No. Persamaan Hukum Islam BW Hukum adat
1 Keadaan Masyarakat Dan Pengaruh Politik Hukum Terhadap Hukum Waris
Hukum dan Masyarakat memiliki hubungan yang bersifat fungsional, apabila masyarakjat berubah maka hukumnyapun juga akan mengalami perubahan.
Sebagai akibat berlakunya Pasal II AP UUD 1945, dengan sendirinya berlaku pula pluralisme hukum, khususnya Hukum Waris BW, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Adat, yang berlaku mengikuti pergolongan rakyat (aspek historis).
Perkembangannya politik pergolongan rakyat yang ditransfer dari Tatahukum Hindia Belanda tersebut, sedikit demi sedikit mengalami perubahan sejalan dengan perubahan politik hukum dengan diterbitkannya UU baru yang bersifat unifikasi hukum (Perkawinan dan Pengadilan Agama).
7 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, Cet.5, Bandung, PT Citra Aditya
Bakti, 1995, hlm 24.
8 Ismuha, Penggantian Tempat Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-undang
2 Pengertian pewarisan
Pewarisan adalah proses penerusan, pengoperan, peralihan harta kekayaan materiil dan immateriil dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3 Tujuan
Pewarisan
Menyelesaikan perikatan yang dibuat pewaris semasa hidupnya dan mempertahankan eksistensi masyarakat genealogis.
4 Konsep harta warisan harus sudah bersih
Harta peninggalan pewaris setelah dibersihkan dari utang-utang pewaris semasa hidupnya (termasuk biaya perawatan, selamatan dan biaya kubur), selebihnya baru dapat dilakukan pembagian warisan (Konsep pasiva dan aktiva).
5 Unsur-unsur
pewarisan Pewaris, Harta Warisan dan Ahli Waris.
6 Sifat kumulatif berkait dengan konsep peristiwa hukum waris, dan apabila salah satu saja dari unsur-unsur pewarisan tidak ada maka tidak akan terjadi peristiwa pewarisan.
7 Sistematika unsur-unsur
unsur-unsur tersebut (Pewaris, Harta Warisan dan Ahli Waris) merupakan suatu sistematika, yang berasngkat dari cara berpikir sistem dan susunan/urutan unsur-unsur tersebut tidak bisa dibolak-balik.
8 Konsep Harta nilai ekonomis, sosial dan magis, materiil dan immateriil, kepemilikan komunal dan individual, dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
9 Sistim
pewarisan/ pembagian
Semasa hidup pewaris (inisiatif ada pada pewaris, hak ahli waris belum terbuka)teknisnya: sebagian atau seluruhnya, diikuti peralihan yuridis atau tidak diikuti peralihan yuridis (penunjukan, digarap) bentuknya: hibah atau hibah wasiat.
Setelah pewaris meninggal (inisiatif ada pada para ahli waris, sebab hak para ahli waris sudah terbuka) teknisnya: pembagian warisan tanpa sengketa atau dengan musyawarah dan pembagian warisan dengan sengketa sengketa diartikan sudah menjadi perkara di pengadilan.
10 Terbukanya
warisan Kematian pewaris
No Perbedaan Hukum Islam BW Hukum adat
1 Konsep keluarga Patrilioneal-Bilateral bilateral Patrilineal Matrilineal
Parental
2 Sistim Pewarisan
Individual Individual Tergantung
pengaturan adatnya : a. Sisitim pewarisan Individual pada susunan kekeluargaan patrilineal (batak) b. Sistim Kolektif.
Misalnya harta tinggi di Minangkabau, ambon. c. Sistim pewarisan Mayorat. Misal di Bali, Lampung. 3 Konsep harta keluarga
Bukan persatuan Persatuan Bukan persatuan
4 Jenis harta keluarga
Harta masing-masing suami isteri dan harta bersama
Harta persatuan kecuali ada perjanjian kawin
Harta pusaka Harta asal
Harta pencaharian (harta bersama) 5 Keadaan harta
warisan Bersih dari hutang Dapat dibagi-bagi
Harta materiil
Harta peninggalan
Bersih dari hutang
Dapat dibagi-bagi
Harta materiil
Harta peninggalan
Bersih dari hutang
Ada yang tidak terbagi dan ada yang dapat dibagi-bagi
Harta materiil dan harta immateriil
Harta peninggalan dan harta pemberian dari sipewaris semasa hidupnya kepada ahli waris
Aktiva & pasiva Aktiva & pasiva Aktiva 6 Ahli waris Genealogis (nasab) dan
karena perkawinan Garis kebawah Garis keatas Garis menyamping Dikenal penggolongan ahli waris Dikenal konsep penghalang menerima warisan Ab-intestato dan testamen Garis keatas Garis kebawah Dikenal penggolongan ahli waris Dikenal konsep penghalang menerima warisan Genealogis dan perbuatan hukum (anak angkat)
Garis kebawah dan muncul janda Dikenal penggolongan ahli waris Dikenal konsep penghalang menerima warisan 7 Penggantian tempat ahli waris
Tidak dikenal lembaga ini, penyelesaiannya dengan wasiat wajibah
Dikenal lembaga ini Dikenal lembaga ini
8 Hal ahli waris Hak dan bagian sama dalam pembagian individual
