• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALIAN ZOONOSIS

C. PERCEPATAN PENGENDALIAN

ZOONOSIS SECARA

LINTAS SEKTOR

R a b i e s m e r u p a k a n zo o n o s i s y a n g m e m e r l u k a n p r i o r i t a s d a l a m pengendaaliannya baik di tingk at kabupaten, kota provinsi hingga ke pemerintah pusat. Saat ini rabies telah menjadi endemis di 24 provinsi yang hampir seluruhnya merupakan wilayah destinasi pariwisata sehingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar disamping korban jiwa yang tidak sedikit. Berdasarkan karakter virus rabies yang relatif lebih stabil daripada flu burung dari sudut pandang mutasi genetiknya, maka rabies menjadi salah satu zoonosis yang dapat di bebaskan guna melindungi masyarakat dari ancaman

gigitan hewan penular tertular rabies yang menyebabkan kematian.

Berdasarkan rapat koordinasi tim pelaksana komisi nasional pengendalian zoonosis yang dilaksanakan pada tanggal 5 dan 24 oktober 2013 menyepakati bahwa :

1. D i p e r l u k a n u p a y a a k s e l e r a s i pengendalian rabies secara terpadu di provinsi NTT khususnya pulau flores dan lembata, provinsi sulawesi utara, provinsi sumatera utara dan provinsi bali;

2. Dibentuk tim dari kemenko kesra, kementerian dalam negri, kementerian kesehatan dan kementerian pertanian untuk menyusun proposal secara lebih rinci melalui assesment populasi hewan penular rabies, ketersediaan logistik, inventarisasi perundangan, advokasi, pelatihan, surveilans terpadu dan komunikasi publik;

3. Diusulkan kepada menteri dalam negeri untuk pembuatan surat kesepakatan bersama 4 (empat) gubernur dalam pengendalian rabies antar provinsi, yaitu : gubernur jawa barat, gubernur lampung, gubernur sumatera selatan dan gubernur sumatera barat;

4. Untuk mendukung dalam penguatan k apasitas sumber daya manusia diminta kementerian pendidikan dan

kebudayaan memasukan pengendalian rabies menjadi salah satu kurikulum di sekolah;

Kementerian pertanian sebagai sektor utama dalam penyusunan kebijakan kesehatan hewan khususnya dalam pengendalian rabies, flu burung dan brusellosis pada hewan sebagai sumber penularan telah menyusun roadmap / peta jalan pembebasan rabies, flu burung dan brusellosis yang kemudian akan disinkronisasi secara lintas sektor melalui komisi nasional pengendalian zoonosis, sebagai berikut :

1. ROADMAP PEMBEBASAN

RABIES

Roadmap nasional bebas Rabies menetapkan target bebas Tahun 2020 sesuai dengan target yang ditetapkan oleh ASEAN. Roadmap ini disusun dengan tujuan untuk memudahkan Aparatur Pusat, Daerah dan semua instansi/pihak terkait dalam menjabarkan dan melaksanakan s t r a t e g i p e n g e n d a l i a n d a n pemberantasan Rabies di Indonesia. Strategi utama yang digunak an adalah Vaksinasi dan didukung oleh penerapan strategi lainnya termasuk komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) bagi masyarakat, kontrol populasi,

pengawasan lalu lintas dan regulasi. Pelaksanaan program pengendalian dan pemberantasan rabies menuju I n d o n e s i a b e b a s R a b i e s 2 0 2 0 dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan situasi dan kondisi rabies di daerah serta bagaimana sumberdaya yang ada di daerah tersebut. Dalam tahap awal pelaksanaan pembebasan rabies perlu diketahui bagaimana kondisi terkini rabies di daerah tersebut dengan kegiatan pencarian penyakit melalui program Tata Laksana Kasus Gigitan Terpadu (TaKGiT). Pelaksanaan TaKGiT ini memerlukan adanya kapasitas deteksi kasus melalui kerjasama yang baik antara petugas kesehatan dan kesehatan hewan. Selain deteksi kasus, diperlukan juga adanya peningkatan kapasitas untuk dapat melakukan vaksinasi darurat sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.Dalam tahap persiapan diperlukan adanya penguatan kapasitas sumberdaya manusia di Tingkat Pusat dan Daerah yang mencakup kapasitas melakukan deteksi dini, vaksinasi, respon cepat dan pelaporan.

