• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PERS DAN TRIAL BY THE PRESS

D. Kebebasan pers dan trial by the press

2. Perbandingan pers di negara otoriter dan demokrasi

Sistem pers yang berlaku di dalam suatu negara tentu saja bergantung dengan ideologi dasar yang di anut oleh negara tersebut. Dalam suatu negara yang menganut sistem kapitalis maka sistem persnya akan berbeda dengan negara yang menganut sistem komunis. Maka sebelum membandingkan sistem pers di dalam suatu negara otoriter dan demokrasi maka terlebih dahulu kita harus ketahui bahwa setidaknya empat macam teori atau konsep dasar tentang Pers sebagaimana di jelaskan oleh Krisna Harahap, yaitu 76:

1. Teori pers otoriter (Authoritarian)

Teori ini lahir pada abad kelima belas sampai keenam belas pada masa bentuk pemerintahan bersifat otoriter (kerajaan absolut). Oleh karena itu keberadaan pers sepenuhnya dimaksudkan untuk menunjangk kerajaan maka pemerintah langsung menguasai dan mengawasi kegiatan media massa. Akibatnya

76 Krisna Harahap, Kebebasan Pers di Indonesia kaitannya dengan surat izin (Bandung : Grafitri Budi Utami, 1996), Hlm. 36-40.

72 sistem pers yang berlaku sepenuhnya berada dibawah pengawasan pemerintah. Kebebasan pers yang ada sangat tergantung kepada kekuasaan yang mempunyai kekuasaan yang mutlak.

2. Teori pers liberal (Libertarian)

Sistem ini berkembang pada abad ke-17 dan 18 sebagai akibat timbulnya revolusi industry . Menurut teori ini, pada dasarnya manusia mempunyai hak yang diperolehnya secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa apabila ada kontrol dari pemerintah maka potensi manusia untuk mengejar kebenaran tidak akan berkembang, karena hal tersebut hanya akan terwujud dalam iklim kebebasan menyatakan pendapat. Teori Libertarian beranggapan bahwa pers harus memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk membantu manusia dalam upayanya menemukan kebenaran.

3. Teori pers komunis (Marxist)

Teori ini berkembang pada awal abad ke-20 sebagai akibat dari sistem komunis di Uni Soviet. Dimana dalam teori komunis ini media massa merupakan alat pemerintah (partai) dan bagian integral dari negara. Ini berarti bahwa media massa harus tunduk pada perintah dan kontrol dari pemerintah atau partai. Pers harus melakukan apa yang terbaik bagi negara dan partai. Yang dilakukan oleh pers untuk mendukung komunis dianggap sebagai perbuatan moral akan tetapi sebaliknya setiap perbuatan pers yang di anggap membahayakan, merintangi dan menentang komunis di pandang sebagai perbuatan immoral.

4. Teori pers tanggung jawab sosial (Social Responsibility)

Teori ini lahir pada permulaan abad ke-20 sebagai protes terhadap kebebasan yang mutlak dari teori libertarian yang mengakibatkan kemerosotan

73 moral pada masyarakat. Dasar pemikiran teori ini bahwasanya kebebasan pers harus di sertai tanggung jawab kepada masyarakat. Pers harus bertindak dan melakukan tugasnya sesuai dengan standar-standar hukum tertentu.

Dari uraian keempat macam teori atau konsep dasar tentang Pers maka kemudian terlihat sangat jelas bahwasanya di dalam suatu negara yang otoriter maka keberadaan pers tidaklah hadir sebagai sebuah lembaga yang independent (mandiri) namun sebuah lembaga yang sengaja di bentuk dan di dirikan serta di resmikan oleh pemerintah atau penguasa (negara) sebagai media atau alat untuk menyampaikan informasi yang sesuai dengan ideologi dan kepentingan pemerintah atau penguasa (negara). Informasi yang di siarkan atau di sajikan di dalam suatu negara otoriter tentu saja tidak bernilai objektif karena merupakan pesanan atau arahan dari penguasa. Sedangkan di dalam suatu negara yang demokratis maka keberadaan pers hadir sebagai sebuah lembaga yang independent (mandiri) dan mendapatkan tempat atau kedudukan yang sama dengan pemerintah. Pers bukan sebagai corong dari pemerintah sehingga pers bebas menyampaikan informasi apapun sekalipun itu merupakan kritik terhadap pemerintah.

