RANAH MINANG DAN KERAJAAN MELAYU
2. Perdagangan Emas
Dalam Seminar Sejarah Mālayu Kuna terungkap bahwa lokasi Kerajaan Mālayu ada di daerah Sungai Batanghari, mulai dari daerah hilir di wilayah Provinsi Jambi hingga daerah hulu di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa ada perpin-dahan “pusat” kerajaan mulai dari arah hilir ke arah hulu Batanghari (Bambang Budi Utomo, 1992: 183–84). Demikian juga bukti prasasti menunjukkan bahwa prasasti-prasasti Mālayu yang lebih muda
ditemukan di daerah hulu Batanghari, di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Hasan Djafar, 1992: 50–80).
Jika dilihat dari pandangan geografis, daerah hilir Sungai Batanghari lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan daerah hulu. Di wilayah pedalaman Sumatera Barat, jalan keluar menuju Selat Melaka adalah Sungai Indragiri dan Sungai Kampar Kiri. Kedua sungai ini bermataair di wilayah Pagarruyung. Tentunya tidak mungkin untuk pelayaran sungai. Namun, pada pertengahan abad ke-14 M pusat Kerajaan Mālayu berlokasi di sekitar daerah Pagarruyung (Sumatera Barat). Tetapi mengapa justru di daerah ini Kerajaan Mālayu mencapai puncak kejayaannya? Gejala apakah yang memacu perkembangan kerajaan ini. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan mencoba untuk membahasnya dengan melihat sumberdaya alam yang terkandung di bumi Sumatera, khususnya di daerah hulu Batanghari.
Adalah penting untuk melihat kedudukan sumberdaya alam Pulau Sumatera untuk dapat memahami mengenai timbulnya pemukiman, pelabuhan, pola perdagangan, dan kerajaan-kerajaan kuna di Sumatera. Hal yang tidak dapat dipungkiri oleh banyak orang adalah bahwa hasil bumi dan hasil tambang Sumatera banyak dicari oleh para pedagang baik dari Arab, India, Cina dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Salah satu hasil Sumatera yang ter-penting adalah emas.
Selain emas, beberapa logam lain juga ditemukan di Sumatera seperti perak, plumbum, tembaga, zink, besi, dan air raksa (van Bemmelen, 1944: 210; Miksic, 1979: 263). Barang-barang lo-gam itu telah lama ditambang dan jauh sebelum abad ke-16 M, yaitu ketika para penguasa barat melakukan penambangan secara besar-besaran di bumi Sumatera (Miksic, 1979: 262). Air raksa banyak ditemukan di Lebong dan cinnabar, satu jenis logam yang mengan-dung air raksa telah ditambang di daerah Jambi jauh sebelum keda-tangan orang Barat (Miksic, 1979: 262; Tobber, 1919: 463–464).
Cinnabar juga ditambang di Muara Sipongi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) (van Bemmelen, 1944: 210). Di Muara Sipongi, sebelum kedatangan bangsa Barat ditambang plumbum,
zink, besi, dan tembaga.
Selain hasil tambang, sumber daya alam Sumatera yang menjadi komoditi penting pada masa lampau adalah hasil hutan. Pada masa Kesultanan Melaka diberitakan ada selusin kapal yang
singgah di Melaka setiap tahunnya membawa muatan yang sebagian besar berupa hasil hutan. Hasil hutan yang dikapalkan itu antara lain berupa damar, kapur barus, storax, bahan untuk membuat minyak wangi, myrobalan (bahan baku untuk pencelup kain), dadah, dan
benzoin (Dunn, 1975; Miksic, 1979: 264).
