• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seperti yang telah penulis kemukakan pada sub bab sebelumnya, sistem pelaksanaan yang dilaksanakan di Indonesia jika dilihat dengan sudut pandang

fiqh siyasah tentu ada persamaan dan juga perbedaan. Beberapa ketentuan

perbedaan, dari mekanisme pelaksanaan syarat calon kepala daerah dan juga regulasi ketentuan perundang-undangan yang ada di Indonesia.

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah di Indonesia memang mengalami beberapa kali perubahan baik itu dengan pelaksanaan pemilihan tidak langsung penunjukan, hingga pemilihan secara langsung yang dilakukan oleh masyarakat secara demokratis. Sejalan dengan berkembangnya waktu, sehinggalah indonesia menggunakan sistem pemilihan secara langsung oleh rakyat. Hal ini sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia yaitu dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 yang merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor

50

1 Tahun 2015 dan kemudian direvisi kembali menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang Undang.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan pelaksanaan Pemilihan Kepala daerah dalam pandangan fiqh siyasah, yang pelaksaan tidak dengan cara pemilihan langsung oleh rakyat. Sehingga perlu dipahami bahwa jika kita melihat runtutan dalam fiqh siyasah pada hakikatnya Pemilukada hanyalah cara (uslub) bukan metode (tariqah). Cara mempunyai sifat tidak permanen dan bisa berubah-ubah, sedangkan metode bersifat tetap dan tidak berubah-ubah.Begitu juga dalam masalah masalah pemilihan dan pengangkatan khalîfah dalam syari’at Islam. Ada metode yang tetap dan hukumnya wajib, ada pula cara yang bisa berubah dan hukumnya mubah. Dalam hal ini, hanya ada satu metode untuk mengangkat seseorang menjadi khalîfah, yaitu baiat yang hukumnya adalah wajib.100

Dalil wajibnya baiat adalah sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat, maka dia mati seperti mati Jahiliah.” (Hadis sahih). Rasulullah saw. mencela dengan keras orang yang tidak punya baiat, dengan sebutan "mati Jahiliah". Artinya, ini merupakan indikasi (qarinah), bahwa baiat itu adalah wajib hukumnya.101 Namun proses dan tatacara baiat, terlebih dahulu sebelum dilakukannya akad baiat yang merupakan uslub yang bisa berbeda-beda dan berubah-ubah. Sehingga dari sinilah pemilu (intikhabat) boleh dilakukan untuk memilih khalifah. Karena pemilu adalah salah satu cara di antara sekian cara yang ada untuk melaksanakan baiat, yaitu memilih khalîfah yang akan dibai’at. Dengan

100

Haris Riadi, Perspektif Taqiyuddin al-Nabhani Tentang Bai’at, Jurnal Pemikiran Islam, Vol 39 No 2 Juli- Desember 2014, hlm. 180.

101

demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam fiqh siyasah suksesi pemilihan kepala daerah dilakukan oleh kepala Negara (khalifah).

Perbedaan lain antara pemilihan kepala daerah di Indonesia dengan fiqh siyasah adalah dalam kriteria syarat calon kepala daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 seseorang yang hendak menjadi calon kepala daerah adalah mereka yang telah berusia 30 Tahun untuk Kepala Daerah Provinsi dan 25 Tahun untuk kepala daerah Kabupaten atau kota, tentunya hal syarat dalam aturan tersebut sangat berbeda dengan pandangan fiqh siyasah.

Dalam fiqh siyasah, syarat batasan usia seorang untuk mejadi kepala daerah tidak disebutkan, sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan tidak ada batasan minimal tertentu, kendati demikian, mengenai syarat lain untuk menjadi kepala daerah juga tidak jauh berbeda dengan syarat yang telah ditetapkan untuk menjadi wakil khalifah (muawin tafwidh), yang sementara

muawin sendiri syaratnya sama dengan syarat menjadi khalifah, sehingga secara

umum syarat untuk menjadi kepala daerah menurut fiqh siyasah sama dengan syarat menjadi kepala negara, namun yang berbeda dalam syarat calon kepala daerah adalah mengkhususkan mereka yang dari keturunan Quraisy, hal ini disebabkan karena rasionalisasi beberapa pemimpin besar sebelumnya ialah mereka yang berasal dari suku Quraisy dan keterunan-keturunan Nabi yang dianggap lebih faham mengenai Islam dan tata cara memimpin dan mengelola negara dengan baik, sehingga jika kita menelusuri dalam calon kepala daerah yang ada indonesia, dari sisi pengusungan calon hanya ada di usulkan oleh partai politik atau pun gabungan partai politik dan juga dengan melalui independen.

