• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGATURAN HUKUM TINDAK PIDANA TRAFIKING

A. Trafiking dalam Konvensi-Konvensi Internasional

1. Perdagangan Manusia dan Deklarasi Universal tentang

Di dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM) ditetapkan hak- hak dasar manusia yang dituangkan dalam sejumlah ketentuan-ketentuan tersebut, bahkan dengan sengaja melanggarnya. Ketentuanketentuan yang memuat hak asasi manusia itu antara lain dapat dijumpai di dalam pasal-pasal berikut seperti dalam pasal 1 dikatakan bahwa:108

2. Perdagangan Manusia dan Konvensi Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) 1977

“ Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan”.

Dalam deklarasi ini terdapat pasal yang secara jelas dan tegas melarang adanya perbudakan ataupun diperdagangkan yaitu Pasal 4 yang berbunyi:

“ Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhambakan, penghambaan dan perdagangan budak dalam bentuk apapun harus dilarang”.

Dan masih banyak dari deklarasi ini yang berkaitan dengan tindak perdagngan manusia.

Hak ekonomi, sosial dan budaya diakui dan dilindungi oleh banyak instrumen hukum internasional. Hak-hak tersebut meliputi:

a. Hak untuk bekerja dan hak terhadap kondisi yang nyaman

b. Hak untuk berorganisasi dan melakukan langkah kolektif perburuhan c. Hak atas perlindungan keluarga mencakup perlindungan ibu dan anak

d. Hak atas standar hidup yang layak termasuk cukup pangan, sandang dan papan

e. Hak untuk menikamti standar kesehatan tertinggi dan f. Hak untuk memperoleh pendidikan

108

Sejumlah pelanggaran hak-hak ekonomi dan sosial, seperti hak memilki dan mewarisi harta benda (milik), hak untuk memperoleh pendidikan dan hak atas kesempatan untuk memperoleh penghasilan melalui pekerjaan yang bebas dipilih atau diterima, semuanya tampaknya telah menyumbangkan bertambahnya kerentanan individual dan kelompok terhadap trafiking manusia dan eksploitasi terkait lainnya. Kemiskinan, suatu pelanggaran hak itu sendiri maupun sebagai sebuah manifestasi dari rangkaian pelanggaran yang kompleks, telah berulang kali dihubungkan dengan trafiking manusia sebagai penyebab dan faktor yang mengganggu.

Diskriminasi atas dasar ras dan gender dalam pengakuan dan penerapan hak-hak sosial dan ekonomi juga menjadi sebuah faktor penting yang menyebabkan sejumlah orang tertentu lebih rentan terhadap trafiking manusia dibandingkan orang lainnya. Dalam kedua kasus ini, dampak diskriminasi mengakibatkan pilihan hidup yang lebih sedikit dan lebih buruk. Tidak ada pilihan yang sejati yang selanjutnya mengakibatkan kaum perempuan dan anak-anak perempuan lebih rentan dibandingkan kaum lelaki, dan beberapa kebangsaan serta ras tertentu lebih rentan dibandingkan lainnya terhadap tindak pemaksaan, penipuan serta kekerasan yang menjadi tanda trafiking manusia.

Selama proses perdagangan manusia itu terjadi, berlangsung pula tindakan yang merugikan hak ekonomi dan sosial. Orang-orang yang mengalami perdagangan manusia hampir senantiasa tidak mendapat hak atas kesehatan, hak memperoleh pendidikan, hak untuk bekerja secara bebas sesuai pilihannya, dan hak untuk memperoleh upah yang adil dan penghasilan yang sesuai atas pekerjaannya.

3. Trafiking Manusia dan Konvensi Internasioanl tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) 1992

a. Hak-hak Non Warga Negara

Hukum internasional telah menegaskan bahwa, “ Negara hendaknya melindungi hak-hak dari semua orang yang tunduk dan berada di bawah yurisdiksinya. Ini

menunjukkan bahwa negar-negara tidak dapat (kecuali apabila menurut keadaan yang ditentukan sedemikian rupa) memperlakukan mereka yang bukan warga Negara dengan suatu cara yang melanggar hak-hak fundamentak mereka. Pernyataan berikut ini dikemukakan oleh Komisi hak Asasi Manusia PBB yang bertanggung jawab mengawasi penerapan Konensi Internasional mengenai Hak-Hak Sipil dan Politik, sebagai berikut: 109