Gambaran yang dapat kita peroleh dari pengelana-pengelana asing jelas bahwa masyarakat di Sumatera sejak jaman purba telah melakukan penambangan emas. Emas yang dikumpulkan dapat berupa emas primer maupun emas sekunder, tergantung dari tempat di mana mereka mencarinya. Christine Dobbin mengemuka-kan bahwa daerah pusat Minangkabau selama beberapa abad telah memegang peranan penting dalam perekonomian di wilayah sebelah barat Nusantara (Dobbin, 1986, terjemahan). Daerah Tanah Datar merupakan penghasil salah satu dari sumber utama kegiatan perekonomian. Dari daerah ini banyak dihasilkan emas. Menurut Tomé Pires di pantai barat Sumatera, bahan eksport selain lada adalah emas, kelambak, kapur barus, kemenyan, damar, madu, dan bahan makanan (Poesponegoro (3), 1984: 147–148). Ekspor komo-diti ini ditujukan ke Melaka. Akan tetapi ada juga kapal-kapal Gujarat yang datang langsung ke Pantai Barat Sumatera untuk membawanya langsung ke negerinya.
Emas merupakan hasil tambang dari Sumatera yang penting dan utama. Oleh sebab itu, untuk menelusuri kelahiran bandar-bandar utama di Sumatera dan sistem perdagangan pada masa lampau, kita harus dapat memahami tentang peranan emas dari Sumatera. Logam ini telah ditambang di Sumatera sejak jaman sebelum kedatangan bangsa barat (Eropa) ke Asia Tenggara. Demikian pentingnya emas dari daerah Minangkabau, Wheatly menunjukkan bukti bahwa Kesultanan Melaka telah menantang Kesultanan Deli, Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri untuk memasti-kan ia dapat menjamin keamanan perdagangan emas dari kawasan pedalaman Minangkabau (Wheatly, 1961: 309).
Penambangan emas secara besar-besaran di wilayah Suma-tera Barat baru dilakukan pada masa penjajahan. Meskipun demikian, daerah ini sudah lama dikenal sebagai penghasil emas yang utama. Penguasaan atas tambang-tambang emas dilakukan oleh para penguasa untuk tujuan politik. Emas dari daerah pedalaman Minangkabau dipasarkan ke luar Sumatera melalui pantai barat dan pantai timur Sumatera dengan melalui jalan sungai dan
jalan darat. Itulah sebabnya Mālayu pada masa Ādityawarmman mencapai kejayaannya. Pendahulu Ādityawarmman telah memindah-kan keratonnya ke daerah pedalaman agar memudahmemindah-kan pengon-trolan tambang-tambang emas. Daerah pedalaman (sekitar Pagar-ruyung) dekat dengan jalan keluar menuju Selat Melaka melalui Sungai Kampar Kiri dan Sungai Indragiri. Menuju pantai barat dapat melalui celah Pegunungan Bukit Barisan menuju Padang. Menuju ke arah utara, dapat melalui Muara Sipongi (juga merupakan tambang emas) menuju ke arah Tapanuli Selatan.
Kerajaan Mālayu yang lokasi geografisnya di daerah lembah Batanghari, sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemin-dahan ibukotanya. Ibukota yang pertama (awal) berlokasi di daerah hilir Batanghari, di suatu tempat yang mungkin di Muara Jambi (de Casparis, 1992) atau di Kota Jambi sekarang (Bambang Budi Utomo, 1992). Ibukota yang kedua berlokasi di sekitar daerah hulu Batang-hari. Pemindahan yang kedua ini mungkin berlangsung sebelum tahun 1286 (Prasasti Dharmaśraya). Ibukota terakhir (?) berlokasi di daerah Pagarruyung, dan oleh Ādityawarmman ibukota ditetapkan di
Surāwāśa. Pemindahan ke daerah ini terjadi tahun 1316 M pada masa pemerintahan Akarendrawarman (de Casparis, 1992). De Casparis mengajukan alasan pemindahan ibukota karena ancaman agama baru yang berkembang di Aceh, yaitu agama Islam dari Kesultanan Samudra Pasai. Karena itulah Ādityawarmman membuat arca Bhairawa dan menetapkan Surāwāśa sebagai pusat pemerintah-an. Ādityawarmman beranggapan bahwa agama Islam tidak hanya mengancam agama Buddha yang dipeluknya, melainkan juga mem-bahayakan tahta raja sendiri.
