Contoh format tes lisan
PERCOBAAN PERUBAHAN PANJANG (MUAI PANJANG)
No. Pokok-Pokok yang dinilai Skor
1 Data Pengamatan
Mengisi Tabel Pengamatan
No. Jenis Logam Pertambahan Panjang Keterangan 1. Tembaga ……… cm 2. Nikelin ……… cm 3. dll ……… cm 4. 2 2 Pembahasan Membahas tentang:
• pemuaian suatu logam
• perubahan pertambahan panjang logam karena pengaruh panas
6
3 Kesimpulan:
Menyimpulkan dari hasil percobaan yang diperoleh. 6 4 Jawaban pertanyaan
1. Menuliskan logam/kawat yang mengalami pertambahan panjang paling besar, beserta alasannya (disesuaikan dengan hasil percobaan)
2. Yang akan mengalami pertambahan panjang paling besar adalah kawat tembaga karena memiliki panas jenis lebih besar
(bila menjawab tepat dan benar diberi poin yang sesuai, bila tidak diberi nilai nol)
2
2
C. Non tes
Instrumen non-tes pada dasarnya dapat dipakai untuk mengukur ranah-ranah yang dimiliki tiap orang. Adapun ranah yang diukur dengan menggunakan non-tes ini adalah kognitif, psikomotorik, persepsi, dan ranah afektif. Mardapi (2004) mengatakan bahwa dalam kaitan dengan afektif ada empat tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, dan nilai. Instumen non-tes sebagai alat pengumpul data secara garis besar terdiri dari 2, yaitu yang berupa kertas yang berisi pertanyaan, pernyataan dan daftar isian serta manusia itu sendiri sebagai instrumen.
Untuk kegiatan evaluasi yang bersifat kualitatif dengan menggunakan wawancara dan observasi, maka subyek pengumpul data adalah instrumennya sedangkan borang dan pedoman hanyalah alat bantu. Lain halnya ketika evaluasi yang sifatnya kuantitatif, maka angket, kuisioner, daftar isian dan skala adalah insrtumennya.
1. Kuisioner/ angket a. Pengertian
Kuisioner merupakan salah satu instrumen yang seringkali digunakan baik dalam pembelajaran sekolah, perguruan tinggi maupun penelitian. Menurut Djaali kuisioner terdiri dari daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.
b. Keunggulan dan keterbatasan
Keunggulan kuisioner sebagai instrumen lebih praktis, hemat waktu dan tenaga dibanding dengan wawancara. Namun keterbatasannya adalah kemungkinan adanya jawaban yang diberikan dalam kuisioner tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
c. Kaidah dan contoh instrumen kuisioner atau angket
Dalam menyusun instrumen kuisioner atau angket, langkah yang hendaknya dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Mengkaji teori
2) Membuat konstruk (definisi konseptual dan operasional) 3) Mengembangkan dimensi dan indikator
4) Membuat kisi-kisi
5) Menetapkan rentang parameter pengukuran (kutub postif dan negatif) 6) Identifikasi ciri-ciri kutub
8) Proses validasi konsep (telaah pakar/panel) 9) Perbaikan/revisi
10) Proses validasi empiris (uji coba instrumen, analisis data hasil uji coba dengan uji validitas dan reliabilitas)
11) Seleksi butir valid 12) Perakitan instrumen
2. Skala sikap a. Pengertian
Skala adalah alat pengumpul data untuk memperoleh gambaran kuantitatif aspek – aspek tertentu dari suatu barang atau sifat – sifat seseorang dalam bentuk skala yang bersifat ordinal (SS, S, R, TS, STS). Skala dapat berbentuk skala sikap yang biasanya ditujukan untuk mengukur variabel yang bersifat internal psikolois dan diisi oleh responden yang bersangkutan. Selain itu, skala dapat pula berbentuk skala penilaian yaitu, apabila skala tersebut ditujukan untuk mengukur variabel yang indikator – indikatornya dapat diamati oleh orang lain, sehingga skala penilaian bukan diberikan kepada unit analisis tetapi diberikan atau diisi oleh orang yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang cukup memadai tentang keadaan subjek yang menjadi unit analisis dalam kaitannya dengan variabel yang diukur.