b. Hak Meninggalkan dan Kembali ke Sebuah Negara

“ Orang asing memiliki suatu hak hidup yang melekat pada dirinya, hak untuk mendapat perlindungan hukum, dan tidak dihukum secara sewenang-wenang. Orang asing hendaknya tidak dianiaya atau mendapat perlakuan kejam, tidak berkeperimanusiaan atau mendapat perlakuan yang merendahkan atau dihukum, tidak diperbudak atau diperhamba. Orang asing memiliki hak kebebasan penuh dan keamanan pribadi. Jika mendapat hukuman secara sah, hendaknya mereka dihukum dengan berkeperikemanusiaan dan martabat mereka yang inheren hendaknya dihormati: Orang asing dapat dipenjarakan karena tidak memenuhi suatu kewajiban perjanjian. Mereka memiliki hak bebas melakukan kegiatan dan bebas memilih tempat tinggal, mereka bebas meninggalkan negaranya. Kedudukan orang asing di depan pengadilan dan peradilan adalah sama, dan berhak untuk diperiksa secara adil oleh suatu peradilan yang independen dan tidak memihak yang ditetapkan oleh hukum dalam menentukan suatu tuntutan pidana atau hak dan kewajiban pada suatu gugatan hukum. Orang asing tidak tunduk pada hukum pidana retrospektif dan berhak atas pengakuan dihadapan hukum. Mereka tidak mendapat gangguan sewenang-wenang atau yang melanggar hukum terhadap privasi, keluarga, rumah atau korespondensi. Mereka memilki hak kebebasan berpikir, nurani, dan beragama dan hak berpendapat dan berekspresi. Orang asing memiliki hak berkumpul secara aman dan hak berserikat. Mereka memilki hak menikah papa usia yang diperkenankan. Anak-anak orang asing berhak mendapat perlindungan atas status mereka sebagai kaum minoritas. Dalam perkara dimana orang asing merupakan minoritas sebagaimana dimaksud dalam pasal 27, dalam komunitas dengan anggota kelompok lain, hendaknya hak mereka diakui untuk menikmati kebudayaan mereka sendiri, untuk mengimani dan melaksankan agama mereka sendiri dan menggunakan bahasa mereka sendiri. Orang asing berhak atas perlindungan hukum yang setara. Hendaknya tidak ada diskriminasi antara orang asing dengan warga Negara dalam pelaksanaan hak-hak ini. Hak-hak orang asing ini hanya memenuhi syarat menurut keterbatasan dan sah menurut aturan ini”.

Deklarasi Universal mengenai hak-hak asasi manusia menyatakan bahwa, “ Setiap orang berhak untuk meninggalkan negaranya”. Dalam kenyataan, pembatasan

109

terhadap hak-hak untuk meninggalkan Negara diberlakukan pada sejumlah kategori orang tertentu, seperti kaum minoritas dan para nara pidana. Setiap pembatasan terhadap hak ini harus memenuhi persyaratan berikut ini:

1. Pembatasan tersebut diatur atau sesuai hukum.

2. Tujuan pembatasan tersebut harus masuk dalam kategori yang diterima secara umum berkaitan dengan keamanan nasional dan tatanan umum, dan moral masyarakat.

3. Pembatasan tersebut hendaknya tidak diskriminatif atas dasar larangan tertentu, termasuk jenis kelamin.

Dengan kata lain, bahkan apabila sebuah Negara mampu mengemukakan alasan bahwa langkah-langkah yang diambil itu perlu dan proporsional sesuai tujuan yang ditetapkan, maka Negara tersebut juga harus mampu menunjukkan bahwa larangan itu bersifat non-diskrimatif.

Dan mengenai orang-orang yang mengalami trafiking manusia, untuk kemabli ke negaranya, dalam Deklarasi Universal mengenai Hak-Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa “Setiap orang berhak untuk…kembali ke negaranya”. Kesepakatan internasional yang dituangkan dalam konvensi mengenai hak-hak sipil dan politik mengemukakan bahwa: “Tidak seorangpun dapat dicabut haknya secara sewenang-wenang untuk masuk ke negerinya sendiri”. Beberapa hak lainnya yang diakui secara internasional, seperti larangan pengasingan dan larangan pengusiran warga Negara memberikan dukungan lebih lanjut bagi setiap orang untuk memilki hak kembali ke negerinya sendiri.