Pembebasan Rabies secara bertahap diperlukan adanya penilaian risiko Rabies di setiap daerah sebagai dasar dalam penetapan prioritas lokasi

RAP AT K OORDINASI PENGEND ALIAN Z OONOSIS

pengendalian menuju pembebasan yang dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah pusat dan daerah. Pembiayaan program pemberantasan rabies di Indonesia akan di tanggung bersama (cost shared) oleh Pemerintah Pusat dan Daerah dengan pembiayaan utama akan ada pada Pemerintah Pusat. Adapun pembagian tanggung jawab pembiayaan adalah sebagai berikut:

§

§ P e m e r i n t a h P u s a t a k a n menanggung pembiayaan untuk Vaksin dan operasional vaksinasi, dan semua biaya pelatihan seperti pelatihan TaKGiT, manajemen rantai dingin, penangkap anjing dan vaksinasi, serta pengujian.

§

§ P e m e r i n t a h D a e r a h a k a n menanggung pembiayaan untuk peralatan dan bahan pendukung program vaksinasi (kecuali vaksin) dengan spesifikasi yang telah disepakati dengan Pemerintah Pusat, operasional pendukung p r o g r a m v a k s i n a s i ( k e c u a l i operasional vaksinasi) seperti operasional respon cepat dan survey paska vaksinasi, bahan dan pelaksanaan KIE, serta pengiriman sampel.

Berdasarkan kesiapan setiap daerah d a l a m p e nye d i a a n s u m b e rd aya

manusia dan pendanaan, maka setiap daerah akan berada dalam tahapan yang berbeda. Bagi daerah yang siap dari segi SDM dan pendanaan maka dapat melaksanakan tahap pemberantasan.

2. ROADMAP PEMBEBASAN

BRUCELLOSIS

Roadmap pemberantasan brucellosis nasional disusun dengan sasaran m e n c a p a i s t a t u s n e g a r a b e b a s b r u c e l l o s i s p a d a t a h u n 2 0 2 5 . Penetapan sasaran ini didasarkan atas terpenuhinya seluruh indikator pencapaian yang terverifikasi dengan memperhatikan asumsi dan prakondisi yang menjadi landasan penilaian kemajuan perkembangan program. Pendekatan pertama yang digunakan d a l a m m e n e r a p k a n k e b i a k a n p e m b e r a n t a s a n b r u c e l l o s i s d i Indonesia adalah pendekatan tahapan. Pendekatan tersebut mengacu kepada 4 tahapan yang diperkenalkan FAO yaitu Tahap 0 (situasi tidak diketahui), Tahap 1 (Situasi diketahui dengan program pengendalian, Tahap 2 (Mendekati) dan Tahap 3 (Deklarasi status bebas brucellosis). Roadmap ini dirancang untuk membuat pemberantasan brucellosis menjadi suatu proses

progresif. Masing-masing tahapan memiliki kegiatan-kegiatan kunci dengan tujuan tertentu disesuaikan dengan situasi yang berlaku. Pengaruh internal maupun eksternal yang mempengaruhi pencapaian hasil yang diharapkan si setiap tahapan perlu diidentifikasi untuk dijadikan bahan evaluasi bagi pihak berwenang, terutama dalam melakukan perbaikan baik program sur veilan maupun pengendalian.