52

BAB EMPAT

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa yang penulis lakukan terhadap penelitian Pemilihan kepala daerah di Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dilihat menurut pandangan fiqh siyasah, secara umum sebagai berikut:

1. Dalam pandangan fiqh siyasah, pelaksanaan kepala daerah tidaklah sama seperti hal nya dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 yang mengamanahkan pelaksanaan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat, namun dalam fiqh siyasah pemilihan kepala daerah di dipilih secara langsung oleh kepala negara (khalifah) dengan ketentuan dua mekanisme yaitu secara sukarela dan pemilihan dengan cara paksa.

2. Dalam undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 Pelaksanaan Pemilihan Kepala daerah merupakan pemilihan umum yang diselenggarakan di tingkat lokal, dengan pelaksanaan secara langsung dipilih oleh rakyat secara demokratis. Kelebihannya dalam pemilihan kepala daerah secara langsung menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 adalah menghasilkan kepala daerah yang memiliki kedekatan dengan rakyat, mendorong majunya calon yang kredibel, partisipasi rakyat lebih terlibat, serta bisa diterapkan prinsip one man one vote dan juga tertutupnya ruang bagi calon kepala daerah sehingga yang terpilih hanya dari partai politik yang didukung oleh pemerintah, tidak adanya ruang keadilan dan kejujuran yang diakibatkan oleh mekanisme sehingga berakhir secara kongkalikong ditingkat DPRD.

B. Saran

Adapun saran terhadap Pemilihan Kepala Daerah menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 dalam Perspektif Fiqh Siyasah adalah sebagai berikut:

1. Kepada Akademisi Hendaknya penilitian-penelitian tentang pemilihan kepala daerah menurut Undang-Undang yang berlaku di Indonesia dan menurut hukum Islam khsusunya Fiqh Siyasah dalam bidang pemerintahan Islam secara terus menerus dilakukan pengkajian dan penelitian. Sehingga dapat menambah serta memperkaya wawasan dan referensi dalam bidang pemerintahan Islam maupun dalam bidang undang-undang.

2. Hendaknya kepada legislator adanya peraturan yang diundangkan mengadopsi pemikiran dari pemikir Islam terhadap pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah.

3. Kepada masyarakat, hendaknya mengetahui ketentuan dalam memilih calon kepala daerah, terkhususnya bagi masyarakat Islam yang memilih pemimpin untuk memimpin daerah bagi kaum muslimin di daerah.

54

A.Hasjmy, Dimana Letaknya Negara Islam, Surabaya: Bina Ilmu,1984

Abdul Muin Salim, Fiqh Siyasah Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam

Al-Qur’an, (Edisi I, Cet. III), Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002

Abdulkadir Muhammad, Hukumdan PenelitianHukum, Cet.1. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2016.

Abu A’laMaududi, Khalifah Wa Mulk,Terjemahan Muhammad al-Baqir,Khalifah dan Kerajaan,cet.IV. Bandung: Mizan, 1993.

Abu Ya’la al-Farra. Al-ahkam al-sulthaniyyah,Beirut: Dar al-kutub al-fikr, 1994. Ahlil Azhari Hasibuan, Tinjauan Fiqh Siyasah Terhadap Ambang Batas Dalam

Pemilihan Gubernur di Sumatera Utara Tahun 2018, skripsi, Medan: UIN

Sumatera Utara, 2018.

Ali Al-Salus, Imamah Dan Khalifah, Jakarta: Gema Insan Press,1997. al-Maududi, al-Islam wa al-Madaniyyat al-adilahKairo: dar al-Anjar, 1978. al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi, Penerjemah Fathurrahman Dkk, Dari Al-jami’ Li

Ahkam Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Azam,2010.

Andi Muhammad Giand Gilliand,Tinjauan Yuridis Pemilihan Kepala Daerah

Menurut UUD NKRI 1945, skripsi, Makassar: Universitas Hasanuddin

Makassar, 2013.

Asep Gunawan, Artikulasi Islam Kultural, Jakarta :Raja Grafindo Persada, 2004. Bernad Lewis, Bangsa Arab Dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pedoman Ilmu,1998.

Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia of Islam, diterjemahkan oleh Ghufran A. Mas'ad dengan judul “Ensiklopedi Islam (Ringkas), edisi I, cet. II, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1999.

Dedi Supriyadi, Perbandingan Fiqh Siyasah Konsep, Aliran dan Tokoh-Tokoh

Politik Islam, Cet. I, Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Djazuli, Fiqh Siyasah Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu

HarunNasution. Teologi Islam,Aliran-Aliran Sejarah Dan Analisis Perbandingan, Cet. 4. Jakarta: Universitas Indonesia, 2015.