4. Perdagangan Manusia dan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Terhadap Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (CERD) 1994

Beberapa perangkat pokok hak asasi manusia, baik internasional maupun regional, melarang diskriminasi terhadap sejumlah alas an termasuk ras, jenis kelamin, bahasa, agama dan harta benda, kelahiran atau status lainnya. Trafiking

manusia dapat dikatakan melanggar larangan internasional tehadap diskriminasi rasial maupun sejumlah perjanjian pokok internasional dan regional tentang hak asasi manusia. Telah dikemukakan bahwa trafiking manusia merupakan sebuah kejahatan yang melanggar hukum internasional tentang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.

Larangan terhadap diskriminasi itu relevan dalam kaitannya dengan sejumlah respon dari Negara-negara terhadap trafiking manusia. Misalnya, sebuah Negara tidak dapat memberlakukan sebuah perundangan yang berdampak negatif terhadap kaum permepuan, misalnya dengan menghambat kebebasan bergerak. Tidak dapat melakukan kegiatan yang akan menimbulkan dampak yang saling merugikan hak-hak sebuah kelompok sosial, etnik atau keagamaan tertentu dan kelompok lainnya, meskipun jika maksud kegiatan yang dimaksud untuk memerangi trafiking manusia.110

5. Perdagangan Manusia dan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Terhadap Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) 1980 Tepatnya pada 18 Desember 1979, Majelis Umum PBB menyetujui sebuah rancangan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Majelis Umum PBB mengundang negaranegara

anggota PBB untuk meratifikasinya. Konvensi ini kemudian dinyatakan berlaku pada tahun 1981 setelah 20 negara menyetujui. Disetujuinya Konvensi Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (selanjutnya disingkat sebagai Konvensi Perempuan) merupakan puncak dari upaya Internasional dalam dekade perempuan

110

Konvensi Internasional Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Sebuah Kajian Hukum Tentang Penerapannya Di Indonesia, Diakses tanggal 4 Juni 2010.

yang ditujukan untuk melindungi dan mempromosikan hak-hak perempuan di seluruh dunia.

Pada konvensi CEDAW hal yang ditegaskan bagi perempuan ialah:111

1. Prinsip Non Diskriminatif

Prinsip ini terdapat pada Pasal 1 Konvensi Perempuan secara tegas menyebutkan apa yang disebut dengan Diskriminasi terhadap perempuan, yaitu :

“…setiap perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hakhak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.”

Disamping pasal 1 Konvensi, pasal 4 (ayat 2) semakin menegaskan apa yang dimaksud dengan diskriminasi :

Pembuatan peraturan-peraturan khusus oleh negara-negara peserta termasuk peraturan yang dimuat dalam Konvensi ini yang ditujukan untuk melindungi kehamilan, tidak dianggap diskriminasi”.

2. Prinsip Persamaan (Keadilan Substantive)

Prinsip ini ditegaskan dalam Mukadimah, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5. Pada mukadimah dan tiap Pasal ini, ditegaskan bahwa selama ini oleh karena berbagai struktur social dan budaya yang ada peran wanita yang sebenarnya besar tidak dihargai dan dibedakan dari pria dan ioleh sebab itu maka harus disamakan dalam segala bidang.

3. Prinsip Kewajiban Negara

Prinsip kewajiban negara secara jelas ditemukan pada berbagai pasal dari Konvensi. Sebagai sebuah konvensi yang mengikat negara maka kewajiban

111

sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/konvensi_cedaw.pdf, Hak Asasi Perempuan dan Konvensi CEDAW

negaralah yang utama untuk menjalankan Konvensi. Ada sekitar 37 kewajiban negara yang dicantum oleh Konvensi Perempuan agar hak-hak perempuan dapat dinikmati oleh kaum perempuan meliputi kewajiban di dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Di dalam bagian pertama, kerangka kewajiban negara secara umum dan kerangka penjabaran pasal-pasal di dalam bagian II dan berikutnya. Kerangka kewajiban tersebut terdapat di dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 yaitu melaksanakan prinsip non diskriminasi terhadap perempuan dengan cara :

a. Menjamin pelaksanaan anti diskriminasi terhadap perempuan; b. Melindungi perempuan dari segala bentuk diskriminasi;

c. Memenuhi segala hak-hak fundamental yang dimiliki sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan.112

