5. HASIL PENELITIAN
6.4 Perdagangan Karbon dan skenario REDD
REDD adalah suatu skema kompensasi jasa negara-negara berkembang dalam menjaga hutan sebagai penyerap gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama CO2. Jasa lingkungan ini terbagi atas dua yakni sebagai penyerap dan penyimpan
karbon. Hutan dapat berfungsi sebagai penyerap jika proses fotosintesis terus berlangsung. Dan hutan akan berfungsi sebagai penyimpan jika biomasa hutan tidak dimusnahkan dan hanya dialih bentuk ke berbagai produk berbasis biomasa.
Pendugaan kandungan karbon dalam biomasa hutan telah banyak dilakukan. Nilai konversi karbon dari biomasa ditetapkan oleh Brown adalah setengah dari
biomasa pohon. Meski beberapa penelitian lain mengatakan berbeda. Semakin tinggi nilai konversi maka semakin tinggi nilai serapan CO2 namun juga
semakin kecil kemungkinan untuk mengeksploitasi hutan untuk keperluan pembangunan. Meski nilai serapan CO2 tinggi, namun tidak disertai dengan tinggi
nilai jual karbon. Rendahnya nilai jual karbon disinyalir sebagai faktor penghambat utama negara-negara dengan hutan tropis menjual jasa karbon
108
dibandingkan menjual kayu sebagaimana BAU. Penelitian ini dalam menentukan basis karbon menggunakan skenario BAU bersama dengan basis kredit untuk tanggung jawab bersama tetapi dengan tanggungan berbeda. Metode ini dikenali dengan pemberian jatah DAF (Development Adjusment Factor). Untuk menghindari resiko kebocoran, maka additionality project dihitung dari baseline ditambah DAF.
Dengan kisaran harga karbon 5 US$ saja, simulasi skenario REDD untuk menahan laju penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan sebanyak 30% dari BAU masih belum memberikan income hasil usaha REDD+ yang positif. Bahkan, bila simulasi dilakukan di masing-masing fungsi, angka positif angka terbentuk jika moratorium di atas 50%. Income REDD akan positif bila luas penggunaan dan pemanfaatan hutan produksi ditahan sebanyak 70%. Hasil simulasi menunjukkan bahwa menaikkan harga karbon menjadi 35US$ tidak memberikan income REDD+ positif bila hanya menurunkan laju penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan sebesar 30%.
Namun, bila hutan produksi dilaksanakan kebijakan moratorium sampai dengan 70% hanya untuk mendapatkan income REDD+, maka usaha lain yang menggunakan kawasan ini semakin terbatas. Keterbatasan ini akan mengakibatkan menurunnya pendapatan secara keseluruhan. Selain pendapatan secara makro, pendapatan masyarakat yang selama ini timbul akibat bisnis penggunaan hutan produksi seperti HPH akan semakin kecil. Bila di semester 2 tahun 2009
pendapatan daerah dari sektor pengusahaan hutan produksi berupa SKSHH (Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan) mencapai Rp. 2.175.222.101,60 dan DR mencapai USD 437.220,32 atau mencapai Rp. 6.110.204.981,60 pada kurs
rupiah 9000 harus dikurangi sebanyak 70% untuk mendapatkan income 1,35 milyar USD dari REDD+ maka perkiraan pendapatan dari pengusahaan
hutan produksi kurang dari 1,8 milyar rupiah.
Pendapatan REDD+ belum menjawab permasalahan yang selanjutnya timbul yakni tentang pasokan kebutuhan kayu untuk pembangunan dan bagaimana usaha masyarakat selanjutnya dengan REDD+. Berdasarkan BPS (2009), jumlah
angkatan kerja provinsi Jambi di tahun 2008 mencapai 1.290.854 orang. 688.541 orang di antaranya bekerja di sektor pertanian dan masih terdapat
892 orang yang masih mencari peluang kerja di sektor ini. Jadi, bila REDD+ dijalankan dengan skenario kebijakan moratorium hutan produksi maka peluang angka pengangguran lebih tinggi dari 1.290.854 orang mengingat laju pertumbuhan penduduk di provinsi Jambi mencapai 1.68%. Untuk itu, terkait dengan pelaksanaan REDD+, baiknya tidak menjalankan kebijakan skenario moratorium kawasan hutan di hutan produksi, namun mungkin di hutan konservasi dan hutan lindung dengan asumsi penetapan REL sebesar laju kehilangan simpanan karbon di kedua fungsi hutan tersebut.
