GAMBARAN OBJEK PAJAK KENDARAAN BERMOTOR
PERCETAKAN STNK
ARSIP PENYERAHAN
III.3.5 Masa Pajak dan Saat Terutangnya Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor
Pada pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), tahun pajak sama dengan tahun takwin atau tahun kalender. Masa pajak adalah 12 bulan berturut-turut yang merupakan tahun pajak dimulai pada saat pendaftaran kendaraan bermotor. Kewajiban pajak yang berakhir karena alasan tertentu, perhitungan besarnya pajak yang terutang dihitung berdasarkan jumlah bulan berjalan. Apabila bagian dari bulan melebihi 15 hari, akan dihitung menjadi satu bulan penuh. Surat Pemberitahuan Terutang Pajak Daerah (SPTPD) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak Kendaraan Bermotor atau orang yang diberi kuasa oleh yang memiliki dan /atau menguasai kendaraan bermotor tersebut. Surat ini digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak daerah yang terutang menurut ketentuan Peraturan daerah.
Penyampaian Surat Pemberitahuan Terutang Pajak Daerah (SPTPD) disampaikan ke Dinas Pendapatan Daerah paling lama:
a. Untuk kendaraan baru 14 hari sejak saat kepemilikan.
b. Untuk kendaraan bukan baru sampai dengan tanggal berakhirnya masa pajak. c. Untuk kendaraan mutasi 30 hari sejak tanggal fiskal antar daerah.
Apabila terjadi perubahan atas kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air dalam masa pajak baik perubahan bentuk, fungsi maupun penggantian mesin, wajib melaporkan dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD). Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) memuat:
a. Nama dan Alamat
b. Jenis, merek, isi silinder, tahun pembuatan, warna, nomor rangka dan nomor mesin. c. Gandengan dan jumlah sumbu.
III.3.6 Ketetapan dan Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak dapat ditetapkan berdasarkan SPPKB/SPPKA dengan menerbitkan Surat Ketetapan Terutang Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan dengan Surat Ketetapan Terutang Pajak Daerah (SKPD). Surat Ketetapan Terutang Pajak Daerah (SKPD) adalah Surat Ketetapan Pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak.
Jenis-jenis Surat Ketetapan Daerah, antara lain:
a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sangsi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang ditetapkan.
c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar Tambahan (SKPDLBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
d. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
Setelah dibuat Surat Ketetapan Pajak Daerah, maka tindakan selanjutnya adalah membuat Surat Tagihan Pajak Daerah atau STPD. Surat Tagihan Pajak Daerah adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/ atau sangsi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar akan dikenakan sangsi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak kurang bayar atau terlambat bayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. Jumlah kekurangan pajak terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan akan dikenakan sangsi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%dari jumlah kekurangan pajak tersebut, sangsi kenaikan 100% tidak akan dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri kekurangan tersebut sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan terhadap objek pajaknya.
Jumlah pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar di atas akan dikenakan sangsi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak ditambah sangsi administrasi berupa bunga 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan sejak saat terutangnya pajak.
Tata cara pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dapat dilakukan pada saat pajak harus dilunasi paling lambat 30 hari sejak diterbitkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang terutang dalam srat tagihan pajak daerah ditambah sangsi administrasi berupa bunga sebesar 2% setiap bulan untuk paling lama 15 bulan sejak saat terutangnya pajak.
III.3.7 Pembagian Hasil Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
Bagi hasil Pajak Kendaraan Bermotor untuk Pemerintah Provinsi Sumatera Utara adalah 70% dan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memperoleh penerimaan bagi hasil sebesar 30% dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi pemerataan Daerah Kabupaten/Kota yang bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar Daerah Kabupaten/Kota.
III.3.8 Daluarsa dan Tindak Pidana Dalam Pajak Kendaraan Bermotor
Kadaluarsa penagihan Pajak Kendaraan Bermotor setelah melampaui jangka waktu 5 tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali apabila wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan.
Kadaluarsa penagihan pajak tertangguh apabila: a. Diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa.
b. Ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak langsung. Ketentuan pidana dikenakan pada Wajib Pajak Pajak Kendaraan Bermotor apabila:
1. Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan STPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun dan atau denda paling banyak 2 kali jumlah pajak yang terutang.
2. Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan STPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan penjara paling lama 2 tahun dan atau denda paling banyak 4 kali jumlah pajak yang terutang.
Tindak pidana tidak akan dituntut setelah melampaui jarak waktu 10 tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhir atau berakhirnya tahun pajak.
Tindak pidana tidak akan dituntut setelah melampaui jarak waktu 10 tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhir atau berakhirnya tahun pajak.
III.8 Gambaran Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada III.8 Gambaran Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada
UPT Pematangsiantar UPT Pematangsiantar
Tabel 3.2 Perbandingan dan Target PKB/BBN-KB Tabel 3.2 Perbandingan dan Target PKB/BBN-KB UPTD Pematangsiantar T.A 2002 – 2008 (Juni-Oktober) UPTD Pematangsiantar T.A 2002 – 2008 (Juni-Oktober) TAHUN
TAHUN TARGET TARGET REALISASI REALISASI PERSENTASI PERSENTASI 2002 Rp. 378.916.395.000 Rp. 423.776.252.841 111,84% 2003 Rp. 607.058.016.000 Rp. 645.489.896.878 106,33% 2004 Rp. 762.290.360.000 Rp. 797.921.241.009 104,76% 2005 Rp. 904.790.000.000 Rp. 921.075.901.914 101,80% 2006 Rp. 929.702.000.000 Rp. 323.408.462.280 34,68% 2007 Rp. 950.602.000.000 Rp. 362.577.783.519 50,71% 2008 Rp. 1.019.219.000.000 Rp. 867.650.325.765 75,35% Sumber Data: Pematangsiantar/DIPENDA Sumatera Utara
Tabel di atas menggambarkan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) pada UPT Pematangsiantar dari tahun 2002-2008 dengan target dan realisasi serta persentasenya