• Tidak ada hasil yang ditemukan

perBankan Bisnis dan Ukm (Usaha kecil dan menengah)

Mayoritas portofolio Perbankan Bisnis terdiri dari kredit modal kerja, sekitar 78,22%, sedangkan kredit investasi berkontribusi 18,15% dan kredit ekspor/ impor memberikan kontribusi 0,67% terhadap portofolio. Profil portofolio ini sesuai dengan industri yang dilayani oleh Bank. Sekitar 46% dari portofolio diperuntukkan ke bisnis perdagangan & distribusi yang terutama membutuhkan modal kerja untuk menjalankan operasi mereka.

Kredit yang disalurkan oleh segmen Perbankan Bisnis berdasarkan jenis kredit

Business Banking loans by product type

tipe kredit yang diberikan 2012 type of loans rp miliar | IDR billion %*) % **)

Kredit konsumsi 256 2,96 - Consumer loans

Kredit modal kerja 6.764 78,22 80,61 Working capital loans

Kredit investasi 1.569 18,15 18,70 Investment loans

Kredit ekspor/impor 58 0,67 0,69 Export/Import loans

Jumlah *) 8.647 100,00 Total*)

Jumlah **) 8.391 100,00 Total**)

*) termasuk kredit konsumsi | including consumer loans

**) tidak termasuk kredit konsumsi | not including consumer loans

Kredit yang disalurkan oleh segmen Perbankan Bisnis berdasarkan sektor ekonomi

Business Banking loans by economic sector

kredit per sektor ekonomi 2012 loans by economic sectors rp miliar | IDR billion %

Jasa-jasa usaha 655 7,58 Business services

Jasa-jasa sosial dan masyarakat 195 2,26 Social and public services

Konstruksi 609 7,04 Construction

Pengangkutan, pergudangan dan jasa komunikasi 793 9,17 Transportation, warehousing and communication

Perdagangan, restoran dan hotel 3.977 45,99 Trading, restaurant, and hotel

Perindustrian 1.910 22,09 Industry

Pertambangan 21 0,24 Mining

Pertanian, perkebunan dan sarana perkebunan 134 1,55 Agriculture, plantation and plantation improvement

Listrik, gas, dan air 56 0,65 Electricity, gas and water

Lainnya 297 3,43 Others

From a geographic distribution point of view, Jakarta, Medan and Surabaya are the three largest portfolio components. Jakarta dominates 47.30% of the book, while Medan and Surabaya dominate 21.17% and 16.39% respectively.

By 2012, lending activities were centralised in several selected areas. Aside from Jakarta, which has eight Business Banking Lending Centres, the main branches in other cities also serve as the Business Banking lending points. This initiative had enabled the Bank to expand its market segment more easily as well as serve the market more efficiently and effectively.

Since its establishment in 1989, the Bank primarily focused its business on the SME segment; which has since become one of the Bank’s major pillars of growth. The SME segment was approached based on principles of prudent banking as well as with an emphasis on service-based Relationship Banking, a vital key to the Bank’s success in keeping the NPL ratio very low.

Another factor that has proven pivotal to this success is the Bank’s ability to offer and serve its customers with products and services that seek to ensure their business survival.

One of these innovative products available for Business Banking customers is the AssetProtect commercial general insurance policy, a product launched in collaboration with ACE Insurance. This product not only provides basic protection for customers when undesired adversities happen, but it also insures that the customers will be able to rebuild their business promptly. This extended benefit is called the business Dari segi distribusi geografis, Jakarta, Medan dan

Surabaya adalah tiga kota pemegang portofolio terbesar. Jakarta mendominasi 47,30% dari total, sedangkan Medan dan Surabaya masing-masing mendominasi 21,17% dan 16,39%.