6. Perdagangan Manusia dan Konvensi Internasional tentang Hak-hak Anak (CRC) 1989

Jika anak-anak biasanya tercakup dalam norma-norma serta standar diatas, maka Hukum Internasional mengakui sejumlah kerentanan dan kebutuhan anak-anak, sehingga sesuai dengan hak-hak khusus mereka. Persoalan penggunaan tenaga kerja anak-anak, trafiking manusia pada anak, penjualan anak-anak serta pornografi anak, dengan demikian tunduk pada bidang hukum tersendiri. Konvensi mengenai Perbudakan tahun 1956 merupakan salah satu dari perangkat internasional pertama yang mengakui perlindungan khusus bagi anak-anak. Konvensi ini mengidentifikasikan “eksploitasi pada anak-anak” (yang didefinisikan mencakup trafiking manusia) sebagai sebuah kebiasaan atau praktek yang serupa dengan perbudakan yang secepat mungkin perlu ditinggalkan atau dihapuskan oleh Negara. Beberapa instrument hukum lain yang signifikan meliputi Konvensi tentang Hak

Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Diakses tanggal 6 Juni 2010

Anak yaitu antara lain seperti Protokol Opsional Konvensi Penjualan Anak, Pelacuran Anak dan Pornografi Anak, Konvensi ILO tentang Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak, dan sejumlah ketentuan peraturan regional.

Konvensi tentang hak-hak anak menyediakan kerangka yang komprehensif untuk perlindungan hak dan martabat anak maupun pemberdayaannya. Dengan sendirinya, secara keseluruhan konvensi ini dianggap sebagai suatu piranti untuk memahami dan menanggapi trafiking manusia serta eksploitasi terkait terhadap anak-anak. Untuk sejumlah ketentuan yang dapat diterapkan secara langsung, konvensi tersebut mengkehendaki Negara untuk:

a. Melakukan langkah-langkah nasional, bilateral dan multilateral yang tepat untuk mencegah penculikan, penjualan atau perdagangan paksa anak-anak demi tujuan apapun dan dalam bentuk apapun.

b. Melindungi anak-anak dari segala bentuk eksploitasi ekonomis, eksploitasi seksual dan pelecehan seksual.

c. Melakukan langkah-langkah nasional, bilateral dan multilateral yang tepat untuk mencegah bujukan atau pemaksaan seorang anak untuk terlibat dalam segala kegiatan seksual illegal apaun; pemanfaatan anak secara eksploitatif dalam pelacuran atau praktek-praktek seksual yang tidak sah; pemanfaatan anak secara eksploitatif terhadap anak-anak dalam hasil dan bahan pornografi; dan pemindahan secara gelap dan mengirimkan anak-anak keluar negeri.

d. Melakukan langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan pemulihan fisik dan fisiologis serta integrasi social seorang korban anak dari segala bentuk eksploitasi dalam sebuah lingkungan yang mendukung kesehatan, kehormatan diri dan martabat anak. 113

113

Menurut konvensi ini, mengelompokkan hak-hak anak atas 4 bagian yaitu:114

a. Hak terhadap kelangsungan hidup (survival rights), yaitu hak-hak anak dalam konvensi hak anak yang meliputi hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup (the rights if life) serta hak untuk memperoleh standar kesehatan yang tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya.

b. Hak terhadap perlindungan (protection rights), yaitu hak-hak anak dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yang meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan, dan keterlantaran bagi anak yang telah mempunyai keluarga dan bagi anak-anak pengungsi.

c. Hak untuk tumbuh kembang (development rights), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan nonformal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental spiritual, moral dan fisik anak.

d. Hak untuk berpartisipasi (participation rights), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hak yang mempengaruhi anak.