Pendekatan kedua yang digunakan adalah pendekatan zona. Pendekatan ini didasarkan atas klasifikasi daerah/ zona berdasarkan tingkat prevalensi brucellosis yang ditetapkan pada tahap awal brucellosis. Klasifikasi daerah dengan pendekatan zona:

a. Daerah bebas penyakit ( semua daerah yang telah dideklarasi secara resmi )

b. Daerah tersangka (prevalensi tidak diketahui

c. Daerah tertular ringan (prevalensi <2%)

d. Daerah tertular berat (prevalensi > 2%)

Penetapan zona secara nasional sebagaimana disampaikan di atas tidak

mudah dilakukan dan kemungkinan memiliki banyak kelemahan dan kurang akurat. Penetapan ini sangat tergantung kepada hasil surveilans epidemiologi yang dilakukan sesuai prosedur oleh masing-masing daerah/ k a b u p a t e n . U n t u k m e n d u k u n g program pemberantasan brucellosis, Pemerintah Pusat dan Pmerintah Daerah perlu membentuk kelompok tenaga ahli dari lembaga penelitian dan universitas, terutama dalam upaya melaksanakan peningkatan kapasitas dalamentuk pelatihan, lokakarya dan/atau forum nasional. Selain itu juga perlu melibatkan pihak swasta seperti LSM, koperasi dan pihak swasta lainnya seperti lembega penelitian, asosiasi peternak, asosiasi pedagang tenak sesuai dengan [erannya maisng-masing.

3. ROADMAP PEMBEBASAN FB/AI

R o a d m a p n a s i o n a l b e b a s A I menetapkan target bebas Tahun 2020 sesuai dengan Roadmap ASEAN yang disepakati semua Menteri Pertanian se ASEAN dalam AMAF 2011 di Kamboja. Roadmap ini disusun dengan tujuan untuk memudahkan Aparatur Pusat, Daerah dan semua instansi/pihak terk ait dalam menjabark an dan

RAP AT K OORDINASI PENGEND ALIAN Z OONOSIS

melaksanakan strategi pengendalian dan pemberantasan AI di Indonesia. Strategi yang digunakan adalah Biosekuriti, Vaksinasi, Depopulasi, Surveilans, Pengawasan lalu lintas, Restrukturisasi Perunggasan, Public

awareness dan Peraturan. Pendekatan

yang digunak an adalah dengan pendekatan tahapan yaitu dengan kegiatan sebagai berikut

a. Menentukan Kriteria Penetapan Wilayah Risiko

b. Menetapkan Pembagian Wilayah Risiko

c. Melakukan tahapan penurunan status wilayah resiko

Adapun Kriteria penentuan wilayah didasarkan pada hal-hal sebagai berikut yaitu:

a. Situasi penyakit

b. Populasi Unggas Backyard c. Kepadatan Unggas Backyard d. Populasi Unggas Komersial (statistik) e. Kepadatan Unggas Komersial f. Jumlah breeding farm

g. Volume dan Frequensi Pemasukan Unggas

h. Jumlah Kasus Pada Manusia i. Sosial Budaya

Dengan mempertimbangkan situasi penyak it, kondisi geografis dan faktor-faktor resiko lain yang relevan, dilakukan pengelompokan wilayah berdasarkan tingkat resiko dsebagai berikut:

a. Wilayah Risiko Tinggi (13 Prov): Jatim, Jateng, Jabar, Banten, DIY, DKI Jakarta, Lampung, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Bali;

b. Wilayah Risiko Sedang (16 Prov) : Aceh , Jambi, Bengkulu, Kepri, Sumsel, KalBar, KalSel, Kalteng, Kaltim, Gorontalo, Sulut, Sulbar, Sultra, Sulteng, NTB, Babel;

c. Wilayah Risiko Rendah (5): Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT.

Adapun Target Waktu Pencapaian Status Bebas AI per Geografis/Pulau

§

§ 2014 : Maluku, Papua, Papua Barat,Maluku Utara, NTT § § 2014 - 2015 : Pulau Kalimantan, NTB, Bali § § 2015 – 2017 : Pulau Sulawesi § § 2015 – 2018 : Pulau Sumatra § § 2019 : Pulau Jawa § § 2020 : Indonesia

D. RAPAT KOORDINASI

Dokumen terkait