Kredit yang disalurkan oleh segmen Perbankan Bisnis berdasarkan wilayah

Business Banking loans by region

kredit per wilayah 2012 loans per region rp miliar | IDR billion %

Jakarta 4.090 47,30 Jakarta

Medan 1.831 21,17 Medan

Surabaya 1.417 16,39 Surabaya

Lainnya 1.309 15,14 Others

Jumlah 8.647 100,00 Total

Pada tahun 2012, kegiatan pemberian kredit dipusatkan di beberapa titik. Selain Jakarta, yang memiliki delapan pusat perkreditan Perbankan Bisnis, cabang-cabang utama di kota-kota lain juga berfungsi sebagai pusat perkreditan Perbankan Bisnis. Inisiatif ini telah memungkinkan Bank untuk memperluas segmen pasar dengan lebih mudah serta melayani pasar secara lebih efisien dan efektif. Sejak berdirinya pada tahun 1989, Bank telah memfokuskan bisnisnya pada segmen UKM. Sejak itu, UKM menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan Bank. Segmen UKM didekati berdasarkan prinsip kehati-hatian serta dengan penekanan pada layanan berbasis Relationship Banking, kunci penting bagi keberhasilan Bank dalam menjaga rasio NPL pada tingkat yang sangat rendah.

Faktor lain yang telah terbukti penting untuk keberhasilan ini adalah kemampuan Bank untuk menawarkan dan melayani pelanggan dengan produk dan layanan yang untuk menjamin kelangsungan usaha mereka.

Salah satu produk inovatif tersebut adalah AssetProtect yang disediakan untuk nasabah Perbankan Bisnis. AssetProtect adalah produk Asuransi Kerugian Umum Komersial, hasil kerja sama dengan ACE Insurance. Produk ini tidak hanya memberikan perlindungan dasar apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi lebih dari itu, produk ini memastikan bahwa nasabah dapat membangun

continuity benefit. In case of a claim, the customers will not only receive the full claim amount, but they will also receive an additional 30% of the claim amount. Currently, AssetProtect is the only general insurance product to offer such an extended benefit.

Internally, in 2012 the Bank initiated an acceleration initiative for speeding up the credit administration process for loans up to Rp 10 billion. Through this initiative, a credit approval process will only take up a maximum of 15 days for a decision either way. Customers can expect to know with certainty regarding their credit request submission within a short period of time.

Furthermore, the Bank successfully implemented a loan origination system. This system enabled the Bank to reduce transport time for credit proposal documents and speed up the processing time. In the future, the Bank will continue to grow its Business Banking by:

• Diversifying the portfolio and income stream t o t r a d e a n d F o r e x ( F X ) b u s i n e s s . For examples, export/import loan, trade services and FX transaction which generate higher net fee income.

• Ensuring all customers are “relationship managed” to guarantee that each and every customer has his/ her own contact point. This strategy will enable the Bank to provide added value for the customer, increase the wallet share of the customers, and assure that all KYC (Know Your Customer) requirements are fulfilled.

• Continue the initiative of accelerating credit processes that was started in the last quarter of 2012.

ulang bisnisnya dengan cepat bila terjadi musibah. Nilai tambah ini disebut business continuity benefit.

Bila terjadi klaim, selain nasabah akan memperoleh penggantian sebesar nilai klaim, mereka juga akan memperoleh tambahan dana 30% dari klaim yang dibayarkan. Saat ini, AssetProtect adalah satu-satunya produk asuransi kerugian umum yang memberikan manfaat tersebut.

Secara internal, pada tahun 2012 Bank meluncurkan inisiatif untuk mempercepat proses kredit sampai dengan Rp 10 miliar. Melalui inisiatif ini, proses persetujuan kredit hanya akan memerlukan maksimal 15 hari. Nasabah diharapkan dapat mengetahui dengan pasti mengenai pengajuan kredit permintaan mereka dalam waktu yang singkat.

Selain itu, Bank telah berhasil menerapkan sistem loan origination yang memungkinkan Bank mengurangi waktu pengiriman dokumen proposal kredit dan mempercepat waktu prosesnya.

Kedepannya, Bank akan terus mengembangkan Perbankan Bisnis melalui:

• Diversifikasi portofolio dan sumber pendapatan pada transaksi perdagangan dan bisnis transaksi valuta asing (valas). Sebagai contoh, kredit ekspor/ impor, jasa perdagangan dan transaksi valas yang menghasilkan pendapatan fee bersih yang lebih tinggi.

