TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KERTAS
2.4 PERBANDINGAN PENELITIAN-PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN
Berikut penelitian-penelitian terdahulu, yaitu penghilangan tinta dengan proses flotasi :
Tabel 2.1 Perbandingan Studi Terdahulu
No. Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 1 Daur Ulang Kertas HVS Bekas Secara Kimiawi dan Enzimatis [5]
a. Metode : Flotasi secara kimiawi dan enzimatik b. Bahan baku : Kertas bekas
HVS c. Variabel-variabel : • Konsistensi pembuburan : 4 % • Konsistensi flotasi : 0,8- 1% • Konsentrasi Na-Oleat : 1-4% • Waktu perendaman : 60 menit
• Waktu flotasi : 15 menit
• pH flotasi : 9-10 • Ukuran kertas : 1/16, 1/64 • Suhu : 50 dan 80 o • Konsentrasi NaOH : 1% dan 5% C
a. Pengaruh jumlah NaOH yang berlebihan dapat mengakibatkan penguningan kertas akibat alkali berlebihan b. Apabila ingin
memberikan derajat putih dan indeks tarik yang baik digunakan kondisi naoh yang sedikit dan potongan kertas yang kecil
2 Novel Solutions to New Problems in Paper Deinking
[11]
a. Metode : Proses radiasi ultraviolet, flotasi dan pencucian
b. Bahan baku : Kertas bekas print c. Variabel-variabel :
• Waktu reaksi : 10, 20 menit
• pH : 9-11
• Suhu : 35-80 o
a. Persentase penghilangan tinta pada waktu sonication 10 dan 20 menit mencapai hmpir 100%.
C
3 Pengaruh Umur Kertas dan Penggunaan Bahan Kolektor Terhadap Penghilangan Tinta Kertas Koran Bekas
[6]
a. Metode : Proses deinking campuran flotasi dengan pencucian
b. Bahan baku : Kertas koran bekas dengan umur kertas < 6 bulan dan > 6 bulan c. Variabel-variabel : • Temperatur pembuburan : 60 o • Konsistensi pembuburan : 4% C • Kecepatan pengadukan : 300 rpm • Konsentrasi peroksida : 1,5%
• Konsentrasi natrium silikat : 2,5%
• Pendispersi : Rinso, Attack, Amway dan sabun batangan Sunlight
• Konsistensi flotasi : 1%
a. Kadar air : umur kertas yang lebih lama akan menyebabkan meningkatnya kadar air dari kertas.
b. Kadar abu : tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua jenis umur kertas.
c. Derajat putih : derajat putih paling tinggi diperoleh pada perlakuan umur < 6 bulan dan minyak jarak dan Rinso d. Opasitas : nilai opasitas tertinggi diperoleh pada perlakuan
umur kertas > 6 bulan, minyak kemiri dan pemakaian sabun. e. Ketahanan tarik : diperoleh hasil terbaik oleh kombinasi
faktor umur < 6 bulan, kolektor kemiri dan detergen Amway. f. Ketahanan sobek : diperoleh hasil terbaik oleh kombinasi
umur < 6 bulan dengan kolektor minyak jarak dan dispersan Rinso.
g. Ketahanan retak : diperoleh hasil terbaik oleh kombinasi umur < 6 bulan tanpa kolektor dan dispersan Attack. 4 Components Removal In
Flotation Deinking
[23]
a. Metode : Flotasi secara kimiawi b. Bahan baku : Majalah dan Koran c. Variabel-variabel :
• Konsistensi pembuburan : 16 %
• Konsistensi flotasi : 1 % , 1,8% &
a. Pengaruh dari kecepatan pengaduk antara lain selektivitas penghilangan tinta 97%, kadar abu 0,53 %.
b. Pengaruh dari konsistensi flotasi antara lain penghilangan tintanya 98%.
• Kecepatan pengaduk : 80 L/min dan 70 L/min
5 Proses penghilangan tinta pada kertas bekas
[24]
a. Metode : Flotasi secara kimiawi b. Bahan baku : Majalah dan Koran c. Variabel-variabel :
• Konsentrasi deterjen : 5%, 20%, dan 50%
• Waktu penyabunan : 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam
a. Konsentrasi deterjen yang optimal adalah 20% dengan waktu penyabunan 30-60 menit, kadar air, yield, kadar abu adalah 30 %, 70% dan 3 %
b. Konsentrasi deterjen yang bervariasi memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap komposisi bahan baku kertas bekas,dengan meningkatnya konsentrasi deterjen
memberikan pengaruh kepada kadar alpha dan beta selulosa semakin menurun.
c. Ditinjau dari konsentrasi deterjen dan waktu penyabunan, maka penghilangan tinta pada kertas bekas memiliki nilai yang baik pada konsentrasi 20 dan 50 %.
d. Ditinjau dari segi kandungan alpha dan beta selulosa penghilangan tinta baik dilakukan selama 10 menit karena mendapatkan kadar selulosa yang tinggi 32,6-41%. 6 Assessment Of Deinking
Chemistry Performance: From Laboratory Flotation Tests To The Simulation Of An Industrial Pre-Flotation Line
[25]
a. Metode : Flotasi secara kimiawi b. Bahan baku : Majalah dan Koran c. Variabel-variabel :
• Waktu penyabunan : 15 menit
• Konsistensi : 13%
• Suhu : 45o
• Silikat : 2 % dan 1% C
• Kolektor : 0,45% dan 0,15%
a. Hasil yield paling tinggi adalah 92,4 % yang terdiri dari 2 % silikat dengan kehilangan serat 1 %.
