METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.HASILPENELITIAN
4.1.2. PERBANDINGAN NILAI LIMFOSIT T-CD8 + PADA DEWASA SEHAT DAN PPOK
Berdasarkan hasil penelitian ini, didapat nilai % Limfosit pada pasien PPOK
dengan rerata 16.72 ( SD 12.33) dan pada dewasa sehat rerata 31.61 (SD=8.77)
dengan p value < 0.001 yang berarti terdapatnya perbedaan bermakna antara rerata
% limfosit pada pasien PPOK dengan dewasa sehat ( Tabel 4.7)
Tabel 4.7. Perbandingan nilai % Limfosit pada PPOK dan Dewasa sehat
N Rerata ± SD P
PPOK 30 16.72 (12.33) < 0.001 Dewasa Sehat 30 31.61 (8.77)
Karena nilai p < 0.05 maka terdapat perbedaan rerata % limfosit yang bermakna antara kelompok PPOK dan kelompok dewasa sehat.
Perbandingan nilai absolut Limfosit T-CD8+ pada pasien PPOK didapat rerata
0.001 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara rerata nilai absolut limfosit
T-CD8+
Tabel 4.8. Perbandingan nilai Absolut Limfosit T-CD8 pada pasien PPOK dengan dewasa sehat ( Tabel 4.8)
+
pada PPOK dan Dewasa sehat.
N Rerata ± SD P
PPOK 30 353.7 (257.75) < 0.001 Dewasa Sehat 30 592.93 (221.19) *uji t tidak berpasangan.
Karena nilai p <0.05 maka terdapat perbedaan rerata absolute CD8+ yang bermakna antara kelompok PPOK dan kelompok dewasa sehat.
Nilai % CD8+ pada pasien PPOK dengan rerata 23.07 ( SD 11.32) dan pada dewasa
sehat rerata 21.77 (SD 5.2) dengan p value 0.982 yang berarti tidak ada perbedaan
bermakna antara % CD8+
Tabel 4.9. Perbandingan nilai % CD8
pada pasien PPOK dan dewasa sehat.(Tabel 4.9)
+
pada PPOK dan Dewasa sehat.
N Rerata ± SD P
PPOK 30 23.07 (11.32) 0.982
Kontrol 30 21.77 (5.2)
*uji Mann-Witney
Karena nilai p > 0.05 maka tidak ada perbedaan bermakna antara % CD8+ kelompok PPOK dan % CD8+ kelompok dewasa sehat sebagai pembanding.
4.2. Pembahasan
Pada penelitian ini seluruh subyek penelitian berjumlah 60 orang yang
terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok PPOK dan kelompok pembanding
dewasa sehat perokok. Keseluruhan subyek telah mendapatkan penjelasan dan
menandatangani persetujuan mengikuti penelitian. Pada penelitian ini semua subjek
penelitian yang berjumlah 60 orang (100%) berjenis kelamin laki - laki. Menurut
penelitian Yusuf, tahun 2010, penderita berjenis kelamin laki – laki lebih banyak
125 orang (86,8%) di RSU Tembakau Deli dan sebanyak 270 orang (65,7%) di RSU
Pirngadi Medan.11 Penelitian Anggraini pada tahun 2011 di RSUP. H. Adam Malik
dan RS. PTP Medan mendapatkan bahwasanya keseluruhan penderita PPOK adalah
laki – laki.
Berdasarkan ini dapat digambarkan bahwa pasien PPOK lebih banyak laki -
laki daripada perempuan. Hal ini disebabkan lebih banyak ditemukan perokok pada
laki – laki dibandingkan pada wanita. Hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi
Nasional) tahun 2001 menunjukkan bahwa sebanyak 54,5% penduduk laki-laki
merupakan perokok dan hanya 1,2% perempuan yang merokok.