b. Keunggulan dan keterbatasan
Keunggulan dan keterbatasn skala pada dasarnya mirip dengan kuisioner atau angket, yaitu lebih praktis, hemat waktu dan tenaga dibanding dengan wawancara. Namun keterbatasannya adalah kemungkinan adanya jawaban yang diberikan dalam kuisioner tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga butuh pendalaman dan kehati – hatian dalam menganalisanya. c. Kaidah dan contoh instrumen skala sikap
Bentuk instrumen yang digunakan untuk skala sikap berupa skala penilaian (rating scale). Skala penilaian menentukan posisi sikap atau perilaku peserta didik dalam suatu rentangan sikap. Skala sikap secara umum memuat pernyataan sikap atau perilaku yang diamati dan hasil pengamatan sikap atau perilaku sesuai kenyataan. Pernyataan memuat sikap atau perilaku yang positif atau negatif sesuai indikator penjabaran sikap dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar. Rentang skala hasil pengamatan antara lain berupa :
2) Sangat baik, baik, biasa saja, kurang baik, tidak baik 3) Selalu, sering, kadang – kadang, tidak pernah
Dalam menyusun skala sikap, langkah yang hendaknya dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Mengkaji teori
2) Membuat konstruk (definisi konseptual dan operasional 3) Mengembangkan dimensi dan indikator
4) Membuat kisi – kisi
5) Menetapkan rentang parameter pengukuran (kutub postif dan negatif) 6) Identifikasi ciri – ciri kutub
7) Menulis butir instrumen
8) Proses validasi konsep (telaah pakar / panel) 9) Perbaikan / revisi
10) Proses validasi empiris (uji coba instrumen, analisis data hasil uji coba dengan uji validitas dan reliabilitas)
11) Seleksi butir valid 12) Perakitan instrumen
Dalam perkembangannya, instrumen non tes berbentuk skala ini dapat disusun secara pribadi oleh guru maupun menggunakan yang sudah baku atau dapat pula menggunakan instrumen yang sudah diberikan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Berikut ini adalah contoh skala sikap tentang Disiplin Belajar yang disusun mandiri oleh guru.
No. Uraian Pernyataan SS S Jr SJr TP
1 Saya belajar setiap malam
2 Saya membaca pelajaran untuk besok hari dalam belajar sehari - hari
3 Saya mengumpulkan tugas tepat waktu 4 Saya mengerjakan PR beberapa menit
sebelum berangkat ke sekolah. 5 saya kerjakan tugas secara mandiri
sepulang dari sekolah.
6 Saya merapikan buku pelajaran beberapa menit sebelum berangkat ke sekolah. 7 Saya masuk sekolah tepat waktu.
Keterangan : SS = Sangat sering S = Sering Jr = Jarang SJr = Sangat jarang TP = Tidak Pernah
3. Wawancara (borang wawancara) a. Definisi
Secara umum yang dimaksud wawacara adalah cara menghimpun bahan- bahan keterangan yang dilaksanakan dengan tanya jawab secara lisan, sepihak, berhadapan muka dan dengan arah tujuan yang telah ditentukan.
b. Keunggulan dan keterbatasan
Keunggulan wawancara adalah pewawancara sebagai pengumpul data dapat melakukan kontak langsung dengan sumber data (responden) yang dimintai keterangan sehingga dapat diperoleh data atau informasi yang lebih lengkap dan mendalam. Melalui wawancara maka dimungkinkan sumber data dapat memberikan dan mengeluarkan ide pemikiran atau isi hati secara lebih bebas.
Sedangkan keterbatasan wawancara adalah memakan waktu yang relatif lama, memerlukan keterampilan bertanya yang sangat baik sehingga proses wawancara tidak menjemukan dan cakupan responden sangat terbatas dikarenakan belum tentu semua responden mau diwawancarai.
c. Kaidah dan contoh instrumen borang wawancara
Dalam menyusun borang wawancara, langkah yang hendaknya dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Mengkaji teori
2) Membuat konstruk (definisi konseptual dan operasional) 3) Mengembangkan dimensi dan indikator
4) Membuat kisi-kisi
5) Menetapkan rentang parameter pengukuran (kutub postif dan negatif) 6) Identifikasi ciri-ciri kutub
7) Menulis butir instrumen 8) Perakitan instrumen
4. Observasi (Pedoman Observasi) a. Pengertian
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Observasi langsung
dilaksanakan secara langsung tanpa perantara orang lain. Sedangkan observasi tidak langsung dengan bantuan orang lain.