• Memastikan bahwa semua nasabah dilayani secara “relationship managed” yang menjamin bahwa setiap nasabah memiliki titik kontak tersendiri. Strategi ini akan memungkinkan Bank untuk memberikan nilai tambah bagi nasabah, meningkatkan wallet share nasabah, dan menjamin bahwa semua persyaratan KYC (Know Your Customer) terpenuhi.

• Melanjutkan inisiatif percepatan proses kredit yang dimulai pada kuartal terakhir tahun 2012.

• Introduce several product programmes or guidelines to complete the product suit. Amongst others is commercial mortgage. Through this product programme or guideline, it is expected that the credit underwriting process will be faster and simpler.

• Putting in place the loan origination system for higher limit applications and leverage the benefits of the system to its optimum level.

cOrpOrate Banking

Prior to 2012, the Bank had a small team in Head Office in Jakarta, which managed relationships with some of the largest corporate clients, and the Bank’s participations in syndicated facilities with other banks. Parallel to that, there were far larger numbers of corporate and mid-market clients, which were managed by branches in Jakarta and other cities. In order to achieve a more coordinated approach and consistent strategy towards the corporate and mid-market segments, all relationship management of the Bank’s larger clients were consolidated to a dedicated team with presence in Jakarta, Surabaya, Medan and Bandung. The new team is called Corporate, although it covers a wider range of segments from large corporates to mid-market ones. This facilitates pooling of resources with the right skills to do the tasks, enhancing efficiency and enabling further development of talents in the team. It also allows all the branches to focus on the expansion of SME, which is the core business of the Bank.

Competition in the corporate and mid-market segments (to be called as ‘Corporate’ in this section) has become very keen during the year, as a result of strong economic growth, which has attracted bigger risk appetite among lenders in the country. While the SME segment is mostly a battleground of local banks competing for bigger chunks of the business, Corporate ones are solicited even by foreign banks. This requires a well thought strategy, including how the Bank can differentiate itself from its competitors, what are the value propositions that it should offer • Memperkenalkan beberapa program produk

atau pedoman pelaksanaan untuk melengkapi jajaran produk. Diantaranya adalah hipotek komersial. Melalui program produk atau pedoman pelaksanaan ini, diharapkan proses keputusan kredit akan menjadi lebih cepat dan sederhana. • Memberlakukan sistem loan origination untuk

batas aplikasi yang lebih tinggi dan meningkatkan manfaat dari sistem tersebut ke tingkat optimal.

perBankan kOrpOrasi

S e b e l u m 2 0 1 2 , B a n k m e m i l i k i t i m ke c i l di Kantor Pusat di Jakarta yang mengelola hubungan dengan beberapa nasabah korporasi terbesar dan partisipasi Bank dalam fasilitas sindikasi dengan bank-bank lain. Sejalan dengan itu, jumlah nasabah korporasi dan pasar menengah (mid-market) yang dikelola oleh cabang di Jakarta dan kota-kota lainnya jauh lebih besar. Dalam rangka mencapai pendekatan strategis yang lebih terkoordinasi dan konsisten terhadap segmen korporasi dan pasar menengah, semua hubungan manajemen nasabah-nasabah besar Bank dikonsolidasikan ke tim yang dikhususkan dan berlokasi di Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Tim baru ini disebut Korporasi (Corporate), meskipun cakupan usahanya lebih luas dari segmen korporasi besar sampai segmen pasar menengah. Tindakan ini memudahkan penyatuan sumber daya dengan keterampilan yang tepat untuk melakukan tugas-tugas, meningkatkan efisiensi dan memungkinkan pengembangan bakat lebih lanjut dari tim. Hal ini juga memungkinkan semua cabang untuk fokus pada perluasan UKM, yang merupakan bisnis inti Bank.

Persaingan di segmen korporasi dan pasar menengah (selanjutnya disebut sebagai ‘Korporasi’ di bagian ini) telah menjadi sangat ketat sepanjang tahun 2012, sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang telah menarik risk appetite lebih besar di antara pemberi kredit dalam negeri. Sementara segmen UKM sebagian besar merupakan medan pertempuran dari bank lokal yang bersaing untuk porsi yang lebih besar dari pangsa pasar, segmen Korporasi bahkan diincar oleh bank asing. Keadaan ini memerlukan strategi yang dipikirkan dengan seksama, termasuk

to its clients, in order to expand the business ambitiously while maintaining high credit quality and attaining remunerative returns.

