Perdagangan orang membuat anak terpapar pada kekerasan, perlakuan salah dan eksploitasi, dan hal ini merupakan salah satu masalah bagi Indonesia: 16
S T A T U S I n D I K A T o R P R I o R I T A S
U n T U K A n A K
Target prioritas untuk anak
Indikator yang dipilih untuk mengukur kemajuan Tipe indikator nilai baseline Sumber data
16.2
Menghentikan perlakuankejam, eksploitasi, perdagangan manusia dan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak
Jumlah korban perdagangan manusia per 100.000 orang
Indikator global 2,8 Gugus Tugas Anti
Perdagangan Manusia
16.3
Menggalakkan negaraberdasarkan hukum di tingkat nasional dan internasional serta menjamin kesetaraan akses yang sama terhadap keadilan bagi semua
Proporsi tahanan terhadap seluruh tahanan dan narapidana.
Indikator global 22% (anak)
32% (populasi total)
Kementerian Hukum dan HAM
16.9
Pada tahun 2030, memberikanidentitas hukum yang syah bagi semua, termasuk pencatatan kelahiran
Proporsi anak berusia di bawah 5 tahun yang kelahirannya dicatat oleh lembaga pencatatan sipil
Indikator global 73% SUSENAS 2015
Catatan: Tidak ada data nasional yang representatif untuk beberapa indikator prioritas untuk anak di bawah Tujuan 16 yang sesuai dengan metodologi indikator SDG.
TujuAn 16 _ PERDAMAIAN, KEADILAN DAN KELEMBAGAAN YANG TANGGUH
97
14 5 1 1 Total 16 6 1 1 Laki-laki 12 4 1 1 PerempuanJumlah hari mengalami perundungan dalam 30 hari terakhir 1 hingga 2 hari 3 hingga 9 hari 10 hingga 29 hari 30 hari 0% 10% 20% 30% 1 hingga 3 kali 4 hingga 9 kali 10 kali atau lebih
27 4 1 Total 34 6 1 Laki-laki 20 2 1 Perempuan
Dalam 12 bulan terakhir
0% 10% 20% 30% 40%
Siswa sekolah menengah atas, khususnya siswa laki-laki, sering menghadapi serangan isik dan pelecehan
Sumber: Global School Health Survey 2015
Gambar 16.A
Persentase anak usia 13–17 tahun di sekolah menengah atas yang mengalami perisakan (bullying) dalam 30 hari terakhir, menurut jenis kelamin dan frekuensi, 2015
Persentase anak usia 13–17 tahun di sekolah menengah atas yang mengalami serangan fisik dalam 12 bulan terakhir, menurut jenis kelamin dan frekuensi, 2015
98
LAPORAN BASELINE SDG TENTANG ANAK-ANAK DI INDONESIA
persen dari korban perdagangan orang yang dilaporkan di Indonesia adalah anak-anak.25 Anak-anak, terutama anak
perempuan, diperdagangkan di dalam negeri maupun di luar negeri untuk dieksploitasi secara seksual maupun mengerjakan pekerjaan domestik. Dalam beberapa kasus, anak perempuan diperdagangkan secara internal (di dalam negeri) ke wilayah pertambangan dan pariwisata untuk dieksploitasi secara seksual dan komersil. POLRI telah membuat sistem data untuk perdagangan orang, namun masih berfokus pada jumlah kasus, dan bukan detil korban.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Gugus Tugas Pencegahan dan Penangnan Tindan Pidana Perdagangan Orang, jumlah korban perdagangan orang diperkirakan sebesar 2,8 per 100.000 orang pada 2015 (Gambar 16.B) Untuk anak, angka ini turun menjadi 1,3. Perdagangan orang tampaknya merupakan isu gender: perempuan dan anak perempuan berpeluang hampir lima kali lebih tinggi untuk mendapatkan bantuan akibat perdagangan manusia dibandingkan dengan laki-laki dan anak laki-laki. Mayoritas korbannya adalah warga negara Indonesia: 950 anak perempuan, 4.888 perempuan, 166 anak laki-laki, dan 647 laki-laki. Mayoritas orang asing yang menjadi korban perdagangan adalah laki-laki dewasa dari Myanmar dan
Kamboja. Delapan dari 10 korban (82 persen) perdagangan manusia di Indonesia telah diperdagangkan secara internasional. Perlu dipahami bahwa angka-angka ini hanya berdasarkan kasus yang dilaporkan. Artinya, angka ini harus dipandang sebagai estimasi bawah prevalensi riil perdagangan manusia yang terjadi di seluruh Indonesia.