Kemudian bahwasanya sistem pers di negara-negara barat (negara industri) yang merupakan bagian dari negara yang menganut paham demokrasi pada umumnya di tandai oleh beberapa karakteristik77 :

1. Mengagung-agungkan kebebasan yang seluas-luasnya sebab mereka merasa bahwa kebebasan pers berkaitan erat dengan kebebasan politik (asas demokrasi). Pers mempunyai peranan penting di dalam suatu sistem politik modern, hal ini dinyatakan oleh Alex Springer sebagai berikut : “ Suatu

77

74 masyarakat yang merdeka lahir atas dasar kebebasan untuk memilih serta kebebasan untuk menyatakan pendapat. Kita dapat mengenali suatu pemerintahan tirani, bukan hanya dari dilarangnya kebebasan memilih, tetapi juga dari dilarangnya pers yang bebas”

2. Hubungan pers dan pemerintah digambarkan sebagai hubungan yang saling berlawanan atau saling berhadapan (adversary theory), dengan persaingan yang sama. Artinya pers bebas dari campur tangan pemerintah dan begitu pula sebaliknya. Begitu pula hubungan denan masyarakat, keduanya sama-sama saling membutuhkan. Karena tanpa saling menunjang, maka baik pers maupun masyarakat akan sama-sama kehilangan mata rantai kehidupannya.

3. Media massa khususnya pers sebagai ajang bisnis besar. salah satunya adalah dengan mengiklankan sesuatu produk, melalui media massa orang berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan jalan menarik pelanggan sebanyak mungkin.

4. Media massa khususnya pers mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kehidupan sosial dan politik dalam masyarakat.

5. Angka sirkulasi surat kabar sangat tinggi, rasio antara surat kabar dengan penduduk berbanding 1: 3 bakan ada yang mencapai 1: 2. Sirkulasi surat kabar yang besar itu ditunjang oleh suatu sistem distribusi yang baik.

6. Reading habit (kebiasan membaca) masyarakat yang tinggi, ditunjuang oleh pendapatan perkapita yang tinggi pula

7. Teknik persuratkabaran sangat modern, ditunjang oleh teknologi komunikasi yang canggih

75 Sedangkan sistem Pers di dalam suatu negara sosialis-komunis yang identik menganut paham otoriter di tandai oleh karakteristik pokok dengan variasi sebagai berikut78 :

1. Sistem pers sosialis-komunis di dasari oleh ajaran marxisme-lenisme

2. Pers berada di tangan partai komunis dan menjadi organ propaganda dan agitasi partai untuk mencapai masyarakat komunis internasional. Kekuasaan ada ditangan satu partai yaitu partai komunis, dengan pengendalian media massa secara sentral.

3. Kebebasan pers secara formal dijamin dalam konstitusi, tetapi dalam prakteknya terdapat penekanan dengan diciptakannya lembaga sensor yang disebut “GLAVIT”

4. Kebebasan individu dibatasi dan masyarakatnya bersifat tertutup

Selanjutnya berdasarkan penjelasan mengenai konsep dasar sistem pers yang ada, lalu kemudian secara garis besar bahwa pers saat ini dibagi menjadi dua kategori yaitu pers yang menganut sistem demokrasi dan pers yang menganut sistem otoriter, yaitu :

PERS DEMOKRASI PERS OTORITER

Pers di awasi oleh Rakyat Pers di awasi oleh Pemerintah

Kedudukan Pers sama dengan Pemerintah Kedudukan Pers sebagai boneka Pemerintah Kebebasan Pers di jamin konstitusi Kebebasan Pers di batasi oleh lembaga sensor

78

76