7. Perdagangan Manusia dan Konvensi PBB untuk Melawan Kejahatan Transnational Yang Terorganisir (CATOC) 2000 beserta Protokol PBB untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum Trafiking manusia Khususnya Perempuan dan Anak-anak

Protokol ini dikenal luas dengan sebutan Protokol Palermo yang mana Protokol PBB untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum Trafiking manusia Khususnya Perempuan dan Anak-anak ini merupakan untuk melengkapi Konvensi PBB untuk Melawan Kejahatan Transnational Yang Terorganisir (CATOC) 2000. Protocol

114

tentang trafiking manusia disahkan dan digunakan oleh Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2000.

Ada dua hal yang dimaksudkan oleh protokol trafiking manusia tersebut:

a. Mencegah dan memerangi trafiking manusia, memberikan perhatian khusus pada perlindungan perempuan dan anak-anak

b. Meningkatkan dan menunjang kerja sama antar Negara untuk maksud ini. Penerapan protocol terbatas pada situasi trafiking manusia internasional yang melibatkan suatu kelompok kejahatan yang terorganisir.

Secara khusus pada protokol ini akan dibahas bagaimana pengaturan tentang trafiking manusia. 115

a. Tujuan, ruang lingkup dan sanksi pidana (Pasal 1-3)

Pasal 1 dan 2 menyatakan tujuan pokok dan ruang lingkup dari Protokol ini. Pada hakikatnya, protocol tersebut dimaksudkan untuk mencegah dan memerangi trafiking manusia dan menunjang kerjasama internasional untuk melawan para pelaku trafiking manusia. Disajikan pula sejumlah langkah untuk melindungi dan mendampingi para korban.

Perdagangan manusia mencakup sejumlah kasus, dimana manusia dieksploitasi oleh kelompok-kelompok kejahatan terorganisir, dimana terdapat suatu unsure paksaan dan/atau penipuan, dan suatu aspek lintas Negara, seperti kegiatan orang yang menyeberangi tapal batas atau eksploitasi mereka di dalam sebuah Negara oleh sebuah kelompok kejahatan transnasional yang terorganisir.

Trafiking manusia merupakan “..perekrutan. pengiriman, ke suatu tempat, pemindahan, penampungan atau penerimaan” melalui sarana yang tidak benar seperti kekerasan, penculikan, penipuan, pemaksaan, untuk tujuan yang tidak benar,

115

seperti kerja paksa, penghambaan, perbudakan atau eksploitasi seksual. 116

a. Perlindungan bagi Orang-orang yang Mengalami Trafiking Manusia (Pasal 6- 8)

Maka Negara-negara yang meratifikasi protokol tersebut berkewajiban memberlakukan hukum di dalam negerinya yang menganggap kegiatan-kegiatan ini sebagai kejahtan yang melanggar hukum pidana, jika belum ada undang-undang mengenai hal ini. Indonesia sendiri telah meratifikasi Protokol ini dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 2009.

Pada dasarnya hal ini menjadi suatu langkah yang sulit dalam pembuatan rancangan dan negosiasi karena banyaknya kegiatan yang berusaha dikendalikan oleh Negara. Beberapa Negara tertentu telah melakukan hal ini yang karena kebanyakan pelanggaran trafiking manusia melibatkan kaum perempuan dan anak- anak yang sangat memerlukan perlindungan, maka protocol ini juga harus memfokuskan diri pada upaya-upaya yang dilakukan di dalam negeri. Beberapa Negara lain menganggap perlu dicantumkannya bahwa pelanggaran tersebut adalah pelanggaran terhadap setiap orang. Sebagaimana pernyataan yang sekarang ini protocol tersebut diterapkan untuk semua orang namun biasanya merujuk pada sejumlah orang yang khususnya pada perempuan dan anak-anak.

Selain mengambil tindakan terhadap para pelaku trafiking manusia, protocol menghendaki agar Negara-negara yang meratifikasi protocol ini melakukan sejumlah langkah untuk melindungi dan mendampingi orang-orang yang mengalami trafiking manusia. Orang-orang yang mengalami trafiking manusia secara umum berhak dirahasiakan dan memperoleh perlindungan terhadap para pelaku trafiking manusia dan pada saat mereka mengajukan bukti atau memberikan bantuan bagi penegakan hukum atau pada saat bersaksi di pengadilan atau laporan serupa.