Sampai sekarang ini, masih terdapat perdebatan tentang metode penentuan basis atau baseline pembayaran upaya penurunan deforestasi dan degradasi hutan. Menggiring deforestasi dan degradasi hutan menjadi isu utama dalam perubahan iklim merupakan suatu upaya menyerahkan tanggung jawab negara-negara industri yang masuk dalam Annex I Protokol Kyoto. Negara-negara Annex I berkewajiban menurunkan tingkat emisi yang telah dikeluarkan. Penurunan emisi dapat ditempuh dengan membeli kredit karbon dan dengan perbaikan teknologi
dan pemanfaatan sumberdaya energi fosil. Hal ini kini berbalik, ketika negara-negara tersebut mempertanyakan basis pembayaran dan ketakutan
terjadinya kebocoran serta tanggung jawab negara-negara pemilik hutan untuk membayar kompensasi atas kebocoran yang disebut dengan liability.
Penurunan emisi gas rumah kaca yang telah terjadi selama ini harus menjadi kewajiban berdasarkan sumbangan emisi. Secara sederhana, penentuan basis emisi disepakati pada jumlah penduduk, penggunaan teknologi berbahan bakar fosil, perubahan tutupan areal berhutan dan lain-lain. Bila yang dikehendaki adalah tidak mengubah hutan maka baiknya dalam menentukan nilai additionality akibat project tersebut adalah sebesar simpanan karbon yang mampu dipertahankan di hutan. Nilai karbon yang ada dari sejumlah lahan yang dicegah alih fungsi dan alih tutupan dikurangi hasil kali luas lahan yang ada sebelum
project dengan faktor konversi pencegahan deforestasi dan degradasi. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
110
Penentuan faktor konversi didasarkan pada keinginan buyer atau pembeli kredit karbon dari negara-negara Annex I. Bila tingkat emisi tahunan negara yang diperbolehkan untuk “carbon offset” adalah X juta ton/tahun, maka faktor konversi adalah dihitung dengan luas lahan dengan jumlah simpanan karbon lahan sebesar X juta ton dibagi luas total lahan hutan Y ha di negara berkembang. Bila ditetapkan adalah sebesar x ha/tahun, maka additionality yang harus dikompensasi adalah nilai seluas x hektar tersebut.
Tidak semua nilai emisi yang dihasilkan negara pembeli jasa dapat dikompensasi dengan REDD+. Skema REDD+ baiknya peruntukkan untuk menambah nilai serapan emisi, dan bukan satu-satunya skema yang membersihkan emisi yang dikeluarkan. Bila emisi negara tersebut berasal dari sektor industry, maka sebelum diturunkan lewat REDD+, perlu dilakukan efisiensi penggunaan bahan bakar, penggunaan teknologi yang low carbon dan metode lain sehingga sumbangan emisi sangat rendah.
Penentuan basis lahan tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah di negara penyedia jasa karbon, karena belum tentu pembelian jasa karbon akan memberikan tambahan income bagi negara tersebut bila diusahakan sebagaimana BAU. Untuk itu, penentuan nilai karbon didasarkan pada indeks multiplier effect total kegiatan yang mungkin diperoleh bila BAU dijalankan. Sebagai contoh, menurut Syahza (2005), nilai multiplier effect dapat memberikan arti bahwa setiap pembelanjaan oleh petani kelapa sawit di lokasi dan sekitarnya sebesar Rp 100, secara sinerjik menjadikan perputaran uang di lokasi tersebut dan sekitarnya sebesar Rp 248,00 melalui bentuk-bentuk usaha, baik sektor riil maupun jasa. Harga karbon harus mampu membayar minimal sama dengan usaha perkebunan yang akan dibangun jika project perdagangan emisi tidak ada. Bila project REDD akan dilaksanakan dengan luas 100 hektar, maka untuk menghitung harga karbon adalah (jumlah petani yang dibutuhkan dalam 100 hektar kebun kelapa sawit x 2,48 x gaji setiap bulan) + (jumlah sektor bisnis terkait x income bersih x 2,48). Atau nilai karbon tersertifikasi adalah nilai yang harusnya dikeluarkan melalui upaya penghematan penggunaan teknologi atau alih tekonologi yang low carbon.
