang tidak normal sehingga dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa kadar HDL memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05) antara kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
. LDL dan rasio LDL/HDL pada kedua kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
mempunyai distribusi normal (p>0,05) sehingga dapat dilanjutkan dengan t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar LDL dan rasio LDL/HDL berbeda tidak bermakna (p>0,05) antara kelompok kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
.
Tabel XIV. Perbandingan kadar LDL, HDL, dan Rasio LDL/HDL pada Kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
Responden Wanita Karakteristik BMI <23,0 kg/m2 (n = 42) Mean±SD BMI ≥23,0 kg/m2 (n = 27) Mean±SD p LDL (mg/dL) 107,52±22,394 116,96±28,703 0,285 HDL (mg/dL) 56,69±9,306 47,63±9,431 0,930 Rasio LDL/HDL 1,93±0,448 2,54±0,774 0,003*
Tabel XV. Perbandingan kadar LDL, HDL, dan Rasio LDL/HDL pada Kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
Responden Pria Karakteristik BMI <23,0 kg/m2 (n = 25) Mean±SD BMI ≥23,0 kg/m2 (n = 35) Mean±SD p LDL (mg/dL) 102,20±27,996 121,29±25,805 0,742 HDL (mg/dL) 48,32±8,076 45,46±7,853 0,091 Rasio LDL/HDL 2.16±0,657 2,78±0,879 0,075
Keterangan : * = p<0,05 menunjukkan signifikansi Keterangan : * = p<0,05 menunjukkan signifikansi
1. Perbandingan Kadar LDL pada Kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok
BMI ≥23,0 kg/m2
Uji normalitas kadar LDL responden wanita pada kedua kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
menggunakan uji Shapiro Wilk dan dihasilkan data yang terdistribusi normal dengan signifikansi 0,729 dan 0,340 sehingga dapat dilanjutkan dengan t-test. Diperoleh nilai signifikansi 0,285 (p>0,05) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
.
Uji normalitas kadar LDL responden pria pada kedua kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2 juga menggunakan uji Shapiro Wilk dan dihasilkan data yang terdistribusi normal dengan signifikansi 0,786 pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan 0,889 pada kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
. Dari hasil t-test diperoleh nilai signifikansi 0,742 yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa responden dengan kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
mempunyai kadar LDL yang tidak berbeda bermakna, yang berarti bahwa kedua kelompok BMI tersebut mempunyai resiko yang sama untuk terkena PJK. Penelitian Aziz (2003) pada 426 mahasiswa dengan rentang usia 17-22 tahun, dimana pengukuran yang dilakukan antara lain : BMI, profil lipid, dan tekanan darah. Hasil yang didapat adalah tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,26) kadar LDL pada 3 kelompok BMI (underweight jika BMI
<19 kg/m2, normal apabila BMI antara 19-26 kg/m2 dan overweight apabila BMI >26 kg/m2). Hal yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Al-Ajlan (2011), yang dilakukan pada 333 mahasiswa berumur 18-35 tahun, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05) pada 5 kelompok BMI yakni underweight (BMI <18,5 kg/m2), normal weight (BMI 18,5 – 22,9 kg/m2), overweight (BMI 23,0 - 24,9 kg/m2), obese (BMI 25,0 – 29,9 kg/m2), dan severe obese (BMI ≥30 kg/m2).
