4.4 Perbedaan rerata persentase TDS, TDD, TAR, DJ, dan RPP antara Kelompok A
4.4.5 Perbedaan rerata persentase RPP antara kelompok A dan B
Tidak terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata persentase perubahan DJ antara kedua kelompok (p>0,05)
Tabel 17. Perbandingan rerata persentase RPPantar kelompok
Waktu Pengamatan Penurunan Rata-Rata (%) P Kelompok A Kelompok B RPP T2 – T0 -14.79 (16.03) -16.70 (19.25) 0.75a RPP T2 – T1 -0.64 (15.89) -1.54 (23.29) 0.84b RPP T2 – T3 -5.61 (14.43) -5.84 (11.43) 0.95a RPP T2 – T4 -7.43 (12.37) 2.77 (21.85) 0.09a
a T Independent test, b Mann-Whitney test, T1:pengukuran setelah pemberian klonidin (A)/diltiazem (B), midazolam, fentanil; T2, T3, dan T4: pengukuran menit ke-1, ke-3 dan ke- 5 setelah intubasi.
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan terhadap pasien-pasien yang akan dilakukan tehnik pembiusan umum dengan intubasi endotrakhea dalam menjalani pembedahan elektif. Sampel penelitian sebelumnya dibandingkan karakteristiknya yaitu berupa umur, jenis kelamin, BMI, TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP antara kedua kelompok, dimana tidak dijumpai perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok, yang artinya kedua kelompok relatif sama sehingga layak untuk dibandingkan. Pada uji klinis ini, peneliti akan membandingkan respon hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea antara dua kelompok yang mana kelompok A diberikan klonidin 3 µg/kbBB intravena dan kelompok B diberikan diltiazem 0.2 mg/kgBB intravena.
Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap perubahan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan arteri rerata, frekwensi denyut jantung dan RPP. Pengukuran dilakukan pada beberapa waktu pengamatan, pada saat awal masuk ruang operasi/basal (T0), pada saat setelah diberikan premedikasi pada kelompok A diberikan klonidin 3 µg/kbBB intravena kemudian midazolam 0.1 mg/kgBB intravena + fentanil 2 µg/kgBB intravena dan kelompok B diberikan diltiazem 0.2 mg/kgBB intravena kemudian midazolam 0.1 mg/kgBB intravena + fentanil 2 µg/kgBB intravena (T1), setelah satu menit tindakan intubasi (T2), setelah tiga menit tindakan intubasi (T3) dan setelah lima menit tindakan intubasi (T4).
Pada kelompok A, pengamatan saat satu menit pertama setelah tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea (T2), jika dibandingkan dengan pengukuran T0 yaitu pengukuran saat basal, terjadi penurunan bermakna (p<0.05) pada TDS sebesar 10,26%, DJ sebesar 7.10% dan RPP sebesar 14.8%, namun terjadi penurunan yang tidak bermakna (p>0.05) pada TDD sebesar 4.52% dan TAR sebesar 6.25%, sementara pada kelompok B yang diberikan diltiazem 2 mg/kg,
ditemukan penurunan bermakna (p<0.05) pada seluruh parameter hemodinamik yang diukur yaitu TDS menurun bermakna sebesar 11.43%, TDD menurun bermakna sebesar 10.71%, TAR menurun bermakna sebesar 5.04%, DJ menurun bermakna sebesar 8,59% dan RPP menurun bermakna sebesar 19,2%.