Sirkulasi pembagian hasil jual jasa serapan emisi haruslah disesuaikan dengan lalu lintas bisnis sebagaimana BAU. Hal ini dikarenakan, instrument yang
kini tersedia lebih akrab dengan BAU. Sertifikasi hanya dilakukan pada nilai kredit karbon yang akan dibeli dan tidak pada institusi pengelola. Sehingga yang harus dilakukan adalah memetakan lalu lintas BAU untuk diaplikasikan dalam REDD.
Untuk memperpendek jalur birokrasi maka perlu membatasi stakeholder lain. Stakeholder lain seperti lembaga sertifikasi, verifikasi, validasi perlu dibatasi
sehingga income REDD bias tinggi bagi negara penyedia jasa REDD+. Baiknya, proses sertifikasi, verifikasi dan validasi dilakukan oleh negara pembeli
(buyer) dalam luasan yang ditentukan dan tidak menjadi kewajiban tunggal bagi negara penyedia jasa REDD+. Hal ini dipandang penting, karena ketika negara penyedia REDD+ yang harus dikontrol namun negara pengemisi bebas melepaskan emisi gas rumah kaca ke atmosfer maka project penurunan emisi sulit tercapai.
1. Kebijakan penggunaan dan pemanfaatan hutan dapat mengakibatkan perubahan simpanan karbon yang ada di hutan. Kebijakan dikendalikan oleh interaksi antara stakeholder dan kawasan hutan.
2. Laju deforestasi kawasan hutan Jambi pada skema BAU mencapai 45.571 ha/tahun. Penerapan skenario REDD+ dapat menurunkan laju deforestasi antara 25.997– 41.256 ha/tahun.
3. Degradasi hutan Jambi mencapai 15.859 Mt/ha. Penerapan skenario REDD+ dapat menurunkan laju degradasi sekitar 9.045-14.357 Mton/tahun.
4. Skenario REDD+ dengan moratorium ijin penggunaan kawasan hutan BAU sebanyak 70% akan memberikan income REDD+ sebesar 0,93 – 1,36 milyar US$.
5. Skenario moratorium ijin penggunaan kawasan hutan lindung dan hutan konservasi tidak memberikan nilai tambah Income REDD+ yang signifikan. Bila moratorium dilakukan secara bersamaan dengan fungsi hutan porduksi maka akan meningkatkan Income REDD+ menjadi 0,63– 2,63 milyar US$. 6. Nilai income REDD+ yang terdapat pada point 4 dan 5 tidak merupakan
referensi pilihan terbaik dalam manajemen hutan, namun hanya merupakan tinjauan konsekuensi bila skenario REDD+ dilaksanakan. Nilai karbon hanya sebagian kecil dari sejumlah jasa lingkungan hutan.
7.2 Saran
1. Perlu studi lanjutan tentang optimasi pemanfaatan hasil hutan secara keseluruhan berdasarkan fungsi kawasan.
2. Moratorium penggunaan kawasan hutan sebagai skenario REDD+ baiknya dilaksanakan di kawasan hutan konservasi dan hutan lindung, dengan asumsi penetapan REL didasarkan pada rata-rata kehilangan simpanan karbon di kedua fungsi hutan tersebut.