Berbeda dengan penelitian Shah, Devrajani, dan Bibi (2010) yang dilakukan pada 200 subyek pria dan wanita dengan rentang usia 20-79 tahun yang dibagi dalam 2 kelompok (obes, n=100 dan non obes, n=100). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada kadar LDL antara kelompok obes dan non obes. Penelitian Shah et al. yang menghasilkan perbedaan bermakna ini dikarenakan oleh rentang usia yang lebar jika dibandingkan dengan penelitian ini, penelitian Aziz dan penelitian Al-Ajlan. Menurut NCEP ATP III (2002), resiko penyakit jantung koroner (PJK) meningkat tajam seiring dengan meningkatnya usia pada pria dan wanita. Rata-rata, orang tua memiliki penyumbatan dan penyempitan pembuluh arteri koroner lebih banyak daripada orang muda. Pada wanita, kelompok umur 30-39 mempunyai risiko <1% mengalami PJK, kelompok usia 40-49 tahun mempunyai risiko 1,5% dan kelompok usia 50-59 tahun mempunyai risiko 5%. Pada pria, kelompok umur 30-39 mempunyai risiko 3% mengalami PJK, kelompok usia 40-49 tahun mempunyai risiko 6% dan kelompok usia 50-59 tahun mempunyai risiko
11%. Menurut Birtcher and Ballantyne (2004), seseorang yang berumur 20 tahun ke atas direkomendasikan untuk mengontrol kolesterolnya tiap 5 tahun.
2. Perbandingan Kadar HDL pada Kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok
BMI ≥23,0 kg/m2
Data HDL responden wanita pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan
kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro Wilk dan dihasilkan distribusi data yang normal dengan signifikansi 0,281 pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan 0,358 pada kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
sehingga uji perbandingan dilakukan t-test. Hasilnya diperoleh nilai signifikansi 0,930 yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok BMI <23,0 kg/m2dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
.
Data HDL responden pria pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok
BMI ≥23,0 kg/m2
diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro Wilk dan dihasilkan distribusi data yang normal (p=0,533) pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan distribusi data yang tidak normal pada kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
(p=0,005). Hasil uji normalitas dari kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa satu data tidak terdistribusi normal sehingga uji perbandingan yang digunakan adalah uji Mann-Whitney. Diperoleh signifikansi 0,091 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok tersebut.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa responden dengan kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
tidak berbeda bermakna. Semakin rendah kadar HDL dalam darah, resiko PJK akan semakin besar, begitu pula sebaliknya (NCEP ATP III, 2002). Hasil penelitian Shah et al.(2010) pada 100 subyek obes dan 100 subyek non obes berusia 20-79 tahun, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) kadar HDL antara kelompok obes dan non obes.
3. Perbandingan Rasio LDL/HDL pada Kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan
kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
Uji normalitas data rasio LDL/HDL pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan
kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
responden wanita menggunakan Shapiro Wilk dihasilkan distribusi normal dengan signifikansi 0,271 pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan 0,602 pada kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
(kedua data terdistribusi normal). Hasil pengujian statistik dengan t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,03).
Data rasio LDL/HDL pada kedua kelompok responden pria terdistribusi normal diuji dengan Shapiro Wilk dengan signifikansi 0,349 pada kelompok BMI <23,0 kg/m2 dan 0,798 pada kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
. Terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0,075) antara rasio LDL/HDL pada kelompok BMI <23,0 kg/m2
dan kelompok BMI ≥23,0 kg/m2
dari pengujian menggunakan t-test.
Penelitian yang dilakukan oleh Sanlier and Yabanci (2007) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna rasio LDL/HDL pada BMI underweight (BMI <18,5 kg/m2), normal weight (BMI 18,5-24,9 kg/m2), dan overweight (BMI >25
kg/m2) dengan signifikansi 0,03. Rasio LDL/HDL secara signifikan meningkat pada kelompok mahasiswa yang mengalami overweight daripada yang mengalami underweight (p=0,03). Kamath (2005) juga menyatakan bahwa terdapat perbedaan
yang bermakna rasio LDL/HDL pada BMI ≥25 kg/m2
dan BMI <25kg/m2 (p<0,01). Penelitiannya menggunakan responden 50 wanita dengan rentang umur 18-26 tahun.
Menurut Fernandez and Webb (2008), pengukuran rasio LDL/HDL merupakan standar yang penting untuk mengevaluasi resiko PJK. Rasio LDL/HDL adalah prediktor yang kuat terhadap resiko PJK daripada LDL atau HDL itu sendiri. Perubahan rasio LDL/HDL telah terbukti menjadi indikator yang lebih baik dalam keberhasilan menurunkan resiko PJK.