Dugaan yang diajukan de Casparis dapat diterima, tetapi dapat ditambahkan bahwa Ādityawarmman juga berniat menguasai tambang emas yang banyak terdapat di wilayah Minangkabau. Selain itu, jika pusat pemerintahan ada di daerah Surāwāśa, akses menuju Selat Melaka yang merupakan jalur lalulintas perekonomian akan lebih dekat lagi, yaitu melalui Sungai Kampar Kiri dan Sungai Indragiri (Batang Kuantan). Demikian juga akses menuju pantai barat Sumatera tempat para pedagang dari India dan Arab biasa berlabuh mengambil barang komoditi. Bukti prasasti dari Barus menunjukkan adanya komunitas para pedagang Tamil di pantai barat Sumatera. Adanya komunitas orang Tamil di sekitar Pagar-ruyung dapat diketahui dari Prasasti Bandar Bapahat yang berbahasa
Tamil dan beraksara Grantha dari situs di tepi Batang Selo (Tanah Datar).
Setelah Mālayu di bawah pemerintahan Ādityawarmman mencapai kejayaannya, tibalah masa yang gelap bagi Mālayu. Berita mengenai Mālayu sebagai kerajaan yang bercorak Buddha tidak pernah terdengar lagi. Namun demikian perdagangan emas dari daerah Minangkabau masih tetap berlanjut dengan melalui jalur sungai Kampar Kiri dan Indragiri.
3. Keagamaan
Berbicara mengenai agama yang berkembang di wilayah Sumatera Barat pada abad ke-13–14 M, maka kita harus membicarakan juga agama yang berkembang di Sumatera Utara (Kabupaten Tapanuli Selatan) dari masa yang sama. Di kawasan yang dikenal dengan nama Padanglawas, terdapat tinggalan budaya masa lampau yang berupa kompleks biaro dengan arca-arcanya yang berwajah raksasa. Di samping itu ditemukan juga prasasti-prasasti yang mengindikasikan pemujaan tantris.
Kepurbakalaan yang ditemukan di Situs Padanglawas hampir semuanya terdiri dari biaro-biaro yang bagian puncaknya diakhiri dengan bentuk stupa. Kadang-kadang ditemukan juga sebuah bangunan stupa yang ukurannya lebih kecil dari bangunan biaro. Bangunan ini biasanya ditemukan di halaman kelompok bangunan biaro. Indikator tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh kepurbakalaan di Padanglawas berhubungan dengan agama Buddha, dan hanya sedikit yang berkaitan dengan agama Hindu aliran Śiwa. Bukti ikonografis menunjukkan bahwa arca-arca yang ditemukan di Padanglawas seluruhnya berwajah raksasa dengan raut muka yang menyeramkan. Demikian juga relief pada dinding bangunan meng-gambarkan raksasa yang sedang menari-nari dengan tarian
tandawa. Beberapa tulisan baik yang ditulis pada lempengan emas, maupun yang ditulis pada batu membuktikan bahwa agama yang berkembang di Padanglawas adalah wajrayāna, yaitu suatu aliran dalam agama Buddha yang mempunyai sifat-sifat keraksasaan (Suleiman, 1985: 26).
Pada tahun 1950-an, di dalam bilik utama bangunan Bahal 2, ditemukan sebuah arca yang telah hancur berkeping-keping. Setelah berhasil direkonstruksi kembali, ternyata arca yang telah hancur itu berasal dari bentuk sebuah arca Heruka yang mempunyai ukuran
tinggi 118 cm. Jenis arca ini merupakan arca langka yang jarang ditemukan di Indonesia, baik di Jawa maupun di Sumatera. Keadaan mukanya telah rusak. Di bagian belakang kepala terdapat rambut yang berdiri ke atas seperti lidah api. Penggambaran arca ini sangat "sadis" dengan setumpuk tengkorak dan raksasa sedang menari-nari di atas mayat. Raksasa ini digambarkan bertangan dua. Tangan kanan diangkat ke atas sambil memegang vajra, sedangkan tangan kiri berada di depan dada sambil memegang sebuah mangkuk dari batok kepala manusia. Sebatang tongkat (khaţvāńga) yang di bagian ujungnya diikat kain yang menyerupai bendera dikempit pada ketiak tangan kiri. Berdiri di atas kaki kiri yang agak ditekuk, sedangkan kaki kanan diangkat dengan telapak kaki mengarah ke paha kiri. Dari belakang kaki kanan terjuntai sampur hingga ke bawah. Arca ini sekarang telah hilang, dan bagian yang masih tersisa adalah bagian kiri belakang (bagian ujung tongkat yang terdapat ikatan kain).