SISTEM PERADILAN ANAK
Jika masyarakat percaya bahwa sistem peradilan mudah diakses, aman dan efektif, mereka akan lebih tergerak untuk melaporkan kasus kejahatan kepada pihak berwenang. Karenanya, proporsi korban kekerasan dalam 12 bulan terakhir yang melaporkan pengalaman mereka kepada polisi adalah salah satu cara yang baik untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap sistem peradilan. Untuk melacak indikator ini, kita memerlukan dua set data: pertama, kita perlu mengetahui berapa banyak kasus yang telah dilaporkan kepada polisi; dan kedua, kita perlu mengetahui prevalensi riil kasus kekerasan yang terjadi. Hanya dengan membandingkan laporan kasus dengan prevalensi riil kasus lah kita dapat mengetahui, misalnya, apakah peningkatan dalam kasus yang dilaporkan berarti kejahatan itu sendiri
0 1 2 3 4 5 6 Total Total laki-laki Total perempuan
Total orang dewasa
Total anak
Anak perempuan
Anak laki-laki
Perempuan dewasa
18 tahun ke atas
Laki-laki dewasa 18 tahun ke atas
1.34 5.75 0.41 2.31 1.33 3.56 4.63 1.03 2.82
Perempuan dan anak perempuan berpeluang lebih dari empat kali lebih tinggi untuk menjadi korban perdagangan orang dibandingkan dengan laki-laki dan anak laki-laki
Jumlah korban perdagangan orang per 100.000 orang berdasarkan jenis kelamin dan usia
Gambar 16.B
Sumber: Perhitungan berdasarkan kasus perdagangan orang yang dilaporkan yang
dikumpulkan oleh Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (dikutip dari Laporan Pencegahan dan Penanganan Tindak
TujuAn 16 _ PERDAMAIAN, KEADILAN DAN KELEMBAGAAN YANG TANGGUH
99
Tabel 16.B
Satu dari lima anak dalam tahanan belum mendapatkan putusan, dan anak perempuan lebih berpeluang
berada dalam tahanan sebelum putusan pengadilan dibandingkan anak laki-laki
Proporsi tahanan anak yang belum menerima putusan dibandingkan populasi total penjara anak, berdasarkan jenis kelamin, 2014
Sumber: Data administratif Kementerian Hukum dan HAM, tersedia di https://data.go.id/.
Angka untuk 2015 masih belum dikeluarkan.
meningkat, atau berarti bahwa masyarakat lebih tergerak untuk melaporkan kejahatan yang terjadi pada mereka. Data kepolisian tentang kasus kejahatan tersedia dan terpilah berdasarkan provinsi dan jenis kejahatan, namun tidak membedakan usia yang sebenarnya diperlukan untuk menganalisis kasus terkait korban anak. Lebih penting lagi, sebagaimana dinyatakan di atas, tidak ada data terpercaya mengenai prevalensi kekerasan terhadap anak yang bisa menjadi pembanding data angka yang sudah dilaporkan. Begitu data yang lebih baik tentang prevalensi kekerasan terhadap anak tersedia, baseline untuk indikator ini dapat dibuat dan kemajuan dapat dilacak secara akurat.
Cara kedua untuk mengukur seberapa berfungsi sistem peradilan saat ini adalah dengan melihat jumlah tahanan yang belum mendapatkan putusan sebagai proporsi dari total populasi penjara. Cara ini dapat mengukur seberapa efektif proses orang menjalani pengadilan dan hukuman. Selain itu, cara ini juga membantu untuk memahami sejauh mana orang-orang yang belum terpidana atas sebuah kejahatan (dan bahkan yang belum menghadapi tuntutan) ditahan. Indikator SDG global diukur menggunakan populasi orang dewasa maupun anak-anak di penjara. Namun, penting sekali untuk melacak indikator ini secara spesifik ketika berkaitan dengan anak, karena penahanan anak sebaiknya digunakan hanya sebagai upaya terakhir, dan diupayakan agar waktu penahanannya seminimal mungkin. Karena itu, tingginya proporsi tahanan anak yang belum mendapatkan putusan dibandingkan
Anak laki-laki
Anak perempuan
Total
Jumlah anak dalam tahanan 3.567 106 3.673
Jumlah anak dalam tahanan yang belum mendapatkan putusan
759 37 796
Persentase anak dalam tahanan yang belum mendapatkan putusan 21% 35% 22% < 5% 5 hingga < 20% 20 hingga < 40% ≥ 40%
Sumber: Data administratif Kementerian Hukum dan HAM, tersedia di https://data.go.id/. Angka untuk 2015 masih belum dikeluarkan.
Proporsi anak dalam tahanan yang belum mendapatkan putusan sangat bervariasi di setiap provinsi
Anak-anak yang belum mendapatkan putusan sebagai proporsi dari keseluruhan populasi penjara berdasarkan provinsi, 2014
Gambar 16.C
dengan jumlah seluruh anak di tahanan menjadi suatu masalah. Penting sekali untuk dipahami bahwa sidang yang terburu-buru tidak selalu mencapai hasil yang adil:
100
LAPORAN BASELINE SDG TENTANG ANAK-ANAK DI INDONESIA
kualitas layanan pengadilan serta keputusan yang adil perlu dipastikan dalam setiap proses sistem peradilan, sambil di saat yang bersamaan meminimalkan sedapat mungkin penahanan bagi anak.
Di seluruh Indonesia, 22 persen dari seluruh anak yang berada dalam tahanan masih menunggu putusan pengadilan pada 2014 (Tabel 16.B). Sementara jumlah absolut anak perempuan di tahanan relatif rendah, proporsi anak perempuan dalam tahanan yang belum mendapat keputusan pengadilan justru lebih tinggi (35 persen). Selain itu terdapat pula disparitas geografis yang signifikan: di empat provinsi, kurang dari 5 persen anak yang ditahan tanpa putusan (Maluku, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah), dibandingkan dengan 49 persen di DKI Jakarta dan 61 persen di Sulawesi Utara (Gambar 16.C). Sebelum diberlakukannya UU Sistem Peradilan Pidana Anak yang baru, jumlah anak- anak yang ditahan di lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan lebih tinggi.26
Di seluruh populasi – termasuk orang dewasa – proporsi tahanan yang belum mendapatkan putusan di Indonesia adalah 32 persen. Angka ini sebanding dengan rata-rata global dan regional: pada 2012–2015, angka rata-rata global adalah 30 persen, sementara di Asia Tenggara rata-ratanya adalah 32 persen.27