32
Berdasarkan umur, penderita PPOK yang mengikuti penelitian ini terbanyak
diantara umur diatas 60 tahun sebanyak 17 orang (56.7%). Berdasarkan usia,
penelitian Yusuf, tahun 2010 menunjukkan proporsi usia tertinggi adalah usia lebih
dari 60 tahun pada ketiga rumah sakit yaitu 52 orang (63,4%) di RS. Haji Adam
Malik, 95 orang (66%) di RS Tembakau Deli dan 259 orang (63%) di RS Pirngadi
Medan dan penelitian Anggraini pada tahun 2011 mendapatkan hasil rerata umur
antara kelompok perlakuan 64,94 tahun dan kelompok kontrol 66 tahun.
1
11,32
Hal
serupa juga ditemukan pada penelitian Wihastuti dkk yang mendapatkan rerata usia
penderita PPOK adalah 65,4 tahun dan penelitian Abidin dkk yang mendapatkan
rerata usia penderita PPOK 66,2 tahun. Menurut hasil penelitian Setiyanto dkk. di
ruang rawat inap RS. Persahabatan Jakarta selama April 2005 sampai April 2007
menunjukkan bahwa dari 120 pasien, usia termuda adalah 40 tahun dan tertua adalah
81 tahun. PPOK lebih sering pada yang masih aktif merokok dan bekas perokok dan
berhubungan erat PPOK, merokok dapat menyebabkan PPOK dengan mengurangi
fungsi paru secara cepat
. Berdasarkan status merokok, pada penelitian ini didapat pada subjek PPOK
30 orang ( 100%) telah berhenti merokok dan pada subjek dewasa sehat 28 orang
(93.3%) masih merokok dan 2 orang (6.7%) telah berhenti merokok. Penelitian
Yusuf, tahun 2010 menunjukkan hasil dengan proporsi penderita tertinggi
berdasarkan status merokok pada ketiga rumah sakit adalah bekas perokok yaitu
63,4% di RSUP.H. Adam Malik, 59% di RS Tembakau Deli dan 45,5% di RS
Pirngadi Medan.11 Pada penelitian Anggraini, ditemukan semua penderita PPOK
memiliki riwayat merokok, 16 orang dari kelompok perlakuan sudah berhenti
merokok dan 3 orang dari kontrol yang masih merokok.32
Berdasarkan Indeks Brinkman pada penelitian ini, pada subjek PPOK yang
terbanyak adalah dengan derajat berat ( ≥ 600) sebanyak 20 orang (66.7%) dan
dengan derajat sedang (200 – 599 ) sebanyak 10 orang (33.3%), sedangkan pada
subjek sehat terbanyak pada derajat berat sebanyak 16 orang (53.3%) dan derajat
sedang sebanyak 14 orang (46.7%). Penelitian Yusuf, tahun 2010 menunjukkan
proporsi penderita tertinggi berdasarkan derajat merokok/Indeks Brinkman dari
ketiga rumah sakit adalah derajat berat yaitu 90,5% di RSUP Haji Adam Malik, 75%
di RS Tembakau deli dan 68,7% di RS Pirngadi Medan.
11
Penelitian Anggraini tahun
2011 mendapatkan hasil rerata Indeks Briksman dari kelompok perlakuan adalah
510,38 dan kontrol adalah 600,44.32 Jumlah perokok yang berisiko menderita PPOK
atau kanker paru berkisar antara 20 – 25%. Hubungan antara rokok dengan PPOK
hari dan lebih lama kebiasaan merokok tersebut maka risiko penyakit yang
ditimbulkan akan lebih besar. Indeks Brinkman yang semakin besar pada penderita
PPOK, akan memperburuk PPOK itu sendiri.