b. Proses yield menurun dari 92,2%, 87,7% dan 86,9% dengan kandungan silikat 1%,
7 Deinking of high-quality offset papers: Influence of
consistensy, Agitation Speed, and Air Flow Rate in The Flotation Stage
[26]
a. Metode : Flotasi secara Kimiawi b Bahan Baku : Kertas offset Printing c. Variabel - variabel :
• Konsistensi : 0,75, 1 dan 1,25%
• Kecepatan Udara : 500, 750 dan 1000 L/h
• Kecepatan impeller : 850, 1150 dan 1450 rpm
a. Faktor deinkability tertinggi adalah 88%.
b. Efisiensi tertinggi didapat pada variabel kecepatan impeller 1450 rpm, kecepatan udara 1000 L/hdan konsistensi 1,25%.
8 Deinking Selectivity (Z-Factor) : A New Parameter to Evaluate Performance of Flotation Deinking Process
[27]
a. Proses : Flotasi secara Kimiawi b. Bahan baku : Koran dan majalah c. Variabel-variabel : • Konsistensi : 11% • Suhu : 40 dan 50 o • Konsentrasi Surfaktan : 0,2, 0,4, 0,6 dan 0,8 % C
a. Hasil brightness tertinggi didapat pada konsentrasi surfaktan o,8% yaitu 81%.
9 Performance of Different Surfactant in Deinking Flotation Process [28]
a. Proses : Flotasi secara Kimiawi b. Bahan baku : Kertas bekas diprint c. Temperatur pulping : 35-55 o d. Waktu pulping : 1 jam
C c. Variabel-variabel :
• Surfaktan : Surfaktan non-ionik, surfaktan ionik, surfaktan kationik.
a. Diperoleh brightness sebesar 62% pada penggunaan 2-oktanol dan konsistensi pulp 0,8%.
Dari perbandingan penelitian – penelitian terdahulu yang relevan (Tabel 2.1), maka pada penelitian ini digunakan kertas termal sebagai bahan baku utama. Sedangkan bahan larutan pemasak yang digunakan adalah Ca(OH)2 dan bahan kolektornya adalah minyak zaitun. Yang membuat perbedaan dari penelitian– penelitian sebelumnya adalah bahan baku, larutan pemasak dan bahan kolektor. 2.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FLOTASI
a. Surfaktan
Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut Critical Micelle Concentration (CMC). Tegangan permukaan akan menurun hingga CMC tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya [29].
b. Laju alir udara
Laju alir udara mempunyai pengaruh yang signifikan pada flotasi. Secara umum, udara mempunyai dua pengaruh pada flotasi. Ketika laju alir udara sangat rendah, penambahan laju alir udara dapat memberikan efek yang positif pada flotasi. Pengaruh lain dari laju alir udara adalah udara dapat juga menurunkan densitas dari slurry flotasi dan udara yang berlebihan akan menghasilkan rendahnya konsentrasi pemulihan [30]
c. Ukuran partikel
Ukuran partikel yang besar membuat partikel tersebut cenderung untuk mengendap sehingga susah untuk terflotasi [31]. Di dalam penelitian, dihasilkan bahwa pemulihan tertinggi flotasi didapatkan pada ukuran partikel antara 10 dan 50 mikron. Penurunan recovery yang tajam terjadi ketika ukuran partikel di atas 50 mikron dan di bawah 10 mikron [30].
d. Densitas pulp
Densitas pulp yang tinggi akan menyebabkan gelembung kelebihan muatan (overloading) sehingga flotasi akan mustahil. Densitas pulp yang tinggi juga dapat menciptakan gelembung yang sangat kecil yang mana terlalu berat untuk mengapung [30].
e. Waktu flotasi
Pengaruh dari waktu flotasi terhadap pemulihan yang terjadi pada flotasi yaitu bahwa semakin bertambahnya waktu maka pemulihan yang terjadi akan semakin bertambah [32].
f. Suhu Flotasi
Suhu tergantung pada bahan baku dan proses yang dikehendaki. Secara umum proses di bawah suhu 60°C digolongkan sebagai proses dingin, sedangkan suhu di atas 60°C digolongkan sebagai proses panas. Proses yang dilakukan pada suhu tinggi relatif rnernerlukan waktu penguraian yang lebih pendek. Untuk kertas dengan tinta cetak non impak sebaiknya dilakukan pada suhu di atas 50°C untuk lebih meningkatkan efektivitas proses penghilangan tinta [33]
g. Konsistensi Flotasi
Pemasakan umumnya dilakukan pada kekentalan (konsistensi) sesuai dengan proses pemisahan tinta (flotasi), yaitu 0,8-1,0%. Pada kandungan bahan kering kertas dalam air 0,4-0,8% akan terpisahkan logam, pasir dan partikel tinta yang besar. Jika konsistensi semakin besar maka akan sulit memisahkan tintanya [33].