Penggambaran arca Heruka tersebut, tercantum dalam kitab
Suddhamala yang menekankan bahwa seorang penganut Tantrayāna harus membayangkan Heruka itu sebagai berikut:
"berdiri di atas mayat dalam sikap ardhaparyańka (setengah bersila) berpakaian kulit manusia, tubuhnya dilumuri abu, tangan kanannya menggenggam sebuah vajra yang berkilauan, dan tangan kirinya menggenggam sebuah khaţwańga,
berhiasan panji yang melambai-lambai, serta sebuah mangkuk tengkorak yang berisi darah; selempangnya berhiasan rantai dari 50 kepala manusia, mulutnya sedikit terbuka karena taring, sedangkan nafsu birahi tampak dari sorot matanya, rambutnya yang kemerah-merahan berdiri ke atas; arca Aksobhya menghiasi mahkotanya dan anting-anting menghiasi telinganya; ia berhiaskan tulang-tulang manusia dan kepalanya berhiasan tengkorak manusia; ia memberi kebudhaan dan dengan semedinya melindungi terhadap mara-mara di dunia." (Sulistya, 1985)
Tokoh Heruka disebutkan juga dalam sebuah kakawin yang ditulis dalam jaman Majapahit (abad ke-14–15 M). Pada kakawin yang dikenal dengan nama Sutasoma, pupuh 125 antara lain menyebutkan sebagai berikut:
"Inilah sebabnya mengapa seorang penganut Mahāyāna berusaha untuk men-sucikan dirinya. Bukanlah karena dia ingin makan daging manusia maupun karena dia ingin memuaskan nafsu makannya. Dia hanya ingin berusaha membersihkan kesadarannya supaya dia dapat menguasai hidup dan mati. Itulah tujuan dari latihan-latihannya. Dalam keadaan serupa itu ia bersatu dengan Jinapati, puncak dari kebebasan. Banyaklah cara antara lain dipakainya daun kering untuk melindungi dirinya dari sinar matahari selama latihannya. Darah yang berbau mengalir melalui kepalanya dan menetes di dadanya. Usus manusia melingkari tubuhnya dan lalat-lalat hijau beterbangan dan hinggap di muka serta masuk di matanya, Namun hatinya sama sekali tidak tergoda dari tujuan utama untuk bersatu dengan dewa Heruka" (Bosch, 1930: 142).
Dari kedua sumber tertulis itu jelas bahwa upacara tantrayāna
seolah-olah merupakan suatu perbuatan yang sadis dan tidak lepas kaitannya dengan mayat serta darah manusia. Di samping itu ada juga ritual yang berkaitan dengan minum minuman keras yang memabukkan, seperti yang dilakukan oleh Raja Kŗtanagara dari Kerajaan Sińhasāri. Upacara yang terpenting dalam aliran Wajrayāna
adalah upacara Bhairawa, yang dilakukan di atas ksetra (suatu tempat penimbun mayat sebelum dibakar). Di tempat ini mereka bersemedi, menari-nari, merapalkan mantra-mantra, membakar ma-yat, minum darah, tertawa-tawa, mengeluarkan bunyi mendengus seperti suara banteng. Tujuannya adalah untuk mengajarkan penganutnya bagaimana dengan melalui cara kesaktian dapat kaya, panjang umur, perkasa, tidak mempan senjata tajam, dapat hilang dari pandangan orang, dan dapat mengobati orang sakit; atau dalam bentuk yang lebih sakti lagi, apabila berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa dapat mengatasi keadaan yang tidak tenang atau mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa yang dipuja (Majumdar, 1937: 121).