Djaali (2005) mengatakan observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan objek pengamatan. Observasi sebagai metode pengumpulan data banyak digunakan untuk mengamati tingkah laku individu atau proses terjadinya kegiatan yang diamati.
b. Keunggulan dan keterbatasan
Keunggulan observasi adalah mendapatkan data yang begitu detail, terperinci dan berupa tingkah laku secara spesifik. Sedangkan keterbatasannya adalah diperlukan orang atau peneliti yang terlatih, waktu yang dibutuhkan cukup lama, karena data berupa tingkah laku, maka perlu proses yang cukup rumit serta sistematis dalam pengolahannya.
c. Kaidah dan contoh instrumen Observasi
Bentuk instrumen yang digunakan untuk observasi adalah pedoman observasi yang berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Daftar cek digunakan untuk mengamati ada tidaknya suatu sikap atau perilaku. Sedangkan skala penilaian menentukan posisi sikap atau perilaku peserta didik dalam suatu rentangan sikap. Pedoman observasi secara umum memuat pernyataan sikap atau perilaku yang diamati dan hasil pengamatan sikap atau perilaku sesuai kenyataan. Pernyataan memuat sikap atau perilaku yang positif atau negatif sesuai indikator penjabaran sikap dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar. Rentang skala hasil pengamatan antara lain berupa:
1) Sangat sering, sering, jarang, sangat jarang, tidak pernah 2) Sangat baik, baik, biasa saja, kurang baik, tidak baik 3) Selalu, sering, kadang – kadang, tidak pernah.
Pedoman observasi dilengkapi juga dengan rubrik dan petunjuk penskoran. Rubrik memuat petunjuk/uraian dalam penilaian skala atau daftar cek. Sedangkan petunjuk penskoran memuat cara memberikan skor dan mengolah skor menjadi nilai akhir. Agar observasi lebih efektif dan terarah hendaknya :
1) Dilakukan dengan tujuan jelas dan direncanakan sebelumnya. Perencanaan mencakup indikator atau aspek yang akan diamati dari suatu proses.
2) Menggunakan pedoman observasi berupa daftar cek atau skala penilaian. 3) Pencatatan dilakukan selekas mungkin.
4) Kesimpulan dibuat setelah program observasi selesai dilaksanakan
Contoh : Pedoman Observasi Sikap Spiritual (Untuk sekolah menengah Kejuruan) Petunjuk :
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta didik. Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :
4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan 3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan
Nama Peserta Didik : ……….
Kelas : ……….
Tanggal Pengamatan : ………..
Materi Pokok : ………..
No Aspek Pengamatan Skor
1 2 3 4 1 Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu
2 Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan
3 Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi
4 Mengungkapakan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan
5 Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan
Jumlah Skor Petunjuk Penskoran :
Skor akhir menggunakan skala 1 sampai 4 Perhitungan skor akhir menggunakan rumus :
Contoh :
Skor diperoleh 14, skor tertinggi 4 x 5 pernyataan = 20, maka skor akhir :
Peserta didik memperoleh nilai :
Sangat Baik : apabila memperoleh skor 3,20 – 4,00 (80 – 100) Baik : apabila memperoleh skor 2,80 – 3,19 (70 – 79) Cukup : apabila memperoleh skor 2.40 – 2,79 (60 – 69)
Kurang : apabila memperoleh skor kurang 2.40 (kurang dari 60%)
D. Perencanaan Pengukuran Pembelajaran
Ada enam aspek yang selayaknya dipertimbangkan dalam perencanaan pengukuran, yaitu sebagai berikut :
1. Pemilihan materi pengukuran
Tidak semua bahan pelajaran dan aspek hasil belajar dapat diukur, diuji dan dijadikan bahan pengukuran, karena waktu yang tersedia dan karakteristik dari materi tersebut. Oleh karena itu, penting kiranya untuk mengukur sesuatu yang memang sudah dipelajari dan terkait dengan materi tersebut.