Van Noorwijk M. 2009. Carbon Dioxide Emission In Land Use Transitions To Plantation. Jurnal Litbang Pertanian 28(4)
Almulqu AA. 2008. Dampak pemanenan kayu dan perlakuan silvikultur tebang pilih tanam jalur (TPTJ) terhadap potensi kandungan karbon dalam tanah di hutan alam tropika (Studi Kasus di Areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana ,Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Dipublikasikan Aminudin S. 2008. Kajian Potensi Cadangan Karbon Pada Pengusahaan Hutan
Rakyat (Studi Kasus: Hutan Rakyat Desa Dengok, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul) .[Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana ,Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Angelsen A dan Kanounnikoff SW. 2008 What are the key design issues for REDD and the criteria for assessing options?. Angelsen (Ed) . Moving Ahead with REDD: Issues, Options and Implications. CIFOR
Brown, S., 1997. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forests. FAO, Forestry Paper 134. A Forest Resources Assessment Publication, Rome. Pp, 1
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Jambi Dalam Angka tahun 2009. BPS-Jambi Budiharto. 2009. Penentuan Rujukan Dan Skenario Pengurangan Emisi Karbon
Dari Deforestasi Dan Degradasi Hutan Di Indonesia. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2007 (Semester 1). Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2007 (Semester 2). Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2008 (Semester 1). Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2008 (Semester 2). Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2009 (Semester 1). Jambi
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. Statistik Kehutanan Provinsi Jambi Tahun 2009 (Semester 2). Jambi
Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman Kemenhut. 2009. Kebijakan Pembangunan Hutan Tanaman Industri. Gedung Manggala Wanabakti. Jakarta
Effendi, E. 2009. Moratorium Pemanfaatan Hutan Butuh Rp 75,24 T. Harian Ekonomi Neraca. www.greenconomics.org [9 Februari 2010]
116
Effendi, E. 2010. Ekspansi Pertambangan Dapat Konsesi 2,2 Juta Hektar Hutan : Diprediksi 550-850 Juta Ton Karbon Terlepas. Harian Ekonomi Neraca. Www.Greenconomics.Org [9 Februari 2010]
Elias. 2009. Handout Pemanenan Hasil Hutan Lanjutan. Sekolah Pascasarjana Program Ilmu Pengelolaan Hutan (IPH) Sepertamenen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
FAO. 2010. Global Forest Resources Assessment 2010: Main Report. Forestry Paper No. 163
[FWI] Forest Watch Indonesia. 2003. Keadaan Hutan Indonesia. www.fwi.org [16 September 2009]
Grant JW, Pedersen EK, Marin SL. 1997. Ecology and Natural Resource Management : System Analysis and Simulation. John-Wiley & Sons Inc. Canada
Gumay D. 2008. Dua Tahun Moratorium Logging.
http://dewagumay.wordpress.com /2009/06/10/dua-tahun-moratorium- logging/ [16 Nopember 2010]
Hidayat H. 2008. Politik Lingkungan: Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
[ICRAF] World Agroforestry Center. 2010. Pendugaan Cadangan Karbon Pada Skema LULUCF. Bogor. Tidak Diterbitkan
[IPCC] International Panel on Climate Change. 2006. Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Volume 4: Agriculture, Forestry and Other Land Use.
Kartodihardjo H dan Supriyono A. 2000. Dampak pembangunan sektoral terhdap konversi dan degradasi hutan alam: Kasus pembangunan HTI dan Perkebunan di Innodnesia. Occasional paper 26(1) CIFOR
[Kemenhut] Kemenhut. 2007. Daftar Rendemen Kayu Olahan (Sumber: Lampiran Surat Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Nomor : S. 948/VI-BPPHH/2004 Tanggal : 26 Oktober 2004. http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/904 [10 Oktober 2010] [Kemenhut] Kemenhut. 2008. Eksekutif Data Strategi Kehutanan. Jakarta
[Kemenhut] Kemenhut. 2008. Perhitungan Deforestasi Indonesia Tahun 2008. Pusat Informasi dan Perpetaan Hutan Badan planologi Kehutanan. Gedung Manggala Wanabakti - Jakarta
[Kemenhut] Kemenhut. 2008. Statistik Departemen Kehutanan Tahun 2008. Jakarta
[Kemenhut] Kemenhut. 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Nomor P.36/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon Pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung.