Berdasarkan penelitian ini, nilai VEP
1
1 dan derajat obstruksi pada subjek PPOK terbanyak adalah nilai 50% < VEP1 < 80% prediksi dengan derajat obstruksi
berat (GOLD 2) sebanyak 18 orang (60%), kemudian nilai VEP1 ≥80% prediksi dengan derajat obstruksi ringan (GOLD 1) sebanyak 5 orang (16.7%), nilai 30% <
VEP1 < 50% prediksi dengan derajat obstruksi sedang (GOLD 3) sebanyak 4 orang
(13.3%) serta nilai VEP1 < 30% prediksi dengan derajat obstruksi sangat berat
(GOLD 4) sebanyak 3 orang (10%), sedangkan pada dewasa sehat 30 orang (100%)
tidak didapati tanda-tanda obstruksi dari spirometri. Penelitian Yusuf pada tahun
2010 menunjukkan hasil terbanyak penderita PPOK dengan derajat berat sebanyak 46
orang (56,1%) di RSUP. HAM dan sebanyak 65 orang (45,1%) di RS. Tembakau
Deli.11 Pada penelitian Anggraini tahun 2011, derajat PPOK, mendapatkan hasil
derajat PPOK sangat berat pada kelompok perlakuan (62,5%) dan kelompok kontrol
(56,25) merupakan peserta penelitian terbanyak.32 Jumlah pasien PPOK sedang
hingga berat di Asia tahun 2006 mencapai 56,6 juta pasien dengan prevalens 6,3%.
Gambar 4.1. Gambaran rerata % Limfosit pada PPOK dan Dewasa sehat
Pada penelitian ini, didapat nilai % Limfosit pada pasien PPOK dengan
rerata 16.72 ( SD=12.33) dan pada dewasa sehat rerata 31.61 (SD=8.77) dengan p
value < 0.001 yang berarti terdapatnya perbedaan bermakna antara rerata % limfosit
pada pasien PPOK dengan dewasa sehat ,dimana jumlah % limfosit pada dewasa
sehat perokok lebih tinggi dibanding dengan PPOK. Hal ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Koch A dkk tahun 2007 di Jerman pada 12 orang PPOK dan 14 orang
dewasa sehat perokok menemukan bahwa rerata jumlah limfosit pada dewasa sehat
perokok 29.7± SD 1.5 dan pasien PPOK 22.9± SD 1.5 (p= < 0.001) 35 0 5 10 15 20 25 30 35
PPOK Dewasa Sehat
Rerata % Limfosit PPOK : 16.72 Dewasa Sehat :31.61 P < 0.001
Gambar 4.2 . Gambaran rerata nilai absolute CD8+ pada PPOK dan dewasa sehat .
Perbandingan nilai absolut Limfosit T-CD8+ pada pasien PPOK didapat rerata 353.7 (
SD 257.75) dan pada dewasa sehat 592.93 (SD 221.19) dengan p value < 0.001 yang
berarti terdapat perbedaan bermakna antara rerata nilai absolut limfosit T-CD8+ pada
pasien PPOK dengan dewasa sehat perokok.
Penelitian Mathai K tahun 2013 di India pada 21 orang PPOK dan 19 dewasa sehat
perokok didapati tidak ada perbedaan statistik yang signifikan dalam subset limfosit
T- CD8 yang ditemukan antara PPOK dan kelompok dewasa sehat.( PPOK
427.7±264.3 ; Kontrol 426.9±193.3 p= 0.470 ).36 Hal ini mirip dengan hasil dari Kim
WD tahun 2011 di Korea pada penelitian dengan 20 orang PPOK dan 20 orang sehat
perokok( Sehat perokok 31.6 ± 7.2 ; PPOK 31.9 ±7.3 p= 0.813)37, dan De Jong
tahun 1997 di Belanda pada 21 orang PPOK dan 9 oang sehat perokok (PPOK 31.2
±9.6 ; Sehat Perokok 29.9 ±6.4 p= )38 yang mengamati bahwa perbedaan antara
subset limfosit T pada pasien PPOK dan perokok tanpa gejala tidak signifikan. 0 100 200 300 400 500 600 700
PPOK Dewasa Sehat
Rerata nilai absolut CD8+
Rerata nilai absolut CD8+