Pada pengamatan saat T2, dibandingkan dengan T1 yaitu saat setelah diberikan premedikasi klonidin 3 µg/kg, midazolam 0.1 mg/kg, fentanil 2 µg/kg, pada kelompok A terjadi penurunan TDS sebesar 0,12%, peningkatan TDD sebesar 2%, peningkatan TAR sebesar 1,40%, penurunan DJ sebesar 1,09% dan penurunan RPP sebesar 1.45% bila dibandingkan dengan pengamatan saat T1 yaitu saat setelah diberikan premedikasi klonidin 3 µg/kg, midazolam 0.1 mg/kg, fentanil 2 µg/kg, sementara pada kelompok B yang diberikan diltiazem 2 mg/kg, terjadi penurunan TDS 5,61%, penurunan TDD 2,48%, peningkatan TAR sebesar 2,43%, peningkatan DJ sebesar 0,64%, dan penurunan RPP sebesar 5,29%. Perubahan yang terjadi antara T1 dengan T2 dalam kedua kelompok tidak ada yang berbeda bermakna secara statistik (p>0.05)
Pada saat tiga menit setelah tindakan intubasi (T3), pada kelompok A, bila dibandingkan dengan T2, terjadi penurunan bermakna TDS sebesar 3,99% (p<0,05), penurunan bermakna TDD sebesar 9,32% (p<0,05), penurunan bermakna TAR sebesar 11,46% (p>0,05), penurunan DJ sebesar 2,09% (p>0,05), dan penurunan RPP sebesar 7,17% (p>0,05). Pada kelompok B, bila dibandingkan T3 dengan T2, terjadi penurunan TDS sebesar 4,30% (p>,05), penurunan TDD sebesar 3,61% (p>0,05), penurunan bermakna TAR sebesar 2,12% (p<0,05), penurunan DJ sebesar 0,57% (p>0,05), dan penurunan RPP sebesar 6,13% (p>0,05).
Pada saat lima menit setelah tindakan intubasi (T4), pada kelompok A, bila dibandingkan dengan T2, terlihat terjadi penurunan bermakna TDS sebesar 10,07% (p<0,05), penurunan bermakna TDD sebesar 9,32% (p<0,05), penurunan bermakna TAR sebesar 7,98% (p<0,05), penurunan DJ sebesar 1,77% (p<0,05), dan penurunan bermakna RPP sebesar 8,97% (p<0,05). Pada kelompok B, bila dibandingkan T2 dengan T4, terlihat terjadi peningkatan TDS sebesar 1,23%, peningkatan TDD sebesar 0,92%, peningkatan TAR sebesar 0,61%, peningkatan DJ sebesar 0.19%,
dan peningkatan RPP sebesar 0.95%, dimana seluruh perubahan yang terjadi tidak berbeda bermakna (p>0,05).
Dari uraian diatas terlihat dengan pemberian premedikasi klonidin 3 µg/kg pada kelompok A, terjadi kecenderungan penurunan TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP dari saat pengamatan T0 yaitu basal sampai pada pengamatan saat T2 yaitu satu menit setelah intubasi, hal tersebut menunjukkan bahwa dengan pemberian premedikasi klonidin 3 µg/kg bersama-sama dengan obat-obatan yang lain seperti midazolam, fentanil dan propofol akan menyebabkan penurunan TDS, TDD, TAR, denyut jantung dan RPP. Bahkan penurunan TDS, DJ dan RPP bermakna secara statistik. Penurunan TDS dan TDD ini sesuai dengan penelitian Joshi Vyankatesh S dkk44. Namun, berbeda dengan penelitian Harshavardhana HS dkk45 dimana dengan
premedikasi klonidin 3 µg/kg pada saat satu menit setelah intubasi terjadi peningkatan yang tidak bermakna untuk TDS, TDD ,TAR dan DJ.
Bila dibandingkan antara waktu pengamatan T1 yaitu setelah premedikasi klonidin 3 µg/kg dan obat premedikasi lain seperti midazolam dan fentanil, terhadap T2, pada kelompok A dijumpai penurunan TDS, DJ dan RPP, namun dijumpai peningkatan TDD dan TAR. Peningkatan dan penurunan yang terjadi tidak satupun yang bermaknsa secara statistik. Peningkatan tekanan arteri rerata ini sesuai dengan penelitian Harshavardana HS dkk45. Pada saat 3 menit setelah tindakan intubasi (T3) dibandingkan dengan T2, terjadi penurunan bermakna pada TDS, TDD dan TAR, namun penurunan DJ dan RPP. Begitu juga pada waktu pengamatan 5 menit setelah tindakan intubasi (T4), terjadi kecederungan penurunan TDS, TDD, TAR, denyut jantung dan RPP dimana penurunan TDS, TDD dan TAR bermakna secara statistik.