116

Lihat pasal 3 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Protokol untuk mencegah, menindak, dan menghukum Perdagangan orang, terutama perempuan dan anak.

Sejumlah tunjangan social, seperti perumahan, perawatan kesehatan dan bantuan hukum legal atau pendampingan lainnya juga disediakan.

Status hukum orang-orang yang mengalami trafiking manusia dan apakah mereka pada akhirnya akan dipulangkan ke negeri asal mereka banyak menjadi bahan pembicaraan. Di dalam protocol untuk menangani mereka, terjadi pembahasan serupa mengenai kembalinya para migran yang diselundupkan. Pada umumnya, Negara-negara maju yang warganya mengalami trafiking manusia menginginkan agar adanya sebanyak mungkin perlindungan dan status hukum bagi orang-orang yang mengalami trafiking. 117

b. Pencegahan, kerjasama dan langkah-langkah lain (Pasal 9-13)

Dalam hal ini Negara-negara sepakat untuk memfasilitasi (menerima dan mempermudah) para warga yang mengalami trafiking.

Lembaga penegakan hukum dari sejumlah Negara yang meratifikasi protokol perlu menjalin kerjasama dengan hal-hal seperti mengidentifikasi pelaku dan orang- orang yang mengalami trafking manusia, berbagi informasi mengenai cara-cara yang digunakan pelaku, dan pelatihan bagi para penyidik, penegak hukum pada umumnya dan petugas pendamping korban( pasal 10 ). Negara-negara juga diminta untuk menjaga keamanan dan kontrol perbatasan guna mendeteksi dan mencegah terjadinya perdagangan manusia. Hal ini meliputi upaya memperketat kontrol perbatasan sendiri, menentukan persyaratan bagi pengangkut komersial untuk melakukan pemeriksaan paspor dan visa (Pasal 11), menetapkan standar untuk kualitas teknis paspor maupun dokumen perjalanan lainnya(Pasal 12), dan kerjasama untuk menetapkan validitas dokumen mereka sendiri ketika digunakan diluar negeri(Pasal 13).

117

Lihat pasal 6 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Protokol untuk mencegah, menindak, dan menghukum Perdagangan orang, terutama perempuan dan anak.

Kerjasama antar Negara yang meratifikasi protokol ini biasanya merupakan hal wajib karena perdagangan manusia sendiri merupakan tindak pidana transnational crime yang mana perlu jaringan antar Negara pula untuk dapat menjangkau jaringan kejahatan yang bersifat lintas Negara ini. Dan sesuai dengan Pasal 9 ayat (3), cara- cara sosial seperti penelitian, pemasangan iklan dan dukungan sosial atau ekonomi juga diperlukan, baik oleh pemerintah sendiri maupun melalui kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat.

Beberapa kewajiban pokok terhadap Negara-negara yang menyetujui protocol trafiking manusia adalah sebagai berikut:

a. Menganggap trafiking terhadap manusia merupakan tindak kejahatan; b. Bagi Negara asal, menunjang dan menerima, secara langsung atau tanpa

penundaan yang tidak semestinya, kepulangan secara sukarela para warga Negara yang mengalami trafiking manusia dan mereka yang memilki hak tinggal tetap dalam wilayah mereka demi keselamatan orang-orang tersebut;

c. Bagi Negara tujuan, menjamin bahwa kepulangan adalah demi keselamatan orang yang mengalami perdagangan manusia dan status proses hukum yang berhubungan dengan kenyataan bahwa telah menjadi korban trafiking manusia;

d. Melakukan kerjasama lewat pertukaran informasi yang bertujuan untuk mengindentifikasi pelaku atau korban perdagangan manusia, serta cara- cara dan sarana yang digunakan oleh para pelaku trafiking;

e. Memberikan atau memperkuat pelatihan bagi aparat penegak hukum, petugas imigrasi dan petugas terkait lainnya yang bertujuan untuk mencegah trafiking manusia maupun memperkuat peradilan terhadap pelaku dan perlindungan terhadap korban dan hak-haknya.

f. Memperketat control perbatasan yang perlu untuk mendeteksi dan mencegah trafiking manusia;

g. Menetapkan kebijakan, program, dan langkah-langkah lain yang

Dokumen terkait