Tiga kelompok biaro yang mempunyai sifat buddha tantrik ialah kelompok Biaro Si Pamutung, Biaro Si Joreng Belangah, dan Biaro Si Sangkilon (Schnitger, 1937: 23–25). Pada Biaro Si Pamutung banyak ditemukan arca maupun hiasan bangunan (makara) yang merupakan indikator Wajrayāna. Pada halaman biaro ditemukan sebuah arca buaya yang digambarkan dengan wajah yang bengis. Selain itu ditemukan juga dua buah arca raksasi dalam sikap
añjalimudrā di mana dari mulutnya keluar dua pasang taring. Kedua bola matanya digambarkan melotot. Di Si Joreng Belangah ditemu-kan prasasti yang menggambarditemu-kan upacara tantris yang bunyinya:
"Wanwawanwanāgī Bukāngrhūgr Hūcitrasamasyasā Tūnhahāhahā Hūm Hūhūhehai Hohauhaha Omāhhūm"
Menurut Stutterheim, bunyi "ha" dan sebagainya adalah bunyi tertawa dan bunyi "hu" adalah bunyi dengusan suara banteng. Bunyi-bunyi ini biasa diucapkan para pemuja pada waktu upacara Tantrik. Selanjutnya, menurut Stutterheim pertanggalan prasasti ini dapat ditempatkan dalam abad 13 M atau pertengahan abad
ke-14 M. Di samping itu ditemukan suatu bukti bentuk tantrisme di Padanglawas.
Bosch mengemukakan bahwa agama yang digambarkan oleh arca-arca dan prasasti-prasasti singkat pada batu dan lempeng emas, dalam upacaranya melibatkan pengorbanan manusia (Miksic, 1979: 86). Menurut Nilakanta Sastri, agama Buddha yang ber-kembang di wilayah Sumatera Barat (Sungai Langsat) dan di wilayah Padanglawas adalah agama Buddha Kālacakra (Sastri, 1949: 109).
Beberapa kelompok biaro telah menghasilkan bukti-bukti arkeologis yang dapat menunjukkan kepada kita jenis tantrisme yang diamalkan. Adalah suatu kenyataan, dimana dapat dibuktikan de-ngan ditemukannya sebuah arca Heruka, bahwa Biaro Bahal 2 adalah contoh Tantrisme Buddha. Heruka adalah salah satu dewa dalam pantheon Buddha yang cukup dikenal. Menurut kepercayaan para penganutnya, apabila mengadakan pemujaan terhadap Heruka
maka orang yang memuja itu akan masuk nirwana dan selalu unggul dalam menaklukan semua māra di dunia.
Dengan ditemukannya arca-arca yang digambarkan dengan raut wajah yang menyeramkan serta prasasti-prasasti singkat yang kalimatnya seperti bunyi tertawa, dapat disimpulkan bahwa agama yang berkembang di daerah Padanglawas adalah agama Buddha Wajrayāna. Arca Heruka merupakan bukti nyata bahwa agama di Padanglawas adalah agama Buddha Wajrayāna. Agama ini berkem-bang juga di daerah Sumatera Barat, di sekitar Padangroco (hulu Batanghari) hingga ke daerah sekitar perbatasan Provinsi Riau (hulu sungai Kampar).
Pada masa yang kemudian setelah masa Padanglawas atau pada masa yang bersamaan dengan itu, di wilayah pedalaman Sumatera Barat yang merupakan daerah hulu Batanghari, Kerajaan Mālayu sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada sekitar pertengahan abad ke-14 M yang memerintah di Kerajaan Mālayu adalah Ādityawarmman. Agama yang berkembang di Mālayu adalah agama Buddha Mahāyāna aliran Wajrayāna dengan upacaranya Bhairawa. Bukti eksistensi agama ini dapat dilihat dari temuan arca dan prasasti yang menunjukkan adanya upacara Bhairawa. Sebuah arca Bhairawa yang merupakan arca perwujudan Ādityawarmman ditemukan di Padangroco (Sawahlunto-Sijunjung, Sumatera Barat), sedangkan mengenai upacara Bhairawa yang dilakukan oleh Ādityawarmman dapat diketahui dari prasasti yang dipahatkan di
bagian belakang arca Amoghapāśa. Arca ini ditemukan di Rambahan, sekitar 4 km. ke arah hulu dari Situs Padangroco.