[Kemenhut] Kemenhut. 2010. Nomor : P.08/Menhut-Ii/2010 Tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kehutanan Tahun 2010-2014. Jakarta
Klassen AW. 2010. Reduced-Impact Logging: Make it Works. Tropical Forest Foundation. Jakarta
Lasco Rd, Macdicken Kg, Pulhin FB, Guillermo Iqr. Sales F Dan Cruz R. V. O. (2006). Carbon Stocks Assessment Of A Selectively Logged Dipterocarp Forest And Wood Processing Mill In The Philippines. Journal Of Tropical Forest Science 18(4): 166–172 (2006)
Lund, H. Gyde. 2007. Definitions of old growth, pristine, climax, ancient forests,degradation, desertification, forest fragmentation, and similar terms. [Online publication], Gainesville, VA: Forest Information Services. Misc. pagination. http://home.comcast.net/~gyde/pristine.htm Lund, H. Gyde (coord.) 2008. Definitions of Forest, Deforestation,
Afforestation,and Reforestation. [Online] Gainesville, VA: Forest
Information Services. Available from:
http://home.comcast.net/~gyde/DEFpaper.htm. Misc.pagination Masripatin, N. 2007. Apa itu REDD. www.dephut.go.id. 29 agustus 2009
Mindawati N, Indrawan A, Mansur I dan Rusdiana O. 2010. Kajian Pertumbuhan Tegakan Hybrid Eucaliptus urograndis di Sumatra Utara. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (7): 39-50
Motel PC, Pirard R dan Comber JL. 2009. Analysis: A methodology to estimate impacts of domestic policies on deforestation: Compensated Successful Efforts for “avoided deforestation” (REDD). Ecological Economic 68: 68-0-691
Murdiyarso M, Skutsch M, Guariguata M, Kanninen M, Luttrell C, Verweij V, Stella. 2008. Measuring And Monitoring Forest Degradation For REDD: Implications Of Country Circumstances. Info Brief. CIFOR. Novita N. 2010. Potensi karbon terikat di atas permukaan tanah pada hutan
gambut bekas tebangan di Merang Sumatera Selatan. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Onrizal. 2004. Model penduga biomasa dan karbon tegakan hutan kerangas di taman nasional danau sentarum, Kalimantan barat. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Pinard MA dan Cropper WP. 2000. Simulated Effects of Logging on Carbon Storage in Dipterocarp Forest. Journal of Applied Ecology (37): 267- 283
Portela R. dan Rademacher I. 2001. A Dynamic Model of Patterns of Deforestation and Their Effect on the Ability of the Brazilian Amazonia to Provide Ecosystem Services. Ecological Modelling143: 115-146 Prasetyo EE. 2009. Laju Kerusakan Hutan Jambi 24.000 Hektar Per Tahun.
http://regional.kompas.com/ read/ xml/2009/11/24/20035769/ laju.kerusakan.hutan.jambi.24.000.hektar.per.tahun [ 4 April 2010] Priyadi H. 2009. Towards Sustainable Forest Management by Implementation of
118
References in Kalimantan.