Hizbut Tahrir, Struktur Negara Khalifah (Pemerintahan dan Administrasi), Penerjemah Yahya A.R. Judul asli, Ajhizah Dawlah Khalifah fi

al-Hukm wa al-Idarah, Jakarta: Tim HTI Press, 2006.

Hussein Bahreisy, Himpunan Hadits Pilihan Hadits Shahih Bukhari, Surabaya: al-Ikhas, 1992.

I. Gede Pantja Astawa, Dinasmika Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan di

Indonesia. Bandung: Alumni, 2008.

Ibnu Syarif, Mujar dan Zada, khamami, Fiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran

Politik Islan, Jakarta: Erlangga, 2008.

Ibnu Tricahyo, Reformasi Pemilu Menuju Pemisahan Nasional & Lokal, Malang: In-Trans Publishing, 2009.

J. Suyuti Pulungan, Fiqih Siyasah; Ajaran dan Pemikiran, Jakarta;Raja Grafindo Persada, Cet III, Ed. I, 1997.

Joko J. Prihatmoko, Pilkada Langsung: Filosofi, Sistem, dan Problema

Penerapan di Indonesia, Semarang: Pustaka Pelajar, 2005.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta ; Balai Pustaka,Cet. I, 2001.

Kementrian Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Syaamil Cipta Media, t.th).

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran (Cet. VII Bandung: Mizan, 1994), Mekka Mukharromah, Sistem Pemilu di Indonesia Menurut

Undang-Undang Nomor 10 Tahu 2008 (Suatu Kajian Fiqh Siyasah).Skripsi,

Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

Muhmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia Mahmud Yunus, Cet. 8 (Jakarta: Hida Karya Agung, 1990

Mujar Ibn Syarif, Presiden Non Muslim Di Negara Muslim: Tinjauan Dari

Perspektif Politik Islam dan Relevansinya Dalam Konteks Indonesia,

Jakarta: Pustaka Sinar, 2006.

Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada. Fiqh Siyasah Doktrin dan Pemikiran

Mujfa’ ilmi, Nisam al-Khalifah Baina Ahl al-Sunnat wa al-Syi’ah (Iskandariyah: Dar al-Da’wah, 1988.

Musdah Mulia, Negara Islam. Cet. 1. Depok : kata kita, 2010.

Mustafa Luthfi, Hukum Sengketa Pemilukada di Indonesia: Gagasan Perluasan

Kewenangan Konstitusional Mahkamah Konstitusi. Yogyakarta: UII

Press. 2010.

Ni’matul Huda,Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2007.

Nurcholish Madjid, Dkk, Islam Universal, (cet 1; Yogyakarta: pustaka pelajar,2007.

Peter Mahmud Marzuki,PenelitianHukum, Cet.2. Jakarta: Kencana, 2008. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia

Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Widiasarna, 1992. Republik Indonesia, Undang-UndangDasar 1945.

Samidjo, PengantarHukum Indonesia, Bandung: Aemico, 1985.

Sayuthi J. Pulungan, Fiqh Siyasah, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.

Sirajuddin, Politik Ketatanegaraan Islam Study Pemikiran A. Hasjmy, Cet. 1. Bengkulu : pustaka pelajar, 2007.

Suyuti Pulungan, Fiqh Siyasah, Ajaran, Sejarah Dan Pemikiran, Cet. 2 Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

T. Hendra Saputra, Pemilihan Kepala Daerah menurut Undang-Undang Pasca

Reformasi dan Pemikiran al-Mawardi, Aceh: UIN Ar-Raniry Banda Aceh,

2018.

W. Arnold, “Khalifa” dalam M. TH. Houstma, et. al. (ed.), First Encyclopedia

Yohana Andriani, Peran DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Pemilihan

Kepala Daerah Pada Era Otonomi Tahun 2013 (Persfektif Fiqh Siyasah),

skripsi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004. Yunahar ilyas, kuliah aqidah Islam,Yogyakarta: Lppi, 2008.

Jurnal:

Cucu Sutrisno, Partisipasi Warga Negara Dalam Pilkada, Jurnal Pancasila dan Kewenangan,Vol.02, No.02. 2017.

Fahar Nugraha, Persepsi Tokoh Politik Terhadap Model Pemilukada Gubernr, Vol.14. No.01 Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya.

Website:

http://perpustakaan.mahkamah.agung.go.id.

Dokumen terkait