Hak dan bagian sama Hak dan bagian tidak sama antara laki-laki dan perempuan 9 Bagian ahli
waris
Ditentukan dengan menetapkan besar bagian yang akan diterima oleh ahli waris sesuai
penggolongannya
Ditentukan secara matematis
Ditentukan seimbang
10 Hak menolak
11 Perhitungan harta warisan oleh ahli waris
Prinsipnya harta warisan adalah harta peninggalan
Dikenal lembaga inbreg yang merupakan kewajiban dari para ahli waris
Terdapat asas harta warisan merupakan kesatuan bagi para ahli warisnya
12 Anak angkat Tidak mengenal anak angkat bila ada diselesaikan dengan wasiat
Tidak dikenal anak angkat tetapi bila ada angkat dianggap sama dengan anak kandung
Mengenal anak angkat hanya hak warisnya terbatas pada harta bersama
13 Anak luar kawin Memiliki hubungan hukum dengan ibunya
Harus melalui pengakuan oleh ibu maupun ayanhnya
Memiliki hubungan hukum dengan ibunya dan ayahnya yang mengakuinya 14 Pencabutan hak
mawaris Setelah meninggalnya pewaris dengan wasiat Ab-intestato dan testamen Semasa hidup pewarisdan setelah meninggalnya pewaris 15 Hibah/sohenkin
g Tidak diperhitungkan dalam pembagian warisan
Terkena inbreng Diperhitungkan dalam pewarisan
16 Wasiat/testamen Sebagai hak pewarisan yang harus didahulukan
Sebagai hak pewaris yang harus didahulukan
Wasiat kepada ahli waris, sebagai penetapan warisan wasiat kepada bukan ahli waris tidak boleh merugikan ahli waris 17 Pencabutan hak
waris
Perbudakan
,Pembunuhan, berlainan agama berlainan negara
Pembunuhan dan perbuatan lain yang tidak patut dilakukan oleh ahli waris terhadap pewaris (838 BW)
Pembunuhan
18 Dasar hukum KHI BW buku II,
Didasari pasal 131 IS jo Staasblad 1917 No 12 jo Staatblad 1924 No 557 jo Staatblad 1917 no 12 tetang penundukan diri terhadap hukum eropa.
Kebiasaan, Kesepakatan
19 Hak pewaris Menerima warisan Menerima, dan Menolak warisan, perihal wasiat dan testament,
fedeicommis, legitieme portie, pembagian waris, excecuteur- testamen dan bewind voerder dan harta peninggalan yang tak terurus. Menerima warisan 20 Pengaruh pengaturan waris Di pengaruhi oleh adanya pluralisme ajaran, seperti ajaran kewarisan Ahlus Sunah wal jama’ah, ajaran Sji’ah, ajaran hazairin. Yang paling dianut adalah Ahlus Sunnah wal jama’ah (syafi’i, Hannafi, Hambali, dan maliki) di Indonesia paling dianut adalah Syafi’i disamping ajaran Hazairin yang mulai berpengaruh sejak tahun 1950, sebagai bentuk ijtihad untuk mengurangi hukum islam dalam Al- Qur’an secara bila teral.
Perkembangan masyarakat eropa yg kemudian di tuangkan dalam sebuah peraturan, dan diterapkan di Indonesia dalam peraturan pasal 131 IS jo Staasblad 1917 No 12 jo
Staatblad 1924 No 557 jo Staatblad 1917 no 12 tetang penundukan diri terhadap hukum eropa.
Pengaruh pengaturan dalam hukum adat adalah ;
1) Agama : Hindu, Budha, Islam, Kristen, dsb. Misal, aceh di pengaruhi islam, ambon, malaku dipengaruhi kristen, dsb. 2) Kerajaan, seperti Sriwijaya, Airlangga, Majapahit. 3) Masuknya bangsa- bangsa Arab, china, Eropa
4) Pengaruh bentuk etnis di berbagai daerah lingkungan adat. Misal matrelineal di minagkabau, patrelineal batak, bilateral di jawa, alterneteral (sistem unilateral yang beralih-alih) seperti Rejang Lebong atau Lampung Papadon yg di perlakukan pd orang.
21 Konsep keadilan dalam waris
Menurut hukum faraidh, hukum waris menurut istilah adalah
Hukum waris adalah perpindahan harta kekayaan kepada ahli
Waris di sini adalah aturan-aturan yg mengenai cara
qodar/takdir dan pada syara’ adalah bagian- bagian yg di qadarkan/ di tentukan bagi waris. Dg demikian konsep keadilan adalah telah ditentukan besar kecilnya oleh syara’
waris karena keamtian. Keadilan dalam waris bw adalah konsep keadilan komutatif yaitu adil apabila semua ahli waris mendapatkan harta yg sama, tetapi berhubung adanya SEMA maka ketentuannya pun berubah.
bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yg berwujud dan tidak berwujud dari generasi ke generasi. Hukum waris adat merupakan peraturan-peraturan yg mengatur proses meneruskan serta mengoper barang- barng yg tidak berwujud dari satu generasi ke generasi yg lain.
Dengan demikian keadilan menurut hukum adat adalah kebiasaan
(kesepakatan), pembagian waris sudah adil apabila telah sesuai dengan kebiasaan /
kesepakatan. 22 Proses
pewarisan
Setelah ada kematian Setelah ada kematian Bisa dilakukan ketika pewaris masih hidup
C. Perbandingan Pengaturan Waris menurut Hukum Islam, Hukum Adat