Historically, trade services and trade finance had been small in the Bank, and perceived mainly as a supporting function/product to a small number of customers who require it. This perception completely changed in 2012 with trade being considered as one of the locomotives that should pull the corporate business. Aggressive and consistent sales efforts were carried out, with strong collaboration with the TSCM (Trade Services & Cash Management) team which specializes in Trade sales and product (Trade & Supply Chain). The result has been tremendously successful with trade increased by a significant 73% compared to 2011.

Overall loan growth in the corporate segment was in line with the industry at 26% during the year 2012. However, there was a shift in the portfolio mix from sectors and businesses where the Bank had less presence – which is a combination of risk perception, profitability, overall Bank’s conditions (branch network, international connection), etc. – to the ones which are more suitable to the Bank’s competitive position. The quality of our portfolio remains at an enviable level with non-performing loans practically at zero.

The opportunity for taking advantage of the above conditions comes as the Bank adopted HSBC Group’s core banking system in May 2012. The availability of this system greatly increases the Bank’s ability to meet many of its larger customers’ requirements that had been difficult or even impossible to cater with the previous system.

Electronic banking was launched and was highly welcomed by clients. The system also provided the Bank with a very strong platform to offer the best trade services and trade finance solutions to its customers. In December 2012, a credit approval bagaimana Bank dapat membedakan dirinya dari

pesaingnya dan keuntungan apa yang seharusnya ditawarkan kepada nasabah. Semua ini dalam rangka memperluas usaha secara gencar dengan tetap menjaga kualitas kredit yang tinggi dan mencapai hasil yang menguntungkan.

Secara historis, jasa perdagangan dan ekspor/impor adalah bagian yang kecil di Bank dan dianggap lebih sebagai fungsi/produk pendukung untuk sejumlah kecil nasabah yang memerlukannya. Persepsi ini berubah pada tahun 2012 dengan perdagangan yang dianggap sebagai salah satu lokomotif yang akan menarik bisnis korporasi. Upaya penjualan secara agresif dan konsisten yang dilakukan, dengan kolaborasi yang kuat dengan tim TSCM (Trade Services & Cash Management) yang mengkhususkan diri dalam penjualan Perdagangan dan produk (Perdagangan & Supply Chain). Hasilnya sangat sukses, dimana perdagangan meningkat sebesar 73% dibandingkan dengan 2011.

Pertumbuhan kredit secara keseluruhan di segmen korporasi ini sejalan dengan pertumbuhan industri sebesar 26% selama tahun 2012. Namun demikian, terjadi pergeseran dalam komposisi portofolio pada sektor dan bisnis di mana Bank kurang kehadirannya-yang merupakan kombinasi dari persepsi risiko, profitabilitas, kondisi Bank secara keseluruhan (jaringan cabang, koneksi internasional), dll. – ke pangsa yang lebih cocok untuk posisi kompetitif Bank. Kualitas portofolio Bank tetap pada tingkat sangat baik dengan NPL praktis berada pada tingkat nol.

Kesempatan untuk meraih peluang di atas datang saat Bank mengadopsi sistem inti perbankan Grup HSBC pada bulan Mei 2012. Keberadaan sistem ini sangat meningkatkan kemampuan Bank untuk memenuhi kebutuhan para nasabah besarnya yang dahulu sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilayani dengan sistem sebelumnya.

Perbankan elektronik diluncurkan dan sangat disambut oleh nasabah. Sistem ini memberikan Bank platform yang sangat kuat untuk menawarkan layanan dan solusi perdagangan ekspor/impor terbaik kepada nasabah. Pada bulan Desember

system used by HSBC Group globally was also implemented in the Bank. The system allows for an efficient credit process and approval, which gives the Bank another edge over most of its competitors.

Based on these, Corporate focuses on areas where the Bank has strong competitive advantages, some of which could be leveraged from its position as part of the HSBC Group with its global presence and connectivity.

Dokumen terkait