2. Tipe yang digunakan
Secara umum, tidak ada suatu tipe alat ukur dalam pendidikan yang lebih baik atau yang terbaik dalam mengukur perubahan perilaku maupun hasil belajar. Masing-masing memiliki kekuatan dan kekurangannya. Hal yang mungkin untuk dilakukan adalah memilih bentuk tes atau pun non-tes yang sesuai serta lebih tepat untuk mengukur perubahan perilaku maupun hasil belajar tertentu.
3. Aspek kemampuan yang akan diuji
Materi maupun bahan yang akan diuji tidak selamanya menggambarkan seluruh aspek dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. Dalam kognitif terdapat 6 ranah yang merupakan hasil berurutan dan berjenjang. Artinya, suatu kompetensi dasar yang bersifat awalan umumnya hanya membutuhkan tingkatan pengetahuan yang berupa ingatan hendaknya aspek yang diuji hanyalah pada tingkatan tersebut saja.
4. Format butir
Setiap instrumen tes maupun non-tes memiliki tipe dan format soal yang beragam. Misalnya, tes objektif terdiri dari benar-salah, pilihan ganda dan menjodohkan. Setiap tipe memiliki format yang berbeda-beda.
5. Jumlah butir
Penentuan jumlah butir sangat terkait dengan keterwakilan bahan yang diujikan, waktu yang tersedia dan reliabilitas tes. Semakin banyak tes yang digunakan semakin reliabel tes tersebut, baik reliabilitas dalam arti stabilitas maupun internal konsistensinya.
6. Distribusi tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran berkaitan dengan tujuan dari kegiatan pengukuran.
E. Karakteristik Alat ukur yang baik
Evaluasi sangat berguna untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Pentingnya evaluasi dalam pembelajaran, dapat dilihat dari tujuan dan fungsi evaluasi maupun sistem pembelajaran itu sendiri. Evaluasi tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran, sehingga guru mau tidak mau harus melakukan evaluasi pembelajaran. Melalui evaluasi, Anda dapat melihat tingkat kemampuan peserta didik, baik secara kelompok maupun individual. Anda juga dapat melihat berbagai perkembangan hasil belajar peserta ddik, baik yang yang menyangkut domain kognitif, afektif maupun psikomotor. Pada akhirnya, guru akan memperoleh gambaran tentang keefektifan proses pembelajaran. Setelah Anda memahami pentingnya evaluasi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, tentunya Anda juga perlu tahu apa karakteristik dari alat ukur yang baik.
Pemahaman tentang alat ukur ini menjadi penting karena dalam praktik evaluasi atau penilaian di sekolah, pada umumnya guru melakukan proses pengukuran. Dalam pengukuran tentu harus ada alat ukur (instrumen), baik yang berbentuk tes maupun non-tes. Alat ukur tersebut ada yang baik, ada pula yang kurang baik. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memenuhi syarat-syarat atau kaidah-kaidah tertentu, dapat memberikan data yang akurat sesuai dengan fungsinya, dan hanya mengukur sampel perilaku tertentu.
Secara sederhana, Zainal Arifin (2011 : 69) mengemukakan karakteristik instrumen pengukuran, penilaian dan evaluasi yang baik adalah “valid, reliabel, relevan, representatif, praktis, diskriminatif, spesifik dan proporsional”.
1. Valid, artinya suatu alat ukur dapat dikatakan valid jika betul-betul mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Misalnya, alat ukur mata pelajaran Ilmu Fiqih, maka alat ukur tersebut harus betul-betul dan hanya mengukur kemampuan peserta didik dalam mempelajari Ilmu Fiqih, tidak boleh
dicampuradukkan dengan materi pelajaran yang lain. Validitas suatu alat ukur dapat ditinjau dari berbagai segi, antara lain validitas ramalan (predictive validity), validitas bandingan (concurent validity), dan validitas isi (content validity), validitas konstruk (construct validity), dan lain-lain. Penjelasan tentang validitas ini dapat Anda baca uraian modul berikutnya. 2. Reliabel, artinya suatu alat ukur dapat dikatakan reliabel atau handal jika ia
mempunyai hasil yang taat asas (consistent). Misalnya, suatu alat ukur diberikan kepada sekelompok peserta didik saat ini, kemudian diberikan lagi kepada sekelompok peserta didik yang sama pada saat yang akan datang, dan ternyata hasilnya sama atau mendekati sama, maka dapat dikatakan alat ukur tersebut mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi.