Prasasti pada arca Amoghapāśa ditulis dalam aksara Jawa Kuna dengan menggunakan bahasa Sansekerta, dalam 27 baris, dan berbentuk sloka 12 bait. Angka tahun yang tertera dalam bentuk candrasangkala yang menunjuk tahun 1268 Śaka (1347 M) dan dikeluarkan oleh Śrī Mahārājādhirāja Ādityawarmman. Dalam prasasti itu ia menyebutkan pula dirinya dengan nama Śrīmat Śrī Udayādityawarmman. Selanjutnya, prasasti ini menyebutkan tentang penyelengga-raan upacara yang bercorak tantrik, pentahbisan arca Buddha dengan nama Gaganaganja (nāmnā gagana ganjasya), dan pemujaan kepada Jina (Hasan Djafar, 1992: 9–12).
Hingga kini belum dapat diketahui dari mana aliran Tantris ini masuk ke wilayah Sumatera Barat. Apakah datang dari Jawa, atau datang dari daerah utara di Padanglawas. Bukti tertua keberadaan
Tantris di Sumatera dapat diketahui dari beberapa buah prasasti singkat yang ditemukan di Padanglawas. Prasasti dengan indikator Tantris dari kompleks percandian Si Joreng Belangah yang berangka tahun 26 April 1179 M (Damais, 1955) dan prasasti dari Si Topayan yang berangka tahun 1235 M (Goris, 1930: 234) sebagai contohnya. Sementara itu, di Sumatera Barat keberadaan Tantris dapat diketahui dari Prasasti Amoghapāśa (dipahatkan pada alas arca) yang berangka tahun 1286 M (Moens, 1924) dan Prasasti Āditya-warmman (dipahatkan pada bagian belakang arca Amoghapāśa) yang berangka tahun 1347 M (Kern 1917). Kalau didasarkan atas informasi dari prasasti, maka yang lebih dahulu berkembang adalah Tantrisme di Padanglawas. Setelah itu Tantrisme berkembang di Sumatera Barat. []
Bambang Budi Utomo Kerani Rendahan pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Prasasti Amoghapasa yang dtulis oleh Adityawarman pada bagian belakang (punggung) Arca Amoghapasa berangka tahun 1347 M.
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif, 1990, “Peranan Beberapa Bandar Utama di Sumatra Abad 7– 16 M dalam Jalur Jalan Darat Melalui Lautan”, dalam Kalpataru 19. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Bambang Budi Utomo, 1990, “Teori Garis Pantai Sumatera Timur: Pengaruhnya Terhadap Penempatan Pusat Sriwijaya”, dalam Monumen. Depok: Fakultas Sastra UI, hlm. 143–155.
_____, 1992, “Batanghari Riwayatmu Dulu”, dalam Seminar Sejarah Malayu Kuno. Jambi: Pemda Tk. I Provinsi Jambi & Kanwil Depdikbud Provinsi Jambi. Bambang Sulistya, 1985, “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara”, dalam
Berkala Arkeologi 6 (2). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. I A. The Hague: Martinus Nijhoff.
Boechari, 1979, “Report on Research on Srivijaya”. Country Report of Indonesia, Part I, dalam Final Report SPAFA Workshop on Research Project on Srivijaya, Appendix a: 1–7. Bangkok: SPAFA Coordinating Unit.
_____, 1981, “Report on Research on Srivijaya”, dalam Studies on Srivijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
_____, 1984, “Laporan Hasil Penelitian Lempengan-lempengan Emas dari Candi Gumpung” (Naskah, tidak diterbitkan).
_____, 1985, “Ritual Deposits of Candi Gumpung (Muara Jambi)”, dalam SPAFA Final Report: Consultative Workshop on Archaeological and Environmental Studies on Srivijaya. Bangkok: SPAFA Coordinating Unit.