http://www.cifor.cgiar.org/Knowledge/Publications/Detail?pid=3082 Putz FE, Sist P, Fredericksen T dan Dykstra D. 2008. Reduced-Impact Logging:
Challenges and Opportunities. Forest Ecology and Management 256 (2008) 1427-1433
Rahayu S, Lusiana B dan van Noordwijk M. 2005. Pendugaan cadangan karbon di atas permukaan tanah pada berbagai system penggunaan lahan di kabupaten Nunukan, Kalimantan timur. ICRAF
Rizon M. 2005. Profil Kandungan Karbon pada setiap fase pengelolaan lahan hutan oleh masyarakat menjadi repong damar. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Rochmayanto Y. 2009. Perubahan kandungan karbon dan nilai ekonominya pada konversi hutan rawa gambut menjadi hutan tanaman industri pulp. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Sahardjo, B.H. 2009. State Of The Art Indonesian REDD. Makalah disampaikan dalam AKECOP Forum on REDD in ASEAN Region Agricultural University Bogor, Indonesia. 14-15 Oktober 2009
Samsoedin I. 2006. Dinamika Luas Bidang Dasar Pada Hutan Bekas Tebangan di Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol (III) Nomor 3
Soedomo, S. 2010. Karbon Dalam Rantai Suplai Kayu. Prosiding Seminar Dampak Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan Dalam Revisi RTRWP Terhadap Neraca Karbon Dalam Kawasan Hutan. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan. Bogor
Sorel D. 2007. Potensi Sistem Agroforestry untuk Kegiatan Proyek Karbon
Kehutanan di Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Syahza A. 2004. Dampak Kegiatan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Di Kabupaten Siak. Jurnal Pembangunan Pedesaan, Universiras Jenderal Soedirman (4) 2
Syahza A. 2004. Dampak Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Multiplier Effect Ekonomi Pedesaan Di Daerah Riau. Jurnal Ekonomi, Th.X/03/November/2005
Suyamto D A dan Van Noordwijk M. 2005. Studi skenario tata guna lahan di Nunukan Kalimantan Timur (Indonesia): Faktor penyebab, sumber penghidupan local dan cadangan karbon yang relevan secara global Syumada, R. 2010. Mengapa Harus Jeda Tebang?.
http://rullysyumanda.org/natural-resources/forest/moratorium-logging- a-forest-conversion/73-mengapa-harus-jeda-tebang.html. [16 Februari 2010]
Tacconi L. 2008. Commentary: Compensated successful efforts for avoided deforestation vs compensated reductions. Ecological Economics 68 (2009) 2469–2472
Tresnawan H dan Rosalina U. 2002. Pendugaan Biomasa Di Atas Tanah Di Ekosistem Hutan Primer Dan Hutan Bekas Tebangan (Studi Kasus Hutan Dusun Aro, Jambi). Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. VIII No. 1 : 15-29 (2002) Artikel (Article) Trop. For. Manage. J. VIII (1) : 15-29 (2002)
[UNFCCC] United Nation Framework Convention on Climate Change. 2009. Submission of the United States of America Reducing Emissions and Enhancing Removals from Forests and Land Use http://unfccc.int/files/kyoto_protocol/application/pdf/usa290509.pdf [1 Februari 2010]
Wahjono J. 2007. Pertumbuhan dan Riap Tegakan Tinggal di Beberapa Unit Pengelolaan Hutan Alam Produksi. Info Hutan. Vol (IV) Nomor 5. Wardojo, W. 2009. HUTAN PRODUKSI DAN REDD: Pembelajaran dari
Program Karbon Hutan Berau.
http://www.dephut.go.id/files/HP_dan_REDD_Pak_Wahjudi.pdf [16 Februari 2010]
Widayati A, Ekadinata A, Syam R. 2005. Alih Guna Lahan Di Kabupaten Nunukan: Pendugaan Cadangan Karbon Berdasarkan Tipe Tutupan Lahan Dan Kerapatan Vegetasi Pada Skala Lanskap Di dalam : Lusiana B, van Noordwijk M, Rahayu S, editor. Cadangan Karbon Di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur: Monitoring Secara Spasial Dan Pemodelan. Bogor, Indonesia : World Agroforestry Centre – ICRAF
Widyasari NAE. 2010. Pendugaan Biomasa dan potensi karbon terikat di atas permukaan tanah pada hutan gambut merang bekas terbakar di Sumatera Selatan.[Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana ,Institut Pertanian Bogor. Bogor
Yulianti N. 2009. Cadangan Karbon Lahan Hutan Gambut Dari Agroekosistem Kelapa Sawit PTPN IV. AJAMU, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. [Tesis] Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan
Lampiran 1. Laju Deforestasi Pada Kawasan Hutan Tetap