3. Relevan, artinya alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang telah ditetapkan. Alat ukur juga harus sesuai dengan domain hasil belajar, seperti domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Jangan sampai ingin mengukur domain kognitif menggunakan alat ukur non-tes. Hal ini tentu tidak relevan.
4. Representatif, artinya materi alat ukur harus betul-betul mewakili dari seluruh materi yang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan bila guru menggunakan silabus sebagai acuan pemilihan materi tes. Guru juga harus memperhatikan proses seleksi materi, mana materi yang bersifat aplikatif dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tidak.
5. Praktis, artinya mudah digunakan. Jika alat ukur itu sudah memenuhi syarat tetapi sukar digunakan, berarti tidak praktis. Kepraktisan ini bukan hanya dilihat dari pembuat alat ukur (guru), tetapi juga bagi orang lain yang ingin menggunakan alat ukur tersebut.
6. Diskriminatif, artinya adalah alat ukur itu harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukkan perbedaan-perbedaan yang sekecil apapun. Semakin baik suatu alat ukur, maka semakin mampu alat ukur tersebut menunjukkan perbedaan secara teliti. Untuk mengetahui apakah suatu alat ukur cukup deskriminatif atau tidak, biasanya didasarkan atas uji daya pembeda alat ukur tersebut.
7. Spesifik, artinya suatu alat ukur disusun dan digunakan khusus untuk objek yang diukur. Jika alat ukur tersebut menggunakan tes, maka jawaban tes jangan menimbulkan ambivalensi atau spekulasi.
8. Proporsional, artinya suatu alat ukur harus memiliki tingkat kesulitan yang proporsional antara sulit, sedang dan mudah. Begitu juga ketika menentukan jenis alat ukur, baik tes maupun non-tes.
Karakteristik instrumen evaluasi di atas tentunya sedikit banyak telah memenuhi apa yang diperlukan oleh evaluator. Namun demikian, ada beberapa hal kekinian yang mestinya juga dijadikan acuan untuk menjawab tantangan yang begitu kompleks dewasa ini. Dalam menyusun instrumen evaluasi, seorang evaluator hendaknya memperhatikan pula kenyataan dari data yang akan diambil, oleh karena itu keotentikan dalam menyusun instrumen dirasa perlu.
Otentik, artinya memandang sesuatu objek/subyek evaluasi secara terpadu. Evaluasi bersifat otentik berarti pula mencerminkan masalah dunia nyata. Menggunakan berbagai cara yang holistik. Instrumen yang bersifat otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh subyek/obyek evaluasi, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh subyek/obyek evaluasi.
Hal yang berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah dasar penyusunan instrumen evaluasi hendaknya mengacu pada kriteria tertentu. Mengacu pada kriteria, artinya instrumen disusun berdasarkan kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, standarisasi tertentu atau kemampuan minimal. Kompetensi inti, standar kompetensi dan indikator untuk kalangan sekolah dasar dan menengah. Untuk para peneliti dan evaluator kriteria dapat ditetapkan berdasarkan standar minimum yang dipersyaratkan baik secara undang-undang maupun peraturan yang berlaku dalam pencapaian standar tersebut. Untuk mengukur suatu kemampuan dalam keterampilan tertentu kriteria dapat mengacu pada kompetensi tertentu yang wajib dicapai.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan dalam menyusun instrumen pengukuran, penilaian dan evaluasi instrumen tersebut hendaknya memiliki karakteristik antara lain: valid, reliabel, relevan, representatif, praktis, diskriminatif, spesifik, proporsional, otentik dan mengacu pada kriteria tertentu.