Bosch, F.D.K., 1930, “Verslag van een Reis door Sumatra”, OV 1930, hlm. 133–157. Casparis, J.G. de, 1989, “Peranan Adityawarman, Seorang Putra Melayu di Asia
Tenggara”, makalah dalam Persidangan Antarbangsa Tamadun Melayu II. _____, 1990, “An Ancient Garden in West Sumatera”, dalam Kalpataru 9. Jakarta:
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hlm. 40–50.
_____, 1992, “Malayu dan Adityawarman”, dalam Seminar Sejarah Malayu Kuno. Jambi: Pemda Tk. I Provinsi Jambi & Kanwil Depdikbud Provinsi Jambi. Damais, L.Ch., 1955, “Etudes d’épigraphie indonésienne IV. Discussion de la date des
inscriptions” . BEFEO XLVII, Saigon.
Damais, L.Ch., 1970, Repertoire Onomastique de l'Épigraphie Javanaise (Jusqu'a Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotuńgadewa): Étude d'Épigraphie Indo-nésienne. Paris: Publicaions de EFEO, LXVI.
Dobbin, C., 1977, “Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement, 1784–1830”, dalam Indonesia 23, hlm. 1–38.
Dunn, F.L., 1975, “Rainforrest Collectors and Traders: A Study of Resource Utilization in Modern and Ancient Malaya”, dalam Monograph of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society No. 5.
Groeneveldt, W.P., 1960, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Djakarta: Bhratara.
Hasan Djafar, 1992, “Prasasti-prasasti Masa Kerajaan Melayu Kuno dan Beberapa Permasalahannya”, dalam Seminar Sejarah Malayu Kuno. Jambi: Pemda Tk. I Provinsi Jambi & Kanwil Depdikbud Provinsi Jambi.
Hirth, Friederich dan W.W. Rockhill (eds.), 1911, Chau Ju-Kua. His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, entitled Chu-fan-chï. Amsterdam: Oriental Press.
Irfan, Nia Kurnia Sholihat, 1983, Kerajaan Sriwijaya. Bandung: Girimukti Pasaka. Kern, H., 1917, “De Wij-inscriptie op het Amoghapaça-beeld van Padang Candi
(Midden Sumatra): 1269 Çaka”, dalam VG 7: 163–165.
Krom, N.J., 1912, “Inventaries der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden”, dalam OV Bijlage G-H. hlm. 33–52.
Majumdar, R.C., 1933, “Les rois Çailendra de Suwarnadwipa”, BEFEO 33: 121–141. ______, 1937, Suvarnadīpa. Dacca/ Calcutta.
Marsden, William, 1966, History of Sumatra. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Miksic, John N., 1979, Archaeology, Trade and Society in Northeast Sumatra. (Ph. D
Thesis). New York: Cornell University.
Mills, J.V.G., 1970, Ma Huan. Ying-yai Sheng-lan. ‘The Overall Survey of the Ocean’s Shore’ (1433). [translated from the Chinese text edited by Feng Ch’eng-Chün with introduction, notes and appendices by J.V.G. Mills]. Cambridge: University Press for the Hakluyt Society.
Moens, J.L., 1924, “Het Buddhisme op Java en Sumatra in Zijn Laaste Bloei-periode”, dalam TBG 64: 521-580.
______, 1937, “Çrivijaya, Yawa en Kataha”, dalam TBG 77: 317–487.
Moens, J.L., 1974, Buddhisme di Jawa dan Sumatra dalam Masa Kejayaannya Terakhir. Jakarta: Bhratara.
Nilakanta Sastri, K.A., 1949, History of Srivijaya. Madras: University of Madras. Pelliot, Paul, 1904, “Deux Itineraires de Chine en Inde á la fin du VIIIe Siecle”, dalam
BEFEO tome IV.