Pada kelompok B, Pada kelompok B, pemberian diltiazem 0.2 mg/kg juga menyebabkan kecendrungan penurunan TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP, yang secara bersama-sama dengan obat induksi akan menyebabkan semakin terjadi penurunan. Pada saat satu menit setelah tindakan laringoskopi dan intubasi (T2), terjadi penurunan TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP bila dibandingkan dengan saat basal (T0). Penurunan yang terjadi seluruhnya bermakna secara statistik. Hal ini berbeda dengan penelitia sebelumnya oleh Sanjeev Singh dkk. Terjadi peningkatan denyut jantung dan TAR pada saat T2 dibandingkan dengan pengamatan saat setelah pemberian
premedikasi diltiazem dengan obat premedikasi lain yaitu midazolam dan fentanil (T1), namun kenaikan denyut jatung dan TAR tersebut juga tidak melebihi nilai basal (T0), sedangkan untuk TDS, TDD dan RPP terjadi penurunan walaupun tidak bermakna. Pada saat tiga menit setelah intubasi (T3) TAR kembali menurun bermakna, sedangkan untuk TDS, DD, DJ dan TAR turun tidak bermakna. Pada saat lima menit setelah intubasi (T4), terjadi peningkatan kembali secara tidak bermakna untuk TDS, TDD, TAR, denyut jantung dan RPP dibandingkan dengan T2, namun peningkatan tersebut juga tidak melebihi dari saat basal (T0).
Dari penelitian Harshavardhana S dkk45 yang membandingkan bolus klonidin
3µg/kgbb dengan normal salin intravena, masih dijumpai peningkatan TDS, TDD dan TAR bila dibandingkan pengamatan saat basal (T0) dengan saat satu menit setelah intubasi (T2), namun perbedaan yang terjadi tidak bermakna. Hal ini mungkin terjadi karena pada penelitian ini tidak menggunakan premedikasi analgesia, berbeda dengan penelitian saya yang menggunakan premedikasi fentanil 2 µg/kgbb. Demikian juga dari penelitian Joshi Vyankatesh S dkk yang membandingkan klonidin dengan lignokain, tanpa menggunakan premedikasi analgetik45.
Jika kelompok A dan kelompok B dibandingkan, pada pengamatan saat setelah premdikasi klonidin atau diltiazem (T1), tidak terdapat perbedaan bermakna pada TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP. Begitu pula pada pengamatan saat satu menit setelah intubasi (T)2 dan saat tiga menit setelah intubasi (T3). Terjadi perbedaan bermakna antara kelompok A dan B untuk TDD (p<0.039) dan TAR (p<0.019) pada pengamatan saat lima menit setelah intubasi (T4), dimana nilai rerata TDD pada kelompok A sebesar 69.11 mmHg dan pada kelompok B sebesar 72.94 mmHg. Untuk rerata TAR, pada kelompok A sebesar 85.16 mmHg dan pada kelompok B sebesar 87.61 mmHg. Bila dibandingkan perbedaan rerata persentase TDS, TDD, TAR, DJ dan RPP antar kedua kelompok, maka tidak dijumpai perbedaan yang bermakna.
Dari hasil penelitian ini, dijumpai efek pemberian klonidin 3 µg/kgBB intravena dan pemberian diltiazem 0.2 mg/kgBB intravena pada saat premedikasi efektif dalam mengurangi respon peningkatan hemodinamik akibat tindakan
laringoskopi dan intubasi, dan jika keduanya dibandingkan, tidak dijumpai perbedaan respon hemodinamik yang bermakna antara kedua kelompok setelah tindakan laringoskopi dan intubasi pada menit ke-1 (T2), menit ke-3 (T3) dan menit ke-5 (T4).