PPOK : 353.7 Dewasa sehat : 592.93 P < 0.001
4.3 Gambaran rerata nilai % CD8+ pada PPOK dan Dewasa sehat
Pada penelitian ini nilai % CD8+ pada pasien PPOK dengan rerata 23.07 ( SD 11.32)
dan pada dewasa sehat rerata 21.77 (SD 5.2) dengan p value 0.982 yang berarti tidak
ada perbedaan bermakna antara % CD8+ pada pasien PPOK dan dewasa sehat.(Tabel
4.9). Hal ini sesuai dengan penelitian Hodge S.J (2002) pada penelitian dengan
pengambilan darah perifer dari 18 pasien PPOK dan 16 pasien kontrol, mendapati
bahwa sel limfosit T CD8+ sedikit meningkat namun tidak bermakna pada PPOK
dibanding dengn kontrol ( PPOK 31.7±14.3% SD ; Kontrol 26.6±11.2% SD p =
0.049 ).7 Pons J dkk., melakukan penelitian di Spanyol pada 20 orang dewasa sehat
perokok dan 20 pasien PPOK. Umur pasien PPOK sedikit lebih tua (66,4 1,6 tahun)
daripada kelompok dewasa perokok (58,0 1,9 tahun) . Dalam darah, persentase
limfosit T-CD8+ ( 35.2±2,6% dan 34.6±3.0%) adalah sama pada kedua kelompok.
Beberapa teori telah dihipotesiskan berkaitan dengan peran limfosit T CD8+ pada
PPOK. Sebuah hipotesis penting adalah bahwa limfosit T-CD8+ sitotoksik bisa 21 21,5 22 22,5 23 23,5
PPOK Dewasa Sehat
Rerata nilai %CD8+
Rerata nilai %CD8+
PPOK : 23.07 Dewasa sehat: 21.77 P = 0.982
mempercepat apoptosis yang mengakibatkan kerusakan jaringan paru-paru. Teori lain
menyebutkan bahwa limfosit T CD8+ bisa melepaskan beberapa sitokin proinflamasi,
yang selanjutnya dapat mengaktifkan lebih banyak sel-T dan sel inflamasi lainnya.
Namun, jenis sel T yang diaktifkan dan sitokin yang dilepaskan oleh limfosit T CD8+,
akan menentukan hasil akhir pada PPOK (bronkitis kronis / emfisema).
Dalam penelitian ini, kecenderungan jumlah absolut limfosit T CD8+ lebih
rendah pada pasien dengan PPOK terdeteksi, meskipun itu tidak signifikan secara
statistik (Gambar 4.2). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa sel-T yang memainkan
peran penting dalam menjaga batas toleransi perifer dan pencegahan autoimunitas
antara pasien PPOK. Satu penjelasan yang mungkin untuk temuan ini adalah bahwa
limfosit T-CD8+ dapat berkurang didaerah perifer sebagai akibat dari perekrutan
limfosit T-CD8+ ke paru-paru. Karena perubahan ini terjadi pada perokok baik pada
mereka dengan dan tanpa PPOK, limfosit T-CD8+ tidak dengan sendirinya dapat
bertanggung jawab untuk penyakit ini, tetapi bisa memfasilitasi pengembangan
penyakit pada perokok, bersinergi dengan perubahan inflamasi lainnya.
Perbedaan nilai limfosit T-CD8+ pada penelitian ini kemungkinan dipengaruhi
faktor usia, dimana usia diatas 60 tahun produksi limfosit T-CD8+ mulai menurun.
Rata-rata usia pada dewasa sehat perokok pada penelitian ini 47.93 tahun berbeda
dengan pada subjek PPOK dengan rata-rata 60.5 tahun. Keterbatasan penelitian ini
adalah ukuran sampel yang relatif kecil di setiap kelompok sampel sehingga dalam
mendukung hasil dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan lebih besar pada sejumlah
besar perokok serta pada pasien dengan PPOK dalam menyelidiki hubungan bagian
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN